Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bakat terpendam.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Susi semakin giat dan semangat bekerja. Aura nya semakin memancar, membuat orang-orang yang selalu meremehkannya kini memilih menghindar.


Ternyata kepercayaan dirinya membuat bakat yang terpendam itu keluar.


*****


Susi sering mendapat job untuk memasarkan produk ARSA, karena cara presentasinya yang memukau.


Sudah tak lagi keliling komplek dan perumahan, ia lebih sering menawarkan ke beberapa Industri atau pengusaha kuliner melalui proposal.


Salah satu kawannya yang beruntung adalah Vanish. Si gadis betawi yang bocor dan ceroboh ini di tunjuk sebagai asistennya.


"Enak ya dia sekarang gak keliling kayak kita."


"Iya, incerannya langsung pengusaha."


"Bonusnya cuy dah kebayang!"


"Pinter sih dia, cantik juga."


"Yang pasti dia tuh kerja keras gak gampang nyerah! Gak kayak kalian yang ngeluh mulu! Ayo kerja lagi!" Para pekerja wanita yang asik ghibahin Susi pun bubar.


Di dalam sebuah minibus milik perusahaan ARSA .Mandiri.

__ADS_1


"Enak ya Kak, sekarang kerja naek mobil, terus di anter sama sopir. Bawa-bawa laptop bukan kotak produk yang berat," ucap Vanish menikmati segala fasilitas yang di berikan perusahaan.


"Aku beruntung udah di pilih jadi asistennya Kak Susi," tambahnya lagi.


"Semua berkat kerja keras kita. Kerja sama kita pada saat berkeliling menjadi sales-girl,"


"Semoga Rapika dan Yupi tetap semangat dan segera menyusul,"


"Tetaplah semangat, jangan dulu puas dengan pencapaian kita saat ini. Tetap bersyukur dan pantang menyerah," jelas Susi panjang lebar. Membuat Vanish manggut-manggut, apapun yang di katakan Susi menurutnya keren.


"Sialan tuh cewek! Makin bersinar aja dia!"


"Pake ajian apa sih?" gumam Siska, seorang pemimpin regu para sales yang selalu iri dan tidak suka atas pencapaian Susi.


"Baru beberapa bulan di sini, udah bisa ambil bagian yang gue incer bertahun-tahun." gumamnya. Kali ini ia berniat mengikuti kemana Susi pergi. Biarlah bolos kerja yang penting keingintahuannya terpenuhi.


Sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan, Susi dan Vanish turun dari minibus. Mereka menuju salah satu retail food court makanan siap saji.


Tak lama kemudian, terlihat Siska juga keluar dari taksi.


"Seratus ribu!" pekik Siska, kaget anak ongkos yang harus di bayarnya.


"Ck bisa habis sisa gaji ku, mana gak kerja hari ini." decak Siska kesal sendiri. Kemudian ia menyerahkan uang dengan kasar ke sopir tersebut.


"Dasar cewek setres!" maki si sopir kemudian segera tancap gas sebelum mendapat lemparan sepatu dari Siska.

__ADS_1


"Sopir tua gila!" balas Siska memaki sopir yang sudah tak tampak wujudnya.


"Argh, aku jadi kehilangan jejak si Susi kamseupay itu!" pekiknya segera berlari masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang cukup besar itu.


Siska menengok ke kanan-kiri. Hingga akhirnya ia menemukan sosok anggun itu berdiri di tangga eskalator.


Siska semakin mempercepat langkah nya menyusul wanita muda yang dianggap rival nya itu.


Susi ditemani Vanish melangkah memasuki sebuah food court.


"Mbak sudahdi tunggu di meja nomer 5 mari saya antar." Resepsionis yang menyambut mereka pun menggiring menuju sang klien, yaitu pemilik dari gerai makanan cepat saji di Mall ini.


"Selamat pagi menjelang siang, Tuan Milkuu," sapa Susi sopan dengan seulas senyum. Setelah mereka berhadapan langsung dengan calon customer.


"Ya. Silakan duduk dan bisa langsung di mulai, karena saya sangat penasaran dengan produk Anda," ucap Tuan Milkuu seorang pria paruh baya keturunan negeri sakura itu.


"Inilah keunggulan produk kami, semoga Anda tertarik," ucap Susi lugas setelah ia menjelaskan dengan singkat dan padat mengenai produk ARSA.


"Saya sangat tertarik, kualitas tinggi dengan harga yang tidak lebay. Saya akan segera menghubungi perusahaan Anda, Nona Susi." Tersenyum puas dan berjabat tangan.


"Gilak keren banget presentasinya." gumam Siska di seberang meja mereka.


"Lu ternyata emang hebat, dan gue emang perlu belajar lagi." Siska pun pergi dari tempat itu dengan seulas senyum tipis. Ia mengakui bahwa Susi memang memiliki bakat di bidang ini dan ia pantas berada di posisinya saat ini.


"Bos. Saya sudah mengirimkan vidio nya." lapor seorang pria berambut cepak dengan jaket kulit.

__ADS_1


Ia kemudian meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku. Melanjutkan lagi aksinya menggarot paha ayam krispi itu.


Bersambung>>>>>


__ADS_2