Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Keinginan Yang Tak Biasa.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Sekarang, aku baru puas!" ucap wanita cantik itu, dengan seringai sinis nya.


"Menghajar mu, ternyata membuatku sangat bersemangat." Ia pun tersenyum senang.


Entah kekuatan serta keberanian dari mana, yang pasti ia sangat ingin menghajar penjahat itu. Secara tiba-tiba, keahlian berkelahinya muncul begitu saja.


"Kau pantas menerima ini! Manusia sampah! Beraninya menyerang wanita tua!"


Duggh!!


"Ammpuunn!!"


"Jangan pukul lagi! Aku kembalikan tasnya!" mohon pria yang terdapat lubang sangat besar, di daun telinganya itu.


"Enak saja!"


Bruggh!!


"Arrggh!" pekik pria itu, merasakan nyeri pada jemari tangannya.


"Pencuri, tidak layak memiliki tangan lagi! Bagus aku hanya mematahkan jari-jarimu!" sarkas wanita itu.


__________


Arjuna pun bergerak cepat, mencari sang istri ke setiap penjuru apartemennya. Bangunan yang lumayan luas itu, memiliki beberapa ruangan.


Mengharuskan, Arjuna menelisik satu demi satu ruangan tersebut. Mulai dari kamar tidur mereka, kamar mandi, ruangan untuk mengganti pakaian serta ruangan untuk mencuci.


Lalu beralih ke dapur, kamar tamu serta balkon tempat mereka biasa bersantai ketika sore. Satu tempat terakhir yang akhirnya di susuri olehnya, yaitu Gym.


๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ?


Arjuna melempar jas, serta mengendurkan dasinya. Itu semua ia lakukan sambil berlari. Karena, ia hendak mencari sang istri ke lantai bawah.


๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ.


Arjuna telah memasuki lift, ia berusaha mengirim pesan pada Susi.


"Ceklis satu, berarti ponselnya tidak aktif." Arjuna mulai risau, pasalnya sang istri tidak pernah pergi tanpa memberitahu dirinya.

__ADS_1


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ, ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ.


Selepas keluar dari dalam ๐˜ญ๐˜ช๐˜ง๐˜ต Arjuna, kembali berlari hingga keluar area ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต. Hatinya kalut, dan pikirannya sudah tak tentu arah. Apalagi ketika sampai di area parkir supermarket, terlihat orang-orang berkerumun.


๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช?


Arjuna merangsek kumpulan orang banyak tersebut, dimana beberapa diantara mereka bersorak dan berusaha melerai.


Seketika kedua mata elang Arjuna terbelalak. Melihat adegan yang sama sekali tak di duganya akan terjadi.


"Sayaang!!"


"Hentikan!" Arjuna meneriaki seorang wanita yang tengah menghajar seorang pria tanpa ampun. Meskipun, wajah pria tersebut sudah tak berbentuk lagi. Karena bengkak di sana-sini.


"Ampun, Nona! Ampun!" teriak pria, yang punggung tangannya tengah diinjak oleh kaki Susi. Dimana wanita itu mengenakan sepatu kets.


"Sekarang kau minta ampun? Lalu, tadi disaat kau merampas tas wanita itu, hingga dirinya terseret di atas aspal, apa kau mengampuninya?!" Susi semakin menekan ujung sepatunya. Hingga pria itu memekik semakin kencang.


" Lepaskan, dia!" teriak Arjuna, lalu maju ke tengah lahan parkiran itu.


"Apa yang sudah kau lakukan, ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ?" tanya Arjuna pelan, seraya menarik lengan istrinya tersebut. Meninggalkan pria yang sudah lemas tak berdaya itu.


Lalu, dua orang sekuriti pun datang. Serta segera membawa jambret itu ke pihak yang berwajib. Mungkin, akan di bawa kerumah sakit dulu. Karena pria tersebut mengalami luka-luka yang serius.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ถ๐˜ฑ.


"Sayang? apa yang barusan terjadi?" tanya Arjuna lembut.


"Hanya menghajar jambret itu!" tunjuk Susi dengan santai. Tak kelelahan atau ketakutan di wajahnya.


"Apa! Kau menghajarnya? seorang diri?" pekik Arjuna, heran. Bagaimana bisa, istrinya itu melakukan hal sebesar itu. Bukankah, Susi tidak memiliki ilmu beladiri, juga tidak pernah berkelahi. Pikirnya.


