
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Vanish ternyata ... haโhamil." Better berkata dengan sedikit terbata. Bahkan, pria yang rambutnya selalu di kuncir itu terlihat menyeka sudut matanya.
"Syukurlah!" ucap ketiganya kompak.
"Na, Ninis nyusul kamu tuh. Anak kalian bisa seumuran nanti," ucap Susi senang. Raut bahagia terlihat jelas di wajahnya. Para sahabatnya kini juga perlahan mendulang bahagia, sama seperti dirinya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Arjuna.
"Vanish sedang istirahat. Tadi dokter memberinya obat penenang. Akhir-akhir ini dia agak sulit tidur," jelas Better, masih dengan raut wajahnya yang sendu.
"Ninis, benar baik-baik saja? Maksudku kandungannya?" cecar Susi. Ia merasa ada yang tidak beres.
"Kandungannya lemah, diagnosis awal plasenta previa," jelas Better dengan wajah yang sangat sedih. Karena tadi dokter kandungan sudah menjelaskan.
"Ya Tuhan!" Susi membekap mulutnya. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia tahu, kedepannya Vanish akan cukup kesulitan menjalani kehamilannya. Begitupun dengan Milna, wanita itu langsung mendekap perutnya. Berharap hal-hal yang baik untuk kedua calon anaknya.
"Dokter menyarankan untuk aborsi, selagi usia kandungannya masih empat minggu." Better mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya.
Susi menatap Arjuna masih dengan membekap mulutnya. Bahkan kini kedua matanya telah meluruhkan kristal bening. Arjuna segera menarik Susi ke dalam dekapannya.
๐๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐๐ฐ๐บ? ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต.
Milna masih memeluk raganya sendiri. Pikirannya berkelana pada keadaan kandungannya. Meski di awal dirinya sempat tidak menerima. Kini, perasaannya semakin menyatu dengan kedua janinnya.
"Nyonya, bagaimana menurut anda? Imoy akan membunuhku jika aku mengambil keputusan sesuai saran dokter. Ia sangat ingin memiliki bayi." Better menghela napasnya berat.
"Menurutku, kau tunggu sampai Vanish bangun. Kemudian bicarakan baik-baik tentang keadaannya," ucap Susi memberi saran.
"Baiklah, sebaiknya aku kembali ke dalam," ucap Better lesu.
"Semangatlah! Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
" Perintahkan orang untuk menemanimu di sini. Kalau perlu bayar tenaga profesional." Arjuna memberi saran seraya menepuk bahu Better.
"Rapat dengan perusahaan multiguna POKKA Company. Jangan sampai kau batalkan. Mereka, adalah tonggak untuk menaikkan pamor ChoโCho lebih tinggi lagi." Setelah mengatakan pesan terakhirnya Arjuna berlalu. Sejurus kemudian ia berbalik.
"Gunakan uang itu untuk keperluan selama di rumah sakit!" ujar Arjuna seraya mengangkat ponselnya.
"Ah ya, Tuan. Terimakasih!" Better membungkukkan sedikit tubuhnya. Kemudian ia membuka aplikasi mobile banking nya.
"25 juta!"
__ADS_1
_____
"Na!" Sayup-sayup panggilan dari suara seksi itu terdengar di telinga Milna. Wanita itu abai karena merasa itu hanya perasaannya saja.
"Milna!" Sekali lagi panggilan itu terdengar, membuat sang empunya nama membalikkan tubuhnya ke asal suara.
Greepp!
Joy mendekap tubuhnya erat disertai napas yang tersengal-sengal. Kedua bola mata Milna seketika membola. Tubuhnya kaku, mendapat pelukan yang tiba-tiba. Bahkan wajahnya serasa kesemutan
"Ar kita duluan aja, udah Milna sudah ada pawangnya," bisik Susi yang kemudian diangguki dengan seulas senyum oleh Arjuna.
"Aku bilang juga apa? Pria yang sedang jatuh cinta, pasti akan rela melepaskan apapun." Arjuna menggandeng Susi hingga mobil mereka.
"Otewe bucin." Susi terkekeh geli. Arjuna mengetuk kaca mobil guna membangunkan sang supir.
"Ayo naik sayang, kasian Satria ku. Pasti dia merindukanmu saat ini." Ucapan Arjuna sontak membuat Susi berteriak.
" Kau benar Ar. Ayo kita pulang!"
Kembali pada Joy dan Milna.
" Kau tidak apa-apa 'kan? kalian bertiga baik-baik saja 'kan?" cecar Joy setelah ia melerai pelukannya.
" Maaf." Joy menggaruk tengkuknya. Malu sekali sampai kelepasan seperti itu.
"Tadi kau mengirim pesan padaku, hanya menjelaskan posisimu dan mengatakan jika kau butuh diriku saat ini. Seketika pikiranku sudah merajalela tak jelas. Aku khawatir jika terjadi sesuatu padamu dan calon anak-anak kita, " jelas Joy, agar Milna tak salah paham padanya. Karena tindakan refleknya barusan.
"Ah, itu ... sudahlah. Antarkan saja aku pulang. Aku mau istirahat." Setelah mengatakan keinginannya Milna berjalan lebih dulu.
"Tunggu Na!" Joy meraih pergelangan tangan Milna. Membuat wanita dihadapannya ini sontak menoleh dan menatapnya dengan pandangan sinis.
