Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Don Domino Bolognese.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Akhirnya, aku berhasil hamil." gumam Jelita, ketika matanya menatap kertas lab sepulang dari rumah sakit sore itu.


Seno yang baru saja keluar dari kamar mandi melangkah mendekati Jelita. Dirinya yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya, kemudian menarik bahu Jelita untuk menghadapnya.


"Dengar, sesuai janji ... aku akan menikahi mu secepatnya. Berikan aku waktu satu bulan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari perusahaan," Seno menatap Jelita.


"Satu hal yang perlu kau tau, selama sebulan ke depan aku tidak akan menyentuh mu." Seno melepaskan pegangannya pada bahu Jelita, kemudian berjalan menuju jendela kamarnya.


Seno menggeser tirai itu dan menatap ke seberang. Di mana nampak seorang wanita tengah berdiri di balkon.


Senyum miring tercetak di wajahnya yang menatap dengan pandangan ingin.


Wanita itupun melirik sekilas dan tersenyum, lalu ia menyibak rambut lurus panjangnya dan melenggok masuk.


"Wow ...!" seru Seno dengan tatapan penuh kekaguman, pria itu mengusap dadanya yang terekspos.


"Apa maksudmu Seno?" tanya Jelita yang faham arti tatapan Seno, pada wanita di seberang sana.


"Kandungan mu lemah, dan kau apa artinya bukan?" Seno berbalik, menyenderkan tubuhnya di sisi jendela kemudian bersedekap.


Jelita berjalan cepat mendekati dirinya.


"Artinya kau harus menjaga kandunganku!" seru Jelita, menempelkan dirinya pada Seno. Satu tangannya mengelus dada dengan bulu halus di tengahnya.

__ADS_1


"Jangan memancingku." Seno menepis tangan Jelita yang tengah melukis gambar abstrak di dada bidangnya.


" Kau kan tau, pria seperti apa aku ini."


"Ular ku tidak akan tahan, bila sehari saja tanpa masuk sarang." Seno menuju walk in closet, lalu mengenakan pakaian casual.


"Demi menjaga calon penerus ku di dalam rahimmu, maka aku akan memberi cuti padamu, untuk tidak melayani ku." jelas Seno dengan senyum licik.


"Kau cukup menjaga dirimu dan juga janin mu, aku akan mencari kesenanganku sendiri." tambah Seno lagi, dengan entengnya.


Tanpa berpikir bahwa kata-kata nya mungkin akan melukai sisi sensitif dari PS partnernya itu.


( Sialan kau Seno! Tapi tidak apa, karena sebentar lagi aku akan menjadi ratu mu. Dan, anakku akan merebut semua harta mu.) Jelita tertawa jahat dalam hatinya.


"Jangan lupa kemas juga barang-barang mu." tambah Seno lagi.


"Untuk apa membawa barang ku kerumahnya mami?" tanya Jelita.


"Memang, kau ingin tetap disini? Dan melihat ku bermain dengan PS partner ku yang baru?" sindir Seno yang hanya melirik sekilas kemudian kembali merapikan rambutnya.


Kedua tangan Jelita mengepal kuat di sisi tubuhnya.


( Lihat saja nanti, setelah anak ini lahir. Aku yang akan berkuasa atas dirimu! )


🐍🐍🐍🐍🐍

__ADS_1


"Bagaimana, kau suka pemandangannya?" tanya Don Domino Bolognese.


Satu tangannya merangkul bahu polos Daia, karena wanita itu mengenakan pakaian model kemben.


"Aku sangat menyukainya, Don."


"Kau,benar-benar tau seleraku," jawab Daia sumringah, sambil sesekali menyibak rambutnya yang tertiup embusan angin laut.


Karena kini mereka ada di sebuah Yacht pribadi. Kapal berukuran sedang itu berlayar membelah lautan menyebrangi selat.


Hingga akhirnya mereka sampai di kota tujuan dari sebuah negara yang di kunjungi oleh Don dan orang-orangnya.


"Kita sampai honey, dan saatnya kau membalas budi pada ku. Tunjukkanlah kesetiaan mu." Don menatap Daia dekat kemudian mengecup bibirnya sekilas.


"Tentu aku akan setia pada mu Don." ucap Daia ketika Don hendak berlalu dari hadapannya.


( Pekerjaan apa yang Don ingin aku lakukan? Kenapa di tempat ini banyak sekali gadis yang cantik? Kenapa dia nampak seperti penjual wanita?) Daia bergidik dengan pemikirannya sendiri.


Kemudian ia mengikuti kemana para pria berseragam serba putih itu membawa dirinya bersama puluhan gadis yang lain.


"Don, semua sudah siap." lapor seorang pria bertato pizza.


"Eksekusi! Jangan sampai ada yang gagal!"


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2