
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Saya ...." Joy menggaruk belakang kepalanya.
"Suami saya, jarang pulang dok. Karena itu dia belum tau keadaan saya. Sedangkan saya tidak bercerita lantaran tidak mau membuatnya kepikiran di saat bekerja," jelas Milna. Untung saja ia segera menemukan alasan yang tepat. Sebelum dokter di hadapannya ini bertambah curiga. Joy sekilas menengok ke arahnya, tapi dirinya acuh dan pura-pura tidak tau. Jika Joy memperhatikannya.
๐๐ข, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ถ, ๐ข๐ต๐ข๐ถ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ต๐ถ๐ฑ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช?
Joy, beberapa kali menoleh ke arah Milna. Meski wanita itu cuek terhadapnya.
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช-๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ! ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ฐ๐ฌ๐ต๐ฆ๐ณ ๐๐ฆ๐ต๐ต๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ, ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ถ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ธ๐ข๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช.
Milna dengan sifat optimis dan arogannya, tetap bergeming tanpa menunjukkan sisi kelemahan dirinya.
"Jadi begitu. Saya pikir suami anda adalah tipikal suami yang tidak perhatian dan peduli. Karena kebanyakan pasien saya begitu, cuma maunya enaknya aja tuh pas bikinnya. Giliran istrinya hamil, sengsara sendiri. Padahal nih ya Pak saya kasih tau. Wanita hamil itu perasaannya sensitif, karena perubahan hormon di dalam tubuhnya. Mereka butuh perhatian lebih, terutama dari pasangannya. Saya harap, anda lebih memperhatikan lagi. Apalagi, sekarang anda tahu bahwa ada dua calon anak kalian di sana. Ada tiga nyawa yang butuh asupan nutrisi serta kasih sayang," tutur Netta panjang lebar.
Pikirnya, Joy ini adalah tipe suami yang cuek. Sedangkan Milna adalah tipe istri yang suka memendam perasaannya sendiri. Kurang lebih itulah hal yang dapat disimpulkan olehnya. Bagaimana kalau sang dokter tau yang sebenarnya. Mungkin akan lebih panjang lagi sesi tausiahnya.
"Baik dok. Saya akan ingat nasihat ini. Ke depannya saya akan lebih memperhatikan lagi. Begitu 'kan sayang? Jangan ngambek lagi ya? Aku gak bisa di marahin sama kamu, hidupku terasa hampa," ucap Joy yang seolah sedang membujuk Milna. Sementara Milna sendiri sempat terlonjak kaget di buatnya. Apalagi ketika Joy menyematkan kata 'Sayang'.
๐๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ข! ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
Milna menoleh sebentar ke arah Joy. Lalu dengan terpaksa ia berpura-pura untuk tersenyum.
Joy yang mendapat senyuman mendadak, tiba-tiba syok. Dadanya terasa nyeri karena berdentum terlalu cepat dan kencang.
" Aduh, bumil jangan ngambek kelamaan ya. Kasian debay-nya lho!" ucap Netta.
"Ah, iya dok!" sahut Milna dengan senyum tipis yang tersemat di wajahnya, bahkan ia menoleh sebentar ke arah Joy masih dengan senyum itu.
Joy terkesiap seketika. Selama kebersamaannya dengan Milna, tak sekalipun pria ini melihat wanita itu tersenyum. Hingga kejadian mendadak saat ini. Begitu terasa hangat menyerap dalam kalbunya.
__ADS_1
_______
"Kak Nana?" Vanish dan Better berdiri serempak ketika Milna dan Joy keluar dari ruang pemeriksaan.
"Milna baik-baik saja," jelas Joy. Ingin merangkul tapi Milna sudah keburu menjaga jarak darinya.
"Syukurlah Kak, dedek bayinya gimana?baik-baik aja 'kan?" cecar Vanish dengan gurat khawatir di wajahnya. Karena ia pernah melihat keadaan seperti Milna ketika Emak hamil anak ketika, dan itu semua berakhir dengan kegagalannya memiliki adik lagi.
"Sangat baik, bayi kami ... kembar," jelas Milna dengan ekspresi antara senang tapi bingung. Hingga tanpa sadar, dirinya meneteskan air mata. Buru-buru Milna menyekanya, sebelum kejadian itu di sadari oleh Joy.
๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฉ. ๐๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ถ๐ด๐ข๐ฉ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข.
