
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Aku akan keluar kota selama tiga hari. Maka, jaga diri dan juga hatimu baik-baik. Jangan keluar rumah jika itu tidak terlalu penting." Better terus berbicara untuk memberi pesan kepada istrinya. Sambil asik menggosokkan hidungnya di pipi Vanish. Kedua tangannya setia melingkar erat pada pinggul sang istri.
"Iya ... emh, udah ih!" Vanish berusaha mendorong dada polos suaminya itu dengan satu tangannya. Namun, tak ada efek sama sekali. Justru kini hidung Better beralih ke lehernya yang putih. Akan tetapi sekarang hampir mirip corak macan tutul sepertinya.
"Berhenti, akh!" jeritan Vanish bercampur desah. Karena gigitan suaminya itu merambat ke bawah hingga tulang selangkanya.
"๐๐ถโ๐จ๐ข๐ฏ. Kalo berat ninggalin Ninis, ya udah gak usah pergi," ucap Vanish terbata karena sambil merasakan buaian yang hampir mampu melenakannya. Padahal beberapa saat lalu mereka baru saja usai bermain.
"Aku tetap harus pergi, meski hati ini sangat berat meninggalkanmu," sahut Better kemudian kembali meneruskan kegiatan kesukaannya lagi.
"Emh ...!" lenguh Vanish lagi ketika suaminya itu berhasil meraih sesuatu untuk di masukkan kedalam mulutnya. Better pun kembali anteng bermain di sana. Sementara Vanish semakin menggeliat tak karuan.
"๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ ... hentikan. Tadi kan sudah, aw! Jangan di gigit dong!" Vanish reflek menarik telinga Better agar suaminya itu menghentikan aksinya. Di perlakukan seperti itu Better justru hanya menampilkan senyum tanpa dosanya.
"Gemes, jadi kelepasan." Pria yang rambut ikal sebahunya tergerai itu hanya terkekeh sambil nyengir kuda.
๐ ๐ข ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฏ. ๐๐ข๐ฃ๐ฐ๐ฌ ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฅ๐ฐ๐ด๐ข ๐จ๐ข๐ฌ ๐ด๐ช๐ฉ! ๐๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ญ ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช๐ฏ๐บ๐ข. Batin Vanish sedikit kesal akan kelakuan Better. Pasalnya bukan baru pertama kali, tapi cukup sering. Suaminya itu suka kelepasan menggigit bagian tubuhnya jika sedang gemas atau bergairah.
" Ninis tuh makin bulat tau, udah gak imut lagi. Bisa-bisanya kamu gemes." Vanish berusaha melepaskan dirinya dari kuasa Better. Ia mulai risih dengan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri.
"Apanya yang bulat? Ini?" tunjuk Better pada sesuatu yang kini terasa makin pas dalam genggamannya.
"Buโbukan itu hm ...." Vanish, menjawab sekenanya karena Better tak juga menghentikan serangannya. Meskipun ia terus berusaha mengalihkan suasana.
"Lalu yang mana? Ini, ini dan ini. Semuanya aku suka. Semakin berisi dan bikin gemas saja." Better memegang beberapa bagian yang ia suka. Membuat Vanish justru mencebik karena suaminya itu hanya mencari kesempatan untuk berusaha mengalahkannya lagi.
"Mana ada begitu," tampiknya.
๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ถ๐ฎ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ต๐ณ๐ฆ๐ด.
__ADS_1
"Beneran ๐๐ฎ๐ฐ๐บ sayang." Better menaikkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah cantik natural istrinya itu.
"Kalo enggak, mana mungkin sih aku lengket gini sama kamu. Selalu ketagihan sama kenikmatan dan keindahan yang kamu suguhkan. Sampai rasanya, aku gak mau jauh sedikitpun dari kamu. Ingin mengajakmu kemanapun aku pergi." Better berkata dengan desah dan suara parau. Tatapan matanya kian berkabut dengan pancaran keinginan yang telah memuncak. Hingga akhirnya ia meraup bibir Vanish yang tengah menganga karena ucapannya barusan.
Mau tak mau, Vanish pun menerima gelenyar nikmat yang menggelitik sukmanya untuk kedua kali. Pesona dan ketangguhan sang suami memang tak kuasa ia tolak apalagi menampik. Belum lagi, Better telah mengucapkan kalimat demi kalimat yang kembali membangkitkan rasa percaya dirinya.
Hingga penyatuan penuh cinta itu kembali terjadi, mengakibatkan penggabungan tetes demi tetes keringat di tubuh keduanya. Alunan desah dan deru napas mereka seakan mencipta irama yang membuat suasana kamar yang sejuk menjadi membara.
Hentakan terakhir ternyata telah mencipta sebuah lenguhan yang di susul oleh geraman berat. Pertanda gelora dari masing-masing tubuh telah mencapai ujung puncak nirwana. Mereka telah menuntaskan sesuatu yang membuncah dalam pusat tubuh keduanya.
Keesokan harinya.