"Kalian semua! Kenapa diam saja, membiarkan istri saya menghajar penjahat sendirian!" teriak Arjuna, pada warga yang menonton kejadian itu. Tatapan mata elangnya nyalang, menyiratkan amarah yang khawatir menyatu.


"Tentu saja, aku yang menghajarnya. Pria sampah seperti itu, harus di beri pelajaran," ucap Susi dengan gemas. Satu tangannya ditumbuk kan pada telapak tangan yang lain.


Arjuna kembali menoleh ke arah Susi, kepala serta dadanya berdenyut nyeri bersamaan.


"Tapi, apa kau harus melakukannya? Bagaimana, jika dirimu terluka? Kenapa juga keluar rumah tidak menungguku pulang?" cecar, Arjuna dengan nada khawatir yang tersirat dari nada bicaranya.


"Tentu saja harus, masa aku harus diam saja! Lagipula, aku hampir mati bosan karena menunggumu pulang," tukasnya, seraya memalingkan wajah dari suaminya itu.

__ADS_1


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข.


Arjuna menghela napasnya perlahan. Berusaha menenangkan emosinya. Ketika ia begitu menghawatirkan sang istri, tapi wanita itu bahkan tidak mengharapkan kehadirannya.


"Tuan, tolong jangan dimarahi istrinya ya. Nona, hanya berusaha menolong ibu saya," jelas seorang wanita muda yang datang dengan tergesa-gesa menghampiri Susi dan Arjuna.


Terlihat ia tengah menuntun putranya yang masih kecil. Ia berbicara dengan sangat lirih, tersirat sesal serta kesedihan dari nada suaranya.


Ia terpaksa meninggalkan sang ibu di klinik, untuk menghampiri Susi. Karena mendapat laporan dari warga di sekitar daerah itu. Bahwa, suami dari wanita yang menangkap jambret tidak terima dan mengamuk di lahan parkir.


"Ibu saya bilang, Nona ini mengejar jambret itu dari depan ATM sana," jelasnya, seraya menunduk takut. Menghindari tatapan Arjuna, yang seakan mengulitinya hidup-hidup.


๐˜ˆ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?


"Saya rasa, sekarang masalahnya sudah selesai, bukan? ayo sayang, kita pulang!" ajak Arjuna, seraya menuntun istrinya itu.


"Tunggu dulu, Ar. Aku harus tau keadaan ibu itu." Susi melepaskan diri dari cekalan suaminya, lalu menghampiri wanita muda itu.


"Bagaimana keadaan ibumu? Apakah dia terluka parah?" tanya Susi dengan rasa simpatinya.


"Tidak, Nona. Ibu hanya menderita luka lecet serta kaget saja. Maklum, sudah tua. Salah saya, yang meninggalkannya di pinggir jalan sendirian," sesal wanita muda itu menunduk sedih.


"Semoga, beliau baik-baik saja. Lain kali, jagalah ibumu dengan baik. Karena, kau beruntung masih memilikinya di sisimu," pesan Susi, penuh perhatian.


"Terima kasih, Nona. Semoga anda bahagia," ucapnya seraya menundukkan kepala. Susi hanya menanggapinya dengan senyum dan usapan lembut di bahu.


Kemudian, Susi dan Arjuna kembali ke dalam apartemen. Tak nampak kelelahan sama sekali pada diri Susi. Padahal wanita itu baru saja mengejar serta menghajar jambret itu sendirian. Menggunakan tangan kecilnya, ia melumpuhkan penjahat itu hingga tak berdaya. Arjuna, benar-benar dibuat tak habis pikir olehnya. Perasaannya campur aduk, khawatir, kaget serta takut. Sekarang bertambah menjadi bingung, karena wajah Susi begitu cerah ceria.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜•๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ข.


Tring!


Pintu lift terbuka.


Arjuna merangkul istrinya itu, berjalan di lobi.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ?


Arjuna menaikkan sudut bibirnya, hingga tercipta lengkungan sabit.


Sesampainya di dalam apartemen, Susi langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama ia pun keluar dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


"Aku sudah menyiapkan air untuk mu, mandi lah. Aku, juga akan memasak. Kau pasti sangat lapar, aku juga. Menghajar penjahat, ternyata menguras banyak energi ku. Meskipun, aku jadi bersemangat setelahnya," ucap Susi, yang membuat pria di hadapannya hanya bisa melongo.


Bersambung>>>


__ADS_2