Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Senyum manis yang mengerikan.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Kau, yang tidak sepadan denganku. Sundel bolong!" seru Susi, menangkis tangan Jelita yang ingin memukulnya.


Seno meletakkan kotak proyektor ke atas meja, ketika ia berbalik terlihat Jelita begitu naik pitam dan hendak mengulurkan tangannya ke wajah Susi.


PLAK!


PLAKK!


"KAU!" Jelita memegangi kedua pipinya. Matanya menyiratkan amarah yang ingin meledak.


" Itulah balasanku, karena kau telah meneriaki kekuranganku!" Susi mengangkat tangannya lagi.


SREKK!


"AKH!" jerit Jelita, ketika ia merasakan perih di kulit kepalanya.


" Ini balasanku karena kau telah mengambil apa yang dulu menjadi hakku!" Susi mengencangkan tarikannya pada rambut panjang Jelita yang berwarna hijau itu.


Jelita berbalik hendak menarik tangan Susi yang menjambak rambutnya, namun Susi keburu melepasnya dan ...,


BUGH!!


Seno membulatkan kedua matanya, ketika ia melihat Susi menendang perut Jelita hingga wanita itu terjengkang dan membentur ujung meja.


"Hentikan!" Seno berteriak menghentikan gerakan Susi selanjutnya.


"Ugh ..," Jelita merasakan nyeri pada seluruh tubuhnya.


"Sayang ..., wanita gila itu menghajarku di hadapanmu! Kenapa kau diam saja!" pekik Jelita sambil memegangi kepalanya.


" Kau merusak rambut mahal ku, wanita sialan!" Jelita hendak bangun dan Seno membantunya.


"Kau tidak apa-apa kan, mananya yang sakit?" Seno bertanya khawatir melihat tunangannya itu jatuh begitu kencang.


"Seluruh badanku remuk, kau harus melaporkannya ke polisi biar dia membusuk di penjara.

__ADS_1


Susi muak melihat adegan penuh drama itu, ia pun maju lagi dan mendekat, kemudian mendaratkan tangannya kembali pada pipi mulus Jelita.


"Sshh." Jelita mendesis merasakan panas pada area wajah dan juga hatinya.


" Teriak lagi padaku, maka akan aku hancurkan wajah plastikmu itu!" ancam Susi dengan tatapan tajamnya.


" Kau jangan keterlaluan Susi Rahayu!" seru Seno mencekal tangan Susi, wajahnya mengeras. Pria itu menatap Susi tajam, ada rasa kaget dan tak percaya wanita yang selama ini di kenalnya lemah lembut dan tak pernah melawan, lalu tiba-tiba menjadi beringas seperti ini.


Susi menangkis lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia memutar bola matanya malas, melihat betapa Seno membela wanita jelangkung itu.


" Ya, kau bela saja dia. Meski sudah jelas siapa yang memulai untuk menyerang," ucap Susi datar tanpa ekspresi. Tak ada lagi kecemburuan ataupun iri, yang ada hanya muak dan jijik.


"Aku hanya membela diri, dan membalas semua perlakuan kalian padaku!"


"Jadi, kalian tunggu saja. Apa yang akan terjadi jika semua dewan direksi tau apa yang telah dialami oleh Direktur baru di hari pertamanya bekerja."


"Dan, untuk mu Nona plastik daur ulang. Silakan lihat tayangan Infotainment besok pagi." Susi melangkah dengan tubuh tegak disertai senyum penuh arti yang tercetak di wajah cantiknya itu.


Meninggalkan dua orang yang tengah terpaku dan saling pandang.


"Tunggu!" Seno maju dan menarik tangan Susi hingga langkahnya berhenti mendadak. Tubuh ramping itu bahkan memutar, karena tarikan Seno cukup kuat.


Beberapa pasang mata tengah memantau aksi yang terjadi di sebuah ruangan. Dimana dua lawan satu, sungguh tidaklah seimbang.


" Hentikan mereka!" Arjuna menggebrak meja kerjanya, matanya menatap tajam dan berkilat pada layar pipih di hadapannya.


" Tenang, Tuan. Kita sudah mendapatkan bagian yang bagus. Biarkan nona menyelesaikan bagian ini, sendiri," Better berusaha menahan emosi Arjuna melalui headset.


Karena mereka memantau dari tempat yang berbeda.


" Mereka yang telah menyentuh calon istri seorang Arjuna, menyakiti Susi ku. Maka, akan ku potong-potong bagian tubuhnya hingga kecil-kecil." geram Arjuna menyatukan kedua kepalan tangannya.


"Mereka akan hancur perlahan, Tuan. And tidak perlu mengotori tangan sendiri." sahut Better lagi di seberang sana.


"Tuan, Better benar. Anda tenanglah, permainan ini akan sangat mengasikkan." ucap Joy yang telah menerima email. Ia pun tersenyum sumringah.


Kembali lagi pada aksi dua lawan satu.

__ADS_1


"Lepaskan! Atau kau akan kehilangan satu tanganmu besok!" Susi berusaha menarik tangannya dari cekalan kuat Seno.


" Jangan sombong kau wanita mandul!"


"Katakan apa maksud dari perkataan mu tadi!" teriak Seno, pria itu semakin mengencangkan peganganannya.


PLAK!!


Susi menampar Seno dengan keras hingga cekalan pria itu terlepas dari tangannya.


" Kau pikir apa yang kira-kira bisa di lakukan, oleh pemilik saham terbesar perusahaan ini?"


" Menjebloskan mu ke penjara mungkin?"


"Atau, mempermalukan mu dulu di media hingga kau tak lagi punya muka untuk berjalan di atas bumi. Hingga kau akan memohon pada tuhanmu agar segera mencabut nyawa murahan mu itu." ucap Susi tegas penuh penekanan. Kedua matanya memancarkan luka dan kebencian mendalam.


Seno memundurkan tubuhnya kebelakang, wajahnya memutih. Ia merasa tidak sedang berhadapan dengan wanita yang pernah di kenalnya.


"K-kau ...,"


"Seno, seperti nya kau lupa siapa yang sedang kau hadapi sekarang."


" Aku, bukan lagi Susi si upik abu. Juga bukan lagi wanita yang bisa kau gagahi semau mu!"


" Aku adalah orang yang berbeda dengan yang kau sakiti dulu."


" Ingat satu hal Tuan Seno. Anakmu pasti akan menuntut balas pada ayahnya." ucap Susi dengan senyum yang begitu manis namun tampak mengerikan bagi Seno.


(Dia sudah gila!) Seno merasa dadanya tertimpa benda berat, membuatnya seketika sesak napas.


" Selamat siang. Nikmati hari terakhir kalian!"


Susi melangkah dengan anggun, diiringi tawa kemenangan yang membuat bulu kuduk Seno merinding.


" Sa-sayang, apakah aku tidak salah dengar?" Jelita menarik jas Seno berharap pria itu menjelaskan padanya.


Seno hanya diam membisu dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Bagaimana bisa?" Jelita meremas rambutnya.


Bersambung>>>


__ADS_2