Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 282. ABPR


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥


"Joy!" Milna seketika merangkul erat lengan kekar milik suaminya itu.


"Kau ini, tadi memukul sekarang tiba-tiba memelukku. Sudah tidak usah berpura-pura galak lagi," ucap Joy sambil tertawa gemas. Tangannya terulur hendak mencubit pipi Milna.


PLAK


"Apaan sih Joy!" ketus Milna galak setelah menepis tangan Joy kasar.


"Tuh, jadi istri kekerasan mulu kerjaannya." Joy mengerucutkan bibirnya lucu. Membuat Milna menyemburkan gelak tawanya seketika.


Joy memandangi wajah istrinya yang tengah terbahak itu dengan seulas senyum senang. Tanpa komando tangannya terjulur kedepan menyibak surai yang menutupi kening Milna.


Tak ada penolakan, Milna masih terus tertawa geli. " Sejak kapan seorang Joy dapat memasang ekspresi seperti itu. Kau sungguh tidak cocok kala merajuk," ledek Milna masih dengan tawanya.


"Aku akan lebih sering memasang wajah itu, jika bisa membuat kau tertawa karenanya. Daripada melihat kau marah, lebih baik seperti ini." Joy meneruskan usapan jemarinya pada pipi dan rahang Milna. Membuat Milna seketika menghentikan tawanya.


Dadanya berdesir hangat kala mendapat sentuhan serta tatapan selembut itu dari Joy. Pria ini bisa manis juga, pikirnya.


'Apa jangan-jangan kepala sempat terbentur speed boat tadi?' batin Milna.


"Na, aku ...," ucap Joy seraya menatap semakin lekat ke dalam iris Milna yang teduh. Sepertinya keduanya mulai terbawa suasana sepi dan syahdu.


Joy menggerakkan ibu jarinya ke depan wajah Milna. Hingga ia menyentuh dagu kemudian naik ke bibir bawah Milna yang penuh menggoda.


Joy memajukan wajahnya perlahan, hingga keduanya semakin dekat dan dekat lagi. Joy bahkan menelan ludahnya kasar kala kedua matanya menatap bibir Milna yang ia ingat terus akan rasa manisnya.


Milna tak bergeming, sampai ketika kedua bibir mereka saling bertemu. Mereka terdiam sesaat, mungkin Joy tengah menimbang apakah akan ada penolakan dari Milna atau tidak. Merasa mendapat lampu hijau, Joy kembali menekan bibirnya memberi kecupan ringan.


Perlahan-lahan ia memperdalam ciumannya dengan memberi sedikit sesapan dan juga lumaatan. Sebelah tangannya menekan tengkuk Milna hingga istrinya itu merespon dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Joy.


Milna ternyata menikmati dan perlahan membalas serangan demi serangan yang Joy berikan. Joy tersenyum tipis di sela-sela ciumannya. Ia menggigit pelan bibir bawah Milna agar istrinya itu membuka akses lebih luas untuk lidahnya bereksplorasi. Hatinya senang bukan kepalang, begini saja sudah merupakan berkah baginya.


Trinit ... Trinit ...


Arloji yang melingkar di lengan Joy berbunyi dan berkedip. Membuat keduanya sontak melepaskan tautan mereka. Joy sempat tersenyum seraya mengusap bibir Milna yang basah karena pertukaran saliva keduanya barusan. Milna memalingkan wajahnya kesamping demi menutupi semburat merah muda di kedua pipinya.

__ADS_1


'Kau payah! Bagaimana bisa terbawa suasana begini!' batin Milna merutuki perbuatannya barusan. Telinganya tiba-tiba menangkap sayup-sayup suara. Nalurinya merasakan ancaman. Serta merta Milna mengedarkan pandangannya.


"Bet, bagaimana?" tanya Joy dengan mendekatkan kedua bibirnya ke depan jam tangan tersebut.


"Bagaimana keadaanmu dan Milna," tanya Better di sana.


"Kami baik, hanya lapar. Aku juga tidak tega melihat Milna kelaparan," jelas Joy.


" Bertahanlah, sebentar lagi tim pencari akan menjemput kalian berdua," terang Better.


Akan tetapi, tiba-tiba saja Joy merasakan sesuatu. Ia menoleh kearah Milna yang mana istrinya itu langsung mendekat padanya.


"Joy, sepertinya ada yang datang," bisik Milna. Dirinya merasakan jika air laut yang tadinya tenang menjadi riuh. Untung saja mereka kini sudah berada agak kedalam pulau tersebut.Meneduh di balik pohon besar. Entah itu pohon apa.


"Aku juga merasakannya, tapi tidak mungkin jika itu tim yang dikirim oleh Better," Joy mengerutkan keningnya pertanda ia berpikir keras.


"Halo, ada apa Joy? Halo!" panggil Better di balik alat komunikasi canggih tersebut.


" Apakah tim yang kau kirim tiba lebih cepat?" tanya Joy memastikan.


