
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
" Hah asap?" Lovely menengok ke arah Lia, benar saja gadis buru-buru berlari ke dapur.
"Huaaaa!" pekiknya. Joy segera berlari menghampiri suara jeritan adiknya itu. Sementara Lovely hanya menggeleng dan menepuk jidatnya kemudian.
"Kenapa Lia?" tanya Joy ketika sampai di dapur terlihat remaja jangkung itu menatap kompor di hadapannya dengan sedih.
"Gosong kak. Untuk kesekian kalinya, hiks!" Lia menatap nanar roti gosong berikut wajannya.
"Sudahlah, kau memang payah di dapur!" Joy menjitak pelan kepala adik perempuannya itu.
"Aw! Kenapa mulutmu jahat sekali kak! Bisa tidak membesarkan hatiku sedikit!" pekik Lia, sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Lalu gadis remaja itu pergi meninggalkan dapur. Di pertengahan dia berpapasan dengan Milna.
"Em, hai! Apa ada masalah?" sapa Milna.
"Ah, tidak Kak! Aku hanya sedang bereksperimen tadi," kilah Lia, sedikit kikuk.
"Lebih tepatnya dia sedang mencoba membakar dapurku," sarkas Joy seraya berlalu melewati adiknya yang manyun seketika.
"Apa Lia sedang membuat sesuatu?" tanya Milna, mencoba akrab dengan calon adik iparnya. Ia bahkan mendekati gadis itu yang berdiri di pintu dapur.
"Iโitu ... aโcuma," Lia begitu kikuk sampai tidak bisa meneruskan kalimatnya.
"Apa kamu sedang coba membuat sesuatu?" selidik Milna.
"Begini lho calon menantuku ...,"
"Eh, Mami jangan!"
"Sudah, biar Mami yang bantu menjelaskan pada Kakak ipar mu ini." Lovely mendekat ke arah Milna berdiri, kemudian di susul oleh Lia.
"Begini sayang, Lia yang belum pernah masuk dapur sebelumnya berencana ingin membuatkan sesuatu untuk menyambut mu. Jadilah dia membuat burger beef, tapi gagal maning-gagal maning." Lovely terkekeh mengingat tingkah laku Lia. Gadis itu begitu antusias sehingga mau melakukan hal yang tidak ia kuasai.
"Maaf,Kak. Ku pikir itu mudah. Hanya memanggang roti dan daging asap saja. Tapi ternyata, tetap ada tehniknya," ucap Lia murung.
"Aih, tidak perlu begitu. Nanti kita bikin sama-sama saja bagaimana?" tawar Milna yang langsung mendapat anggukan cepat dari Lia.
__ADS_1
"Sekarang kita makan kue aja dulu, tuh Kakak bawa banyak. Semoga kamu dan Mami suka," tutur Milna seraya melihat ke arah calon mertuanya itu.
Lovely tersenyum hangat, akhirnya impiannya tercapai untuk mendapatkan menantu yang cantik tapi baik. Wanita yang mampu membawa sang putra pada kodratnya.
"Lia, ajak Kakakmu istirahat. Biar Mami buatkan minuman," titahnya pada gadis semata wayangnya itu.
"Milna bantu ya Mi?" tawar Milna. Ia ingin menjalin kedekatan dengan ibu dari calon suaminya itu.
"Tidak perlu sayang, kau istirahatlah di sofa sana. Naikkan kakimu agar peredaran darahmu lancar. Mami masih dapat melakukannya sendiri," ucap Lovely penuh perhatian. Membuat Milna merasakan kehangatan seorang ibu yang sudah lama tak dirasakannya.
"Tapi ...,"
"Gapapa ayo!" Joy menarik tangan Milna mengajaknya keluar dari dapur.
"Aku ingin membantu Mami Love kenapa kau menarik tanganku Joy? Apa kau ingin aku terlihat buruk di mata calon ibu mertuaku?" sarkas Milna. Membuat Joy melongo, walaupun begitu tidaklah mampu mengurangi kadar ketampanannya.
"Hei, aku hanya ingin agar kau beristirahat. Tidak ada maksud lain. Kau 'kan dengar jika mami juga mengatakan tak perlu membantunya. Sini." Joy kembali membawa Milna, ke ruang keluarga. Di mana terdapat sofa bed di sana.
"Sini, bersandarlah dan luruskan kakimu. Jika ingin menjalin hubungan baik dengan mamiku. Cukup dengarkan apa kata-katanya," jelas Joy seraya mendudukkan Milna di sofa. Ia juga menaikkan kedua kaki calon istrinya itu ke atas sofa.
"Ini adalah kewajibanku pada kalian. Bahkan mami mengatakan begitu. Kau harus terbiasa atas. segala perlakuanku nantinya. Setelah menikah nanti, aku bisa bebas mengusap perut dan memijat kakimu hingga kau terlelap. Untuk saat ini, hanya inilah yang bisa kulakukan untuk meringankan beban mu saat mengandung," jelas Joy. Membuat Milna kehabisan kata-kata. Bahkan ia merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya.
"Kak!" panggil seorang gadis remaja di depan pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga.
