
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
... Bacanya pelan-pelan ya gais ... di hayati๐...
...Mak mao puitis doloo ......
...Jangan salfok sama judul, bab ini aman kok tenang๐คฃ...
___________
Semalaman, dataran bumi yang kering telah di guyur hujan dengan intensitas sedang. Namun, kecepatan angin lumayan kencang. Dedaunan kering yang masih menempel pada ranting, telah tersapu dan terhempas hingga ke jalan.
Menyisakan dingin yang menggelitik hingga menembus tulang rusuk. Sementara fajar masih bergelung di balik awan kelabu. Sang Mentari seakan bermalas-malasan untuk menampakkan pesonanya.
Seperti dua sosok manusia yang saling berpelukan di balik selimut tebal. Mereka enggan terpisah, karena hawa dingin yang menyusup hingga ke balik epidermis kulitmu.
Sesekali, raga yang berada di dalam dekapan lengan kekar itu menggeliat. Membuat sang pemilik dada bidang dengan sedikit bulu itu mengeratkan pelukannya.
"Emmh ... ." lenguhnya lirih terdengar, mengalun dari bibir tipis menggoda itu.
" Sshh ... diamlah. Atau kau akan membangunkan kembali naga ku," bisik sang pemilik rahang tegas itu.
"Mau pipis ... lepas dulu," rengek si wanita, yang mana posisinya tengah di peluk dari belakang oleh pria kekar itu. Sehingga bempernya yang lumayan berisi, sedikit menyenggol kepala pedang yang tidak terbungkus sarungnya.
"Tuh, kan. Gerakan mu telah membuat naga ku kembali tegak berdiri. Bagaimana ini?" keluhnya, sengaja menggoda wanita yang tengah ia cium tengkuknya itu.
"Aku kan gak ngapa-ngapain," kilah Susi. Meski ia tak menampik bahwa apa yang di katakan oleh suaminya itu adalah benar adanya. Bahwa pergerakan dari bempernya, yang sedikit menggesek kepala pedang, telah membuat sang naga berkedut lalu tegang.
"Please, aku sudah tidak tahan lagi. Kalau mengompol bagaimana?" rengeknya lagi, berharap segera lepas dari jeratan yang akan membuatnya kembali lemas karena keenakan.
Walau berat hati, Arjuna pun melepaskan juga guling hidupnya itu. Dengan mata yang setengah terpejam, pria itu mengawasi setiap pergerakan dari istrinya itu. Dimana saat itu, Susi kembali mengenakan baju dinasnya.
๐๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ฆ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ด๐ช ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ง๐ญ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ช๐ฃ๐ฆ๐ญ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ด๐ช ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ช๐ณ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ด๐ช ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ณ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐จ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฏ๐ข๐ฎ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข. ๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ซ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ, ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ.
Arjuna mengulum senyumnya, mendengar isi hatinya yang begitu puitis. Sampai kapan ia hanya bisa bicara dalam hati saja, tanpa mengungkapkannya.
Yah, dirinya terlalu pengecut untuk menunjukkan tingkat kebucinannya.
__ADS_1
Sampai sekian menit ia tak nampak melihat sang istri kembali. Arjuna terpaksa menurunkan selimutnya. Menyambar piyama tidur, dan mengikat asal talinya. Hingga dada bidang berbulu tipis itu, nampak menggoda para pembaca yang mengintip.
๐พIsh ... ish ... ish, gak boleh ngintip sendirian! Harus ngajak-ngajak biar seru!๐
Mariiii ... Lanjutkan!
Tok tok tok!
Arjuna mengetuk pintu toilet berkali-kali. Tapi, belum ada juga sahutan dari Susi.
Klek klek.
Knop pintu pun ia putar, yang ternyata di kunci dari dalam. Membuatnya gemas ingin sekali menendang pintu itu.
"Aku akan membuang kuncinya, apa-apaan dia. Masa kamar mandi di kunci segala!" geram Arjuna yang kesal karena Susi tak juga membuka pintunya.
"Sayang! My Queen! Kamu sedang apa sih? Kenapa lama sekali?" teriaknya sekali lagi.
"Ku hitung sampai lima, atau ku dobrak pintunya!" ancam Arjuna, tak sabaran.
Ceklek!
" Kenapa pagi-pagi sudah cerewet sekali!" cebik Susi, dengan bibir mengerucutnya.
