
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Benarkah, Dok?!" Susi sampai hampir bangun dari duduknya, saking terkejut dengan penuturan sang Dokter Obgyn.
"Sayang, ๐ค๐ข๐ญ๐ฎ ๐ฅ๐ฐ๐ธ๐ฏ." Arjuna menarik lembut bahu istrinya itu, lalu kembali mendudukkannya di kursi.
"Tentu saja. Tuan dan Nyonya, sudah biasa mulai untuk memprogramnya. Saya, akan memberikan beberapa vitamin penunjang kesuburan. Semoga, ini dapat mempercepat proses pembentukan sel telur," tutur sang Dokter, seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik, serta berambut pirang.
"Ar." Susi menatap suaminya, dengan mata berkaca-kaca.
"Aโaku sembuh, aku bisa hamil lagi. Aku ... ." Tak dapat meneruskan kata-katanya. Susi membekap mulutnya sendiri, karena rasa tak percaya akan kenyataan yang terpapar di hadapannya.
Secarik kertas dengan hasil lab di atasnya, telah membuat perasaannya begitu bahagia. Tubuhnya lantas bergetar, air mata haru menyeruak keluar. Segera Arjuna meraih raga itu kedalam dekapannya, mengusap punggung demi menyalurkan perasaan yang sama.
Setelah di rasa cukup, dan sudah mampu menguasai emosinya. Arjuna melerai pelukannya, mengusap wajah yang basah itu dengan ibu jarinya.
"Jangan terlalu terbebani, kita ๐ญ๐ฆ๐ต ๐ช๐ต ๐ง๐ญ๐ฐ๐ธ saja, oke!" ucap Arjuna lembut, ia juga mengusap kepala Susi terus hingga pipinya. Membuat sang Dokter tersenyum melihat kehangatan dan perhatian dari Arjuna.
"Benar kan, perhatian dan support dari pasangan, akan mempercepat proses penyembuhan. Itu berlaku, pada setiap penyakit, apapun itu," jelas Dokter tersebut dengan senyum sumringah.
"Terimakasih, Dokter. Ini sungguh di luar dugaan saya, bisa sembuh secepat ini," ucap Susi, seraya menggenggam tangan sang Dokter.
"Ini semua berkat kegigihan anda, juga perhatian dari suami. Bagaimanapun ia telah berjuang dan berusaha menjaga mood anda selama pengobatan," tutur Dokter Obgyn.
"Anda benar, Dok. Semua karena pengertiannya." Susi menoleh sesaat ke arah Arjuna yang terus melebarkan senyumnya. "Saya berharap, secepatnya bisa hamil lagi," ucap Susi frontal. Membuat, Arjuna meraih bahunya untuk mendekat padanya.
"Sepertinya, kita harus lebih sering perang," bisik Arjuna di telinga, sang istri. Membuat sepasang mata indah Susi seketika membola.
Ckiitt!
"Sshh ...," desis Arjuna, seraya mengusap pinggangnya.
"Salahku, dimana? Kenapa kau marah?" sungut Arjuna. Susi hanya mendengus kecil.
Sementara, Dokter wanita itu hanya tersenyum simpul melihat interaksi keduanya.
_______
" Sayang, ayo bikin." Arjuna mendekap istrinya dari arah belakang, dimana Susi kini sedang menggiling biji kopi. Niatnya, memang hendak minum minuman dengan bau khas tersebut, lalu menikmatinya di balkon untuk menghabiskan siang.
"Nih, lagi bikin." Susi menunjuk biji kopi yang tengah digiling.
"Ck, bukan itu, sayang!" tukas Arjuna, seraya menciumi pipi Susi dari arah samping.
"Terus, bikin apa?" tanya Susi tanpa menoleh. Tangannya begitu lincah, menggunakan mesin pembuat kopi ๐ฆ๐ด๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ด๐ฐ itu.
__ADS_1
"Bikin anak," ucap Arjuna, jelas padat tanpa basa-basi. Mendengar permintaan suaminya yang spontan itu, Susi langsung terkesiap, lantas ia menelan ludahnya kasar.
๐๐ถ๐ข๐ฎ๐ช๐ฌ๐ถ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ญ๐ข๐ฌ-๐ฃ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ฑ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐บ๐ถ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ด.
Arjuna, terus melabuhkan ciuman pada ceruk leher istrinya, hingga Susi memejamkan mata merasakan sensasi yang membuatnya merinding disco.
Ciuman itu terus merambat menyusuri caping telinganya. Bersamaan dengan tangan Arjuna yang mulai tidak bisa di kondisikan.
"Katamu ... jangan terburu-buru, lalu ini apa?" tanya Susi lirih. Dirinya mulai hanyut terbawa permainan suaminya.
"Iya, aku pasti pelan-pelan deh. Janji, tidak akan buru-buru," jawabnya asal, tidak sesuai dengan apa yang Susi maksud.
"Ih, bukan pelan-pelan yang itu!" Susi pun menepuk lengan yang melingkar di perutnya dengan gemas.
Arjuna pun membalasnya dengan menggigit pelan bahu Susi. Kebiasaannya sejak beristri, selalu menggigit bila gemas. Ya, karena memang ia selalu gemas dengan istrinya ini.
"Aw, kebiasaan deh!" Susi segera berbalik, lalu menarik telinga Arjuna karena sebal. Terkadang, gigitan suaminya itu sakit juga.
Arjuna lantas memegangi telinganya, yang mana baru saja kena tarik itu. Seraya terkekeh, ia pun memajukan wajahnya.
Cup!
