Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Main apa sih mereka?


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


...Part ini mengandung ketidak jelasan yang ambigu....


...Di mohon tidak protes sama authornya, wkwkwk....


_______


"Apa! Menikah!" Susi membekap mulutnya lalu, ia mengajak Arjuna berputar-putar kegirangan.


"Sayang, ingatlah perutmu," ringis Arjuna. Susi yang hamil dia yang ngilu. Apalagi istrinya ini ceria dan gak bisa diam. Membuatnya sering menahan napas karena ngeri dengan apa yang dilakukan oleh Susi.


"Aku bahagia banget, sayang. Akhirnya mereka berdua bersatu juga. Meski harus di bumbui dengan kesalahpahaman yang rumit. Tapi, dengan begitu rasa cinta di hati Better terpancing kepermukaan," ujar Susi dengan senyum sumringah.


" Yah, mereka memenangkan jackpot dariku," ucap Arjuna.


"Wah, sayang. Kau memang keren! Terima kasih!" Susi berjinjit, lalu mengecup pipi suaminya.


"Kenapa, kau yang berterima kasih?" heran Arjuna, meski ia senang karena mendapat ciuman dadakan dari istrinya itu.


"Karena, sayang sudah sangat baik sama Vanish. Memperkerjakannya sebagai asisten, dengan memberinya gaji yang besar. Itu sangatlah membantu keluarganya. Sekarang, sayang mau kasih mereka rumah dan saham. Kehidupan Vanish kedepannya pasti terjamin dan bahagia." Susi berkata dengan suara serak menahan tangis. Meski akhirnya ia tak kuasa juga, sehingga kristal bening itu pun meleleh di wajahnya.


"Semua itu, bukan karena dia sahabatmu. Tapi, karena kemampuan dan tekadnya yang kuat. Seperti dirimu dulu, aku hanya membantu sedikit," jelas Arjuna. Seraya menyeka pipi tembam Susi yang basah.


"Jangan nyubitin pipi kenapa? Iya emang aku tembem!" geram Susi, ia mengira Arjuna sedang meledeknya yang semakin gemuk saja karena kehamilannya. Beratnya sudah bertambah sebanyak 20 kilogram. Pakaiannya serba baru dengan ukuran besar semua, termasuk kacamata bakpao dan segitiga bermudanya.


Begitupun dengan ukuran sepatu, kaki rampingnya juga ikut membesar sepertinya. Bahkan jari-jarinya jadi bulat semua. Beginilah wanita yang sedang hamil, rela segala bentuk indah pada tubuhnya berubah.


Rela menanggung beban berat hingga nyeri punggung dan kaki ia rasakan setiap hari. Belum lagi ketika melahirkan nanti. Pasti, akan semakin banyak bagian tubuhnya yang berubah dan koyak.


"Aku tuh gemes, sayang. My Queen kesayanganku." Arjuna masih terus menguyel-uyel kedua pipi chubby istrinya itu. Meski bibir Susi sudah mengerucut lantaran kesal.


Cup! Muah ... muah!


Habis sudah seluruh area wajahnya. Arjuna tak menyisakan satu senti pun untuk lolos dari kecupannya. Mau tak mau, rasa kesal di hatinya pun mereda. Memang, Arjuna paling bisa menguasai dirinya.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Aku berangkat, ya. Bagaimana pun, mereka adalah orang-orang terbaikku. Aku ingin berada di sisi mereka, ketika momen penting seperti ini." Arjuna berkata dengan senyum sembari mengelus rambut panjang Susi. Menyeka keringat di dahi istrinya itu, karena olahraga panas mereka barusan cukup menguras tenaga si ibu hamil.


"Aku mau ikut, mau melihat sahabatku di pajang jadi pengantin." Susi mendekap raga polos suaminya itu, seakan tak mau untuk di tinggal.

