Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pedang Naga Puspa.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


... Bacanya pelan-pelan ya gais ... di hayati๐Ÿ˜‰...


...Mak mao puitis doloo ......


...Jangan salfok sama judul, bab ini aman kok tenang๐Ÿคฃ...


___________


Semalaman, dataran bumi yang kering telah di guyur hujan dengan intensitas sedang. Namun, kecepatan angin lumayan kencang. Dedaunan kering yang masih menempel pada ranting, telah tersapu dan terhempas hingga ke jalan.


Menyisakan dingin yang menggelitik hingga menembus tulang rusuk. Sementara fajar masih bergelung di balik awan kelabu. Sang Mentari seakan bermalas-malasan untuk menampakkan pesonanya.


Seperti dua sosok manusia yang saling berpelukan di balik selimut tebal. Mereka enggan terpisah, karena hawa dingin yang menyusup hingga ke balik epidermis kulitmu.


Sesekali, raga yang berada di dalam dekapan lengan kekar itu menggeliat. Membuat sang pemilik dada bidang dengan sedikit bulu itu mengeratkan pelukannya.


"Emmh ... ." lenguhnya lirih terdengar, mengalun dari bibir tipis menggoda itu.


" Sshh ... diamlah. Atau kau akan membangunkan kembali naga ku," bisik sang pemilik rahang tegas itu.


"Mau pipis ... lepas dulu," rengek si wanita, yang mana posisinya tengah di peluk dari belakang oleh pria kekar itu. Sehingga bempernya yang lumayan berisi, sedikit menyenggol kepala pedang yang tidak terbungkus sarungnya.


"Tuh, kan. Gerakan mu telah membuat naga ku kembali tegak berdiri. Bagaimana ini?" keluhnya, sengaja menggoda wanita yang tengah ia cium tengkuknya itu.


"Aku kan gak ngapa-ngapain," kilah Susi. Meski ia tak menampik bahwa apa yang di katakan oleh suaminya itu adalah benar adanya. Bahwa pergerakan dari bempernya, yang sedikit menggesek kepala pedang, telah membuat sang naga berkedut lalu tegang.


"Please, aku sudah tidak tahan lagi. Kalau mengompol bagaimana?" rengeknya lagi, berharap segera lepas dari jeratan yang akan membuatnya kembali lemas karena keenakan.


Walau berat hati, Arjuna pun melepaskan juga guling hidupnya itu. Dengan mata yang setengah terpejam, pria itu mengawasi setiap pergerakan dari istrinya itu. Dimana saat itu, Susi kembali mengenakan baju dinasnya.


๐˜”๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ง๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ช๐˜ณ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.


Arjuna mengulum senyumnya, mendengar isi hatinya yang begitu puitis. Sampai kapan ia hanya bisa bicara dalam hati saja, tanpa mengungkapkannya.


Yah, dirinya terlalu pengecut untuk menunjukkan tingkat kebucinannya.

__ADS_1


Sampai sekian menit ia tak nampak melihat sang istri kembali. Arjuna terpaksa menurunkan selimutnya. Menyambar piyama tidur, dan mengikat asal talinya. Hingga dada bidang berbulu tipis itu, nampak menggoda para pembaca yang mengintip.


๐ŸพIsh ... ish ... ish, gak boleh ngintip sendirian! Harus ngajak-ngajak biar seru!๐Ÿ˜‰


Mariiii ... Lanjutkan!


Tok tok tok!


Arjuna mengetuk pintu toilet berkali-kali. Tapi, belum ada juga sahutan dari Susi.


Klek klek.


Knop pintu pun ia putar, yang ternyata di kunci dari dalam. Membuatnya gemas ingin sekali menendang pintu itu.


"Aku akan membuang kuncinya, apa-apaan dia. Masa kamar mandi di kunci segala!" geram Arjuna yang kesal karena Susi tak juga membuka pintunya.


"Sayang! My Queen! Kamu sedang apa sih? Kenapa lama sekali?" teriaknya sekali lagi.


"Ku hitung sampai lima, atau ku dobrak pintunya!" ancam Arjuna, tak sabaran.


Ceklek!


" Kenapa pagi-pagi sudah cerewet sekali!" cebik Susi, dengan bibir mengerucutnya.


