Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Sedih yang tak berujung.


__ADS_3

💧💧💧💧💧💧💧💧


****


Susi kembali bekerja setelah beberapa hari di liburkan. Hanya saja ia mendapat surat peringatan untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan menanggapi para customer.


"Apa yang telah wanita tua itu lakukan?" geram Susi, tanpa sadar ia menggenggam botol air mineral sampai berbunyi, krekk. Penyok.


"Kenapa dia terus mencari masalah dengan ku? Bahkan ketika aku tak ada ikatan lagi dengan mereka." Susi terus berbicara sendiri, sambil terus menendang-nendang batu kerikil.


"Untung saja aku tidak di pecat. Awas saja kau Easy, aku tidak akan sungkan lagi lain kali!" teriak nya sambil melempar botol kosong ke dalam tong sampah.


"Kak Susi pasti kesel banget," ucap Vanish yang sejak tadi berjalan di belakang Susi.


"Sudah pasti lah itu. Hampir saja ia kehilangan pekerjaan. Kalau bertemu lagi, aku sobek-sobek mulut wanita tua itu!" tambah Rapika, menahan kesal.


"Untung saja, pak kepala cabang tidak memecatnya. Padahal ini kesalahan yang tidak bisa di maafkan. Kak Susi beruntung." Vanish mensejajari langkah Susi.


Susi menoleh pada kedua kawannya itu, yang selalu mendukung dan menghiburnya. Sedangkan Yupi dan Momogi selalu berbeda kelompok.


"Kalian emang best, makasih!" ucap Susi.


"Aku gak akan pernah lupain kalian, meskipun nanti aku mati dan bereinkarnasi menjadi apapun. Aku pasti akan mencari kalian," tambahnya lagi sembari merangkul keduanya.


"Kakak pasti terlalu banyak baca komik onlen," ledek Vanish.


" Kau ini!"


Tuk.


"Aww. Sakit Kak!" pekik Vanish manja.


"Jangan galak-galak sama adek nya, langka nih model beginian," omel Vanish membuat Susi dan Rapika tergelak. Karena wajah gadis betawi itu sangat lucu.


Hanya ketika bersama mereka Susi dapat tertawa dan melupakan nasibnya. Melupakan sejenak segala kesedihan yang melingkupi hatinya entah sampai kapan.


Mereka bersama keluar dari area pertokoan dan tempat makan sebuah kompleks perumahan elit. Memberikan proposal, dan langsung presentasi bila para cust tertarik dengan produk mereka.


"Kak Susi keren!" Makin lancar gitu ngomongnya," puji Vanish dengan raut penuh kekaguman.


"Betul tu. Sepertinya, kita bakal banyak orderan minggu ini," sorak Rapika sumringah.


"Semoga saja ya. Aku akan bekerja keras dan menunjukkan kesungguhan ku pada perusahaan."


"Semua juga berkat dukungan kalian," tutur Susi penuh semangat.


"Aih, Kak. Kata- katamu membuat kami pun bersemangat. Iya kan Van?" Rapika mencolek Vanish, kemudian mereka bertiga tos.


Tak jauh dari mereka, seorang pria dewasa dengan bulu halus di sekitar rahangnya menaikkan kembali kaca jendela mobilnya.


Senyumnya terukir tipis, hampir tak terlihat kalau itu adalah sebuah senyuman. Pria dingin ini, yang tak pernah peduli dengan wanita manapun dan seperti apapun rupa mereka.


Kali ini, merasa harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana sepak terjang wanita kurus yang sempat dua kali bunuh diri itu.


"Jalan!" titahnya pada sang sopir.

__ADS_1


*****


Di atas pembaringan terlihat seorang wanita bertubuh kurus itu sangat gelisah. Matanya terpejam tapi mulutnya komat kamit dengan sesekali menggeleng pelan.


Bulir-bulir keringat telah membanjiri wajah serta leher jenjangnya. Padahal di luar hujan masih mengguyur jalan dan membuat dingin udara fajar kali ini.


"Jangan bawa dia mas! Jangan ambil anakku! Akh... Tidak!"


"Kembalikan! Kembalikan anakku! Kalian jahat!"


Huh..huh..


Susi terperanjat dan sontak terduduk di atas kasur nya. Baju tidurnya basah dan rambutnya pun lepek. Ia segera mengambil air di atas nakas dan menenggaknya hingga tandas.


Haaah...


"Kenapa mimpi itu lagi?"


" Tuhan? Kenapa hati ini masih saja sakit kala mengingatnya?" Susi pun terisak kecil, di barengi rintik hujan gerimis yang masih betah membasahi jalan setapak di depan mess karyawan.


