Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Perjuangan Calon Ibu


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Netta, kami harus menunggu berapa lama lagi? Dia sudah sangat kesakitan." Ucap Arjuna, dengan melihat bergantian ke arah Netta dan juga Susi.


"Tunggu sampai pembukaannya lengkap, barulah kita mulai pada intinya," sahut Netta sang Dokter Obgyn yang masih single tersebut.


"Pembukaan apa? Apa aku melewatkan sesuatu? Atau kau yang belum menjelaskannya padaku?" cecar Arjuna, mengarahkan pertanyaan bertubi-tubi pada Netta. Membuat dokter muda nan cantik itu menghela napasnya.


"Ah, ya. Aku belum sempat menjelaskannya padanya padamu. Karena, proses melahirkan ternyata datang lebih awal. Kau tenanglah, proses ini memang memakan waktu yang agak lama. Susi, sabar ya. Jangan lupa olah napasnya," jelas Netta dengan berkata perlahan agar mudah di pahami.


"Astaga, Ar!" Susi memekik kencang untuk pertama kali. Segera para perawat memeriksa detak jantung bayi menggunakan sebuah alat yang bernama ๐™๐™š๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฟ๐™ค๐™ฅ๐™ก๐™š๐™ง.


"Tarik napas dalam, lalu keluarkan perlahan ya. Lakukan hal itu berulang-ulang ketika kontraksi datang. Biarkan aku periksa lagi." Netta membuka kaki Susi dan menekuk nya ke atas.


"Kenapa kau melakukannya berulang kali! Apa itu tidak tambah membuatnya kesakitan!" sarkas Arjuna. Hingga sebuah tatapan sinis di lemparkan oleh Netta.


"Aku hanya ingin memeriksa pembukaannya, bukan untuk menyakitinya. Susi tarik napas ya," ucap Netta, mengarahkan Susi ketika ia hendak melakukan pemeriksaan dalam.


"Sudah pembukaan lima, semoga semakin teratur. Miring ke kanan saja ya tidurannya." Netta, tersenyum sumringah. Mengatakan perkembangan dari kontraksi yang Susi alami.


"Memangnya, harus menunggu sampai pembukaan berapa?" tanya Arjuna ketus.


"Sampai sepuluh," jawab Netta menahan kesalnya. Untung saja sahabat, untung saja investor, kalau tidak mungkin sudah ...,


"Apa prosesnya masih lama untuk ke tahap sepuluh?" tanya Arjuna lagi. Ia mendadak menjadi pria super cerewet semenjak Susi hamil.


"Setiap ibu hamil mengalami jangka waktu berbeda. Bisa cepat bisa juga lambat. Hanya harus bersabar, tetap berpikiran positif dan nikmati prosesnya. Karena, ini adalah jalan menuju perjumpaan kalian dengan si buah hati." Netta menjelaskan dengan detil kali ini. Berharap Arjuna diam dan tak lagi menghancurkan konsentrasinya.


"Sayang, bertahan ya. Sebentar lagi anak kita akan lahir," ucap Arjuna lembut. Seraya merapikan anak rambut Susi yang berantakan ke depan wajahnya.

__ADS_1


"Kau juga, Ar. Jangan berisik, dan marah-marah terus. Aku tidak apa-apa ... aku sangat menikmati momen ini," ucap Susi pelan, memperingati suaminya yang paranoid itu.


"Katakan padaku, apa yang kau rasakan. Berbagilah sakit itu denganku. Jika saja bisa, biarlah aku saja yang merasakannya. Jangan dirimu, aku tidak kuat melihatmu menahan sakit sendirian." Arjuna berbicara sembari menatap wajah sendu yang sedikit pucat itu. Keringat yang barusan kering, sudah mulai bercucuran lagi.


Kedua mata istrinya itu kembali terpejam dengan kedua alis yang menukik tajam. Hingga, sebuah geraman kecil terdengar diiringi dengan tarikan napas yang panjang.


"Sayang, katakan mana yang sakit. Bagaimana rasanya, aku juga ingin merasakannya untuk meringankan beban mu." Arjuna hampir menangis mengatakannya. Bukan karena kuku Susi yang menancap pada lengannya, akan tetapi karena ekspresi istrinya, yang ia tahu sedang menahan rasa sakit luar biasa.


"Hiks, rasanya semakin sakit, Ar. Sepertinya ... seluruh tulang ku patah bersamaan. Hiks, setiap sakit itu datang, aku ... seperti ingin berteriak sekencangnya. Aku juga ingin mengejan dengan kuat," lirih Susi, disertai isakan kecil. Akhirnya, pertahanannya runtuh juga. Ia tak bisa lagi menyimpan sakit itu sendirian. Ia mengungkap semuanya ketika kontraksi itu berangsur pergi.


Tapi, tak lama kemudian. Air mata dan keringat kembali bercampur baur di wajah Susi. Wanita itu menarik napas dalam dan menghembuskannya berulang kali. Tapi, tetap saja geraman serta rintihan dari mulutnya tak mampu ia tahan. Cengkeramannya semakin kuat dengan kepala yang tak bisa diam menggeleng kesana dan kemari. Sesekali matanya itu terpejam, dan sesekali mendelik. Membuat Arjuna merasakan takut dan rasa tak tega yang teramat sangat.


๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.


Arjuna kembali mengecup kening Susi dalam, ketika raga itu luruh karena lemas. Jeda dari kontraksinya semakin dekat. Membuat Susi benar,-benar lelah dan kehabisan napas.


"Pasang selang oksigen, lalu cek kembali tensi. Setelahnya, siapkan alat ๐™๐™ก๐™ฉ๐™ง๐™–๐™จ๐™ค๐™ฃ๐™ค๐™œ๐™ง๐™–๐™›๐™ž ( ๐™๐™Ž๐™‚ ).


"Kami akan memeriksanya, kau tenanglah. Tetap, semangati istrimu." Kata Netta lugas. Sebagai tenaga media, dirinya tetap harus tenang, apapun masalah yang terjadi dengan pasien. Karena, ketenangan pikiran dan tingkah lakunya, berakibat pada tindakan yang akan ia ambil nantinya.


"Tekanan darah pasien sangat rendah, Dok. Detak nadi dan jantungnya juga lemah." Kata perawat satu.


"Cek, keadaan janin, detak jantung dan stabilitas ketuban." Perintah Dokter Netta, pada asistennya.


"Detak jantung janin lemah, sedangkan air ketuban sangat sedikit serta keruh, karena telah bercampur dengan feses dari janin." Ucap sang asisten, aura kepanikan mulai tampak dari wajah-wajah mereka.


"Gunakan, bius pereda rasa sakit dosis rendah. Pastikan pasien tetap sadar. Juna, berikan Susi minum sedikit demi sedikit."Ujar Netta.


" Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Arjuna dengan wajah bingungnya. Perasaannya sungguh kalut saat ini. Belum lagi, ketika ia melihat paras pucat dan lemah Susi. Ia nampak masih merintih menahan sakit yang luar biasa. Kini, ritme kontraksinya datang dua menit sekali. Susi sudah tidak mampu lagi menjawab pertanyaannya. Arjuna, bisa melihat kesakitan itu dari cahaya mata istrinya.

__ADS_1


"Sayang, operasi saja ya. Aku tidak tega melihatmu begini." Arjuna, meletakkan telapak tangan Susi ke pipinya. Air matanya akhirnya luruh juga, karena ia tak kuasa melihat Susi tersiksa hanya demi melahirkan buah cinta mereka.


"Aku ... masih kuat ... saโ€“yang." Ucap Susi terbata-bata. Entah kenapa, tiba-tiba napasnya terasa sesak.


"Netta! Netta! Hentikan proses menyakitkan ini! Ambil jalur cesar saja!" Pinta Arjuna seraya berteriak panik.


"Juna, tenanglah dulu." Netta menahan komentar Arjuna dengan telapak tangannya.


"Susi, dengarkan aku. Kau tidak bisa bersikeras untuk melahirkan secara normal. Bayimu, sudah lemah karena kekurangan oksigen. Kami harus mengeluarkannya, sebelum ia keracunan ketubannya sendiri." Jelas Netta perlahan.


"Tidak, aku sudah berjuang sejauh ini. Netta. Aku yakin sebentar lagi, eerrrgghh! Aku ingin pup!" Susi mengeram di sela ucapannya.


"Tidak, Susi. Jangan mengejan dulu. Ikuti aku, tarik napas ... hembuskan." Netta mengarahkan pasiennya, agar tidak mengejan sebelum pembukaan sempurna. Apalagi, Susi baru pembukaan tujuh, sementara keadaan jantung sang janin melemah. Alur kontraksi yang berantakan disertai komplikasi pada jaringan dinding rahim.


"Ar, jangan biarkan Netta membawaku keruang operasi ku mohon," ucap Susi memohon pada suaminya.


"Sayang, tapi ...," Arjuna tidak kuasa meneruskan kata-katanya. Hatinya bingung dan di lema.


"Juna, ikut aku!" Ajak Netta.


"Dengar, aku menemukan sedikit masalah pada jaringan di rahimnya. Hanya masalah kecil, hanya saja bila keadaan air ketuban yang hampir kering akan beresiko. Pertama pada bayimu, ia bisa menelan kotorannya sendiri yang akan berakibat buruk pada paru-paru dan juga perkembangan otaknya. Kedua, jaringan pada rahim istrimu bisa saja robek atau luka. Sekali lagi, pilihan ada di tanganmu. Satu, yang ku tekan kan padamu. Melahirkan secara normal sangat beresiko, meski perkiraan kami memang belum tentu sepenuhnya benar." Jelas Netta detil.


"Lakukan saja. Siapkan operasinya sekarang juga. Aku, tidak akan mengambil resiko apapun untuk keduanya." Arjuna pun menyetujui anjuran dari Netta.


"Aku tidak mau operasi! Bayiku sebentar lagi akan lahir, percayalah! Aku dapat merasakannya!" jerit Susi ketika beberapa perawat ingin memberinya bius epidural.


"Sayang, menurut lah. Ini semua demi kebaikan kalian berdua, anak dan istri tercintaku." Bujuk Arjuna.


"Kau tidak mengerti, kau membuat pengorbananku sia-sia! Arrggg! Sakitt!" Susi melenting merasakan sakit yang luar biasa. Hingga, mata mendelik dan ia kembali menggeram.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2