Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Upah Nyuci Piring.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Warning๐Ÿ“›


Ini bab yang bisa bikin kalian sumang dan menggigil.


Tolong jangan di buka sekarang, karena berbuka itu harus dengan yang manis. Jadi, yang hot-hot pop di skip aja dulu๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ


_________


๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜“๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ˆ๐˜ณ. ๐˜Ž๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.


Susi terus mengulum senyumnya, melihat Arjuna begitu serius dalam pekerjaannya.


"Lihat kan? Pekerjaan kecil seperti ini saja pasti aku bisa menyelesaikannya," ucap Arjuna dengan gaya pongahnya.


"Iya, sayang. Kau memang hebat." Puji Susi tulus, dengan senyum yang terus mengembang dari wajahnya. Bagaimana tidak, seorang pria yang anti dengan kotoran dan super bersih. Mau membantu istri mencuci piring, bukankah itu suatu perbuatan yang luar biasa. Sangat romantis, dan manis.


" Kau, barusan memanggilku apa?" tanya Arjuna, memastikan bahwa pendengarannya tak salah menangkap suara.


" Saโ€“yang," ulang Susi, yang malu pada akhirnya.


"Aku tidak mendengar dengan begitu jelas, bisa kau ulangi dengan sedikit kencang atau penghayatan mungkin," pinta Arjuna, yang sebenarnya hanya menggoda Susi. Wanita itu, lebih gengsi darinya. Mengucapkan panggilan itu saja, sampai membuat kedua pipinya semerah tomat.


๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜ž๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ต, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ช? ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ?


Susi seketika menatap Arjuna yang tangah menanti sebuah panggilan darinya. Wajah itu penuh pengharapan, dan mata itu begitu bercahaya.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Tidak ada tombol ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ, jadi tidak ada ulangan." Susi mengatakannya dengan membuang wajah, sambil menyembunyikan senyumnya.


"Apa?" Arjuna merasa dikerjai, karena sudah menunggu. Tapi ucapan yang didengar malah seperti itu.


Susi melepas sarung tangan, membuangnya. Lalu melepas kembali celemek nya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Arjuna, setelahnya ia segera menyusul Susi yang meninggalkannya di dapur.


"Kau ini, malah meninggalkan suamimu sendirian." Protes Arjuna tak terima, lalu duduk di atas sofa sebelah istrinya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ? ๐˜’๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ.


Susi menelan ludahnya kasar, melihat tatapan tajam dari Arjuna. Suaminya itu malah menuntut panggilan yang secara tak sengaja ia ucapkan.


"Kamu, gak mau tidur lagi gitu? Mumpung libur dan cuaca juga tidak mendukung di luar sana," tanya Susi mencoba mengalihkan pikiran Arjuna. Tapi, setelah sadar pertanyaan bahwa pertanyaan itu salah dan hanya akan menjerumuskan dirinya dalam perangkap yang lebih memalukan lagi. Seketika, Susi menutup mulutnya rapat lalu menyesalinya setengah mati.


"Apa ini kode darimu, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ?" tanya Arjuna dengan raut wajah senang. Posisinya kini sangat dekat dengan Susi, bahkan bisa dibilang sedikit menghimpit istrinya itu.

__ADS_1


"Iโ€“itu, maksudku ... ku pikir kau akan mengantuk karena kekenyangan," jawab Susi asal dengan ekspresi kikuk yang kentara jelas di wajahnya.


"Siapa bilang, justru aku semakin bersemangat dan bertenaga. Bukankah, ada yang harus aku buktikan padamu." Arjuna semakin mendekat dan tak memberikan celah bagi Susi untuk mengalihkan pandangannya.


Di tatap sedemikian rupa dengan posisi terhimpit di atas sofa empuk nan mahal. Belum lagi, hembusan napas dengan bau mint itu menerpa hangat di wajah Susi. Semua itu membuat dirinya, mau tak mau kalah lagi.


Siapa sih, yang bisa menahan pesona luar biasa itu? Apalagi, semua ini legal sudah. Berada di ruangan yang hanya ada mereka berdua, di dukung oleh cuaca yang memang sangat pas untuk pasangan suami istri, lama ataupun baru.


"Tapi, aku masih kekenyangan," kilah Susi, berharap Arjuna mau melepaskannya.


"Justru, itu. Aku akan membantumu untuk membakar kalori. Agar tidak ada lemah tak jenuh yang menumpuk," bisik Arjuna di samping telinga Susi. Membuat tubuhnya seketika merinding disko.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ˆ๐˜ณ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.


Susi terus saja menggerutu di dalam hatinya. Meski matanya tak sedikit pun bergeser dari wajah menawan di hadapannya.


Arjuna mulai meraba, pinggang ramping istrinya. Lalu dengan cepat, menarik raga itu keatas pangkuannya.


"Eh." Kaget Susi yang kini posisinya menghadap Arjuna. Gerakan Arjuna yang begitu cepat disertai dengan tenaga yang besar, membuatnya dengan mudah memindahkan tubuhnya yang ramping itu.


"Begini kan lebih enak," komentarnya. Bahkan, senyum sumringah itu tak pernah lepas dari bibirnya.


Karena refleks, maka Susi telah mengalungkan kedua tangannya di leher Arjuna.


Dengan perlahan dan halus, ia memberi usapan di sana. Membuat sang pemilik raga mendesis karena sensasi geli-geli nikmat.


๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜Ž๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ข๐˜ฉ!


