Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
BAB 278. ABPR


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥


Joy duduk menyendiri di sudut sebuah bar. Setelah menghabiskan beberapa batang rokok, ia menenggak kembali minuman soft drink dalam kaleng berwarna merah.


Joy hendak menekan pemantik apinya, berniat untuk menyalakan rokok yang sudah kesekian batang itu. tiba-tiba ...


" Joy! Ternyata benar ini kau!" pekik girang seorang wanita berpakaian seksi. Kulit putihnya membiaskan cahaya temaram di ruangan tersebut. Ia merangsek masuk kemudian menduduki kursi yang ditempati oleh Joy.


'Shiit! Apalagi ini! Dua ulat bulu telah kuhempaskan. Kenapa sekarang datang pula ulat keket yang keras kepala.' batin Joy menggerutu sebal. Pasalnya wanita di hadapannya ini sifatnya sebelas duabelas dengan Miranda.


Karena setiap keinginannya harus terlaksana dan segera didapatkan. Wanita dengan obsesi tinggi, yang entah bagaimana hendak berniat menjerat Joy dalam jaring beracun nya.


"La Venda? bagaimana kita bisa bertemu di sini?" herannya, kejadian penguntitan yang belum lama berlangsung membuatnya menaruh curiga pada wanita berdiri di sebelahnya saat ini.


"Aku bekerja pada kakakku. Dia sedang ada projek di pulau ini. Sungguh nasib baik sedang berpihak padaku sehingga mempertemukan kita berdua ditempat ini." La Venda bergerak semakin mendekati tempat dimana Joy menyandarkan tubuhnya.


Kedua mata Joy membelalak dengan sempurna karena La Venda semakin mendekat hingga menempel pada lengan kekarnya. Bahkan Joy dapat merasakan hangatnya kedua bongkahan empuk yang menyembul di bagian depan pakaian La Venda.


"Aku harus pergi." Joy segera bangkit berdiri dari tempat duduknya. Selain harus menghindari wanita seperti ini ia juga berpikir telah lama berada di luar kamar hotel. Waktu telah menunjukkan tengah malam, Milna pasti membutuhkannya saat ini.


" Aku sangat merindukanmu Joy. Kenapa kau malah menghindari ku? kau Lihatlah diriku ini, ada yang berbeda kan?"La Venda menarik tangan Joy hingga pria maskulin itu terduduk lagi. Ia sengaja memajukan dirinya kemudian memaksa Joy melihatnya.


"Kau lihat! Semua ini ku lakukan untukmu. Seperti janjiku, bahwa aku akan menjadi satu-satunya wanita yang akan memuaskan mu." La Venda menurunkan satu tali pada atasan dari gaunnya. Hingga memperlihatkan suatu pemandangan yang indah tapi haram.


"Aku sudah membuatnya besar sesuai dengan keinginanmu. Rasakanlah engkau pasti menyukainya sekarang." La Venda meraih sebelah tangan Joy kemudian hendak menempelkannya ke dadanya yang sudah hampir terbuka seluruhnya itu.


Akan tetapi Joy segera menarik cepat tangannya, ia melengos dengan napas yang memburu. Pertanda jika saat ini dirinya tengah menahan hasrat birahinya mati-matian. Pria mana yang menolak rupa dan bentuk tanpa cela milik La Venda. Di tambah suaranya yang serak-serak seksi itu.


Joy ingat kala dulu La Venda selalu menghibur dengan suara merdunya. Mereka akan ber-karaoke ria sambil menari sebelum akhirnya bergulat diatas ruanjang empuk hotel yang mewah.


Joy menggelengkan kepalanya cepat guna menepis segala bayangan akan dosa yang pernah ia lakukan dengan La Venda.

__ADS_1


Bisa di katakan jika wanita cantik nan seksi di sebelahnya ini adalah teman tidur favorit Joy di masa kelamnya. Hanya satu kekurangan darinya yaitu bagian dadanya yang terlalu kecil bagi Joy kala itu.


"Pergilah! Aku tidak menyukai yang terlalu besar seperti ini. Sekarang, aku suka dada yang rata." Joy berkata dengan dingin tanpa sedikit pun menoleh ke arah La Venda.


" Apa maksudmu Joy?! Aku melakukan perubahan ini untukmu, demi dirimu. Kenapa sekarang kau justru mengatakan yang sebaliknya?" pekik La Venda kesal. Bagaimana mungkin dirinya yang begitu sempurna ini, mendapat pengusiran? Bahkan sebelumnya beberapa pria di bar ini sangat ingin merasakan tubuhnya.


" Aku menyukai yang serba kecil sekarang. Apa kurang jelas!" Joy sengaja menyembunyikan keadaan sebenarnya jika ia telah menikah. Ia tak ingin jika nanti La Venda akan mencari tau siapa istrinya.


