Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Surat peringatan.


__ADS_3

******


...Boleh tinggalkan jejak....


...Asal jangan boom like😉....


🔥🔥🔥🔥🔥


" Dasar wanita tak tau diri kamu!"


"Tidak tau berterima kasih! Sudah syukur anakku mau menikahi mu dan menampung mu di istana kami. Memberi hunian dan hidup yang layak untukmu! Memberi martabat yang tinggi padamu. Justru kau malah melempar air comberan ke wajahku!" maki Easy terus berkelanjutan, dengan sedikit akting dan menambah drama di dalam ceritanya .


Karena ia tak ingin teman-temannya jatuh simpati pada Susi.


"Apa maksudnya Jeng?"


"Iya, kenapa sih?"


"Lho ..., lho ..., Jeng Easy kenapa?"


Beberapa tamu mendekati Easy yang terlihat lesu dan sedih, padahal ia tengah berperan. Bahkan nyonya sang pemilik rumah akhirnya mengusir Susi dan kawan-kawannya.


"Maaf, Mbak nya pergi saja ya. Malah buat kacau di acara saya!" usir wanita itu.


"Tapi Bu, saya tidak melakukan apapun, hanya membela diri saya. Saya tidak bermaksud membuat kekacauan ini," ucap Susi membela diri.


"Jeng Easy itu teman lama saya. Dia orang baik, dan saya percaya kemarahannya karena kamu sudah benar-benar telah mengecewakannya. Sebaiknya kamu dan teman-teman mu pergi dari rumah saya!" usir wanita itu sekali lagi.


"Tapi Bu, bagimana dengan pesanan nya? Jadi kan?" tanya Susi berharap kejadian ini tak berimbas pada target penjualannya.


"Saya udah gak selera, pergi sana!"


"Masih aja si Mbaknya jualan, gak liat nih orang tua di bikin kesel sampe lemes gini!"


"Beneran gak tau malu ya?"


"Iya gak tau diri!"


Sang pemilik rumah dan beberapa tamu akhirnya secara bersamaan mengusir Susi dan yang lain. Entah apa maksud dari wanita paruh baya itu, yang kini tengah bersandar di sofa sambil memegangi kepalanya. Apa niat dari mantan Ibu mertuanya itu.


(Kenapa jadi seakan-akan aku yang telah menindas nya? Apa rencana mu nyonya Easy? Semoga ini tak mempengaruhi pekerjaan ku. ) Susi terus membatin, berharap kejadian ini tak berkelanjutan. Hingga akhirnya, ia dan kedua temannya angkat kaki dari rumah itu.


"Sudahlah Kak. Kau yang sabar ya. Kita percaya sama kau," ujar Rapika menenangkan.


"Tapi, Ra. Aku takut masalah ini akan berimbas pada pekerjaan ku," cemas Susi.


"Kagak Kak, tenang aja. Kan kamu juga gak ngapa-ngapain cuma bela diri doang," ucap Vanish santai.


"Huft..., semoga saja." Susi menghela nafas, mencoba menenangkan hati nya.


"Kita ngaso dulu yok! Minum yang seger-seger biar ati ama kepala kagak berasep," ajak Vanish sambil menunjuk ke arah penjual es doger.


*****


Keesokan harinya, ketika para karyawan freelance ini briefing sebelum mulai bekerja di lapangan. Kepala pengawas memanggil Susi ke kantor.


Tok..tok!

__ADS_1


Susi telah berada di depan pintu dengan papan nama Supervisor Pemasaran.


"Masuk!"


"Permisi Pak." ucap Susi sopan, ketika ia telah masuk ke dalam ruangan.


"Silakan duduk," titah seorang pria yang sudah cukup berumur, terlihat dari wajah dan juga warna rambutnya. Namun badannya yang tinggi besar masih nampak gagah.


"Ada apa ya Pak?" tanya Susi memberanikan diri. Kini ia telah duduk di depan meja yang terdapat stand nama bertuliskan" Bapak. Harpic Go Cheng".


Pria bermata agak sipit dengan wajah kaku itu menegakkan tubuhnya dan menatap lamat pada wanita kurus di hadapannya.


"Kau tau tidak apa yang telah kau perbuat pada perusahaan?" tanya nya ketus dan dingin. Dengan wajah tanpa ekspresi membuat tangan Susi gemetar dan jantung nya kembang-kempis.


"A-apa maksud nya Pak?"


"Saya, tidak merasa melakukan kesalahan," jawab Susi dengan segenap keberaniannya. Bagaimanapun juga, pria di hadapannya ini sangat menakutkan.


Brak!


Susi menjengit dalam duduknya, tangannya sontak memegangi dadanya akibat kaget.


"Kau tak tau apa tak sadar? Hah!"


"Anak baru tapi sudah mengacau! Berani sekali kau!"


"Selama aku memegang tim ini. Bertahun-tahun, tak pernah ada masalah. Belum pernah ada customer yang membatalkan pesanan serentak dalam satu komplek!"


