Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Cassanova / Cassava ...?


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


" Hei. Kondisikan matamu ... Nona. Menyeramkan." protes Joy.


Karena Susi mendelik kearahnya, padahal sih lucu, Joy sengaja saja menggoda wanita itu.


"Ish kau ini!"


" Lalu, kau darimana?" tanya Susi, tak lama kemudian pintu lift terbuka.


"Saya jelaskan sambil jalan, ayo. Ruangan tuan, katanya di pojok." jelas Arjuna, menggiring Susi dengan merangkul bahunya.


" Kau masih ingin punya tangan tidak, Joy?" tanya Susi sinis.


Joy menoleh, setelah sadar dia segera melerai rangkulannya.


Pria itu terkekeh kecil sambil mengusap tengkuknya.


"Maaf ... kebiasaan jalan sama cewek begini," kilah Joy, nyengir-nyengir gak jelas.


" Dasar cassava." gumam Susi, yang masih bisa di dengar oleh Joy.


" Cassanova ... bukan cassava!" protes Joy, dengan bibir mengerucut.


(Bangga bet lu Joy # jitak)


" Sama saja!" elak Susi.


"Ya ampun! Ya beda dong ... Nona." gemas Joy.


Untung saja milik Bosnya, kalau tidak ...,


"Apa bedanya?"


"Bukankah bentuk kalian itu sama?" ledek Susi, membuat asap mengepul dari ubun-ubun Joy.


(Wanita ini! Bisa-bisanya milikku di samakan dengan singkong!) batin Joy.


Kedua penjaga berbadan tegap itu, menunduk ketika Susi telah sampai depan pintu ruangan perawatan.


" Kenapa kau ikut masuk." geram Susi pada Joy.

__ADS_1


" Saya juga mau melihat tuan, Nona." kilah Joy polos.


" Haish ... kau ini," Susi mengeratkan giginya gemas.


"Asisten tak peka." gumam Susi pelan.


Susi mendekati brankar itu, Arjuna terbaring dengan menutup matanya. Pakaiannya telah berganti, seragam pasien rumah sakit.


Di lengan kanannya, terdapat perban melingkar. Sedangkan pada wajahnya, terdapat beberapa memar.


"Ar, apa kau tertidur?" Susi bertanya seraya menyentuh punggung tangan Arjuna yang tertancap selang infus.


"Sepertinya, tuan di masih belum sadar Nona," jelas Joy.


Pandangannya nanar menatap raga tak berdaya dari Bos arogannya itu.


"Aku akan menemaninya, Joy. Tolong mintakan satu selimut untukku pada pihak rumah sakit." titah Susi pelan.


Joy mengangguk pelan, pria itu mendekat ke arah ranjang tuannya itu.


"Aku akan membuat mereka buka mulut hari ini, dan aku akan menghancurkan mereka untuk mu." Setelah mengatakan kalimat bernada dendam itu, Joy mengundurkan diri.


" Mereka akan berjaga-jaga diluar untuk kalian." ucap Joy tanpa menoleh pada Susi.


Itulah tugasnya, sebagai seorang asistent.


"Hmm ... killer assistant is back." gumam Susi.


"Apa si rese itu sudah pergi?" lirih seorang pria yang tengah berbaring di atas brankar.


" Ar ... kau sudah bangun?" tanya Susi, mendekat.


Arjuna berusaha bangun, Susi segera meraih tubuhnya dan menahannya agar tetap berbaring.


"Jangan banyak bergerak, tetaplah seperti ini." Susi memencet tombol di samping brankar untuk meninggikan bagian atas. Sehingga Arjuna tidak perlu bergerak bangun.


"Kenapa aku tidak ingat kalau bisa seperti ini," sesal Arjuna, karena telah terlihat bodoh.


(Kamu kualat Bang🤪.)


Setelah posisi di rasa sudah sesuai, Susi ikut duduk di kasur itu.

__ADS_1


" Jadi, kamu sebenarnya gak tidur?" tanya Susi.


"Hmm ...." jawab Arjuna dengan deheman. Kepalanya kembali bersandar karena dia masih merasa sedikit pusing.


"Ar, apanya yang sakit?"


" Biar aku panggilkan Dokter." Susi hendak turun dari duduknya, tapi tangan Arjuna mencekal nya.


" Diam lah ... aku tidak butuh Dokter," tolak Arjuna dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Tapi tadi kau kesakitan, bagaimana kalau itu berbahaya ... kau tunggulah sebentar ya," ucap Susi berupaya membujuk Arjuna.


"Aku hanya butuh kau ... di sini," ungkap Arjuna jujur.


Susi membalas tatapan itu, entah kenapa hatinya bergetar. Ia merasakan perasaan yang kuat dan dalam.


"Baik lah, aku tidak akan kemana-mana. Tapi, tanganmu ini jangan banyak bergerak ... nanti infusan nya macet." Susi melepas cekalan Arjuna perlahan dan meletakkan tangan itu di samping tubuh kekarnya.


"Bagaimana dengan yang ini? apa rasanya sangat sakit?" tanya Susi, menyentuh pelan lengan Arjuna yang berbalut perban.


" Tidak sakit, hanya kaku saja. Bahkan untuk sekedar menggerakkan jari pun berat." jelas Arjuna, sama sekali tak melepaskan pandangannya dari Susi.


"Maafkan aku ... mungkin benar, bahwa aku adalah pembawa sial," lirih Susi dengan wajah yang menunduk dalam. Kedua tangannya, yang dipangku di atas lutut terlihat mengepal.


" Hentikan omong kosong itu!" teriak Arjuna, setelahnya pria itu kembali meringis.


Susi kaget dan mendongak seketika, hingga mata berair nya beradu pandang dengan iris pekat Arjuna.


Tidak ada satupun manusia yang dapat memberi kesialan pada manusia lainnya." Arjuna berkata dengan wajah yang keras karena marah.


" Jangan pernah menuduh dan melabeli dirimu sendiri dengan hal atau sesuatu yang negatif. Kau mengerti!" tegas Arjuna. Pandangannya tak terlepas sedikitpun dari wajah cantik yang mendung itu.


"Apa kau lupa janji mu?" tanya Arjuna, dengan aura dingin dan datarnya.


"Ja-janji apa?" tanya Susi, sambil sesekali menyeka pipinya yang basah.


"Mendekat lah. Aku akan membisikkannya padamu," titah Arjuna.


" Kenapa harus berbisik? di sini kan hanya ada kita berdua," tolak Susi.


...Sekali lagi mak minta tap love nya ya....

__ADS_1


...Di novel mak yang baru ...😋🤗....


Bersambung>>>


__ADS_2