
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
" Sayang, apa kau sedih karena Vanish tak jadi ikut resepsi, hemm?" tanya Arjuna sambil menatap bayinya yang sedang menyusu langsung dari sumbernya itu.
" Sebenarnya iya, karena kita sudah menyiapkan semuanya hampir sempurna, bahkan aku sendiri yang merancang ๐ธ๐ฆ๐ฅ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ mereka dengan tema ๐ญ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ต๐บ. Di susul keesokan paginya mereka akan langsung terbang ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐บ ๐ฎ๐ฐ๐ฐ๐ฏ ke ๐ณ๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต di pulau P," jawab Susi dengan helaan napas.
"Sudahlah sayang, kita boleh berencana tapi takdir jua yang menentukan. Jika kau saja sedih, lalu bagaimana perasaan Vanish saat ini," ucap Arjuna membuat Susi menoleh kesamping seketika. Di mana wajah suaminya itu begitu dekat dengannya.
CUP
"Ish, bisa-bisanya mengambil kesempatan!" celetuk Susi yang telah memundurkan wajahnya dengan cepat. Arjuna terkekeh karena istrinya itu kalah cepat. Ia telah meraup bibir merah muda itu lebih dulu.
"Siapa yang mengambil kesempatan. Kan my queen yang nengok," kilah Arjuna.
" Ck, tapi kau sengaja 'kan? Kau telah merencanakannya!" seru Susi menampik pembelaan dari suaminya.
" Kalau iya, kenapa? Kau 'kan istriku." Arjuna tersenyum simpul lalu mencium bahu terbuka Susi. Membuat merasa merinding seketika.
"Sana ah! Jangan cium-cium!" usir Susi yang risih. Bukan apa, ia tak mau tergoda yang nantinya akan berujung dengan sebuah adegan dua puluh satu tahun ke atas.
"Hu pelit!" cebik Arjuna memonyongkan bibirnya lucu.
"Jangan drama ih! Ganti baju duluan sana. Biar kita gak telat. Kalau kau mengganggu terus kapan baby S akan tidur." Susi mencoba abai dengan segala tingkah sok manja suaminya. Beberapa jam lagi keduanya harus berangkat menuju danau tempat Joy dan Milna mengikat janji seumur hidup mereka.
" Aku menunggu baby S tidur saja. Karena aku ingin kau yang mengurusi ku," ucap Arjuna.
"Hah! Kenapa kau jadi manja begini?" heran Susi tingkah Arjuna yang semakin aneh saja.
"Kau bukan hanya berkewajiban mengurus baby S. Tapi juga aku," sahut Arjuna membuat kening semakin berkerut tanda tak mengerti.
"Tiap hari juga di urusi," gumam Susi pelan. Karena kini ia tengah meletakkan Arjuna di dalam box bayinya yang besar itu. Bayi itu sudah berusia dua bulan sekarang. Karenaya Susi mulai membiasakan baby S untuk tidur di kamarnya sendiri, di dalam box miliknya. Karena suatu saat nanti dirinya harus kembali melayani Arjuna.
__ADS_1
" Cepat urusi aku, lagipula baby A sudah pulas." Arjuna berkata dengan nada tak sabaran. Susi pun paham maksud dari suaminya itu. Meski mereka belum bisa melakukan hubungan suami istri seperti biasanya. Namun, Susi memiliki cara lain untuk memuaskan suaminya.
Begitupun Arjuna, ia dapat memuaskan Susi dengan caranya. Meski terkadang dirinya sangatlah gemas. Kembali ia teringat ketika Susi berjuang melahirkan putra mereka. Bagaimana kejadian pasca operasi yang masih membayang di pelupuk matanya. Di saat itulah, ia mampu menekan sisi egois dalam dirinya.
"Aku panggil mbak Sasa dulu, biar dia stand by di kamar Satria," ucap Susi, seraya membawa beberapa pakaian kotor baby S keluar kamar. Karena Susi tidak meletakkan tempat sampah dan keranjang baju kotor di dalam kamar anaknya.
"Cepat ya sayang," ucap Arjuna pelan dengan tatapan penuh arti. Sementara Susi hanya menyahutinya dengan anggukan dan senyuman manis.
"Mbak, baby S sudah 'kan sudah bobo. Tolong jaga di kamarnya ya. Mbak boleh kok terusin makannya di kamar saja. Asalkan jangan sampai berantakan. Tolong jaga kebersihan kamar Satria ya. Saya gak mau sampai ada lalat atau pun semut. Bahkan, jika Mbak menemukan cicak segera beritahu saya," ucap Susi panjang lebar. Dirinya begitu detil terhadap apapun yang bersangkutan dengan bayinya itu.
"Baik, Nya. Saya sudah selesai kok makannya. Saya ijin bawa roti ini aja, buat cemilan," sahutnya Sasa istri dari bang Panco yang bertubuh agak bulat itu. Meski memiliki tubuh yang tidak proporsional tapi Sasa memiliki kulit wajah yang putih bersih dan halus. Hidungnya juga mancung dan matanya besar dengan bulu mata lentik. Karenanya, bang Panco meminta satu hari waktu libur dalam sepekan untuk dirinya dan juga istrinya. Maka pada saat itu ia dan Sasa tidak akan keluar kamar.
๐พTaulah ya mereka ngapain๐
"Ayok, Mbak Sasa sebentar lagi naik ke atas." Susi menarik lembut tangan Arjuna yang sedang mengayun baby S.
