Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Ketagihan nih yee...


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Arjuna melepas tautan mereka, napasnya masih terdengar memburu. Jemarinya terangkat untuk mengusap bibir yang membengkak akibat ulahnya. Hingga, lengkungan di bibirnya tertarik ke atas pada akhirnya.


(Di-dia tersenyum...?)


"Kenapa Tuan terus saja seenaknya menciumiku!" Susi mendorong tubuh kekar itu sebelum ia benar-benar di mabuk kan lagi oleh sorot mata elang itu.


Arjuna tersenyum miring, " bukankah kau yang menggodaku lebih dulu?" Ia memundurkan tubuhnya, kembali ke depan kemudi.


"Hei! Ka-kapan aku menggoda mu?" Susi bertanya namun kikuk sendiri.


"Bisa diam tidak! Atau ingin ku bungkam lagi mulut cerewet mu itu!" Arjuna kembali menyalakan mesin dan mobil pun melaju kencang.


(Cih, bilang saja kalau kau ketagihan.)


Susi kembali berpegangan erat, ia tak terbiasa di ajak ngebut seperti ini.


"Tuan, tolong jangan kencang-kencang bawa mobilnya," ucap Susi dengan wajah pias.


"Payah!"


"Buang pikiranmu kotor mu jauh-jauh." Arjuna mendengus.

__ADS_1


"Biar saja. Eh, tapi pikiran apa maksud Tuan?"


"Aku masih sayang nyawa ku tau!" pekik Susi lalu membuang muka ke arah jendela mobil.


"Kyaaa...!" Susi berteriak sambil memejamkan matanya.


"Kemarin-kemarin yang semangat sekali mati siapa? Kenapa sekarang kau jadi takut?" Arjuna menyindir dengan tawa meremehkannya.


"I-itu kan dulu. Sebelum seseorang menyadarkan ku arti nya kehidupan. Arti bahwa nyawa itu berharga, siapapun dirimu, bagaimanapun keadaanmu." Susi berkata dengan pelan, karena ia malu Arjuna telah mengungkit kebodohannya dulu.


Betapa pendek akal pikirannya saat itu, bagaimanapun pria menyebalkan di sebelahnya ini sangat berjasa untuknya.


Bahkan, Arjuna telah dua kali menjadi dewa penolongnya. Sepertinya ia harus bersikap lebih baik lagi.


Arjuna pun melambatkan laju roda empat miliknya itu.


Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Jarak yang tidak terlalu jauh sebenarnya, namun karena memutar demi menghindari kemacetan maka mereka baru sampai ketika hari menjelang senja.


Ketika tiba di konter ponsel yang besar dan ternama, Arjuna melangkah masuk. Ia berhenti dan menoleh karena Susi diam tak bergerak, hanya berdiri sambil mendekap tasnya.


"Bukankah kau ingin ponsel baru? Untuk apa berdiri saja di situ?" Arjuna mengerutkan dahinya, dan menaikkan sebelah alisnya.


"I-itu,..." Susi ragu, ia tau merek apel di gigit itu mahal-mahal.


Arjuna gemas sekali, tadi wanita itu terus saja mengomel padanya. Sekarang ketika ia hendak ganti rugi kenapa malah wanita itu yang ragu.

__ADS_1


Tak sabaran Arjuna pun menarik tangan langsing itu memasuki gerai. Spontan seorang pramuniaga pun menghampiri mereka, menyapa dan menawarkan produk terbaru.


"Kau ingin yang mana? Pilih saja!" titah Arjuna.


Susi menelan ludahnya kasar, melihat ponsel bersinar dan berkilau itu tengah berjejer cantik di etalase.


"Se-seperti ini saja." Susi menyerahkan ponselnya yang rusak pada pramuniaga itu.


" Berikan yang harganya sepuluh kali lipat dari miliknya." Arjuna mendengus kesal, apa wanita itu sedang meledeknya.


Susi membelalakkan matanya, jangan lupakan mulutnya yang menganga lebar.


"Ini Tuan muda, serie terbaru dari produk kami." Pramuniaga itu menyerahkan sebuah ponsel keluaran terbaru. Dengan kisaran harga yang dapat membeli satu buah sepeda motor matik berbodi besar.


"Bungkus kan untuknya." Arjuna menyerahkan sebuah card berwarna hitam. Membuat mata pramuniaga itu hampir mencelos keluar dari cangkangnya.


Bagaimana tidak, sebuah kartu no limit yang di miliki oleh beberapa pengusaha kaya di negeri ini.


Susi yang tak mengerti tentang kartu limited edition itu, hanya memasang wajah bingung melihat ekspresi dari pramuniaga tersebut.


" Maaf bila pelayanan kami kurang memuaskan Tuan muda," ucap sang manager sopan dengan sedikit membungkukkan badannya.


Ternyata pramuniaga tadi memanggil bos mereka ketika tahu identitas Arjuna dari serie kartunya.


BERSAMBUNG>>>

__ADS_1


__ADS_2