
🔥🔥🔥🔥🔥
"Kita harus bekerja keras ini," ucap Walls yang di angguki oleh kedua anak buah abang sepupunya itu.
"Tapi tak apa. Demi perubahan status dan pembuktian akan kejantanan abang Juna!" pekik Walls, yang kembali kena timpuk dari para seniornya.
"Penculikan tempo hari, menjadikan posisi kakak ipar sangat berbahaya. Aku akan memantau sistem dengan ketat." ucap Walls, serius.
"Nah, gitu serius. Bet, meskipun Seno sedang dalam masa pemulihan, dia masih punya kaki tangan yang setia, dan tidak bisa dianggap remeh." ujar Joy, pada Better.
" Ya, Rich." sahut Better, sambil memikirkan sesuatu.
"Aku seperti pernah melihatnya, ketika bergabung dengan Klan Toyobo lima tahun lalu. Tapi, entahlah." Better melanjutkan lagi aksi makannya.
Begitu pun Joy dan Walls, mereka mengisi perut setelah beberapa saat berpikir keras demi kelancaran acara pernikahan Arjuna dan Susi.
Posisi mereka yang di ujung dekat jendela, sangat pas. Sehingga tidak di lalui oleh orang lain. Juga, mereka bisa sambil mengawasi sekitar dari sudut ini.
"Perusahaan ARSA tengah merekrut karyawan baru. Kau harus mengawasi secara ketat dan jangan sampai lengah." saran Better pada Joy. Yang kemudian diangguki oleh pria maskulin itu.
" Kau benar, jangan berikan celah sedikitpun untuk para musuh." tekad Joy dengan rahang yang mengeras.
"Aku akan terus mengawasi aksi Rich." Mereka bertiga saling menatap yakin dan bertekad. Bahwa, kejadian buruk seperti tempo hari bisa kapan saja terjadi lagi. Ketika dendam telah menguasai hati, maka darah dan harta akan tumpah tak berarti.
Hanya, manusia yang masih memiliki hati nurani. Menjadi kan hidup dan kesempatan sedikit lebih bermakna dengan sesuatu yang berarti.
_
__ADS_1
_
_
Kendaraan roda empat itu membelah jalanan di mana jarang sekali nampak lengang seperti ini. Sang pengemudi sesekali melirik pada wanita di sebelahnya. Hingga terkadang tatapan mereka beradu, mencipta lengkungan indah dari bibir keduanya.
"Aku masih gak nyangka akan sampai pada fase ini." ucap Arjuna dengan senyum yang sejak tadi tak pudar dari wajahnya.
(Baru kali ini, aku melihat senyum di wajah tampanmu itu. Ternyata, membuatmu tak seseram biasanya. Apa kau sebahagia itu? Mendapat barang bekas seperti ku?) batin Susi yang semakin merasa tak percaya diri. Padahal dia sendiri yang telah mencetuskan agar pernikahan mereka segera di lakasanakan.
"Apa kau tak menyangka akan menikah dengan janda seperti ku?" tanya Susi lirih, dengan rasa rendah hati yang semakin menjadi akhir-akhir ini.
" Jangan bicara seperti itu, sejak awal aku tidak mempermasalahkan statusmu. Apa kau masih belum mengerti?" ketus Arjuna, ia sungguh tak suka Susi yang merendahkan dirinya sendiri seperti itu.
"Aku rela menukar seratus gadis demi seorang janda sepertimu. Jadi, jangan bicara omong kosong itu lagi dengan ku." tegas Arjuna penuh penekanan.
Cara bicara Arjuna yang bernada keras, malah membuat wanita di sebelahnya itu sesenggukan.
"Lha itu, mobil Bos ngapa berenti dah." celetuk salah satu bodyguard yang mengemudikan mobil jeep wrangler di belakang Arjuna.
"Kita kagak perlu tau, dah lah awasin dari sini aja." Pengawal kedua pun menurunkan kaca jendela mobil sedikit, lalu menyalakan batang rokoknya.
"Sendirian aja lu, bagi sini." pinta pria berbadan besar di depan kemudi.
"Black, kau lihat ada mobil di belakang kita?" ucap pria pelontos, yang ikut pertarungan di hutan tempo hari. Sementara kawannya harus istirahat total, karena mengalami patah tulang di daerah rawan.
Pria yang di panggil black pun mengintip dari kaca spion.
__ADS_1
"Ya. Aku lihat. Kira-kira, mereka suruhan siapa?" pantau Black menghembus kasar asap dari rokoknya.
"Antara anak buah Don king-kong dan Si Melehoy Seno." Mereka berdua saling menatap kemudian tergelak.
Kembali ke mobil di depan mereka ya gais.
"Lihat aku, apa peringatan dariku kurang jelas!" Arjuna, menarik dagu lancip itu hingga mendongak menghadapnya.
Mengusap lembut wajah yang lagi-lagi basah oleh air mata.
" Aku benci melihat wajahmu yang begini." Arjuna kembali menghapus air mata Susi, kali ini bukan dengan jemarinya yang besar.
Melainkan dengan bibirnya, ia mengecup kedua mata basah itu bergantian kanan dan kiri.
"Bersamaku, kau hanya boleh bahagia." Arjuna melanjutkan terus kecupannya sampai pada benda kenyal yang disukainya, hingga membuatnya selalu ingin mengecapnya.
" Apa begini caramu mendiamkan wanita yang menangis?" sindir Susi yang merasa kebas pada bibirnya.
"Hemm ..., sukses kan."
🐾🐾🐾🐾
...Gais yang mau masuk ke GC mak chibi silakan ya ......
Yang mau add fb mak otor juga boleh.
...Fb: Aulia Rakhim....
__ADS_1
...Yang mau di tag buat interaksi pembaca, unjuk gigi ya eh, unjuk diri ...😙...
Bersambung>>>>