
...Jangan salfok sama judul....
...Jangan pada omes!...
...Mending isi perut dulu, supaya kuat menghadapi kenyataan....
...Whehehhe ......
...Piiss, salam damai dua jari ...โ...
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
" Eugghh!" Susi menggeliat, dan merasakan sesuatu yang berat menimpa pahanya. Hingga kakinya itu keram dan kebas.
"Berat sekali! Aku ini, nikah sama orang apa dinosaurus sih?" gumamnya, menggerutu. Karena, sebelah kaki saja sangat sulit di untuk pindahkan.
Bagaimana lagi, tubuh suaminya 'kan tinggi besar. Sangat jauh bila dibandingkan dengan dirinya.
"Oh, iya. Dia 'kan harus dikelitik." Susi pun mulai mengulurkan tangannya ke pinggang suaminya. Ketika selimut itu tersingkap, matanya justru terpana akan bentukan roti sobek di pagi hari.
"Hemm," Susi pun tersenyum, dan mulai memainkan jemarinya di sana.
"Tubuh sebagus ini, bagaimana bisa aku malah membencinya? Sungguh aneh 'kan, sayang?" gumam Susi, bertanya pada dirinya sendiri. Niatnya ingin membangunkan, justru melenceng jauh.
Ia malah seakan menikmati pemandangan indah di hadapannya, hingga selimut itu semakin melorot ke bawah dan memperlihatkan sesuatu yang membuat kedua mata indahnya membola.
"Orangnya sedang pulas, tapi peliharaannya malah bangun dan tegak berdiri. Bagaimana bisa?" heran Susi, tak bergeming. Menatap benda ajaib di hadapannya, dengan seksama. Karena, baru kali ini, ia dapat memandangnya tanpa harus menahan malu.
"Untung saja, tuannya masih tertidur, kalau tidak?"
"Kalau tidak apa?"
"Akhh!" Susi pun terjengit kaget seraya memegangi dada terbukanya. Lantaran, serius menatap ubi berurat. Ia tak sadar jika sang empunya sudah bangun.
"Sejak kapan kau bangun, Ar?" tanyanya setelah mampu menguasai malu nya.
"Sejak kau menikmati roti kombinasiโku," jawab Arjuna, santai. Sementara, sang pelaku membuang muka demi menyembunyikan rona merah muda di kedua pipinya.
"Kenapa tiba-tiba bisa bangun sih? Padahal juga biasanya susah di banguninnya," gumam Susi menggerutu pelan, yang mana suaranya masih bisa di dengar oleh Arjuna.
Sebelum menikah, Arjuna adalah pribadi yang disiplin dan tepat waktu. Tidak ada dalam kamusnya tidur kemalaman lalu bangun kesiangan. Semenjak menikah, teorinya serta sistem kehidupannya berubah drastis. Ia lebih sering dibangunkan ketimbang bangun sendiri.
"Bagaimana tidak bangun, jika kau terus membelai tubuhku, sayang. Bahkan, sang naga saja sampai tegak seperti ini" tunjuk Arjuna. Membuat Susi menoleh sekilas, lalu berpaling lagi.
๐๐ด๐ฉ , ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฐ๐ฌ? ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ช๐ข๐ต ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ซ๐ข! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฃ๐ข๐ด๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช?
Susi membatin, seraya merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"Tidak usah malu. Tubuhku adalah milikmu, jadi nikmatilah sesukamu," ucap Arjuna seraya mengulurkan tangannya ke depan demi menarik dagu Susi agar menoleh padanya.
"Benarkah? Aku memiliki hak itu?" tanya Susi heran, pikirnya, hanya suaminya lah yang berhak atas tubuhnya.
"Tentu saja, sayang. Kita itu saling memiliki satu sama lain. Kau juga berhak menolak ku, jika sedang tidak ingin atau memang tidak dalam kondisi baik untuk melayaniku. Aku pun, tidak bisa memaksamu," jelas Arjuna. Jemarinya terus mengelus wajah natural di hadapannya, memainkan surai yang berantakan serta kusut karena ulahnya semalam.
"Tapi, perlakuanku selama beberapa hari ini, cukup keterlaluan 'kan? Seharusnya, aku tidak egois," sesalnya dengan wajah yang tertunduk.
"Ah, sebenarnya iya. Aku sangat bingung dan sedih. Tapi, ternyata itu pengaruh hormon bukan?" hibur Arjuna, mencoba mengurai rasa bersalah yang terus menerus di bahas oleh istrinya.
"Iya, ternyata kita mendapat kado terindah pada empat bulan pernikahan kita. Aku sungguh tidak menyangka, jika akan secepat ini," ucap Susi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia lantas menunduk, lalu mengusap perut ratanya.
Arjuna ikut mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas punggung tangan Susi, lalu istrinya itu memindahkan tangannya agar bersentuhan langsung dengan kulit perutnya.
Mereka berdua pun seketika mendongak, lalu saling melempar senyum bahagia.
"Nanti, perutku akan semakin membesar. Pertanda ia tumbuh kembang dengan baik disini. Lalu, ia akan melakukan tendangan pertamanya. Membuat kulit perutku, akan bergelombang ke sana dan ke sini," oceh Susi bercerita sesuai dengan pengalamannya. Sambil memperagakan gerakan bentuk perutnya.
๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ญ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ด ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ต๐ฌ๐ถ. ๐๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ข-๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ด๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข.
Susi menggeleng cepat, berusaha mengusir bayang-bayang pahit masa lalunya.