Susi semakin mengencangkan rangkulannya, bahkan kini dadanya telah menempel pada tubuh Arjuna. Sedangkan sentuhan pria itu telah merambat ke punggungnya.


Arjuna semakin menyender kepada kepala sofa, sehingga posisi Susi agak condong ke depan. Membuatnya dengan leluasa, menciumi ceruk leher hingga tulang selangka.


"Ar," racau Susi. Dirinya mulai terbawa arus yang di mainkan oleh suaminya.


"Panggil aku seperti tadi, aku ingin mendengarnya lagi," bisik Arjuna lembut dan lirih.


"Sayang ...," panggil Susi, menurut.


"Sekali lagi," pinta Arjuna, sambil terus memberi kecupan demi kecupan di telinga dan juga leher jenjang putih mulus istrinya itu.


"Sayaaaanggg ... ahh," pekik Susi di sela racauannya, karena Arjuna membenamkan gigitan kecil di sana.


Garis senyum melengkung di wajah pria blasteran itu. Semangat serta geloranya semakin menggebu.


Perlahan, Arjuna menaikkan dress Susi hingga melewati kepala istrinya itu. Hingga kini, wanita di atas pangkuannya itu hanya tertutup oleh bra dan segitiga bermuda dengan tali di kanan dan kirinya.

__ADS_1


"๐˜ ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ'๐˜ด ๐˜ด๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ง๐˜ถ๐˜ญ๐˜ญ ... ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ ..." ucap Arjuna dengan suara serak dan pandangan berkabutnya. Lalu ia memberi kecupan di atas dada Susi, hingga meninggalkan beberapa tanda merah di sana.


Susi pun merespon perlakuan suaminya itu dengan memberi remasan pada rambutnya. Bahkan, secara refleks ia menekan kepala itu agar terbenam lebih dalam.


Desah, desis dan lenguhan menguar secara dinamis, dengan ritme dan tempo yang semakin meninggi. Pertanda raga dan jiwa telah terbakar gelora yang membara.


Arjuna, menyingkirkan tali tipis dari penutup kembara kembar bakpau itu dengan giginya. Karena kedua tangannya sibuk mengeksplor bagian lainnya.


Setelah terbuka dengan sempurna, hingga kedua bukit itu nampak jelas di hadapannya. Arjuna tak menyia-menyiakan rejeki di depan matanya. Ia pun menciuminya dengan gemas, sesekali memberi hisapan dan juga gigitan manja.


Membuat wanita di atas pangkuannya ini, bergerak dan menggeliat semakin liar. Dengan suara-suara indah nan merdu yang keluar dari bibirnya.


"Ar ...," pekik Susi untuk kesekian kalinya, ketika mulut Arjuna melahap tombol remote miliknya. Menggelitik dengan gerakan lidahnya, hingga sesuatu di bawah sana telah berkedut dan basah.


Tanpa Susi sadari juga, gerakannya yang abstrak di atas paha suaminya itu. Telah membuat si naga puspa terbangun dan bersemangat. Arjuna yang hanya mengenakan celana pendek tipis atau biasa di sebut kolor itu, membuat kepala sang naga tercetak jelas meronta-meronta.


Arjuna memindahkan permainannya ke atas, ia kini melumaat bibir seksi itu dengan napas yang memburu. Susi menyambut dengan baik, terlihat dari caranya menekan tengkuk suaminya itu.


Sedangkan kedua tangan Arjuna turun ke bawah, menarik tali dari kedua sisi pinggul berisi Susi. Hingga segitiga bermuda itu, tak lagi menutupi lembah dengan hutan tropisnya.


Sebelah tangannya menekan punggung Susi, membuat dada mereka saling bersentuhan.


"Eenghh ...!" lengkingan kecil dari Susi, lolos disela pertarungan lidah mereka berdua. Ketika Arjuna berhasil menerobos hutan lindung yang khusus terjaga untuk suaminya itu.


Entah sejak kapan, suaminya itu telah dalam posisi siap tempur. Akibat terbuai, Susi pun tak sadar bahwa mereka berdua kini telah polos tanpa sehelai benang.


Posisi yang berbeda dari biasanya, membuat Susi sedikit meringis ngilu. Apalagi ketika Arjuna mulai bergerak, menaik turunkan pinggul Susi.


๐˜ ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜™๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ.


Susi memejamkan matanya, merasakan sensasi nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Meski di awal ia sempat kaget dan sedikit ngilu. Tapi, perlahan dengan sikap lembut dan sabar dari Arjuna. Kini, ia dapat menikmati sensasi pada bagian paling sensitif di miliknya. Hingga, ia merasa tak tahan untuk meledakkan sesuatu dari dalam dirinya.


"Keluarkan saja, jangan di tahan. Aku ingin kita saling memberi dan menyenangkan satu sama lain," ucap Arjuna dengan senyum yang menghiasi rahang tegas itu.


"Aโ€“aku, sayang!" Susi melenting kebelakang dengan kedua tangan yang menekan bahu Arjuna kencang. Hingga, beberapa kuku cantiknya meninggalkan bekas di sana.


"Maaf, bila di awal agak menyakitimu. Salahkan saja naga ku, kenapa kelapanya begitu bagol."


Ah ... Ah ...


Maaf ya readers๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


Salahin mereka aja ya jangan authornya ... Kabooorrr!!


Bersambung lagi ... ah ... uh ... ah ...

__ADS_1


__ADS_2