
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Waw, Honey! Kau dingin sekali padaku. Apa kau lupa jika desah dan belaian dariku, pernah memanaskan malam-malam kesepianmu?" goda wanita seksi tersebut. Seraya meletakkan telapak tangannya di pundak Joy sambil sesekali mengusapnya.
"Jauhkan tanganmu dariku! Kita sudah tidak ada urusan lagi!" ketus Joy, membuat wanita dengan pakaian kurang bahan itu terkekeh dengan keras. Bahkan, dua bongkahan buah sebesar kelapa di depan tubuhnya tergoncang dan hampir melompat keluar.
"Bisa begitu ya? Biasanya juga setiap bertemu denganku, kau pasti akan langsung mengajakku ke klab lalu kita habiskan malam panjang kita berdua di hotel," ucap Miranda membuat Milna mulai gelisah dalam diamnya.
Otak polosnya mulai traveling, atas apa yang Joy dan wanita sundel ini lakukan sepanjang malam. Seketika tubuhnya bergidik dan rasa jijik itu menjalar. Hingga seluruh bulu kuduknya berdiri.
๐๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ช๐ฑ๐ฆ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ซ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ช๐ด๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ช๐ซ๐ช๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ! ๐๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข. Milna terus menyimpulkan persepsinya dalam hati. Perlahan ia melangkahkan kakinya untuk menghindar dari area reuni tersebut. Untung saja, Lia menarik tangannya untuk menjauh. Setelahnya berfoto sebentar, Milna pun kembali kedalam untuk melepas gaunnya.
"Jangan di pikirkan ya Kak. Wanita itu pasti masa lalu bang Joy," ucap Lia. Gadis itu merasa tak enak hati atas kelakuan abangnya sendiri. Meskipun masih terbilang remaja tapi Lia sudah mengerti , bahwa apa yang telah di lakukan abangnya dapat menyinggung perasaan calon kakak iparnya itu.
"Tak apa Lia, aku mengerti," sahut Milna dengan senyum yang sangatlah ia paksakan. Karena, bagaimanapun juga hatinya merasa kesal. Bukan dia tidak menerima kisah dari masa lalu Joy. Akan tetapi sikap Joy lah yang membuatnya sebal. Pria itu tak sedikit pun menyinggung siapa dirinya dan meladeni wanita seksi itu untuk terus berbicara dengannya.
"Setelah ini kita langsung pulang atau gimana Kak?" tanya Lia.
"Kakak mau menjenguk sahabat yang baru pulang dari rumah sakit," jawab Milna.
"Apa dia sahabat Kakak yang seharusnya mengadakan resepsi barengan itu?" tanya Lia lagi.
"Iya benar Lia, dia Kak Vanish," sahut Milna.
"Mau Kak, Lia mau ikut ya. Pokoknya kemanapun Kakak pergi Lia harus ada di sana. Kan aku ini bodyguard Kak Milna," celoteh Lia polos. Membuat Milna tertawa renyah.
๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ช๐ข ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ช๐ข๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ด ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ด. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ ๐๐ฐ๐น๐บ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐น๐บ. Batin Milna terasa hangat. Hingga menguar menjadi sebuah senyum di wajahnya.
Milna dan Lia pun keluar dari ruang ganti. Ketika mereka sampai di ruang depan, ternyata Joy dan Miranda masih saja berdebat. Meski Joy terlihat membatasi dirinya dari wanita seksi yang terus menerus mencoba menyentuh beberapa bagian tubuh Joy.
๐๐ข๐ด๐ข๐ณ ๐ค๐ฆ๐ธ๐ฆ๐ฌ ๐จ๐ข๐ต๐ฆ๐ญ! ๐๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ! Umpat Milna dalam hati. Melihat kelakuan minim akhlak dari satu genrenya itu. Membuat malu menguar sampai ke ubun-ubun.
"Pergilah! Jangan sampai calon istriku berpikiran macam-macam tentang kita!" hardik Joy. Lama-kelamaan dirinya tak sabaran juga atas sikap Miranda.
__ADS_1
"Cih! Sombongnya!"
"Calon istri ya? Semoga saja dia tau kelakuanmu Joy. Apa dia akan sanggup menghadapi maniak sepertimu!" Miranda menunjuk tepat di dada Joy dengan ujung kuku cantiknya.
"Bukan urusanmu!" Joy menepis jari lentik itu dengan kasar. Membuat Miranda mendengus kesal. Rupanya dia menaruh perasaan dari hubungannya dengan Joy selama ini. Melihat Joy hendak menjalin hubungan serius dengan wanita lain membuat nya kesal dan sakit hati.
๐๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด๐ช ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐๐ฐ๐บ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข-๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ. ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ณ๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ค๐ข๐ญ๐ฐ๐ฏ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ช๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐บ๐ถ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. Miranda terus bergumam di dalam hatinya. Ia pun melenggang pergi dengan sebuah rencana di otaknya. Bagaimanapun caranya, Joy harus menjadi miliknya. Begitulah kira-kira yang ada di dalam pikiran Miranda.
