
🔥🔥🔥🔥
Dadanya seketika sesak, tenggorokannya tercekat. Melihat kejadian di depan matanya saat ini. "Apa yang kau lakukan Joy? Lihatlah, ini pasti adalah akibat perbuatanmu yang sudah lalu. Kau membuat istri dan anakmu yang menanggung semuanya. Kau benar-benar pecundang Joy!' batinnya kembali menyalahkan diri sendiri.
Milna memberi kode melalui mata ke arah Joy. ' Tenanglah. Kita dapat melalui ini dengan pikiran yang tenang.' Seakan paham Joy kembali mengeraskan rahangnya yang sempat rapuh barusan.
"Hei mana yang lainnya!" Pria yang menyandera Milna menengok sekilas mencari kawannya. Melihat sedikit celah, Milna mengarahkan senjata tajam yang di genggamnya ke belakang.
JLEB
"Akh! Kau!" Pria tersebut ambruk dengan luka tusukan di dadanya. Berhubung mata pisau itu terdapat racun pelemahan syaraf maka seketika itu juga pria tersebut menemui ajalnya.
Ternyata teriakan tersebut memancing kedatangan anak buah Max yang lainnya. Joy meraih senjata api ditangan musuh yang telah terkapar, begitu juga Milna. Dirinya segera mengambil alih pistol yang terlempar dari pria yang menodongnya tadi.
Swiing!!
Peluru melesat dengan cepat melewati samping kepala Milna. Ketika dirinya tengah merunduk untuk meraih senjata yang terletak lumayan jauh.
Serta merta Milna berbalik tak memberi kesempatan bagi penembak untuk menarik pelatuknya kembali.
Syuutt!
Beberapa jarum dengan racun di setiap ujungnya. Di lesatkan Milna berbarengan dengan saat ia berbalik. Senjata andalannya itu menancap tepat di dada, leher dan juga paha anak buah dari Max.
Tiga musuh tumbang sudah, seketika muncul bersamaan. Beberapa musuh yang menembakkan senjatanya.
Dor. Dor. Dor. Dor!
Joy dan Milna berkelit sebisanya, serta menyerang sekenanya. Mereka berdua kalah jumlah. Masalahnya para musuh bersenjata semua, beda lagi jika para penyerang cukup menggunakan tangan kosong. Keduanya masih memiliki kesempatan untuk selamat.
Peluh membanjiri wajah Milna dan Joy. Mereka terpojok, dan tidak tau pasti berapa jumlah musuh. Sepertinya ada kawanan yang baru datang. Senjata di tangan mereka hanya tinggal beberapa peluru saja.
Keduanya saling menatap dari kejauhan. Milna masih menguasai napasnya yang memburu. Bukan karena takut dan gentar, hanya saja keadaannya yang tengah berbadan dua membuat gerakannya menjadi terbatas.
__ADS_1
Joy mengkodekan tangannya agar Milna tetap bersembunyi. Karena ia akan menyergap sendiri. Hingga perintahnya mendapat penolakan keras dari Milna. Terbukti dengan kedua matanya yang tiba-tiba melotot mengancam.
Joy melawan tatapan tajam Milna dengan sikap tegasnya. Membuat Milna menelan ludahnya kasar. Baru kali ini Joy menampakkan aura tak terbantahkan itu padanya.
Joy merangsek maju seraya melepaskan tembakan dari kedua tangannya. Karena Joy memegang dua pistol. Ia lantas berguling ke semak-semak menghindari lesatan peluru balasan dari musuhnya.
Timah panas itu terus menghujani batang pohon besar dimana Joy bersembunyi sekarang. Musuh perlahan berjalan mendekati persembunyiannya. Joy ragu, karena peluru tersisa masing-masing satu.
Sementara, musuh di belakangnya masih berjumlah sekitar empat orang lagi. Milna tampaknya tak bisa lagi untuk tinggal diam. Ia bergerak perlahan dari persembunyiannya. Baru beberapa langkah ia terlihat memegangi perutnya.
'Akh, perutku keram! Sayang, mommy tidak dapat diam saja melihat daddy kalian di kepung. Mommy mohon, kalian yang kuat. Bantu mom and dad ya,' batin Milna seraya menggigit bibir bawahnya merasa nyeri ketika ia berjalan. Sepertinya getaran kencang ketika ia menembak serta gerakannya yang cepat mempengaruhi kandungannya.
'Joy, aku tidak akan membiarkanmu celaka! Karena kau harus membuktikan kata-katamu padaku.' Milna menarik napasnya dalam beberapa kali. Setelah itu ia keluar dari persembunyiannya dengan hati-hati.