__ADS_1


"Hanya pernikahan sederhana, My Queen. Nanti juga mereka akan membuat resepsi di sini. Lagipula, perutmu sudah sebesar itu, sayang. Berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi saja rasanya kau begitu lelah dan kesusahan. Bagaimana jika ikut ke kampungnya Vanish, perjalanan lumayan jauh lho. Bisa tiga jam lebih di dalam mobil." Arjuna memberi penjelasan dengan hati-hati. Agar jangan sampai istrinya ini tersinggung akan kata-katanya. Wanita hamil, kalau sudah ngambek apalagi marah, seramnya bisa mengalahkan singa π™¨π™šπ™§π™šπ™£π™œπ™šπ™©π™ž (π™–π™›π™§π™žπ™ π™–).


"Gak mau tau, pokoknya aku harus ikut. Nanti, aku juga mau mampir dulu ke butik beli kado buat Vanish." Setelah mengatakan keinginannya yang sudah tidak mungkin dibantah itu. Dirinya perlahan turun dari pembaringan mereka. Ia berjalan santai menuju kamar mandi dengan keadaan tubuh polos tanpa sehelai benang itu. Membuat Arjuna meringis ketika perut Susi yang bulat bagai semangka raksasa itu, terlihat begitu maju di depan tubuh Susi.


"Sayang, tunggu! Biar aku membantumu! Jalannya jangan terlalu cepat! Awas nanti kamu terpeleset!" Begitulah pesan Arjuna, setiap kali sang istri berjalan kekamar mandi sendirian.


Ia juga dengan tubuh polosnya berjalan santai menyusul istri tercintanya itu. Biar saja, toh mereka hanya di kamar berdua. Tidak ada yang melihat juga, paling cuma para readers yang ngintip.


"Sini, biar aku yang menyabuni tubuhmu. Sayang, duduk saja sini." Arjuna, menuntun Susi untuk duduk saja di atas kursi khusus yang telah ia pesan untuk memandikan istrinya itu. Karena, Susi tidak suka masuk kedalam bathup semenjak ia hamil besar.


Saling melihat tubuh polos satu sama lain, sudah menjadi hal biasa bagi keduanya. Tak ada lagi rasa malu, atau risih bagi Susi. Ketika tangan suaminya itu, mulai mengarahkan spon mandi ke tubuhnya. Lalu, secara perlahan dan lembut mengusap setiap inci dari bagian tubuhnya.


Terkadang, Susi akan menggeliat geli. Ketika, Arjuna menggodanya dengan mengusap beberapa kali di bagian sensitifnya.


"Kau, pasti sengaja kan Ar," ucap Susi dengan menahan tawanya.


"Hentikan, Ar! Kalau aku mau lagi gimana!" gemas Susi berusaha menahan hasratnya yang kembali muncul. Karena sentuhan demi sentuhan di atas tubuhnya, yang licin dan penuh busa sabun itu.


"Ah, baiklah. Aku akan membilasmu." Arjuna hendak berjalan mengambil selang shower, tapi tangan Susi keburu mencekalnya.


"Aku gak mau bilas dulu." Arjuna sontak menoleh. Ia menelan ludahnya kasar. Pasalnya, ia juga tengah merasakan hasratnya yang sudah menggelora lagi. Semua akibat kejahilannya sendiri. Sekarang, dirinya juga yang bingung bagaimana mengakhirinya.


"Sayang, ayo kita main. Semua 'kan karena ulahmu. Sini!" Susi berhasil membuat Arjuna berbalik. Hingga ia tak dapat menahan dirinya untuk tertawa kencang.


"Jangan melihatnya seperti itu." Kata Arjuna, malu. Ketika, Susi menatap sang naga miliknya yang sudah tegak menantang.


"Sendirinya juga udah bangun." Susi pun mengulurkan tangannya yang penuh sabun untuk mengusap sang naga perkasa. Porsinya yang selalu membuat intinya sesak. Membuat, dirinya selalu candu untuk menerima setiap hujaman darinya.


"Ah, sayang ... apa yang kau lakukan!" pekik Arjuna merasa sengatan itu menjalar ke setiap sendinya. Sentuhan Susi memang mampu membuat akal pikirannya kosong seketika.


