Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kegelisahan Susi.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


"Maaf, ada perlu apa?" Seorang wanita muda menyambut keduanya di depan ruangan sekretaris.


"Vanish, pak wakil Direktur ada tamu. Sebaiknya kau segera mengabarinya." ketus Frenta kepada sekretaris baru itu.


" Sebentar, apakah Nona ini sudah ada janji sebelumnya?" tanya Vanish, karena bosnya tidak akan mau menerima tamu sembarangan.


"Asal kau tau, Nona ini adalah calon istri Direktur Seno. Apa masih perlu pakai janji segala!" sentak Frenta, membuat Jelita menaikkan sudut bibirnya.


(Wanita ini benar-benar penjilat ulung.) batinnya.


"Maaf, saya akan tetap akan laporan terlebih dahulu. Kalian, silakan tunggu di sana." tunjuk Vanish pada sofa di pojok ruangan.


Lalu dirinya berlalu mengetuk pintu ruangan presdir.


Tok tok tok!


"Masuklah!"


Krieet ...


"Permisi, Pak." Vanish menundukkan kepalanya sopan sebelum mengatakan maksudnya.


"Sudah kukatakan tidak perlu seperti itu, ada apa memangnya?" tolak nya atas perlakuan Vanish terhadapnya.


Pria itu yang duduk dengan tegak di atas kursi kerjanya, yang selalu mengenakan setelan non formalnya. Dimana lengan kemejanya yang selalu di gulung hingga siku, serta celana street yang pas body.


"Ada seorang wanita yang mengaku sebagai calon istri Direktur kedua, Pak,"


"Beliau, ingin menemui anda," jelas Vanish. Melihat sekilas setelah itu menunduk lagi. Dirinya tak berani menatap wajah rupawan itu. Dimana alis tebal nan hitam membingkai wajah tegasnya.


"Biarkan dia masuk, dan kau temani kami." titah Better.


" Baik, Pak." Meski agak bingung, Vanish akan tetap mengikuti perintah bosnya itu.


"Silakan, Nona." Vanish membukakan pintu dan memberi jalan pada Jelita. Wanita itu melangkah dengan gemulai memasuki ruangan tersebut.


"Ada perlu apa anda ingin menemui saya?" sapa Better langsung, tanpa melirik wanita yang tengah duduk di hadapannya itu. Karena tatapannya tetap mengarah pada laptop di hadapannya.

__ADS_1


"Apa sekretarismu tetap di dalam ketika kau menerima tamu?" heran Jelita melihat sinis kearah Vanish. Dimana gadis itu berdiri di belakang pintu.


" Aku yang memerintahkannya, sekarang katakan apa maksud anda menemui saya." tegas Better, yang tak betah lama-lama menghadapi wanita ular ini.


" Aku ingin kita bicara empat mata tentang perusahaan calon suamiku, Seno. Haruskah ada orang ketiga diantara kita?" tanya Jelita dengan penuh penekanan. Berniat mengusir sekretaris Better, agar rencananya berjalan lancar.


"Bicara atau anda keluar dari ruangan saya!" sentak Better yang kali ini menatap dengan tajam ke arah Jelita.


"Kau! Berani mengusir ku!" Jelita sontak berdiri, hati nya kesal sekali.


"Jika niat anda hanya ingin membuang waktu, silakan. Pintu keluar ada di sana." tunjuk Better dengan air muka sebal bin enek.


( Ternyata pria ini tidak mudah di dekati, bahkan memandangnya saja pun enggan. Aku akan mendatangi mu lagi lain hari, kau membuatku penasaran.) batin Jelita dengan serangkaian rencananya.


Jelita menggeser kursinya, lalu wanita hamil itu pun berlalu dengan cepat, tidak anggun seperti saat ia datang tadi.


🐾Tuh kan kena mental😆


"Vanish." panggil Better, pada sekretarisnya itu. Nadanya lebih santai dan tenang dengan wajah bersahabat.


" Iya, Pak." Vanish yang sedikit terkejut, segera menghampiri dengan cepat.


"Baik, Pak." Vanish segera undur diri.


"Kenapa ekspresinya langsung berubah ketika berbicara denganku. Tadi saja, wajahnya seram sekali. Padahal wanita itu sangat cantik dan menggoda." gumam Vanish ketika telah sampai di meja kerjanya.


"Aih, kenapa aku ke sini? Kan pak Bos barusan minta kopi." Vanish, memukul sendiri kepalanya. Lalu, gadis itu pun segera berlalu ke pantry.


_________


Malam ini, Susi hanya bisa membolak-balikkan raganya di atas tempat tidur. Gelisah, ya itulah yang dirasakannya saat ini.


Baju pengantin sudah di pesan, seluruh urusan pernikahannya telah di urus oleh anak buah Arjuna.


Dirinya hanya tinggal menghitung hari, kurang dari tiga pekan lagi maka statusnya akan berubah.


Dari seorang janda, menjadi nyonya dari seorang pengusaha muda yang berjaya. Bukan saham itu yang dipikirkannya, meski Arjuna memang telah mengatakan bahwa semua itu akan menjadi miliknya.


Satu hal yang sangat menganggu pikirannya akhir-akhir ini. Membatalkan pun tak mungkin, Arjuna begitu tulus padanya.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Pantaskah pria sebaik dirinya, mendapatkan wanita yang tak sempurna sepertiku?" gumam Susi lirih, dengan mata terpejam serta kedua tangan di atas dadanya.


"Aku tidak ingin mengecewakannya," gumamnya lagi seraya bergerak miring lalu memeluk guling.


"Aku ingin membahagiakannya. Memberinya keluarga yang sempurna seperti yang diimpikan selama ini. Ar, apa kau telah berpikir sejauh itu?" racau Susi yang hampir tenggelam dalam kantuknya, karena jam telah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Ar ..., maafkan aku ...." Susi akhirnya terlelap, hingga sepasang tangan kekar menaikkan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Senyum pun tersungging dari kedua bibir sensualnya itu. Jemarinya terulur, menyibak surai yang menutupi wajah damai itu.


Pria dewasa yang gagah perkasa itu, dimana dirinya hanya mengenakan kaus dan celana pendek saja. Hingga menampakkan beberapa otot halus pada lengannya.


Kini berjongkok, menatap dalam wajah yang kini terlihat tenang.


"Jangan terlalu banyak berpikir." Pria itu mengelus lembut pipi yang halus macam porselen itu.


"Cukup jadi pengantinku saja." Wajah rupawan itu mendekat dan ...,


Cup.


Sebuah kecupan ringan mendarat di kening Susi.


"Mimpikan aku."


🐾🐾


Ciee ... Jeng Susi kebluk ya bobo nya😆


Di sun pon tak kerasa ...


Malah kita yang berasa, iya gak readers😉


_


_


_


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2