" Jadi, kamu mandi? Kenapa tidak menyahut ketika ku panggil?" tanya Arjuna gemas, seraya mengacak rambut di ujung kepala Susi.


"Tadi, aku lagi setoran langsung tunai. Makanya gak denger kalau kamu manggil," jelas Susi beralasan.


"Ngeles aja, padahal kamu sengaja kan? Seneng bikin aku spot jantung?" sergah Arjuna, tak terima alasan Susi.


"Ssstt." Susi menempelkan telunjuknya ke bibir Arjuna. Bermaksud membungkam mulut pria yang semakin hari, semakin bawel saja.


"Kamu yang aneh, setiap aku ke kamar mandi selalu di bikin rusuh. Padahal, ini kan apartemen mu. Memangnya apa yang akan terjadi?" omel Susi, tak terima dengan kewaspadaan Arjuna yang berlebihan menurutnya.


"Aku tidak akan begini, kalau kau mengajakku tadi." Arjuna merajuk seraya menarik raga Susi mendekat padanya.


"Eh, aku udah mandi ya!" Susi memukul pelan lengan kekar yang membelit tubuhnya itu. Menjauhkan wajahnya dari dada bidang yang hangat dan sangat pelukable.

__ADS_1


Meskipun Arjuna belum mandi, tapi dia wangi. Susi hanya berpura-pura saja meronta, seakan menolak. Padahal hatinya selalu saja jedag-jedug bagai filter yang lagi viral.


"Aku suka mencium wangi tubuhmu, apalagi kalau sudah wangi seperti ini." Arjuna terus mengendusi harum dari istrinya itu, mulai dari rambut, belakang telinga hingga ceruk leher. Membuat sang empunya menggeliat kegelian.


"Emh, aโ€“aku mau masak sarapan." Susi berusaha menahan gerakan bibir Arjuna yang ingin mengeksplore lehernya.


"Enak saja mau pergi dariku. Aku sudah menangkap mu, maka tidak akan aku lepaskan begitu saja." Arjuna mendekap semakin kencang, bahkan hendak melucuti handuk kimono yang di pakai Susi.


Hingga Susi mendekap erat bagian kimono tersebut.


"Aku lapar, sampai ususku gemetar. Kau tega sekali, menyerang tanpa memberiku makan. Apa kau ingin membuatku kurus kering," Susi merengek bagai anak kecil. Arjuna seketika menjauhkan wajahnya dari leher Susi, menatap wajah menggemaskan itu, lalu terkekeh geli.


"Baiklah, kasian sekali istriku ini. Kelaparan sampai mau menangis." Arjuna pun segera melerai pelukannya, tapi belum dengan tautan tangannya.


"Lalu, nasib naga puspa ku bagaimana?" tanyanya sambil melihat ke bawah perutnya, dimana di sana tercetak jelas sebuah tonjolan besar.


" Kyaaaa ... kau ini!" Susi memekik dan langsung menepis tangan Arjuna yang menggenggam tangannya.


"Dasar, padahal sudah melihat dan merasakannya. Tapi masih saja malu dan kaget seperti itu." Arjuna kembali terkekeh melihat ekspresi Susi. Istrinya itu benar-benar menghibur, dengan segala tingkahnya yang terkadang malu-malu itu. Akhirnya, pria bertubuh tinggi tegap itu memutuskan untuk mandi.


"Huft!"


"Di balik handuk saja sebesar itu. Ah, aku ngeri jika membayangkannya. Bagaimana yang sebesar itu bisa masuk kedalam milikku yang kecil." Gumam Susi sambil sesekali menggelengkan kepalanya.


๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข. ๐˜๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ.


Susi pun mulai memasak sarapan pagi menjelang siang itu dengan sesekali tersenyum.


"Hei, tunggu dulu!" Susi segera mematikan kompornya, setelah ia sadar akan sesuatu.


" Kenapa aku masih memakai handuk kimono!" pekiknya, setelah ia sadar. Bahkan dirinya tidak memakai dalaman.


"Masuk kekamar lagi gak ya? Aih, kenapa bisa seperti ini?" Susi memukul kepalanya pelan dengan sodet kayu. Ia memutuskan untuk melanjutkan saja memasaknya.


"Kebiasaan, suka mukul kepala sendiri!" Tiba-tiba, suara bariton itu muncul di belakangnya.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2