" Jadi, kamu mandi? Kenapa tidak menyahut ketika ku panggil?" tanya Arjuna gemas, seraya mengacak rambut di ujung kepala Susi.
"Tadi, aku lagi setoran langsung tunai. Makanya gak denger kalau kamu manggil," jelas Susi beralasan.
"Ngeles aja, padahal kamu sengaja kan? Seneng bikin aku spot jantung?" sergah Arjuna, tak terima alasan Susi.
"Ssstt." Susi menempelkan telunjuknya ke bibir Arjuna. Bermaksud membungkam mulut pria yang semakin hari, semakin bawel saja.
"Kamu yang aneh, setiap aku ke kamar mandi selalu di bikin rusuh. Padahal, ini kan apartemen mu. Memangnya apa yang akan terjadi?" omel Susi, tak terima dengan kewaspadaan Arjuna yang berlebihan menurutnya.
"Aku tidak akan begini, kalau kau mengajakku tadi." Arjuna merajuk seraya menarik raga Susi mendekat padanya.
"Eh, aku udah mandi ya!" Susi memukul pelan lengan kekar yang membelit tubuhnya itu. Menjauhkan wajahnya dari dada bidang yang hangat dan sangat pelukable.
__ADS_1
Meskipun Arjuna belum mandi, tapi dia wangi. Susi hanya berpura-pura saja meronta, seakan menolak. Padahal hatinya selalu saja jedag-jedug bagai filter yang lagi viral.
"Aku suka mencium wangi tubuhmu, apalagi kalau sudah wangi seperti ini." Arjuna terus mengendusi harum dari istrinya itu, mulai dari rambut, belakang telinga hingga ceruk leher. Membuat sang empunya menggeliat kegelian.
"Emh, aโaku mau masak sarapan." Susi berusaha menahan gerakan bibir Arjuna yang ingin mengeksplore lehernya.
"Enak saja mau pergi dariku. Aku sudah menangkap mu, maka tidak akan aku lepaskan begitu saja." Arjuna mendekap semakin kencang, bahkan hendak melucuti handuk kimono yang di pakai Susi.
Hingga Susi mendekap erat bagian kimono tersebut.
"Aku lapar, sampai ususku gemetar. Kau tega sekali, menyerang tanpa memberiku makan. Apa kau ingin membuatku kurus kering," Susi merengek bagai anak kecil. Arjuna seketika menjauhkan wajahnya dari leher Susi, menatap wajah menggemaskan itu, lalu terkekeh geli.
"Baiklah, kasian sekali istriku ini. Kelaparan sampai mau menangis." Arjuna pun segera melerai pelukannya, tapi belum dengan tautan tangannya.
"Lalu, nasib naga puspa ku bagaimana?" tanyanya sambil melihat ke bawah perutnya, dimana di sana tercetak jelas sebuah tonjolan besar.
" Kyaaaa ... kau ini!" Susi memekik dan langsung menepis tangan Arjuna yang menggenggam tangannya.
"Dasar, padahal sudah melihat dan merasakannya. Tapi masih saja malu dan kaget seperti itu." Arjuna kembali terkekeh melihat ekspresi Susi. Istrinya itu benar-benar menghibur, dengan segala tingkahnya yang terkadang malu-malu itu. Akhirnya, pria bertubuh tinggi tegap itu memutuskan untuk mandi.
"Huft!"
"Di balik handuk saja sebesar itu. Ah, aku ngeri jika membayangkannya. Bagaimana yang sebesar itu bisa masuk kedalam milikku yang kecil." Gumam Susi sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
๐๐ช๐ญ๐ช๐ฌ ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ธ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฌ๐ด๐ข. ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ฎ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช. ๐๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข. ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ค๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ.
Susi pun mulai memasak sarapan pagi menjelang siang itu dengan sesekali tersenyum.
"Hei, tunggu dulu!" Susi segera mematikan kompornya, setelah ia sadar akan sesuatu.
" Kenapa aku masih memakai handuk kimono!" pekiknya, setelah ia sadar. Bahkan dirinya tidak memakai dalaman.
"Masuk kekamar lagi gak ya? Aih, kenapa bisa seperti ini?" Susi memukul kepalanya pelan dengan sodet kayu. Ia memutuskan untuk melanjutkan saja memasaknya.
"Kebiasaan, suka mukul kepala sendiri!" Tiba-tiba, suara bariton itu muncul di belakangnya.
Bersambung>>>>
__ADS_1