Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Minta Solusi Ke Anak Buah.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Cepat, katakan! Aku butuh solusi bukan di kasihani!" sentak Arjuna, membuat sang karyawan terlonjak kaget.


"Baik, Tuan!" Beng-Beng menjawab dengan spontan.


"Maaf, bukan maksud saya untuk menggurui anda. Wanita itu, memang sulit untuk di fahami. Kita dapat menemukan cara untuk menghadapai nya, jika kita sudah tau akar masalahnya. Mungkin saja, anda telah berbuat salah atau menyinggung perasaannya," jelas Beng-Beng dengan serius.


"Tidak, aku sudah menanyakan hal itu. Istriku bilang, ia benci bila melihatku juga mencium bau badanku ini," tukas Arjuna.


"Hah! Mana mungkin seperti itu, Tuan. Anda sangat lah rapih dan wangi," jujur Beng-Beng.


"Apakah, sikap istri anda ini, datang secara tiba-tiba?" selidik Beng-Beng.


"Ya, sudah beberapa hari ini. Sebelumnya, kami baik-baik saja. Ini, membuatku bingung dan sangat sedih. Apa, ia sudah bosan padaku? Apa ia tidak mengantungkan lagi kebahagiaannya padaku?" tutur Arjuna dengan nada lirih. Aura melankolis tiba-tiba menyeruak dari dirinya.


Membuat karyawan di hadapannya ini melongo seketika.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜›๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ? ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข!


"Tuโ€“tuan, apa anda baik-baik saja?" heranya campur takut. Karena tampang Arjuna tiba-tiba menjadi sangat menyedihkan.


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ. ๐˜Œ๐˜ฉ, ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ! ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ?


"Tuan, anda tenanglah. Berpikirlah positif dan yang baik-baik saja. Karena, terkadang, isi dan jalan pikiran kita itulah yang akan membunuh kepercayaan diri kita. Bukan kenyataan atau omongan dari orang lain," jelasnya, terdengar bijak untuk pria seusianya.


"Setau saya, perubahan sikap wanita yang tiba-tiba, bisa saja di pengaruhi oleh perubahan hormon. Mungkin, istri anda dalam mode ๐˜—๐˜ณ๐˜ขโ€“๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ช," jelasnya lagi. Ia berharap jawabnnya kali ini, akan memuaskan bosnya itu.


" Apa?" kaget Arjuna. Kemudian dirinya mengingat-ingat kapan terakhir sang istri kedatangan tamu bulannya nya.


"Tidak! Selama ini, istriku tidak pernah bersikap aneh. Meskipun ia sedang dalam mode siklus bulanannya." Arjuna, meremas belakang kepalanya.

__ADS_1


Rasa pusing akhir-akhir ini selalu menemani harinya. Semenjak Susi mengabaikan dirinya, membuat malam panjangnya hanya berteman dengan guling saja.


"Bukan juga ya." Beng-Beng pun, ikut menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia ikut pusing, memikirkan masalah bosnya. Mana tugasnya juga belum selesai, sedangkan deadline-nya adalah sore ini.


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข! ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ! ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต.


" Tuan, bagaimana kalau kita bertanya dengan wanita yang sudah menikah? Saya rasa, itu lebih tepat," saran Beng-Beng pada bosnya itu. Karena dirinya ikutan bingung juga. Seakan ia berada di posisi Arjuna.


"Baiklah, tapi siapa wanita itu? Apa karyawan wanita di sini ada yang sudah menikah?" cecar Arjuna.


"Bukan pada karyawan sini, tapi dengan istri saya. Bagaimana?" tawar Beng-Beng. Mencoba memberi solusi, karena urusan wanita, biasanya yang tau juga ya, kaum sejenisnya.


" Telepon dia sekarang juga. Aku akan mengganti pulsa mu!" titah Arjuna tak sabaran.


Lalu Beng-Beng mengeluarkan ponselnya, dan segera menghubungi istrinya itu.


"Loudspeaker!" perintah Arjuna kemudian. Ketika sambungan teleponnya di angkat oleh yang bersangkutan.


๐Ÿ“ฒ" Iya, sayang. Kau kenapa gugup? Apa kau sakit?" tanya seorang wanita di seberang telepon.