' Jumlah mereka segitu, sementara peluruku tinggal dua lagi. Aku harus berada lebih dekat agar dapat melempar jarum-jarum beracun ini.' Milna nekat mendekati para musuh dengan amunisi tiris.
' Jangan sampai mereka menyadari kehadiranku. Karena bagaimanapun, kecepatan dari lesatan jarum-jarum ini. Masih kalah cepat dengan peluru.' batinnya penuh pertimbangan.
Mila mencoba memancing musuh dengan melempari mereka menggunakan batu berukuran sedang. Milna sengaja melempar ke sembarang arah bermaksud mengecoh titik fokus dari lawan. Benar saja, beberapa dari mereka spontan menembaki apapun yang bergerak.
'Tiga, dua, satu. Peluru mereka masing-masing sisa satu. Semoga Joy paham maksudku. Keluarlah, kita habisi mereka sekarang.' batin Milna berharap jalan pikirannya serupa dengan Joy.
'Milna, ini pasti kerjaan mu. Sudah kukatakan jangan melakukan apapun. Tapi? Aku mengerti sekarang. Dari nada kesal mereka, kau pasti sudah mengecoh mereka barusan.' Joy pun menampilkan senyum smirk-nya kini. Ia menggenggam kencang kedua senjatanya. Menyiapkan kedua jarinya didepan pelatuk.
'Joy ku harap kau paham maksudku, kita harus menghabisi mereka sekarang juga!' batin Milna geram.
"Keluarlah Joy!" Milna berteriak sambil melempar jarum-jarum itu dari jemarinya. Hingga benda kecil nan halus tersebut menancap di leher kedua orang suruhan Max ini. Setelahnya ia mencabut senjata yang terselip di pinggangnya.
Dor! Dor! Dor!
Milna melepas dua peluru terakhirnya, begitupun dengan Joy. Ia langsung menembaki musuh dengan sisa peluru dalam pistolnya. Hingga musuh-musuh mereka ini tumbang ke atas tanah.
"Kau benar-benar nekat Na!" omel Joy yang kini mendekati dimana tempat Milna berdiri.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan mereka membunuhmu. Karena nyawamu itu milikku!" sarkas Milna menjawab omelan dari Joy suaminya.
Ketika Joy hampir dekat dengan Milna, tiba-tiba ia melihat kearah belakang istrinya. Dimana musuh yang sudah terkapar itu kini sedang mengangkat senjata ditangannya.
"Awas Na!" Joy berteriak seraya meraih bahu Milna dan membalik tubuh itu. Setelahnya Joy mendorong tubuh Milna sedikit menjauh.
Joy membuka kedua matanya lebar kala ia merasakan panas seakan bahunya tengah di lubangi oleh besi yang telah di bakar.
"Joy!" jerit Milna dengan kedua mata yang sukses terbelalak seketika. Ia segera melempar pisau miliknya sekuat tenaga kearah anak buah kiriman Max yang masih hidup. Hingga benda pipih yang tajam itu menancap pas di dahinya.
Jleb!
Pria itu tak lagi bergerak kini. Tangannya yang tadi sempat menekan pelatuk pada senjata api miliknya, kini terkulai diatas tanah.
"Joy!" Milna yang berlari segera menangkap raga Joy keatas pangkuannya. Ia tak peduli jika celananya kini berlumuran darah yang mana cairan itu terus merembes dari punggung Joy.
"Na," lirih Joy sambil meringis menahan sakit. Napas pria itu tercekat dengan peluh yang membanjiri wajahnya.
"Bertahanlah. Bantuan dari Better pasti akan datang," ucap Milna parau, seketika dadanya sesak melihat Joy terluka demi menyelamatkan nyawanya.
"Jaga anak kita baik-baik. Maafkan aku ...," lirih Joy membuat Milna menjerit sekencang-kencangnya.
"Joy bangun Joy! Kau tidak boleh tiada! Kita akan punya bayi Joy! Bayi kau dan aku. Bayi kembar kita!" Teriak Milna histeris sambil terus mengguncang bahu Joy yang kini lemas tak bergerak.
"Nona! A–apa yang terjadi!" Pemimpin pasukan penyelamat yang di kirim melongo seketika. Melihat begitu banyak mayat berhamburan di sekitar pulau.
"Kenapa kalian begitu telat!" Marah Milna.
"Maaf Nona, kami terlambat." Sang pemimpin menunduk malu merasa gagal.
"Cepat selamatkan suamiku!"
Bersambung>>>
__ADS_1