Batin Milna, seraya mengusap perutnya samar.
"Jadi, keceplosan tadi? Itu firasat?" Vanish membekap mulutnya sendiri lantaran kaget dan tak percaya. Milna pun hanya menjawab dengan anggukan cepat. Dirinya tengah berusaha mengontrol emosinya saat ini. Berusaha untuk jangan sampai menangis. Terutama di hadapan Joy.
" Ya udah, kalo gitu Kakak langsung pulang dan istirahat ya," ucap Vanish pada Milna. Seraya melepaskan rangkulannya, karena kini mereka telah sampai di parkiran mobil.
_______
"Na, besok mami kemungkinan sampai. Aku akan mengabari mu untuk menjemput. Atau, jika kau merasa tidak enak badan. Biar mami yang ku ajak ke sini. Bagaimana?" tanya Joy meminta pendapat Milna. Sesekali ia menoleh sambil menyetir. Memperhatikan ekspresi wajah Milna yang seakan menahan sesuatu.
"Na, apa kau rasakan sekarang? Apakah mual, pusing? Atau lapar? Apa ada sesuatu yang ingin kau makan? Ayo katakan saja! Aku akan berusaha menuruti semua keinginanmu." Joy mencecar Milna. Membuat wanita itu melirik sinis.
"Aku ingin kau diam dan fokuslah menyetir!" seru Milna. Membungkam mulut Joy seketika. Pria itu mendengus di depan kemudinya. Entah harus bagaimana dan bersikap seperti apa terhadap wanita yang tengah mengandung anak-anaknya tersebut.
"Kau tidak perlu mengantarku sampai ke dalam!" tolak Milna ketika Joy hendak mengikutinya ke dalam mansion.
"Aku akan mengantarmu sampai depan paviliun dengan atau tanpa izin darimu. Jadi, jangan buang tenaga dan suaramu untuk mengusirku kali ini." Joy keluar dari mobil, lalu memutari nya setengah berlari. Ia pun segera membukakan pintu untuk Milna. Membuat wanita itu menatapnya sekejap.
Milna buru-buru menghempas rasa simpatinya. Toh, pria ini perhatian padanya karena dua bayi di dalam perutnya. Pria itu begini karena merasa bersalah padanya. Semua hanya bentuk pertanggungjawabannya. Begitu pikirnya.
__ADS_1
Joy, meraih apapun yang di pegang Milna. Tas, paper bag, apapun itu. Milna tak di perbolehkan membawa apapun.
๐๐ฆ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ซ๐ช๐ซ๐ช๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ข๐ค๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฉ๐ฎ๐ถ.
Joy nampak kecewa, bahkan di saat tak berdaya Milna tetap saja menghindar darinya.
" Sampai sini saja." Milna menadahkan tangan meminta barang-barang bawaannya.
"Aku akan kembali lagi nanti. Katakan, apa saja yang kau inginkan. Makanan, cemilan atau apapun itu?" tanya Joy.
"Aku akan mengirimkan list-nya padamu nanti. Maaf aku ingin masuk." Sekali lagi Milna meminta sisa barang bawaannya. Sepertinya Joy sengaja memperlambat.
๐๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข-๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐๐ฃ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ?
Joy, hanya berani bertanya dalam hatinya. Dirinya harus berhati-hati dalam berbicara. Bagaimanapun, ada mood dan hati yang harus di jaga. Apalagi, itu semua akan berimbas bukan hanya pada dirinya, tapi juga pada kedua buah hatinya.
__________
Ting tong!
Bel berbunyi beberapa kali, tapi pintu paviliun belum juga di buka. Sudah lebih dari 15 menit Joy berdiri di sana.
"Belum terlalu malam, apa dia sudah tidur? Tapi, sepuluh menit yang lalu dia masih online." Gumam Joy. Ia memutuskan kembali memencet bel sambil menghubungi Milna lewat telepon.
"Ck, telepon gak aktif. Pintu gak di bukain. Gimana ini?"
Joy memutuskan untuk berjalan memutar kesamping rumah. Perasaannya mendadak tak enak. Biasanya jika tak kunjung mendapat respon dirinya akan meninggalkan barang di atas meja yang terletak di teras. Tapi, saat ini kata hatinya seakan memerintahkannya untuk memeriksa.
"Milna!" Teriak Joy. Ternyata benar saja. Dugaannya menjadi kenyataan.
Bersambung>>>>
__ADS_1