Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bujang lapuk.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"PakJoy! Apa yang anda lakukan?!" Susi memekik ketika berpapasan di koridor belakang.


Mereka kini di lantai berbeda, dimana hanya ada beberapa ruangan divisi dan staff pemasaran.


Terletak jauh di bawah lantai kantor CEO dan dewan direksi lainnya.


"Gyaaa!! Nona...!" Joy hampir saja terjengkang kebelakang saking kagetnya.


"Bagaimana kau bisa ada di sini, nona?" Joy bertanya dengan menahan malu nya.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang sedang anda lakukan disini Pak Joy?" tanya Susi, sembari menelisik penampilan lucu Joy dengan seragam cleaning servisnya.


" Jangan lihat aku seperti itu...," lirih Joy, ia menunduk sambil mengelus tengkuknya.


"Ini semua pasti ulahnya bukan? Hanya dia yang bisa melakukan hal seenaknya begini! Keterlaluan!" Susi mengeratkan gigi-giginya.


"Sudahlah, lagi pula aku...," Joy menjeda ucapannya karena Susi telah melangkah pergi.


"Hei Nona! Kau mau kemana?!" Joy mengejar Susi yang berjalan cukup cepat.


" Aku akan menuntut keadilan untuk mu! Tenang saja!" teriak Susi yang semakin mempercepat larinya.


" Haish wanita itu," decak Joy, mengacak gemas rambutnya.


"Kau hanya akan menyulut kembali kemarahannya dan mendatangkan masalah baru untukku." lirih Joy pasrah, ia kemudian berbelok, tujuannya adalah ke loker karyawan.

__ADS_1


" Aku harus ganti baju dulu, masa iya mau ke lantai atas pake seragam ijo-ijo gini. Cih, mana bau karbol," Joy bermonolog sambil membuka seragamnya.


"Nasibmu Joy, punya bos bujang lapuk ya begini." ocehnya sambil menyemprotkan minyak wangi sebanyak-banyaknya ke tubuh atletisnya itu.


BRAKK!!


"Tuan Arjuna!" pekik Susi ketika ia telah berada di dalam ruangan kerja CEO Arsa tersebut.


"Apa kau tidak bisa berlaku sopan?" tanya Arjuna datar, meskipun ia agak kesal karena ada yang memecah konsentrasinya.


"Apa aku peduli? aku sangat kesal padamu!" protes Susi, kini ia telah berdiri di depan meja Arjuna sambil berkacak pinggang.


Arjuna memandang Susi yang kini tengah melotot padanya.


(Wanita ini, berani sekali memasang wajah itu lagi padaku.)


Susi mulai gusar karena Arjuna membalas tatapannya dengan tajam. Hingga kini jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal lagi.


"Beraninya kau memasang wajah itu lagi padaku." Arjuna berdiri tegak memasukkan kedua tangannya kedalam kantung celana.


"Kenapa? Karena anda keterlaluan." ucap Susi yang kini sudah merendahkan pitch kontrol suaranya.


" Katakan yang jelas, apa yang telah membuatmu menghardik bos mu sendiri?" Arjuna terus menatap wajah cantik di hadapannya, yang anehnya ia sangat tertarik ketika wajah itu tengah berekspresi marah seperti saat ini.


Mulut yang mengerucut dan terus bergerak bicara membuat otaknya seperti di retas oleh para hacker, blenk seketika.


"Yang benar saja, masa anda menggantikan pak Joy dengan orang baru, kemudian anda memperkerjakan nya sebagai cleaning service!"

__ADS_1


"Sungguh anda bos yang tidak punya hati!" Susi mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.


Rasanya ia gemas sekaligus jengkel sekali dengan pria berwajah datar seperti ini.


"Kau membela Joy seperti ini? Hingga meneriaki ku?"


"Kau lupa siapa bosmu?" Arjuna memajukan lagi tubuhnya hingga kini tubuh tinggi tegapnya menjulang di hadapan Susi yang ramping.


"Justru itu, Tuan. Karena anda bos kami, bukan berarti saya akan tutup mata atas ketidakadilan ini," ucap Susi tegas meski raganya kini panas dingin. Tatapan Arjuna benar-benar mengintimidasinya, pantas saja ia di sebut bos killer.


" Segitu nya kau membela Joy, masih bilang hubungan kalian sebatas rekan kerja?" Arjuna berkata sambil mengeratkan gigi gerahamnya.


"A-apa maksud anda Tuan? Tentu saja saya membelanya karena kami rekan kerja, apa itu salah?" Susi mulai memundurkan kakinya, ketika dilihatnya wajah kaku itu semakin garang, macam singa yang sedang melihat anak rusa.


"Kau tidak tau masalahnya, tapi membelanya. Apa itu benar?" Arjuna bertanya sambil terus mendekat pada sosok cantik yang mulai meredup sangarnya.


(Tadi aja marah-marah sampai berkilat, sekarang kenapa kau mengkeret begitu, dasar wanita bodoh!) Arjuna menyeringai, membuat tampangnya semakin menyeramkan bagi Susi.


"Me-memang apa masalahnya? sampai anda menghina pak Joy seperti itu!" Susi mengeluarkan sisa keberaniannya, bagaimanapun juga Joy sudah berjasa mengajarinya dengan sabar. Anggap saja ini caranya balas budi.


(Masih berani bicara juga, padahal sudah terpojok seperti ini. Nyali mu luar biasa nona! Kau sudah siap bertempur rupanya.) Arjuna semakin mendekat hingga Susi tak bisa mundur lagi karena tertahan meja.


Ia meraih pinggang ramping itu hingga mengikis jarak di antara mereka. Kedua mata Susi membola, kegugupan kini melingkupi raganya.


Tak ada satu pun yang bicara, hanya pandangan mata satu sama lain yang mendominasi keduanya.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2