Better berkali-kali menciumi wajah istrinya ketika ia pamit untuk ke luar kota selama beberapa hari. Ia akan meninjau langsung pabrik pembuatan coklat yang akan meluaskan lahan di area pemukiman penduduk di sana.
Karena memang atas titah Arjuna, jika pabrik harus memperkerjakan sumber daya manusia daerah setempat. Better dan juga Myra sebagai partnernya akan memilih area yang benar-benar pas. Serta aman ketika pabrik mereka mengolah coklat serta membuang limbahnya.
"Udah ih, kapan jalannya coba." Vanish mendorong wajah suaminya itu yang sejak tadi masih asik menggosokkan hidung pada pipinya.
"Ya ampun ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ. Kalo gitu, kamu bawa aja gih parfumnya Ninis. Sama sabun cair yang biasa aku pakai mandi. Nanti kamu gunakan untuk di sana," saran Vanish.
"Hem, baiklah. Masukkan ke koper ya sayang." Better pun pasrah untuk melepaskan Vanish. Ia hanya memiliki waktu beberapa jam lagi agar dapat ke bandara tepat waktu.
Seandainya bisa mengajak Vanish maka akan ia ajak. Hanya saja, jalur yang mereka datangi cukup terpelosok. Dengan beberapa area medan yang akan cukup melelahkan.
๐๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ข๐ฏ๐ข. ๐๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช, ๐๐ฎ๐ฐ๐บ ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฃ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ต ๐ข๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐จ๐ถ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฌ. Batin Better. Pria itu menoleh ke arah Vanish yang masih mempersiapkan segala kebutuhannya.
"Aku berangkat."
๐๐๐
Better melabuhkan kecupannya lagi di kening istrinya itu. Sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dengan sopir dari perusahaan. Setelah di dalam pria yang rambutnya di gelung itu segera menurunkan kaca jendela mobil.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana, ๐๐ฎ๐ฐ๐บ gak boleh kelelahan ya. Aku akan sering mengabarimu, jangan khawatir. Tunggu saja aku pulang, oke!" pesan Better beruntun membuat Vanish tersenyum lalu ia melongok kan kepalanya melalui jendela.
๐๐ถ๐ข๐ฉ ...
Sontak Better pun terkesiap akan perlakuan berani istrinya itu. Sementara sang driver di depan seketika terbatuk-batuk. Melihat aksi kedua majikannya yang mendadak itu. Melihat bagaimana cara seorang istri ketika membungkam kecerewetan dari suaminya sendiri.
"Ingat ciuman ini. Hanya sama kamu dan untuk kamu. Jangan macam-macam di sana. Ninis selalu merindu dan akan selalu menunggu. Hati dan ragaku milikmu selamanya. Jadi, jangan khawatir. Berangkatlah!" ucap Vanish setelah dirinya melepaskan tautan bibir nan mesra keduanya.
"๐๐ฎ๐ฐ๐บ ...," lirih Better, lalu ia melirik sekilas ke arah sang sopir. Ia cukup malu dengan adegan barusan.
๐๐ช๐ด๐ข-๐ฃ๐ช๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐๐ช๐ด. ๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ถ๐ฎ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ณ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ณ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ. Batin Better geli sendiri.
Beberapa jam kemudian sampailah Better di bandara. Seorang pria muda yang telah menunggunya di lobi mengambil alih kopernya. Better hanya mengangguk pada salah satu karyawannya yang ia ajak secara mendadak semalam. Ia kembali fokus berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
"Hai Boy!" sapa Mery dengan senyum memikat yang bertengger di wajah cantiknya. Ia telah memesankan minuman di tempat mereka menunggu panggilan keberangkatan pesawat.
"Untukmu, ๐๐ฐ๐ต ๐๐ข๐ฑ๐ถ๐ค๐ค๐ช๐ฏ๐ฐ." Mery menyodorkan mug berwarna coklat kehitaman khas dari salah satu cafe di bandara tersebut.
"๐๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฌ'๐ด." ucap Better, kemudian ia memberikan minuman tersebut kepada asisten yang berada di belakangnya.
"Untuk saya Pak?" tanya Milo heran, ia menanggapi mug tersebut dengan bingung. Pasalnya ia mendengar dengan jelas jika minuman tersebut di berikan oleh wanita cantik itu untuk bos-nya.
"Aku tidak minum kopi sekarang. Tapi nyusu." Setelah mengatakannya Better berlalu melewati Mery, pria dingin itu mengambil tempat untuk menunggu di pojok cafe.
๐๐ฉ๐ช๐ช๐ต! ๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฎ๐ถ ๐๐ฐ๐บ? ๐๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ-๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ! Batin Mary mengumpat dalam hatinya.
Sementara itu di pojok cafe.
"Halo ๐๐ฎ๐ฐ๐บ sayang ...! Aku baru saja sampai bandara tapi sudah merindukanmu." Better terkekeh dengan tingkat bucin-nya yang sudah akut.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ช๐ข๐ญ! ๐๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐บ. ๐๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ. Mery pun tersenyum smirk dengan segala rencana di dalam otaknya.
__ADS_1
Bersambung>>>>