"Apa yang kau lakukan sebenarnya!" teriak pria sipit dengan badan besar itu, bahkan ia kini tengah berdiri sembari menuding jari telunjuknya ke hadapan wajah Susi.


Tubuh wanita itu bergetar, ia tak tau apa yang terjadi. Hingga membuat pimpinannya marah seperti ini.


" Kau bukan hanya membuat tim ini gagal mencapai target bulanan. Tapi kau sudah mencemari kinerja di bawah kepemimpinan ku!" hardik pria yang sebagian rambutnya telah memutih itu, hanya saja penampilannya rapi dan perlente.


"Saya tidak merasa melakukan kesalahan Pak. Tolong jelaskan apa yang sudah terjadi?" ucap Susi yang bingung atas apa yang menimpanya. Kenapa pimpinan sampai frustrasi seperti itu.


"Kau!" Pria itu kembali duduk dan memijat pelipisnya.


"Sebaiknya kau tidak usah masuk hari ini. Karena aku akan melaporkan ku pada kepala cabang." ucap pria sipit itu datar.


"Tapi, Pak,"


"Keluar!" teriak nya. Mengusir.


Susi kembali memegangi dadanya demi menahan perih karena bentakan bertubi-tubi. Entah, mimpi apa dia semalam.


Hingga sarapan paginya harus omelan dan hardikan demikian kejam. Tanpa sedikitpun ia tau dan mengerti apa kesalahannya.


Susi melangkah lesu menuju pintu, pikirannya terus menelaah atas apa yang terjadi. Namun, tak satu petunjuk pun ia dapati.


"Kak, kenapa Pak Harpic memanggil mu?" tanya Rapika, ketika Susi telah kembali ke ruangan briefing. Ia hendak mengambil tas nya di sana.


" Iya Kak. Kamu mau kemana? Sebentar lagi kita turun ke lapangan ini," tanya Vanish, membuat Susi menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku di suruh pulang oleh pimpinan. Tidak di perkenankan berada di dalam tim nya lagi. Maaf, aku pulang duluan," jawab Susi lemah.


Semangat menggebu nya untuk bekerja hilang sudah, berganti kesedihan dan ketakutan. Takut akan kehilangan pekerjaan.

__ADS_1


(Tuan, Arjuna. Di mana dirimu? Apa salah ku? Aku membutuhkan pekerjaan ini. Aku sama sekali tak ada maksud mengecewakan mu. Bisakah kita bertemu lagi?) suara batinnya bergemuruh.


"Tapi, Kak," panggil Rapika.


Namun Susi sudah keluar dari ruangan dengan langkah tergesa-gesa.


" Kenapa sih? Kok jadi gini?"


"Ada apa sebenarnya?" Rapika dan Vanish saling menatap tak mengerti. Akan apa yang tengah menimpa kawan seperjuangan mereka itu.


"Oke semua. Kita siap berangkat, kali ini sasaran kita adalah para penggiat usaha rumahan. Saya sudah print proposal. Jadi tugas kalian hanya menyerahkan proposal buatan saya dan presentasi produk kita, bila calon customer berminat." ujar sang pemimpin kelompok.


"Semangat bekerja semua! Ingat attitude dan keramahan adalah motto kita. Karena customer adalah raja. Sekian. Terima kasih!"


Kemudian semua tim bubar menuju kendaraan yang akan mengantar mereka pada tempat tujuan masing-masing.


"Apa!"


"Semua customer kelompok kita membatalkan pesanan!"


" Gila! Masa semuanya?"


"Gak mungkin?"


" Ini boikot namanya!"


*****


"Saya harap Anda mengeluarkan dia dari tim saya,"


"Saya tidak ingin dapat pinalti dari perusahaan," pinta pria bermata sipit pada kepala cabang.


"Saya sudah meneruskan laporan mu. Beri anak itu kesempatan." Kepala cabang menatap tajam.


"Tapi, Pak. Bukankah ulah wanita itu hampir merusak reputasi perusahaan?"


"Bahkan kerugian mencapai puluhan juta," tanya Harpic Go Cheng tak habis pikir, bahkan pria keturunan tionghoa itu menggeleng pelan.


"Kembalilah, ke base camp dan awasi anak buah mu dengan baik." titah kepala cabang tegas.


"Baik."


Harpic tak membantah lagi, ia pun segera undur diri.


______


"Ini surat peringatan untuk mu!"


"Kepala cabang masih berbaik hati, hanya memberi mu surat peringatan. Entahlah, sangat aneh menurutku."


"Harusnya, kau sudah di pecat karena telah merugikan perusahaan." Pria sipit bernama Harpic itu melempar amplop surat ke hadapan Susi.


...Mohon dukungannya terus ya gaes......


...Like, vote, komen jangan lupa..hehehe..🤗....


...Mak tayang klean cemuaaa😉😉....

__ADS_1


...Lope sekebon dah😘....


Bersambung>>>>


__ADS_2