"Ya Lia, kemarilah temani Kakak!" sahut Milna. Ia melambaikan tangannya mengajak gadis manis itu untuk menghampirinya.
"Apa aku tidak sedang mengganggu kalian?" tanyanya takut-takut.
" Sebenarnya kau memang mengganggu, kenapa masih tanya!" ketus Joy.
"Ah tidak Lia. Tolong jangan dengarkan dia!" kilah Milna seraya melempar sorot mata tajamnya ke arah Joy.
"Ish kau ni! Kak Milna pun bilang tidak mengganggu," ucap Lia sambil mencebik kearah Joy.
"Anak kurang ajar!" Joy mendaratkan jitakan ke atas kepala Lia. Membuat gadis remaja itu memekik dan mengaduh bersamaan.
"Kau sendiri yang kurang ajar. Tak pernah mau mendengar nasihat mami!" Setelah mengatakannya Lia pun bersembunyi di samping tubuh Milna. Hampir saja Joy kembali mendaratkan jitakannya. Namun, tangannya berhenti di udara setelah mendapat tatapan tajam dari Milna.
__ADS_1
๐๐ฆ๐ฉ๐ฆ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฌ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ต๐ข๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ต๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข-๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข. Batin Lia, terkekeh di dalam hatinya.
"Biarkan dia di sini bersamaku, Joy. Aku ingin mendengarnya bercerita tentang keadaan di sana. Aku ingin mengenal calon adikku lebih dekat," pinta Milna. Membuat Joy mendengus pelan. Mau bagaimana lagi benar juga apa yang Milna katakan. Bukankah bagus jika dirinya berusaha menjalin kedekatan dengan keluarganya. Bukankah itu pertanda ia telah menerima dirinya secara tidak langsung.
"Baiklah, aku akan menonton tivi." Joy beranjak dari sofa. Dirinya pun menyibukkan diri di depan layar 90 inchi tersebut. Memilah-milih Disk Vidio untuk di putar.
"Taraa ... minumannya datang!" Mami Love datang membawa nampan dengan beberapa gelas jus dingin. Membuat Milna menelan air liurnya.
"Ini, buat ibu hamil. Jus tomat pasti bisa mengurangi mual di trisemester pertama ini." Mami Love menyerahkan gelas tinggi itu ke tangan Milna.
"Terima kasih, Mam. Jadi merepotkan," ucap Milna penuh sesal.
"Eh, tidak merepotkan sama sekali. Minumlah, biar tubuhmu bugar dan fresh," ucap Lovely, ia pun ikut duduk di sofa sebelah Milna.
"Lia, tolong sajikan kue-kue yang tadi di bawa Kakakmu ini ya. Mami sudah tidak sabar ingin mencicipinya," titah Lovely pada putrinya itu.
" Oke Mam!" Lia pun bangkit dari sisi Milna.
"Na, bagaimana tawaran dari Mami. Apa kau sudah memikirkannya?" tanya Lovely seraya menatap wajah calon menantunya itu lamat.
"Untuk itu ... aku telah memikirkannya matang-matang. Sehingga aku mengambil keputusan, bahwa seorang istri haruslah ikut kemanapun suaminya pergi. Jadi, aku menyerahkan semuanya pada Joy nanti," jawab Milna bijak.
"Baiklah, Mami harap kehadiranmu dapat mempersatukan kembali keluarga yang saling terpisah jarak. Mami juga ingin mengurus cucu-cucu Mami nanti," jelas Lovely dengan senyum yang tak pernah lepas dari raut wajah anggunnya.
"Kau tau, semenjak Lia besar Mami berharap masih bisa hamil lagi dan memberikannya adik agar dia tidak kesepian. Karena punya saudara laki-laki, tapi macam tak punya abang," adunya pada calon menantunya itu.
" Baiklah, Mam. Semoga Joy dapat memberi keputusan yang bijaksana, dan memberi maslahat untuk kita semua," ujar Milna.
"Tenang saja, Mam. Aku akan memboyong istri dan juga si kembar ke tanah air kita. Beri aku waktu untuk menyelesaikan pekerjaan di sini," timpal Joy yang ikut bergabung di sofa bed. Bahkan dengan percaya dirinya ia ikut bersandar di sebelah Milna.
"Mami akan menunggu saat itu tiba. Lagi pula, harus menunggu sampai kandungannya kuat dan boleh dibawa naik pesawat," ucap Lovely senang. Wanita paruh baya itu lancar dengan bahasa karena papi Joy berasal dari negara ini.
"Iya, Mam. Nana juga akan menunggu masa itu dengan senang hati. Karena di negara ini pun sudah tidak ada keluarga. Hanya ada keponakan yang tinggal di negara K," jelas Milna membuat Lovely bernapas lega. Meski tak di pungkiri jika dirinya turut merasa sedih atas kenyataan bahwa Milna sebatang kara. Namun, seseorang menyadari sebuah fakta yang terselip pada kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Milna.
๐๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ฆ ๐ต๐ช๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ?! Joy menegakkan tubuhnya. Menoleh kearah Milna yang sedang menatapnya dengan senyum miring.
Bersambung>>>>
__ADS_1