
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
" Arjuna apa kau benar Arjuna ku?" Jelita hendak mendekat namun Seno mencekal tangannya.
Susi menoleh melihat wajah Arjuna, pria itu tetap seperti manekin dan kenebo kering. Apa tidak bisa menjawab gitu?
"Apakah Nona Jelita pernah mengenal calon suami saya ini?" tanya Susi santai, membuat ketiga orang ini terkesiap dengan jalan pikirannya masing-masing.
Arjuna merasakan desiran hangat di hatinya, ketika Susi mengucap kata itu disertai rangkulan erat pada lengannya.
Ia bahkan menoleh, yang kemudian di sambut oleh senyum yang sangat manis dari bibir berwarna delima itu.
(Kenapa memasang wajah itu disini, aku jadi tidak tahan.) batin Arjuna yang menahan gemas.
" Ka-kalian, akan menikah?" gagap Jelita. Dirinya yakin mengenal Arjuna, tapi kenapa pria ini seakan tak mengenalnya dan begitu angkuh.
Seno mengepalkan tangannya. Bahkan, genggaman pada tangan Jelita tak sengaja ia eratkan. Membuat Jelita mengaduh kecil.
(Seno, masih mencintai wanita itu. Apa kau menyesal sekarang hah! Sial. Ia bahkan cantik dan seksi tanpa perjuangan seperti ku.)
Hello ... mak lampir!
Susi berjuang secara sehat!
Ora koyo sampeyan!
Yang di tambel sana-sini.😏
"Wah. Wah. Wah ... Rupanya kalian sedang berkumpul, reuni kah?" sarkas Don Domino yang tiba-tiba hadir diantara mereka.
__ADS_1
Susi mengeratkan rangkulannya pada Arjuna, karena dirinya merasa tak nyaman akan tatapan pria itu.
"Hola. Sahabat ku Arjuna!" Don langsung menubruk tubuh tegap Ajuna tanpa aba-aba. Hingga punggung tangan Susi pun kegencet karena ulahnya.
"Sejak kapan kita bersahabat, Don Domino. The King Of Casino!" tampik Arjuna melerai paksa pelukan Don padanya.
Menarik kembali tangan Susi yang sempat tergencet tadi, mengelusnya pelan. Memberi isyarat lewat tatapan mata. Bahwa semua baik-baik saja.
Unnchhh ... Babang, mak pen di elus juga.
Husshh ... Inget mak puasa!
"Ah. Kenapa kalian pamer kemesraan pada jomblo abadi ini," rajuk Don seakan sengsara bin nelangsa.
" Lihatlah, seorang pemilik perusahaan Residen yang hampir saja pailit. Padahal sedang menangani tender besar-besaran. Kalau saja sistemnya tidak di 'Hack', bukan begitu Tuan Pradipta." sindir Domino dengan alis yang terangkat sebelah.
"Karena itulah, diriku yang cerdik ini membentengi sistemku dengan tekhnologi tinggi. Sehingga 'Hacker' kacangan tidak akan mampu menembusnya." ucap Don sambil berjalan perlahan memutari Arjuna dan Susi. Bahkan mata nakalnya sempat melirik bokong penuh nan bulat milik wanita di sebelah Arjuna ini.
(Apa si tua ini menyindirku?) batin Arjuna, risau.
Senyum miring terbit di wajah penuh rambut itu.
Haiihh ... Sebenarnya si keren, tapi otor gak suka muka penuh bulu🤣 semek, jember, risih tauk.
Bayangin mukanya Don Domino kayak Jeremy Thomas ya gais.
Hihii ...
(Pria tua tak tau diri! Beraninya dia memandangi wanitaku! Apa kau ingin ku masukkan kedalam peti mati!) Arjuna menggeram dalam hati. Ia bisa merasakan tubuh Susi yang sedikit gemetar.
__ADS_1
" Perkenalkanlah bidadari mu pada si tua malang ini. Barangkali nasibku bisa sebagus dirimu," pinta Don Domino, dengan akting sengsaranya. Memasang wajah memelas, membuat keempat orang itu ingin muntah berjama'ah.
"Dia calon istriku, anda akan menerima undangannya nanti." sahut Arjuna.
Susi lega karena ia tak perlu berjabat tangan dengan pria tua berwajah penjahat itu.
"Ck. Ck. Ck. Kau pelit sekali Arjuna Satria. Bahkan dengan tuan rumah acara ini," sindir Don yang kesal.
Pasalnya, ia sudah sangat gemas ingin merasakan kulit halus dari wanita yang lebih sering menunduk itu.
(Apa wanita itu takut padaku? Bagaimana bisa, Arjuna mendapatkan daun muda. Bekas istri Seno pula? Lelaki tolol macam apa kau Seno!) batin Don, terus memindai perlahan tubuh cantik tinggi di hadapannya ini.
Emang dia otak 'Dummy' Don🤣.
Ckit ...
"Ssh ...." Arjuna meringis pelan, karena ia mendapat kode dari Susi.
"Ekhm ..., saya rasa pembicaraan kita bisa bersambung lain kali," ucap Arjuna hendak pamit.
"Hei, apa kalian tega meninggalkan si tua ini?" protes Don dengan gayanya yang semakin membuat enek.
"Bagaimana dengan rencana kerja sama perusahaan kita, apa kah perusahaan si tua ini tak memiliki kesempatan." tawar Don, yang membulat Arjuna membulatkan matanya.
"Kau itu pandai menarik hati wanita, carikanlah untuk si tua ini biar tak kesepian." tawa Don Domino setelah selesai dengan kalimatnya.
(Pak tua ini bosan hidup rupanya.)
Bersambung>>>
__ADS_1