๐Ÿ“ฑ"Tidak, aku baik-baik saja." Beng-Beng bicara, sambil sesekali melirik kearah bosnya itu. Ketika tatapannya bertubrukan dengan tatapan tajam dari Arjuna, ia seketika merasa tenggorokannya tercekat.


๐Ÿ“ฑ"Ada, yang ingin kutanyakan padamu. Sebenarnya, aku ada di ruangan Pak Presdir."


๐Ÿ“ฒ"Sayang! Apa kau telah melakukan kesalahan? Tolong jangan sampai kau di pecat, kau tau kan aku sedang hamil besar! Sedangkan anak pertama kita masih sangat kecil!" cecar wanita itu.


๐Ÿ“ฑ"Tentu tidak sayang, jika kau bisa menjawab pertanyaan ku, serta membantu masalah Pak Presdir," jelas Beng-Beng pada sang istri.


๐Ÿ“ฒ"Kalau begitu katakan, ada masalah apa? Apa yang bisa kubantu?" tanya wanita hamil itu dengan risau.


๐Ÿ“ฑ" Istri, Pak Presdir mendadak bersikap aneh. Mengusir Tuan tidur di sofa, lalu mengatakan kalau ia tidak mau melihat suaminya. Karena benci di dekatnya juga tidak suka bau suaminya. Apa kau bisa menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?" Beng-Beng mulai risau dan panik, karena Arjuna terus memperhatikannya serta mendengar obrolan mereka dengan seksama.

__ADS_1


๐Ÿ“ฒ" Apa istri Pak Presdir sedang hamil? Kau ingat tidak, ketika aku hamil anak pertama kita. Aku juga membencimu, sampai aku harus menginap di rumah ibu selama sebulan. Ternyata, anak kita adalah seorang laki-laki yang tampan. Sedangkan, hamil yang kedua ini. Aku selalu ingin berada di dekatmu. Karena itu jangan pulang larut malam!" jelas istri Beng-Beng panjang kali lebar. Membuat kening Arjuna berkerut dan sudut bibir yang melengkung tajam sesudahnya.


๐Ÿ“ฑ"Baiklah, sepertinya kami sudah menemukan jawabannya. Doakan pekerjaanku lancar hari ini, agar aku bisa cepat pulang dan menemanimu. Sampai jumpa, istriku!"


Beng-Beng pun mengakhiri panggilannya sepihak, sebelum sang istri mengucapkan kata-kata mesra yang akan membuatnya malu.


"Tuan, bagaimana? Apakah anda puas dengan prakiraan dari istri saya?" tanta Beng-Beng, penasaran.


"Aku sangat puas! Kau bisa kembali kw divisimu, dan selesaikan tugasmu. Jika ada masalah, yang memberatkan tugasmu hari ini. Sebut saja, kau sedang berurusan denganku. Maka, pengawas divisimu tidak akan berani macam-macam," jelas Arjuna, membuat wajah tegang karyawan di hadapannya sirna seketika.


"Baiklah, Tuan. Terimakasih!" ucapnya seraya berdiri dan menundukkan kepala tanda mohon undur diri.


"Aku akan menepati janjiku. Jika saja prakiraan istrimu benar, maka seluruh biaya persalinan serta kebutuhan anak keduamu, akan ku tanggung sepenuhnya."


Kata-kata Arjuna barusan, sontak membuat Beng-Beng sangat senang dan bersemangat.


"Saya,doakan. Semoga istri anda benar-benar sedang hamil." Beng-Beng kembali menundukkan kepalanya. Lalu, pria itu keluar dari ruangan dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Tuan? Apa sudah selesai?" tanya Joy yang baru saja masuk.


"Joy, hubungi Dokter Marina di rumah sakit xx di negara K. Tempat di mana, Susi berobat." titah Arjuna yang langsung diangguki oleh Joy.


" Ini, Tuan. Teleponnya telah tersambung." Joy menyerahkan ponselnya. Padahal, bosnya itu kan bisa menghubunginya sendiri dengan ponselnya. Entahlah, memang Arjuna senang jika merepotkan asistennya itu.


๐Ÿ“ฑ" Halo, Dokter Marina!"


_____


"Sayaaaangg ...!!" panggil Arjuna, ketika dirinya telah masuk kedalam apartemen. Namun, suasana begitu sepi, membuatnya menyisir ruangan demi ruangan untuk mencari istrinya itu.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2