"Kamu udah mandi ya sayang?" tanya Arjuna ketika keduanya telah sampai di dalam kamar mereka. Karena kamar baby S dan kedua orangtuanya itu, hanya terpisah oleh pintu penghubung. Ketika pintu tersebut terkunci rapat maka tak akan ada sedikitpun suara dari dalam yang terdengar ke luar kamar. Sementara untuk memantau keadaan baby S, dapat dikontrol melalui CCTV yang terhubung dengan gadget dan juga laptopnya. Sehingga, di manapun keduanya berada mereka dapat memantau keadaan Satria Junior.
"Keberatan gak, kalau kamu mandi sekali lagi?" tanya Arjuna lagi, sehingga membuat Susi menampilkan senyum simpulnya.
"Memangnya, kenapa aku harus mandi lagi?" Kali ini Susi yang melempar tanya pada Arjuna.
"Karena ini."
"Empht ...!" Susi seketika membulatkan kedua matanya. Merasakan tabrakan sebuah benda kenyal pada bibirnya. Hingga Arjuna menggigit bibir bagian bawahnya, karena Susi yang masih terperangah tak mau membuka mulutnya. Barulah setelah di gigit mulut Susi sedikit membuka. Segera, Arjuna menyelinapkan lidahnya kedalam sana. Mengabsen apapun yang berbaris rapi dalam rongga mulut Susi.
Sebuah erangan halus perlahan mulai terdengar . Pertanda Susi telah terhanyut dengan sesapan yang di berikan oleh suaminya itu.
Tanpa terasa, Arjuna telah membuat polos dirinya. Susi berdesis ngilu ketika kembar bakpaonya menggantung tanpa penyangga. Meskipun Arjuna paham untuk tidak memainkannya. Cukup melihat dan sesekali mencecap atau mengecup. Seperti yang sedang dilakukannya pada saat ini.
"Jangan di sentuh Ar." Susi memperingati Arjuna membuat suaminya itu tak jadi mendaratkan telapak tangannya. Tapi ia menurunkan sentuhan itu ke bawah perut Susi. Meraba bekas operasi sesar yang berbentuk garis lurus memanjang.
__ADS_1
"Apa ini masih sakit sayang?" tanya Arjuna sambil memandangi perut Susi yang sudah tidak sebuncit di awal pasca melahirkan. Bahkan garis-garis ๐ด๐ต๐ณ๐ฆ๐ต๐ค๐ฎ๐ข๐ณ๐ฌ sudah mulai memudar. Karena Arjuna rutin mengoles gel yang di datangkan langsung dari Eropa.
"Tidak sayang, hanya terkadang aku suka merasa seperti di gigit semut. Jika aku terlalu lama menggendong Satria." Susi menjawab pertanyaan Arjuna sambil mengelus rambut suaminya itu.
"Karena baby S semakin gembul. Kau kurangilah menimangnya terlalu lama. Juga, jangan mengerjakan hal membuatmu terlalu sering berjalan bolak-balik." Arjuna berbicara sambil sesekali mengecup bagian bekas luka itu. Membuat sudut hati Susi menghangat mendapat perhatian yang begitu besar dari Arjuna.
"Terima kasih sayang. Tolong berhentilah mencium di situ, rasanya geli!" pekik Susi, karena justru ciuman Arjuna semakin merambat ke bawah.
Arjuna menaikkan sebelah kaki Susi ke bahunya. Senyumnya mengembang ketika kedua matanya menangkap pemandangan yang sangat indah. Ia pun mendekatkan wajahnya, hingga Susi mengalunkan desah mengurai rasa nikmat yang tak terhingga. Sayangnya, dirinya belum berani di jamah lebih dari ini. Meski daerah pribadinya sudah kembali bersih karena masa nifasnya telah usai sejak sepekan yang lalu.
๐พwowowow ... Kalian menodai otak suci ku๐ซ
"Akh, sayang. Begini saja aku sudah senang," lenguh Arjuna, di sela-sela kenikmatan yang dirasakannya.
"Emh, aku hanya bisa memberikanmu yang seperti ini. Maafkan aku Ar, aumhp ...," sahut Susi yang kini tengah fokus membantu Arjuna menyalurkan geloranya. Hingga, magma panas itu menyembur ke atas tissue.
"Aku ... akan menunggu hingga kau siap. Jangan terbebani karena ini." Arjuna berusaha mengontrol kembali deru napasnya. Kemudian ia menarik bahu Susi agar sang istri bangun, lalu menarik raga polos itu kedalam dekapannya.
"Kenapa menangis? nanti produksi sumber makanan bayi kita menyusut," ucap Arjuna. Ia merasakan tubuh itu bergetar, serta dadanya basah lantaran air mata.
______
" Jangan sedih ya sayang. Lain kali akan ku buatkan pesta yang mewah untukmu," ucap Better lembut pada Vanish. Kedua tangannya menangkup wajah yang terlihat semakin segar itu. Vanish menyunggingkan senyum manisnya.
"Ninis sama sekali gak sedih kok, hanya saja Ninis menyayangkan hasil kerja keras Kak Susi. Alhasil kita tidak bisa menikmatinya bersama Joy dan Milna," kilah Vanish menyangkal praduga suami gantengnya itu.
"Mungkin memang sudah jalannya seperti ini, agar pernikahan Joy dan Milna semakin sakral dan romantis," kata Better sambil tertawa kecil.
"Bener tuh, mereka berdua pasti tegang karena gak ada kita." Vanish pun ikut terkekeh membayangkan betapa kakunya pasangan pengantin yang beberapa waktu lagi akan mengucap janji suci.
Bersambung>>>
__ADS_1