Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 297. ABPR


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Aku akan keluar kota selama tiga hari. Maka, jaga diri dan juga hatimu baik-baik. Jangan keluar rumah jika itu tidak terlalu penting." Better terus berbicara untuk memberi pesan kepada istrinya. Sambil asik menggosokkan hidungnya di pipi Vanish. Kedua tangannya setia melingkar erat pada pinggul sang istri.


"Iya ... emh, udah ih!" Vanish berusaha mendorong dada polos suaminya itu dengan satu tangannya. Namun, tak ada efek sama sekali. Justru kini hidung Better beralih ke lehernya yang putih. Akan tetapi sekarang hampir mirip corak macan tutul sepertinya.


"Berhenti, akh!" jeritan Vanish bercampur desah. Karena gigitan suaminya itu merambat ke bawah hingga tulang selangkanya.


"๐˜š๐˜ถโ€“๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ. Kalo berat ninggalin Ninis, ya udah gak usah pergi," ucap Vanish terbata karena sambil merasakan buaian yang hampir mampu melenakannya. Padahal beberapa saat lalu mereka baru saja usai bermain.


"Aku tetap harus pergi, meski hati ini sangat berat meninggalkanmu," sahut Better kemudian kembali meneruskan kegiatan kesukaannya lagi.


"Emh ...!" lenguh Vanish lagi ketika suaminya itu berhasil meraih sesuatu untuk di masukkan kedalam mulutnya. Better pun kembali anteng bermain di sana. Sementara Vanish semakin menggeliat tak karuan.


"๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ... hentikan. Tadi kan sudah, aw! Jangan di gigit dong!" Vanish reflek menarik telinga Better agar suaminya itu menghentikan aksinya. Di perlakukan seperti itu Better justru hanya menampilkan senyum tanpa dosanya.


"Gemes, jadi kelepasan." Pria yang rambut ikal sebahunya tergerai itu hanya terkekeh sambil nyengir kuda.


๐˜ ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ. ๐˜•๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ! ๐˜‰๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. Batin Vanish sedikit kesal akan kelakuan Better. Pasalnya bukan baru pertama kali, tapi cukup sering. Suaminya itu suka kelepasan menggigit bagian tubuhnya jika sedang gemas atau bergairah.


" Ninis tuh makin bulat tau, udah gak imut lagi. Bisa-bisanya kamu gemes." Vanish berusaha melepaskan dirinya dari kuasa Better. Ia mulai risih dengan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri.


"Apanya yang bulat? Ini?" tunjuk Better pada sesuatu yang kini terasa makin pas dalam genggamannya.


"Buโ€“bukan itu hm ...." Vanish, menjawab sekenanya karena Better tak juga menghentikan serangannya. Meskipun ia terus berusaha mengalihkan suasana.


"Lalu yang mana? Ini, ini dan ini. Semuanya aku suka. Semakin berisi dan bikin gemas saja." Better memegang beberapa bagian yang ia suka. Membuat Vanish justru mencebik karena suaminya itu hanya mencari kesempatan untuk berusaha mengalahkannya lagi.


"Mana ada begitu," tampiknya.


๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜Š๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜•๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด.

__ADS_1


"Beneran ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ sayang." Better menaikkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah cantik natural istrinya itu.


"Kalo enggak, mana mungkin sih aku lengket gini sama kamu. Selalu ketagihan sama kenikmatan dan keindahan yang kamu suguhkan. Sampai rasanya, aku gak mau jauh sedikitpun dari kamu. Ingin mengajakmu kemanapun aku pergi." Better berkata dengan desah dan suara parau. Tatapan matanya kian berkabut dengan pancaran keinginan yang telah memuncak. Hingga akhirnya ia meraup bibir Vanish yang tengah menganga karena ucapannya barusan.


Mau tak mau, Vanish pun menerima gelenyar nikmat yang menggelitik sukmanya untuk kedua kali. Pesona dan ketangguhan sang suami memang tak kuasa ia tolak apalagi menampik. Belum lagi, Better telah mengucapkan kalimat demi kalimat yang kembali membangkitkan rasa percaya dirinya.


Hingga penyatuan penuh cinta itu kembali terjadi, mengakibatkan penggabungan tetes demi tetes keringat di tubuh keduanya. Alunan desah dan deru napas mereka seakan mencipta irama yang membuat suasana kamar yang sejuk menjadi membara.


Hentakan terakhir ternyata telah mencipta sebuah lenguhan yang di susul oleh geraman berat. Pertanda gelora dari masing-masing tubuh telah mencapai ujung puncak nirwana. Mereka telah menuntaskan sesuatu yang membuncah dalam pusat tubuh keduanya.