"Ah tidak Joy. Mereka baru melapor padaku jika masih berada dalam perjalanan. Mereka pasti sampai dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Kalian bersiaplah tunjukkan keberadaan kalian di tempat terbuka." pesan Better.


"Kenapa Joy? Ada apa?" Better ikut merasa ada yang tidak beres.


"Ada yang datang kesini, entah mereka siapa dan ada berapa orang. Kami akan bersembunyi dan mempertahankan diri sebisa mungkin." Joy pun menarik tangan Milna, untuk merangsek semakin ke dalam pulau tersebut. Sambungan seketika terputus.


Milna seketika merebahkan tubuhnya diikuti oleh Joy. Keduanya menempelkan telinga mereka di atas tanah.


"Lebih dari lima orang," ucap Milna yang kemudian diangguki oleh Joy. Sepasang mata Joy menajamkan pandangannya, seketika itu juga aura petarung kembali menguar dari rahangnya yang mengeras.


"Aku tidak tahu siapa mereka, yang pasti mereka menginginkanku. Karena itu kau bersembunyilah. Jangan keluar sampai bantuan datang," ucap Joy pada Milna.


"Kau pikir aku ini anak kucing, yang akan ketakutan ketika di serbu musuh." Milna menolak perintah Joy mentah-mentah.


"Aku tau jika kau adalah titisan singa gurun. Tapi ingatlah, jika saat ini kau tidak membawa dirimu sendiri." Joy berkata dengan hati-hati sambil memegang kedua bahu istrinya itu. Ia paham jika Milna juga memiliki jiwa petarung macam dirinya. Akan tetapi keadaannya saat ini cukup riskan untuk berkelahi.


"Kehamilanku ini, tidak menghilangkan jati diriku. Aku akan meladeni mereka dengan atau tanpa ijin darimu." Milna menepis dengan keras kedua tangan Joy yang memegang bahunya.

__ADS_1


"Keras kepala! Kau membuatku khawatir. Aku merisaukan keadaan kalian bertiga. Lagipula, kita tidak tau siapa lawan kita yang sebenarnya." Joy terus mengikuti langkah Milna, istrinya itu menyusuri semak belukar seperti tengah mencari sesuatu.


"Aku menemukannya!" seru Milna tertahan. Ia mengangkat beberapa tangkai rumput berbunga. "Aku yakin jika akan menemukan tumbuhan ajaib di sekitaran tempat ini."


"Apa itu?" tanya Joy dengan kedua alis yang saling bertaut.


"Ini tanaman beracun, aku akan memolesnya ke dalam senjataku." Milna berjongkok. Ia mengeluarkan dua pisau dari bawah sepatunya. Kemudian, Milna mulai menumbuk tanaman tersebut. Setelahnya ia memoleskan tanaman yang di haluskan tersebut pada senjatanya.


"Pegang ini untukmu." Milna menyerahkan satu senjata tajam itu ke tangan Joy.


"Darimana kau belajar hal seperti ini?" heran Joy. Sambil menatap senjata di tangannya.


"Tentu saja ketika aku mengikuti wajib militer. Kami mempelajari beberapa tanaman beracun yang akan berguna di kala perang gerilya.


" Kau benar-benar hebat! Macam Rambo saja!" puji Joy dengan kedua mata berbinar.


"Cukup, kagumnya nanti saja. Mulai saat ini jangan meremehkan ku lagi." Milna bersembunyi ketika ia mendengar derap kaki.


"Aku tidak bermaksud meremehkan mu. Aku hanya terlalu khawatir," bisik Joy pelan di hadapan wajah Milna. Bahkan ia menangkup sebelah pipi Milna dengan tangannya. Milna hanya dapat mengerjapkan kedua matanya. Karena ia belum pernah melihat tatapan hangat dari Joy sebelumnya.


'Payah! Bukan waktunya terpesona!' batin Milna menyadarkannya.


"Kita harus menyerang dari jarak dekat. Mereka pasti membawa senjata api," bisik Milna. Joy menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menempatkan posisinya agak jauh dari Milna. Ia mengkode dengan jari agar Milna merunduk lebih dalam lagi. Karena posisi musuh semakin dekat.


"Cari mereka sampai dapat. Mereka pasti saat ini tengah gemetar ketakutan!" Salah seorang pria bertubuh kekar, kemungkinan adalah pemimpin dari penyergapan itu memasang seringai seramnya.


"Kita berpencar! Kalian kesebelah sana!" titahnya lagi pada anak buahnya. Mengetahui mereka berpencar, Joy dan Milna menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.


KREK


"Apa itu!" Salah satu orang suruhan Max, menghampiri asal suara. Hingga sebuah tangan tiba-tiba menarik kakinya.


BRUGH


"Argh!" jerit pria itu tertahan ketika Joy mengiris lehernya. Joy langsung mengambil senjata api yang di pegang oleh pria tersebut.


"Aku menemukanmu." Seorang pria tau-tau ada di belakang Milna dan mengunci pergerakannya dengan todongan senjata api.

__ADS_1


'Milna ...!' teriak Joy tertahan dalam hatinya saja.


Bersambung>>>


__ADS_2