Ia tak ingin membangunkan teman sekamar dengan tangisnya. Buru-buru ia menghentikan isak itu dan menyeka air matanya.


Hari ini adalah weekend, tapi kelompok Susi lembur karena ada salah satu customer menelepon dan menginginkannya untuk mempresentasikan produk.


Mereka semangat karena jika pemesanan membludak. Komisi besar menanti di depan mata.


"Gimana, hasil presentasi ku?" tanya Susi pada kedua kawan setia nya itu.


Mereka pun mengangguk dengan antusias dan berbinar.


"Benarkah? tanya Susi tak yakin.


" Iya Kak. Tinggal penampilan saja. Seharusnya kau di angkat jadi staf kantor saja. Di bagian pemasaran. Biar bisa pakai baju bagus," saran Rapika.


"Ck, kau ini berlebihan. Mana pantas sepertiku ini masuk divisi pemasaran? Mereka semua di sana itu cantik dan pintar, sedangkan aku? Tidak keduanya," ucap Susi rendah diri.


" Ih, si Kakak ni ha. Kenapa jadi pesimis dan down seperti itu? Menurutku, kau itu juga pintar Kak," elak si gadis batak.


"Itu kan menurutmu Ra, ada-ada saja kau ini!" Susi menggeleng kepala nya dan tertawa. Hingga mereka keluar kafe tersebut, setelah melewati sebuah ruangan dengan televisi LCD yang di gantung.


Langkah kaki Susi mendadak berhenti, dadanya berdegup. Ia menoleh pada layar lebar di atas kepalanya itu.


Tubuhnya membeku, dengan sudut hati yang tiba-tiba perih. Bahkan matanya mulai terasa panas.


Ia berusaha sekuat tenaga untuk berbalik dan melangkah keluar secepatnya.


Meninggalkan sosok pria tampan berkacamata di dalam layar lebar itu, yang tengah mengumumkan pertunangannya dengan selebgram cantik yang terus di rangkul nya dengan mesra.


" Waahh..., Jelita si selebgram cantik di lamar sama pengusaha kaya! Mana ganteng ih!"


"Mau!"


" Cocok ya mereka!"


"Huwaaa...! Mereka berciuman di depan kamera!"

__ADS_1


"Gokil!"


"Edaann!"


"Baper gua!" Itulah benerapa komentar dari para pengunjung kafe.


Dua tangan kurus terlihat menggebrak meja.


Brakk!


"Heehh!" Beberapa dari mereka terlonjak kaget.


"BERISIK! KALIAN NORAK!" Susi kehilangan kendali emosinya. Hingga Rapika dan Vanish menuntunnya keluar dari cafe.


" Ada masalah apa tu perempuan?"


"Jomblo kaleeekk!"


Susi melepas pegangan kedua kawannya itu pada lengannya. Kemudian ia berlari menyebrangi tempat parkir dan menaiki sebuah taxi.


Rapika dan Vanish hanya bisa melongo bersamaan. Tanpa tau apa yang harus mereka lakukan.


"Mau kemana Mbak?" tanya sang sopir,tua.


"Danau ya Pak!" jawab Susi, serak menahan tangis.


(Berengsek kau mas! Bisa-bisanya kau bahagia di atas penderitaan ku!) Susi menghapus air matanya kasar.


"Cuma ini Mbak danau yang dekat sini," ujar sang sopir.


"Gapapa, Pak. Ini uangnya sisanya yang lima ribu ambil aja, lumayan buat beli cilok." Setelah membayar Susi pun keluar.


Sang supir mengucapkan terimakasih, lima ribu juga lumayan. Sejak pagi ia belum sarapan, cus cari kang cilok.


Susi melempari batu-batu kecil yang ia temukan, kedalam danau buatan.


"Sialan kau Seno Pradipta!"


"Kau tidak boleh bahagia dengannya!"


" Hidup ku telah hancur karena mu!"


"Aku tidak akan melepaskanmu! Lihat saja nanti!" Susi terus mengumpat dan meneriaki pria yang telah membuangnya bagai sampah.


"Tuhan! Kenapa kau membiarkanku, mencintainya sedalam ini!"


" Hingga yang kurasakan adalah sedih yang tak berujung....," Susi jatuh berlutut dan air mata yang sejak tadi di tahannya luruh juga.


"Hiks..., kau jahat mas!"


"Bukankah kau dulu sangat mencintaiku? Sangat menginginkanku? Bahkan, kau selalu menggebu dan bergairah ketika kita beradu peluh,"


"Kenapa? Kau berubah begitu cepat? Hanya karena aku tak sempurna lagi?"


Bersambung>>>>>

__ADS_1


__ADS_2