Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Jangan remehkan aku lagi.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


******


Susi pun pasrah, bagaimanapun juga posisinya adalah bawahan. Sekeras apapun ia hendak menentang, tetap akan kalah.


(Apa yang harus kulakukan? Bukankah dia yang memerintahkan ku untuk memegang bagian proposal dan presentasi? Apa dia marah karena aku selalu menghindarinya?) Susi hanya bisa merintih di dalam hati.


Kaki nya melangkah dengan gontai, perasaannya kian ragu dan tak enak. Susi menghela napasnya berat, namun ia berusaha menjalani semua dengan sepenuh hati.


"Kak Susi!" panggil Vanish sambil mengejarnya.


"Iya, sahut Susi menoleh ke arah sumber suara.


"Ngapain sih pake lari-lari? Hampir jatuh kan?" omelnya, karena Vanish hampir saja terjerembab.


Hosh...hosh..!


Vanish tengah mengatur napasnyq yang ngos-ngosan.


"Kak, kalo kamu turun lapangan lagi...," jeda.


"Lalu, yang presentasi di Resto pondok bambu, siapa?" tanya Vanish terputus-putus.


"Aku gak tau Van, siapapun dia tolong dampingi jangan sampai kita kalah tender. Kau ingat kan bukan hanya kita yang akan presentasi nanti?" ucap Susi tegas, jiwa kepemimpinannya semakin terlihat.


"Baik Kak, aku gak akan ngecewain perusahaan,"


"Aku akan mengeluarkan seluruh kemampuanku Kak!" seru Vanish percaya diri.


"Aku yakin kamu pasti bisa, mungkin inilah saatnya menunjukkan apa yang terpendam di dalam sini." Susi menunjuk dada kiri dan juga kening Vanish.


"Selamat berjuang Kak!"

__ADS_1


"Kau juga ya!"


*****


"Untung saja, kelompokku ini ramah-ramah," gumam Susi tersenyum.


Kini mereka berpencar di sebuah kampung padat penduduk.


Menenteng beberapa barang yang akan mereka demontrasi kan.


"Mungkin ini adalah jalan ku untuk membagi ilmu pada anak baru seperti mereka." monolognya pelan.


"Girls, mau denger saran ku gak?" tanya Susi pada kelompoknya, ketika mereka tengah berdebat.


"Eh, boleh Mbak." Menoleh seketika, tersenyum.


"Mbak kan senior, ya ampun maaf ya, kita udah gak sopan," bicara dengan nada rendah, sedikit menunduk.


Susi melambaikan tangannya sembari tersenyum," Eh, gapapa ..., gapapa..., biasa aja lagi, aku sama kok sama kalian cuma lebih dulu aja ada disini,"


Susi tersenyum lega.


(Ternyata semuanya lebih mudah, tak seperti dugaan ku.)


Susi mendatangi rumah rukun tetangga di daerah itu, meminta izin untuk mengadakan demontrasi barang.


"Untuk Ibu dan bapak, khusus, kami kasih diskon tiga puluh persen untuk semua jenis produk kami," jelas Susi mengeluarkan jurus memancing konsumen dengan iming-iming diskon. Padahal harga sebenarnya di naikkan sedikit.


Ya, itulah rahasia pemasaran.


"Saya boleh ajak bu RW kan? Soalnya beliau seneng banget nih kalo ada produk keren yang diskonan nya gede," tanya bu RT sumringah.


"Boleh banget Bu, ajak aja. Camat dan Lurah juga boleh sekalian," kelakar Susi.

__ADS_1


Singkat cerita, rumah bu RW yang kebetulan tak jauh dari lokasi membuat mereka tak lama menunggu.


Namun, ada seorang wanita paruh baya yang tengah mendelik kesal. Hanya saja, Susi belum menyadari kehadirannya.


(Ternyata dia memang semakin bersinar. Jangan sampai Seno bertemu lagi dengannya.)


"Selamat datang! Terimakasih atas kunjungannya," sapa Susi sopan dan penuh semangat. Namun, seketika air mukanya berubah ketika melihat sosok Easy di sebelah bu RW yang cetar membahana dengan dandanannya.


(Ketemu lagi? Kenapa juga Easy tiba-tiba bergaul dengan rakyat jelata?)


Perlahan Easy mendekati Susi, menatapnya lamat dari atas hingga bawah.


(Aku akan balas perbuatan mu pada putri ku.)


"Cantik. Tapi masih jadi sales, heh." Mencibir dengan gaya angkuh.


"Masalah kah untuk Anda?" Susi bersedekap, menatap tajam pada wanita di hadapannya.


"Ku rasa kau tidak akan seglowing ini kalau hanya dengan gaji sales yang kecil?" sindir Easy, dengan nada sedikit kencang agar yang lain ikut mendengar.


"Apa kau menjual tubuh mu?" tuduh Easy dengan wajah meremehkan.


"Maaf, Nyonya. Tolong jangan samakan saya dengan anak Anda!"


"Perhatikan saja putri kebanggan mu itu!" ucap Susi tegas.


"Kau! Perempuan tak punya sopan santun!" hardik Easy sambil melayangkan tangannya.


GREP!


"Apakah sikap Anda ini, termasuk kesopanan?!" tukas Susi menepis tangan yang hendak mendarat di pipinya.


Wajah Easy merah padam, telinganya panas. Tatkala ia mendengar kasak-kusuk orang membicarakannya.

__ADS_1


(Perempuan sial! Semakin berani saja dia! Apa maksudnya membicarakan Daia.)


Bersambung>>>>


__ADS_2