
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Easy duduk dengan gusar di belakang kemudi mobilnya. Sengaja ia tak menggunakan supir pribadi, karena ada seseorang yang ingin di kunjungi nya.
" Tidak ku sangka, anak itu sudah berani menentang setiap perintahku," gumamnya sambil mengeratkan giginya. Kedua tangannya terkepal meremas gagang kemudi.
Easy teringat bagaimana kejadian sore tadi di kantor putranya.
Dirinya juga teringat bagaimana tatapan meremehkan dari calon menantunya.
"Wanita setan kau Jelita, niat mu busuk!" Easy menggeram, dan semakin kencang menggenggam kemudinya.
Tak lama kemudian Easy terlihat tengah duduk di sebuah kafe, pendar langit sudah berubah dari lembayung kini menjadi temaram. Karena, ada cahaya sang bulan setengah yang memberi secercah pengusir kelamnya langit.
"Hai Nyonya, Easy." Suara serak-serak basah terdengar memanggil. Ketika sosok pria berbadan tegap serta berkulit eksotis, duduk di hadapan Easy.
"Lama tidak bertemu, kau semakin tampan saja." Easy, tiba-tiba pindah tempat duduk, kini dia berada di samping sang pria macho yang tersenyum genit padanya.
"Sepertinya, Tante merindukanku?" tanyanya dengan senyum nakal menggoda.
"Aku bahkan menjual beberapa berlian ku, demi dapat bersamamu." Easy bergelayut manja di lengan pria perkasa itu. Pria yang berusia 5 taun di atas Seno sang Putra.
Cukup lama mereka berbincang-bincang.
"Yuk, kita berangkat sekarang saja ya," ajak Easy yang sejak tadi geloranya sudah memanasi tubuhnya. Apalagi, pria yang bernama Maxx ini, selalu menjulurkan lidahnya untuk membasahi bibir atasnya.
"As u wish, my lady." Maxx mengerling membuat Easy mencubit dadanya genit.
__ADS_1
Mereka pun berlalu, Easy melempar kunci mobilnya ke arah Maxx agar pria ini yang mengendarai kuda besinya.
Kendaraan roda empat itu melaju ke sebuah tempat. Dimana kedua manusia berbeda generasi itu, dapat menumpahkan hasrat gelora mereka secara bebas.
Di sebuah hotel sederhana bintang 3, kedua manusia ini memutuskan untuk berhenti.
Easy tak butuh layanan kamar yang terlalu mewah, yang ia butuhkan hanyalah tempat privat untuk berdua dengan pria yang di sewanya ini.
๐๐๐๐๐
Beberapa minggu kemudian.
Asisten Joy begitu terburu-buru memasuki ruangan Arjuna.
Langkahnya yang tegap terdengar berderap sepanjang koridor.
"Tuan."
Terdengar napas terengah-engah dari pria maskulin ini.
"Kau seperti sedang baru di kejar dept kolektor Joy." sindir Arjuna ketika ia melirik sekilas kearah asistennya.
"Tega sekali kau, Tuan. Gini-gini, saya tidak pernah kredit barang." sanggah Joy, tak terima atas tuduhan dari bosnya itu.
"Lalu, siapa yang mengejar mu. Ataukah, salah satu pacarmu ada yang minta di nikahi?" sarkas Arjuna, bosnya ini sungguh layak di sebut Pakkeppo.
"Kenapa anda mendoakan hal yang buruk, Tuan." cebik Joy, gemas.
__ADS_1
" Pernikahan kurasa bukanlah hal yang buruk,"ucap Arjuna, kini pria berwajah tegas rupawan itu memandang Joy serius.
" Kalau begitu, kapan anda akan melangsungkan pernikahan dengan Nona Susi?" tanya Joy, membuat Arjuna terdiam. Inilah yang dinamakan kehabisan amunisi karena sering meledek orang.
"Aku tengah menunggu kesiapan dari dirinya." kilah Arjuna, kembali fokus dengan laptopnya.
"Terserah, Tuan. Yang pasti, Nona Susi sudah menjadi salah saru direktur wanita tercantik di kota ini."
"Bahkan, Nona sudah dua kali memenangkan tender dalam waktu dua pekan ini." jelas Joy memberi informasi.
Bahkan kata-katanya yang terakhir sukses membuat raut wajah Arjuna berubah.
" Apa maksudmu menerobos kemari, bukankah peraturan ku sudah jelas." sinis Arjuna tanpa menoleh sedikit pun pada Joy. Jemari malah asik menekan tombol keyboard di laptopnya.
"Anda akan sangat berterimakasih ketika mendengar info dari saya." pongah Joy percaya diri.
"Katakan! Tidak perlu berbelit-belit!" Akhirnya amarah Arjuna tersulut juga.
๐ฆJoy, singa tidur di bangunin.
๐พDi cakar nyaho dah.๐พ
"Bulan depan bukankah peringatan hari Asosiasi Seluruh Pengusaha Platinum?" tanya Joy, mengetes ingatan bosnya itu.
Bos yang katanya jenius dan tak pernah lupa apapun.
"Secepat inikah?" gumam Arjuna.
__ADS_1
"Hari ASEP, bertepatan dengan hari dimana aku menyaksikan dirinya bercumbu di depan toilet." ucap Arjuna jijik, terlihat dari kepalanya yang menggeleng cepat serta bahunya yang bergidik.
Bersambung>>>