"Ehm, aku hanya ingin mengatakan kalau mobilku di sana." Tunjuk Joy, ke arah sebaliknya. Membuat rona merah menguar seketika, menggantikan ketus di wajah Milna.
"Ya udah, ayo!" ucap Milna, seraya berlalu ke arah yang ditunjuk Joy. Sementara pria itu hanya tersenyum tipis. Dirinya lega karena ketakutannya saat di kantor tidak menjadi kenyataan.
๐๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ถ ๐๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ญ๐ช๐ฆ๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐จ๐ข ๐ณ๐ข๐ต๐ถ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ญ๐บ๐ข๐ณ. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐บ๐ฆ๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ช ๐จ๐ข๐จ๐ข๐ญ. ๐๐ช๐ข๐ฑ-๐ด๐ช๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ข๐ฏ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐๐ข. ๐๐ด๐ข๐ญ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ด๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐ต๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ.
"Apa mau makan dulu? Kau lapar tidak?" tanya Joy yang sudah berada di depan kemudinya. Milna hanya mengangguk cepat, karena perutnya sejak tadi sudah dangdutan.
" Kau ingin makan apa?" tanya Joy lembut. Ah pria ini sungguh membuat sudut hati Milna menghangat. Selama bekerja sama dengannya tak sekalipun pria itu bisa berkata baik-baik atau sopan. Selalu ketus nada yang dingin atau nada tinggi.
Tanpa sadar Milna meluruhkan kristal bening dari sudut matanya. Namun, Milna segera menyekanya cepat. Semenjak hamil perasaannya sangatlah rapuh dan melankolis. Terlambat, karena Joy keburu menyadarinya. Pria itu mengulurkan tangannya, menyentuh pipi yang basah itu dengan jemarinya.
__ADS_1
"Apa aku salah bicara?" tanya Joy risau. Apalagi kini tangis Milna malah pecah di hadapannya. Hingga Joy menangkupkan kedua tangannya pada wajah Milna.
" Entahlah, aku hanya ingin meluapkan rasa ini. Dadaku terasa sangatlah sesak," ucap Milna terisak.
"Menangislah. Keluarkan emosimu." Joy perlahan menarik Milna ke dalam pelukannya, tapi wanita itu justru menangis semakin kencang seraya memukul-mukul dada Joy.
Joy mengusap kepala hingga punggung Milna, berkali-kali dengan lembut dan penuh perasaan. Berusaha menenangkan hati wanita itu yang entah kenapa ia melihat kesakitan di dalamnya.
"Apakah aku yang telah membuat kesakitan itu Na? Jika iya, ijinkan aku menggantinya dengan kebahagiaan. Berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku padamu. Setiap perlakuan burukku padamu dulu, akan ku ganti dengan perlakuan yang lebih baik. Bimbing aku, katakan apa yang kau suka dan tidak suka. Aku akan mengabdikan diriku padamu dan juga anak-anak kita.
" Aku akan memberikanmu kesempatan, ku harap kau tidak menyia-nyiakannya," ucap Milna masih dengan sisa tangisnya.
"Minumlah, agar kau lebih tenang." Joy menyodorkan sebotol air mineral yang memang selalu tersedia di mobilnya.
Milna, yang sudah melepaskan diri dari dekapan Joy menerima minuman itu lalu menenggaknya cepat. Tenggorokannya sangatlah kering setelah menangis. Ia juga merasa malu bisa menangis selepas itu di hadapan orang lain.
" Istirahatlah, nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkan mu. Aku tau, makanan apa yang sedang kau inginkan saat ini." Joy merendahkan sedikit kursi jok yang di duduki Milna agar wanita itu dapat rileks.
" Cepatlah Joy. Aku sangat lapar!" pinta Milna. Sepertinya ia sudah sangat kelaparan. Rupanya menangis barusan telah menguras setengah dari energinya.
" Baik, Nyonya. Laksanakan!" Joy pun tersenyum kemudian segera menjalankan mobilnya. Membelah hari yang sudah beranjak dari petang menjadi malam.
______
"Suโgan ...," panggil Vanish lemah. Ia baru sadar dari pengaruh obat penenang.
"Imoy!" Better segera menghampiri sesaat setelah telinganya mendengar panggilan untuk dirinya ini. Padahal baru saja kedua matanya ingin terpejam di sofa pojok ruangan.
"Iya Moy ada apa? Ini di minum dulu." Better menyodorkan segelas air di depan bibir Vanish.
"Kenapa sayang, apa yang kau butuhkan lagi?" tanya Better setelah pria itu kembali meletakkan gelas di atas nakas.
"Ninis kenapa? Kok ada di rumah sakit?" tanyanya heran, seingatnya ia tadi siang bekerja.
"Imoy ... hamil," jawab Better dengan raut wajah sendu. Seharusnya dirinya bahagia dengan kabar ini. Hanya saja kenyataannya justru dapat mengancam keselamatan Vanish.
"Yang benar! Sugan tidak sedang nge-prank kan?" pekik Vanish heboh sendiri. Better hanya bisa mengangguk lemah dan pelan.
"Sugan, suami gantengnya Ninis. Kenapa kelihatannya kamu gak senang? Kita sebentar lagi bakalan punya dede bayi selucu Satria," heran Vanish.
"Imoy, tidak boleh meneruskan kehamilan ini," kata Better, sontak membuat kedua bola mata Vanish mendelik.
Bersambung>>>
__ADS_1