" Ia akan memperkecil kemungkinan bahaya yang nanti bisa menimpa Milna yang tengah mengandung keturunannya.


"Mana mungkin! Kita baru beberapa bulan tidak bertemu, bukan dalam waktu yang lama! Mana mungkin kesukaanmu berubah secepat itu!" protes La Venda tak terima.


"Bukan urusanmu!" Joy pun mendorong meja didepannya agar dapat lewat menghindari wanita tak tau malu ini.


" Joy kau!"


Joy tak peduli teriakan kesal dari La Venda. Ia tetap berlalu dengan cepat untuk segera keluar dari bar tersebut.


Sepasang matanya awas, memperhatikan sekitar. Waspada jika ada yang mengikutinya. Setelah itu barulah ia masuk ke dalam lift menuju lantai di mana kamar yang disewanya bersama Milna.


Pintu kamar terbuka otomatis setelah Joy, menggesek kunci berbentuk kartu tersebut. Setelah masuk kedalam ia melihat Milna masih dalam posisi yang sama sejak kepergiannya tadi.


Joy segera membersihkan dirinya kekamar mandi. Menanggalkan seluruh pakaiannya yang sudah bercampur dengan bau alkohol, tembakau dan juga parfum dari La Venda.


Setelah mandi serta berganti pakaian, Joy naik ke atas tempat tidur. Tepatnya di samping Milna yang kini tengah tidur membelakanginya. Namu tak lama kemudian istrinya itu bergerak perlahan guna merubah posisinya. Seperti tau saja jika sang suami ada untuk menemaninya tidur.


Joy tersenyum seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Milna." kalian berdua tahu saja, jika Daddy mu yang tampan ini sudah datang." seloroh Joy sambil terkekeh seorang diri.


Keesokan harinya.


" Hari ini adalah hari terakhir kita berada di pulau Raja Ampat. Semoga tidak ada gangguan lagi untuk kita berdua. Karena aku berencana mengajakmu untuk melakukan suatu hal yang menyenangkan," ucap Joy setelah mereka berdua menyelesaikan sarapan.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Milna antusias. Entah kenapa pagi ini ia terlihat lebih bersahabat.


"Lihat saja nanti. Sekarang bersiaplah!" ucap Joy lagi, ia tersenyum dengan hangat. Sehangat cahaya mentari yang menyinari pulau bak surga dunia bagi para wisatawan ini.


'Kenapa kau begitu ceria hari ini? kau juga lebih murah senyum.' batin Joy sedikit heran. 'Mungkinkah ini pengaruh hormon kehamilan?'


'Kurasa tak ada lagi alasan bagiku untuk selalu ketus dan dingin padanya. Meskipun hati dan ragaku belum dapat menerima dirinya secara utuh. Bagaimanapun kita suami-istri sekarang. Karenanya selepas dari sini, aku akan mulai membuka hatiku padamu.' janji Milna dalam hatinya.


Ia terus tersenyum tipis sambil memoles wajahnya dengan krim di depan wastafel kamar mandi.


"Dermaga!" pekik Milna.


Joy menarik tangannya untuk mendekati sebuah speed boat. " Ini?" heran Milna seraya menoleh ke arah Joy.


"Naiklah, aku akan membawanya perlahan," ucap Joy. Langsung menuntun istri itu ke dalam kendaraan air mewah yang di sewanya itu.


"Kau sungguh bisa mengendarainya Joy?" tanya Milna dengan aura berbinar dan antusias tinggi. Karena ia langsung menyentuh apapun yang berada di dalam kendaraan tersebut.


"Kau lihat saja." Joy segera menyalakan mesin pada kendaraan yang mengambang di atas laut tersebut. Tak lama kemudian, speed boat itu melaju dengan kecepatan sedang.


"Ya Tuhan! Ini menyenangkan!" pekik Milna girang. Kebahagiaan begitu tampak dengan jelas dari wajahnya. Ia terus berpegangan dengan kencang, tamparan angin laut menyibak surai sebahunya.


"Kau ini norak sekali!" ledek Joy pada Milna.


"Iya memang aku norak Joy. Ini pertama kalinya mimpiku kesampaian!" sahut Milna seraya tertawa.


Joy tersenyum lebar, belum pernah ia melihat tawa selepas itu dari Milna. Ternyata mimpinya sesederhana ini. Ia tak menyangka jika rencananya kali ini membuat hubungannya dengan Milna semakin dekat.


BROAAMM!!


Tiba-tiba, sebuah sky boat menghampiri speed boat Joy dengan kecepatan tinggi. Joy segera membanting stir kendaraan air itu untuk mengindari tabrakan yang sepertinya di sengaja.

__ADS_1


Pegangan padaku Na!" titah Joy, yang mana membuat Milna merangkul pinggang Joy dengan kencang.


Bersambung>>>


__ADS_2