Susi memainkannya hingga Arjuna menyudahinya dengan larva yang muncrat kemana-mana. Sekarang, giliran Arjuna yang berjongkok di depan Susi. Mendorong tubuh istrinya agar bersandar. Ia kembali membasuh tubuh berisi Susi dengan sabun, hingga busa-busa itu kembali memenuhi tubuh Susi.


"Ssshhh ...." Susi berdesis, menahan sensasi dari setiap sentuhan yang menggelitik bagian sensitifnya. Arjuna sebenarnya sudah tidak tahan untuk memasukkan sang naga ke dalam sarang yang semakin indah dan menggoda itu. Hanya saja, ia tak tega karena perut Susi yang semakin besar.


Susi melenguh, hingga suara erangan dan desahnya memenuhi ruangan itu.


Arjuna dengan lihai, terus mengeksplor bagian favoritnya itu. Hingga, sang naga kembali tegak berdiri.


"Sayang, temui saja mereka."


"Tidak, my queen. Aku tidak ingin kau kelelahan."

__ADS_1


"Tidak, apa. Jangan menyiksa dirimu." Susi berkata sambil merasakan sensasi nikmat yang hampir di ujung batasnya itu.


"Lakukan, saja. Aku sudah hampir sampai, aahh ...!" pekiknya.


"Apa ini sakit!" Arjuna kaget. Namun, Susi menahan tangannya yang hendak ditarik dari bawah sana.


"Ini, enak sayang. Tidak sakit," jelas Susi dengan mata yang kadang terbuka, kadang terpejam itu. Bahasa ilmiahnya, merem melek.


Tak lama kemudian, Susi memekik kencang. Pertanda bahwa Arjuna telah berhasil membawanya sampai ke puncak kenikmatan.


"Bantu aku berdiri, sayang." Susi mengulurkan tangannya. Arjuna segera bangun untuk membantu Susi berdiri.


"Aku mau bilas di bawah shower."


"Biar aku membilasmu di sini saja. Tubuhmu penuh sabun, nanti licin dan susah berjalan."


"Kan di pegangin." Susi yang semenjak hamil menjadi orang yang keras kepala. Selalu bersikukuh dengan setiap keinginannya.


Mereka pun sampai di bawah shower. Susi memaksa untuk membantu Arjuna mandi. Ia sangat suka bentuk tubuh sempurna suaminya. Apalagi, dengan sang naga. Karena, selalu dapat membuatnya selalu puas dan bahagia.


" Sayang jangan lakukan itu, aku sedang susah payah menahan diriku. Sudah cepat bilas, katanya mau ikut." Arjuna berusaha mengalihkan, tapi istrinya ini terus menggodanya dengan posisi yang membelakangi dirinya. Seakan sebuah kode yang membuat imin seorang Arjuna menjadi lemah.


"Sayang, kau!" Arjuna kaget karena Susi sudah mengarahkan sang naga ke depan sarangnya. Arjuna, mana bisa tahan dengan undangan serta jamuan yang menawarkan kenikmatan.


Susi yang sudah siap pada posisi aman, menengok kebelakang, kemudian tersenyum dengan menggoda.


Arjuna memegang kuat panggul Susi yang tengah merunduk itu, ia bermain dengan perlahan dan lembut. Meski, tetap saja membuat tubuh istrinya itu bergoncang hebat karena hentakan kuat darinya.


________


"Sayang, beneran mau ikut? memangnya tidak lelah?" tanya Arjuna memastikan.


"Aku tidak lelah, hanya mengantuk saja. Nanti, aku bisa tidur di mobil." Susi tetap mengemasi barang-barang yang akan di bawa. Sebenarnya hanya isi tasnya saja, tak lupa sebotol minyak kayu putih besar dan juga permen dari buah asam jawa yang di buat bulat-bulat sebesar kelereng dengan gula pasir yang membalutnya.


Susi ini, termasuk terlambat mengidam. Ia mulai makan rujak mangga muda di awal minggu ke 32 kehamilannya.


"Kami sedang dalam perjalanan. Kau kalah start, Bung!" Lalu Arjuna terkekeh, setelah memutuskan sambungan telponnya.


" Joy, pasti kebakaran jenggot." Susi pun ikut terkekeh bersama suaminya.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2