"Kau tidak perlu bersikeras melupakan masa lalu, jadikan masa itu pelajaran berharga untuk menempa kita di masa depan. Juga, jadikan kejadian di masa lalu sebagai alasan kita agar lebih menghargai serta mensyukuri apa yang kita miliki saat ini," ucap Arjuna terdengar begitu bijak pagi ini.
Sementara, Susi hanya bisa mengangguk cepat dengan air mata yang hampir tumpah. Dirinya bahkan seakan kehabisan kata-kata, untuk sekedar menjawab iya.
"Kau juga harus membersihkan diri, Ar. Kita mandi bareng aja, terus nanti aku yang akan membuat sarapan. Itu kan tugasku," tolak Susi dengan penawaran lain.
"Oh, tidak. Aku tidak hanya mandi jika bersamamu. Sudahlah, biar aku mandi di kamar mandi yang lain, oke!" Diskusi mereka pun selesai.
Cup!
Susi dengan cepat menempelkan bibirnya ke pipi Arjuna.
"๐๐ฐ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ช๐ด๐ด!" katanya. Setelahnya, Susi pun turun dari pembaringan mereka.
"๐๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฌ ๐บ๐ฐ๐ถ, ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ!" teriak Arjuna, karena Susi telah menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Selalu saja begitu, jika habis mencium ku." Gumam Arjuna dengan senyum lebar menghias wajah tampannya.
Tak ada wajah bantal atau muka kusut, bagi orang tampan. Bukankah begitu?
๐พIya, Otor setuju. Mereka juga pasti kagak bakal belekan. Iye 'kan?๐ค
๐ฑ"Carikan aku rumah!" titah, Arjuna pada orang di balik telepon.
๐ฒ "Tipe berapa, Tuan? Lalu yang seperti apa?" tanya sang anak buah yang bingung dengan deskripsi singkat sang majikan.
__ADS_1
๐ฑ" Itu urusan mu. Pikir saja sendiri!" Setelah seenaknya memberi tugas, Arjuna segera mematikan ponselnya.
"Hmm, aku akan membuat roti bakar saja. Lebih sehat dan juga bergizi. Karena aku akan menambahkan sayuran, daging, telur dan keju sebagai tambahannya." Gumam Arjuna, menyusun plot demi plot hal yang akan dikerjakannya.
"Heeemmhhh ....!" Aroma apa ini? harum sekali!" Susi mendekat ke arah dapur. Melihat punggung polos suaminya yang lebar dan menggoda.
Arjuna sudah mandi, hanya saja ia memang sengaja tidak mengenakan baju. Melainkan, hanya celana kolor saja yang menutupi bagian bawahnya.
Susi perlahan berjalan mendekat, ketika telah sampai di belakang punggung terbuka itu, ia mengulurkan tangannya. Menyisipkan nya di pinggang Arjuna, lalu mendekap raga nan gagah itu dari belakang, seraya menciumi aroma maskulin yang menyegarkan indera penciumannya.
Penciumannya ketika sedang normal ya begini, begitu senang dengan aroma tubuh bahkan ketiak suaminya itu. Karenanya, Arjuna sempat frustasi ketika Susi tiba-tiba membenci bau tubuhnya dan tidak mau berada dekat dengannya.
"Sayang, aku sedang membuat sandwich spesial untuk sarapan kita pagi ini." Arjuna bicara sambil terus melakukan kegiatannya. Memanggang daging olahan di atas wajan berbentuk rata.
Sementara, roti gandum nya tengah ia panggang menggunakan alat pemanggang roti.
Dengan jahilnya, tangan Susi mulai meraba perut kotak-kotak milik suaminya itu. Padahal, ia tau bahwa sang empunya tengah sibuk di depan kompor.
"Sayang, jangan memancingku." Arjuna mencoba menepis jemari istrinya.
"Katamu, ini milikku. Jadi, sah-sah saja kapanpun aku ingin mengelusnya," dalih Susi dengan senyum yang ia sembunyikan di balik punggung.
"Ya, tapi, tidak seperti ini juga. Aku sedang konsentrasi memasak," protes Arjuna yang mulai merasa merinding akibat sentuhan istrinya itu.
"Beginilah, yang aku rasakan. Ketika kau menggangguku ketika memasak," sungut Susi, sembari memberi kecupan, pada punggung lebar yang polos itu.
"Jadi, balas dendam nih, ceritanya." Seketika, Arjuna membalikkan badannya. Lalu menangkup kedua pipi Susi dengan dua tangan besarnya. Setelah itu, Arjuna meraup bibir merona alami yang sedari tadi memberi gelenyar memabukkan lewat punggungnya.
"Mmmmhhh!" Susi mendelik kan matanya sambil menunjuk ke belakang Arjuna. Ketika ia menangkap sesuatu yang mengepulkan asap di sana.
"Oh, God!!" pekik Arjuna, ketika wajan di atas kompor telah mengeluarkan api hingga membakar beberapa daging wagyuโnya. Arjuna dengan sigap, segera mematikan kompor, lalu mencelupkan lap handuk ke baskom berisi air. Kemudian ia menggunakannya untuk menutup wajan yang tengah membara tersebut.
"Uhukkk. Uhuukk!" Susi sampai terbatuk-batuk, karena asap yang lumayan banyak memenuhi dapur.
"Beginilah, kalau orang lagi masak di godain." Arjuna menengok Susi yang mengerucutkan bibirnya.
"Satu sama!" Susi pun menjulurkan lidahnya, lalu kabur dengan jurus kaki seribu.
"Enak saja!"
"Awas ya! Kau telah membuat sarapanku terbakar!"
๐พUdah, gak usah makan, pacaran aja terus! Bakar aja dapurnya sekalian!๐
๐พOh, daging wagyuโnya ...๐ข hiks!
Bersambung>>>
__ADS_1