Susi sudah terbiasa, menerima pagutan tiba-tiba dari suaminya itu.
"Ingat 'kan, apa yang ku katakan tadi di rumah sakit? Bahwa kita harus lebih sering berusaha." Arjuna menatap wajah cantik di hadapannya lamat-lamat.
"Katanya tadi ๐ญ๐ฆ๐ต ๐ช๐ต ๐ง๐ญ๐ฐ๐ธ aja ... ๐ซ๐ถ๐ด๐ต ๐ด๐ญ๐ฐ๐ธ ...," ucap Susi menyindir, dengan mengulang kata-kata Arjuna pas di rumah sakit.
"Ya 'kan, santai untuk hasilnya nanti. Kalau aksinya, boleh dong di ๐๐๐จ terus? Namanya juga usaha," kilah Arjuna, gak mau kalah. Dirinya terus memepet istrinya itu, hingga tak ada ruang lagi bagi Susi untuk bergerak.
"Kopinya? Gimana?" tanya Susi, berusaha mencari alasan. Setidaknya mengulur waktu, pasalnya dia belum sempat mandi sejak pulang cek up tadi. Begitupun, suaminya.
" Nanti saja, selesai menyerbu hutan belantara," kelakarnya, dengan pandangan yang terus tertuju pada bibir Susi.
Gak mau, belum mandi!" Susi mencoba menolak meski ia tahu ujungnya pasti gagal. Namun apa salahnya di coba, ya 'kan?
"Setelah ini, kita bisa mandi bareng." Arjuna kembali menundukkan wajahnya, karena memang tinggi Susi hanya sebatas dadanya saja.
๐๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ข? ๐๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ซ๐ข, ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ฅ๐ฆ.
"Ar ...," panggil Susi dengan suara parau, ketika Arjuna menyesap leher putihnya lalu meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
"Hem," dehemnya, tanpa menghentikan aksinya. Bahkan, malah semakin menurunkan kecupannya ke bawah. Hingga sebuah tanda kembali tercetak di area bawah tulang selangka.
"Apa harus disini?" tanya Susi, dengan lirih. Kakinya terasa lemas. Karena, buaian Arjuna selalu membuatnya melayang.
__ADS_1
Arjuna pun mengangkat tubuh Susi dengan menggendongnya di depan. Ciumannya ia pindahkan dari leher ke bibir yang selalu membuatnya ingin menyesapnya rakus.
Susi pun tak tinggal diam, tubuhnya yang memang tak pernah bisa menolak setiap kali suaminya itu, menginginkan dirinya. Ia mulai membalas sesapan demi sesapan.
Hingga decapan keduanya acap kali terdengar merdu. Membangkitkan gelora dan gairah yang telah membakar napsu dari keduanya.
Mereka pun pindah keruang tamu, tanpa menghentikan tautan bibir mereka sedetik pun. Arjuna meletakkan bokongnya di atas sofa, dengan Susi yang berada di atas pangkuannya.
"Ar, tidak seperti ini posisinya," ucap Susi mengingatkan.
"Harus aku yang berada di bawah. Kemudian, satu kaki diangkat setinggi bahu," ucap Susi pelan, dirinya kini tengah rebah di atas dada bidang Arjuna.
" Baiklah, hamba ikut saja apa kata kanjeng ratu," goda Arjuna dengan kerlingannya. Ia kembali menggendong, lalu berjalan menuju kamar mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Arjuna menghempas tubuh yang berada di dalam gendongannya itu ke atas kasur secara perlahan. Menahan raganya dengan bertumpu pada kedua siku tangannya. Supaya tubuh ramping Susi tidak terlalu tertindih badan besarnya.
Arjuna memulai aksinya, di awali dari menciumi seluruh area wajah Susi, secara perlahan dan lembut. Di mulai dari ujung kepala hingga kening, lalu merambat pada kedua kelopak mata indah Susi.
Semakin turun lagi, sampai kepada pipi kanan dan kiri, lalu hidung dan terakhir menyesap dalam bagian yang menjadi candunya.
Napas keduanya semakin memburu, Arjuna melepas belitannya, lalu mulai menjelajah lebih ke bawah lagi. Di karenakan Susi mengenakan atasan dengan kancing depan, maka tangan Arjuna yang mulai terampil dalam hal buka membuka, telah faham apa yang mesti dilakukannya.
Tanpa di sadari oleh Susi, bahwa raganya kini hanya tertutup kacamata kuda serta segitiga bermuda saja.
"Ini, kenapa banyak sekali polkadot merahnya? Sayang?" tanya Arjuna berlagak polos, menunjuk pada kembara kembar bakpao yang menantang. Padahal karya itu, hasil perbuatannya sendiri.
"Di gigit kayaknya sama nyamuk." tukas Susi, yang setengah kesal. Bagaimana tidak, lagi on fire gini, eh di ajakin ngobrol.
"Nyamuk apa? Di sini mana ada nyamuk?"
" Ada, nih nyamuknya!"
Puk!!
Telapak tangan Susi pun mendarat di bibir Arjuna dengan mantab.
๐พ๐คฃ Nyamuk pala item ya Sus?๐
Bersambung ajalah, Arjuna merusak suasana halunya otor๐.
Tapi, jangan lupa dukungannya ya ...
Supaya karya ini, popโnya bisa naik terus.
Cuma tekan like, ketik komen, kirim bunga, atau kopi juga vote tiap hari senin. Itu semua ... udah cukup banget buat bikin otor semangat ngetiknya,๐๐.
__ADS_1
See u next bab ....