Keesokan harinya.


Better berkali-kali menciumi wajah istrinya ketika ia pamit untuk ke luar kota selama beberapa hari. Ia akan meninjau langsung pabrik pembuatan coklat yang akan meluaskan lahan di area pemukiman penduduk di sana.


Karena memang atas titah Arjuna, jika pabrik harus memperkerjakan sumber daya manusia daerah setempat. Better dan juga Myra sebagai partnernya akan memilih area yang benar-benar pas. Serta aman ketika pabrik mereka mengolah coklat serta membuang limbahnya.


"Udah ih, kapan jalannya coba." Vanish mendorong wajah suaminya itu yang sejak tadi masih asik menggosokkan hidung pada pipinya.


"Ya ampun ๐˜š๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ. Kalo gitu, kamu bawa aja gih parfumnya Ninis. Sama sabun cair yang biasa aku pakai mandi. Nanti kamu gunakan untuk di sana," saran Vanish.


"Hem, baiklah. Masukkan ke koper ya sayang." Better pun pasrah untuk melepaskan Vanish. Ia hanya memiliki waktu beberapa jam lagi agar dapat ke bandara tepat waktu.


Seandainya bisa mengajak Vanish maka akan ia ajak. Hanya saja, jalur yang mereka datangi cukup terpelosok. Dengan beberapa area medan yang akan cukup melelahkan.


๐˜๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ. Batin Better. Pria itu menoleh ke arah Vanish yang masih mempersiapkan segala kebutuhannya.


"Aku berangkat."


๐˜Š๐˜œ๐˜—


Better melabuhkan kecupannya lagi di kening istrinya itu. Sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dengan sopir dari perusahaan. Setelah di dalam pria yang rambutnya di gelung itu segera menurunkan kaca jendela mobil.

__ADS_1


"Jangan kemana-mana, ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ gak boleh kelelahan ya. Aku akan sering mengabarimu, jangan khawatir. Tunggu saja aku pulang, oke!" pesan Better beruntun membuat Vanish tersenyum lalu ia melongok kan kepalanya melalui jendela.


๐˜”๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ...


Sontak Better pun terkesiap akan perlakuan berani istrinya itu. Sementara sang driver di depan seketika terbatuk-batuk. Melihat aksi kedua majikannya yang mendadak itu. Melihat bagaimana cara seorang istri ketika membungkam kecerewetan dari suaminya sendiri.


"Ingat ciuman ini. Hanya sama kamu dan untuk kamu. Jangan macam-macam di sana. Ninis selalu merindu dan akan selalu menunggu. Hati dan ragaku milikmu selamanya. Jadi, jangan khawatir. Berangkatlah!" ucap Vanish setelah dirinya melepaskan tautan bibir nan mesra keduanya.


"๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ ...," lirih Better, lalu ia melirik sekilas ke arah sang sopir. Ia cukup malu dengan adegan barusan.


๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ข-๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜•๐˜ช๐˜ด. ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ. Batin Better geli sendiri.


Beberapa jam kemudian sampailah Better di bandara. Seorang pria muda yang telah menunggunya di lobi mengambil alih kopernya. Better hanya mengangguk pada salah satu karyawannya yang ia ajak secara mendadak semalam. Ia kembali fokus berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


"Hai Boy!" sapa Mery dengan senyum memikat yang bertengger di wajah cantiknya. Ia telah memesankan minuman di tempat mereka menunggu panggilan keberangkatan pesawat.


"Untukmu, ๐˜๐˜ฐ๐˜ต ๐˜Š๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ค๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฐ." Mery menyodorkan mug berwarna coklat kehitaman khas dari salah satu cafe di bandara tersebut.


"๐˜›๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ'๐˜ด." ucap Better, kemudian ia memberikan minuman tersebut kepada asisten yang berada di belakangnya.


"Untuk saya Pak?" tanya Milo heran, ia menanggapi mug tersebut dengan bingung. Pasalnya ia mendengar dengan jelas jika minuman tersebut di berikan oleh wanita cantik itu untuk bos-nya.


"Aku tidak minum kopi sekarang. Tapi nyusu." Setelah mengatakannya Better berlalu melewati Mery, pria dingin itu mengambil tempat untuk menunggu di pojok cafe.


๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ช๐˜ต! ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ? ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ! Batin Mary mengumpat dalam hatinya.


Sementara itu di pojok cafe.


"Halo ๐˜๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ sayang ...! Aku baru saja sampai bandara tapi sudah merindukanmu." Better terkekeh dengan tingkat bucin-nya yang sudah akut.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜‰๐˜ฐ๐˜บ. ๐˜๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. Mery pun tersenyum smirk dengan segala rencana di dalam otaknya.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2