Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Nasib Daia.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Apa yang akan kalian lakukan sebenarnya?!" Daia meronta, hingga di pegangi oleh beberapa penjaga.


Sementara itu, ia melihat beberapa wanita yang tengah telentang di atas brankar, santai saja. Sepertinya mereka sudah tau apa yang akan mereka lakukan, sementara dirinya tidak tau apa-apa.


"Diamlah, Nona!" seru seorang pria berkacamata.


"Bagaimana aku bisa diam! Sementara, tidak ada satupun yang mengatakan apa yang akan terjadi." sahut Daia, dengan nada tinggi.


Dirinya takut, tatkala matanya berkeliling melihat berbagai macam alat operasi.


"Semua wanita yang sudah masuk kesini pasti mengerti, bahwa dirinya ... tak lagi memiliki hak ... atas jiwa dan raganya." jelas seorang pria bermata kuning dengan tatapan yang sangat tajam.


Saking tajamnya, seakan menembus kedalam jantung. Membuat napas tiba-tiba tertahan di tenggorokan.


Pria itu mengenakan sarung tangan medis berwarna biru. Beberapa perawat mulai memasangkan selang oksigen. Pada masing-masing wanita, yang telah siap di brankarnya.


Daia semakin bergidik, ketika pria bermata kuning mulai menyuntikkan bius pada mereka satu persatu.


" Giliran mu, Nona." Pria itu menunjukkan jarum suntik berisi cairan berwarna bening.


Daia membulatkan sepasang matanya, lidahnya kelu bahkan untuk sekedar berteriak.


(Don! Tolong aku ...!)


"Mami ...!" Teriakannya sukses juga memekik, ketika jarum panjang itu berhasil menembus punggungnya.


" Mereka sudah tidak sadarkan diri prof," ucap pria bermata kuning itu pada seorang pria dewasa yang berasal dari negara Hokage itu.


Sebagian rambutnya telah memutih, rahangnya tegas dan tatapannya benar-benar mampu mengupas kulitmu.


"Lakukan pembedahan bagian dada sekarang!" titahnya dengan aura dingin nan kejam.


Dengan sebuah benda tajam nan pipih di tangannya, sang profesor itu mulai memberi sayatan di dada para wanita itu.


Setelahnya ia memasukkan implan yang sudah diisi dengan narkoba jenis baru.


Selesai memberi sayatan lalu memasukkan implan, maka ia akan membiarkan anak buahnya yang menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Karena sang profesor hanya bagian menanam implant, sedangkan bagian menutup luka dengan jahitan adalah tugas dari anak buahnya.


"Berapa jumlah wanita yang akan melakukan tanam dada?" tanya sang profesor.


"Sekitar 15 orang, Prof ... sisanya 12 orang akan melakukan tanam bokong." jelas si pria bermata kuning. Dirinya tengah membantu untuk mengontrol efek bius nya.


Mereka sengaja, memilih wanita muda berdada serta berbokong rata.


"Don, para wanita itu telah selesai di eksekusi." lapor anak buah Domino.


" Kirim mereka sesuai sesi, dan sesuai negara tujuan." Domino menyeringai, kemudian kembali menenggak wine miliknya.


🐍🐍🐍🐍


Sementara itu ...


"Seno!" sapa Easy. Wajahnya sangat cerah, pasalnya sang putra akhirnya mau mengunjunginya.


Wanita paruh baya itu merangkul tubuh tegap itu, menyalurkan kerinduannya. Namun, Seno hanya menanggapinya dengan datar dan dingin.


"Kau berhasil membawa nya pulang, kau memang wanita luar biasa." puji Easy pada Jelita, yang membuat wanita itu seketika besar kepala dan tersenyum bangga.


" Baiklah." Seno pun melangkah masuk dengan langkah tegap. Melewati dua wanita yang tersenyum menatap punggungnya.


" Kenapa kau nampak berbeda hari ini?" tanya Easy yang heran akan air wajah Jelita.


"Kami akan menceritakannya padamu, di dalam." Jelita menggandeng tangan Daia. Kemudian mereka melangkah beriringan hingga ke meja makan.


" Mami senang sekali, meja makan ini berisi juga." kata Easy sumringah.


Seno tak sedikitpun menggubris, ia malah fokus menatap steak pada hot plate. Steak yang di sajikan oleh pelayan di rumahnya itu, terlihat menggugah selera. Namun, Seno jadi teringat seseorang dan juga suara lembutnya ketika melayaninya makan.


(Mas, steak tenderloin well done dengan saus kesukaanmu ... ) bahkan suara tawa renyah itu tiba-tiba berputar di kepalanya.


"Seandainya Daia juga ada disini, Mami akan tambah senang," lirih Easy yang terlihat tengah merindukan putrinya itu.


"Sudah menjadi pilihannya, berhutang budi dengan manusia setengah demit macam Don Domino."


" Berdoa saja, ia kembali pada mu dengan utuh Mam." celetuk Seno,

__ADS_1


"Hati-hati bicara tentang kakakmu!" hardik Easy geram, hatinya yang tengah khawatir mendadak emosi mendengar kalimat seperti itu.


Seno menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong daging steak itu.


"Pedulilah sedikit dengan saudaramu ... apa kau tidak memikirkan dia sedikit pun?" Easy melunakkan suaranya, ia takut Seno salah paham dan pergi lagi.


Dia sungguh wanita tua yang malang saat ini. Karena begitu mengemis perhatian dari anak-anaknya.


"Bukankah aku telah memperingatinya. Untuk tidak berhubungan dengan mafia itu. Tapi lihatlah, bagaimana ia bangga dengan sifatnya sebagai seorang pembangkang!" tukas Seno menatap Easy lekat penuh emosi. Betapa ia sangat muak melihat perhatian dan cara Easy memanjakan kakak perempuannya itu.


" Aku tidak jadi makan." Seno bangkit berdiri setelah mendorong hot plate miliknya.


"Sayang, haruskah kau pergi sekarang?" tahan Jelita dengan memegangi lengan Seno.


Dirinya masih merindukan kehangatan pria perkasa itu.


"Jangan mengaturku!" Seno menepis tangan Jelita.


Lalu, dia mengancam dengan mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan wanita yang tengah hamil muda itu.


"Seno kau mau kemana, makanannya bahkan belum kau sentuh sedikitpun." cegah Easy.


Brak!


Kedua wanita itu bahkan menjengit kaget.


"Kau yang membuat ku hilang selera Mam!" pekik Seno pada Easy, hingga wanita itu memegangi dadanya.


"Lagi pula steak itu tidak akan seenak buatan Susi." Seno pun berlalu, hendak meninggalkan ruang makan.


Seketika langkah kakinya berhenti, dan ia menoleh.


"Jelita tengah mengandung calon cucumu. Jaga mereka berdua, karena kandungannya sangat lemah."


"Aku akan tinggal di apartemen." Seno pun menyambar kunci mobilnya dan melangkah dengan cepat.


"Kau ha-hamil? Cucuku ...?" Easy nampak membekap mulutnya.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2