"Akhirnya pergi juga tuh si rambut gulali!" celetuk Lia. Membuat Milna sontak tersenyum simpul ke arah calon adik iparnya itu.
"Lia, jaga bicaramu!" ujar Joy. Membuat gadis remaja itu mencebikkan bibirnya.
"Mentang-mentang mantan, segitunya di belain!" ketus Lia.
"Bukan karena itu, kau anak kecil tau apa urusan orang dewasa. Jaga bicaramu kataku!" hardik Joy. Sontak membuat kedua mata adik perempuannya itu berkaca-kaca.
"Abang Joy jahat!" pekik Lia, kemudian gadis itu berlari keluar dari dalam butik.
"Dasar pria tengik! Bodoh! Begitukah caramu memperlakukan seorang adik perempuan!" sarkas Milna.
"Persetan dengan argumenmu! Kejar Lia sekarang! Dia ka tidak tau daerah sini!" pekik Milna karena Joy begitu lamban dan tidak peka.
"Oh ****! Kau benar!" Joy pun berlari masih dengan jas dan kemeja pengantinnya. Ia tak peduli pakaian itu. Mana keburu jika ia harus mengganti pakaian terlebih dulu. Bahkan, ia terlupa dengan Milna yang tak mungkin menyamai langkahnya yang panjang.
"Dasar pria bodoh! Bagaimana kau bisa membuatku jatuh cinta nanti. Kau itu tidak mengerti sama sekali akan perasaan perempuan." Gumam Milna sambil terus berjalan menyusul keduanya.
"Sayang, kalian sudah pada lapar ya. Tunggu ya, daddy kalian sedang mencari aunty Lia dulu. Yuk, kita bantu cari juga." Milna terus berbicara dengan janin kembarnya. Ia terus berjalan menyusuri trotoar depan butik sambil terus mengelus perutnya.
"Lia tunggu!" teriak Joy memanggil adik perempuan satu-satunya itu.
" Lia sontak menghentikan larinya. Karena ia lelah mana perutnya juga lapar. Kemudian gadis remaja 14 tahun itu menoleh.
" Ngapain ngejar Lia! Seharusnya kau bersama Kak Milna!" pekik gadis bertubuh tinggi tersebut.
__ADS_1
"Kau 'kan lari. Tentu saja aku harus mengejar mu!" dalih Joy. Padahal dia mengejar adiknya juga karena digentak oleh Milna.
"Kau juga mengejar ku karena di suruh Kak Milna." Lia mencebik, lalu mendudukkan bokongnya di kursi taman pinggir trotoar.
"Kau ini! Bisa tidak bicara yang sopan sedikit!" seru Joy seraya mendekati Lia.
"Kau sendiri? Apa kau punya sopan santun? Kau bahkan memarahiku di tempat umum!" protes Lia. Membuat Joy seketika menoleh kanan dan kiri. Benar saja, beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka.
"Liat apa kalian! Pergi sana!" usir Joy pada orang-orang kepo itu.
" Tuh kan, bisanya hanya marah-marah saja!" gumam Lia yang masih bisa di dengar oleh abangnya itu.
"Ayo kembali, kasian Kakak iparmu di sana sendirian." Joy hendak menarik tangan Lia, tapi gadis itu menepisnya.
"Lagian, siapa suruh mengejarku! Kau tidak perlu untuk berpura-pura peduli padaku!" pekik Lia.
"Kau ini. Ingin perhatian orang lagi dengan berteriak seperti itu." Joy berkata dengan menahan geramnya.
"Kau pergi sana! Aku akan baik-baik saja. Aku sudah terbiasa tanpa dirimu." Lia berkata seraya memalingkan wajahnya. Joy tak tau jika remaja itu tengah menyembunyikan tangisnya.
"Sudahlah jangan drama. Tidak ada mami di sini," ucap Joy ambigu.
"Apa maksudmu Bang?" Lia buru-buru menyeka air matanya.
"Seharusnya kau senang karena aku pergi. Kau puas memiliki mami seorang diri. Menikmati kekayaan orangtuamu tanpa ganggu gugat dari ku!" sarkas Joy sinis. Sungguh pria itu pandai sekali mengucapkan kalimat yang menusuk hati.
"Apa itu yang ada di pikiran Abang selama ini? Abang berpikir aku ingin menguasai mami? Aku tidak peduli jika kau cuek padaku karena kita beda ayah. Tapi aku tidak menyangka jika kau berpikir bahwa aku sejahat itu." Lia menyeka air matanya kasar dengan punggung tangannya.
Joy memalingkan wajahnya, matanya ikut memanas melihat tangisan di wajah adik perempuannya itu. Sementara di seberang trotoar Milna melambaikan tangan padanya.
"Joy! Kau apakan adikmu! Awas kau!" teriak Milna sambil menyebrang. Tanpa ia sadari di sebuah belokan samping gerobak besar, sebuah motor melesat kencang.
"Milna awas!"
__ADS_1
"Kakak!"
Bersambung >>