Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kena serangan jantung.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"APA?!" Saking kagetnya Easy sampai menyemburkan minumannya. Malangnya Daia sang putri tepat berada di depannya.


"Mami!" Daia membasuh wajahnya dengan lap, lalu melemparnya ke bawah.


Easy menghampiri Seno lalu meraih tangan putranya itu," kau jangan bercanda, Nak. Jangan mengada-ngada!" pekik Easy dengan wajah marahnya.


"Mam, aku sama sekali tidak sedang bercanda. Dua hari lagi adalah pelantikannya, kalian datanglah. Bagaimanapun, dialah Direktur kedua di Pradipta Residen." jelas Seno, menunduk pasrah.


"Katakan sekali lagi, kau bilang dia Direktur!"


"Bukankah itu jabatanmu!" Easy terus berteriak di depan wajah Seno sambil mencengkeram bahu putra semata goleknya itu.


"Itu semua benar Mam. Saham ku hanya 25%," ucap Seno tak berdaya.


" Kau gila Dek!"


"Bagaimana bisa wanita udik itu yang menguasai perusahaan papi!" hardik Daia, ikut panik.


"Kenapa kalian kaget! Inilah dunia usaha, kau tidak akan tau kapan musuh akan menyerang. Aku hanya tinggal menemukan siapa pengecut yang sudah main belakang." Seno menggeram dengan emosi yang dalam.


"Tidak ..., tidak ..., tidak!"


"Kenapa harus wanita mandul itu!" Easy meluruhkan tubuhnya, kemudian terlihat ia memegangi dadanya.


"Mami!" Seno dan Daia memekik bersamaan.


🍁

__ADS_1


🍁


Di sebuah rumah sakit.


"Lihat! Semua ini adalah ulah wanita udik itu! Lihat saja, aku tidak akan membuat hidupnya tenang sedikit pun!" Daia, meremas ujung kursi yang didudukinya.


"Sekarang, kau ikutlah bekerja. Urus perusahaan keluarga kita." Seno menyindir sang kakak yang tak pernah mau ikut mengurus perusahaan.


"Adik sialan! Kau sengaja membuatku berada di bawah tekanan wanita mandul itu, hah!" Daia protes tidak terima, dirinya tidak akan mau berada di bawah level Susi. Mau di taruh dimana harga dirinya.


"Mau tidak mau Kak. Kau tidak punya pilihan!" ujar Seno.


"Direktur baru pasti akan membawa team, bisa juga dia merombak dewan direksi yang sudah ada. Segala kecurangan dan keganjilan pada keuangan akan segera terendus." Seno menyandarkan punggungnya pada dinding putih koridor rumah sakit.


"Itu semua, perbuatan mu. Jadi, bereskan lah sendiri." titah Seno pada Daia.


"Argh! Kurang ajar!"


" Kau pikir hanya kau yang sulit? Aku pun sama. Bahkan aku hampir gila memikirkan ini semua!" Seno meneriaki Daia balik. Tingkat emosi dan stresnya di atas rata-rata kini.


"Tuan dan Nona, tolong jangan membuat keributan keributan di rumah sakit." tegur seorang juru rawat pasien yang melewati mereka.


Daia dan Seno saling memandang dengan tatapan sinis.


"Semua gara-gara kau yang tak becus mengurus perusahaan." ketus Daia pada adik laki-lakinya itu. Membuat Seno naik pitam dan mendekatinya dengan wajah yang keras.


" Jangan sampai aku melampaui batas padamu, Kak. Jaga ucapanmu itu terhadapku." Seno mengarahkan telunjuknya ke wajah Daia, namun ia masih berusaha menahan amarahnya dengan mengeratkan gerahamnya.


" Kau, tidak tau perjuanganku membesarkan usaha kakek dan papi, karena kau taunya hanya menghabiskan uang, dengan menggelapkan dana perusahaan."

__ADS_1


"Kalau kau ingin posisi saham 5% mu itu aman, segera kerahkan orang untuk menutupi kecuranganmu." ujar Seno dengan nada rendah namun penuh penekanan.


"Jaga mami, aku harus menyambut Direktur baru kita." Setelah menyindir Seno pun berlalu, meninggalkan Daia di lorong rumah sakit. Dimana Easy sang mami di rawat karena mengalami serangan jantung ringan.


"Awas kau wanita pembawa sial!" geram Daia, mengepalkan tangannya.


__**__


"Bagaimana rencana mu besok?" Arjuna mendekati Susi yang tengah asik di depan laptopnya.


Wanita itu menoleh, " Aku sudah memiliki rencana. Tinggal mengerahkan orang -orangku saja," sahut Susi kemudian ia kembali menatap layar laptopnya itu.


Brak!


Arjuna menutup paksa laptop dengan logo apel sempoak itu. Membuat sepasang mata indah wanita cantik di hadapannya itu membesar.


"Akh!" pekik Susi ketika Arjuna mendorong tubuhnya ke agar menyandar di sofa.


"Kenapa sibuk sekali! Lihat mataku jika kita sedang bicara!" protes Arjuna yang kini tengah memegangi kedua bahu Susi.


"Tentu saja aku sibuk, bukankah kau yang menunjukku sebagai Direktur baru Pradipta Residen? Tentu saja banyak yang harus ku persiapkan. Kau yang telah membuatku sangat dan sangat sibuk!" sahut Susi dengan kilat berkilauan di mata nya.


"Kau berani mematahkan kata-kataku ya, hem?" ucap Arjuna melunak, karena matanya tak bisa beralih ketika dilihatnya bibir merah itu terus bergerak cepat dan lucu saat berbicara.


(Jadi ingat pas kejadian di mobil sore itu.) Arjuna tanpa sadar telah menaikkan sudut bibirnya.


"Setelah merusak laptopku malah tertawa, dasar bos tak punya perasaan." sungut Susi membuat Arjuna semakin gemas saja.


"Sini kau!"

__ADS_1


"Awh!"


Bersambung>>>>


__ADS_2