Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 288. ABPR


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥


Better yang berada di sebelah Arjuna tinggal diam saja. Ia segera mengokang senjata yang berada di dalam genggaman sejak tadi. Sebenarnya pria berambut gondrong yang selalu dikuncir ke belakang itu sudah bersiap.


Better menurunkan kaca samping mobil kemudian ia mengeluarkan senjatanya. Hanya dalam dua kali tembakan yang mengarah pada masing-masing ban mobil depan dan belakang. Hingga kendaraan beroda empat tersebut menjadi oleng.


Karena keadaan rodanya tak stabil membuat mobil tersebut tergelincir lalu terperosok ke dalam jurang yang berada di pinggir jalan hutan. Sedangkan mobil yang satunya lagi telah berada di dalam kendali salah satu anak buah Arjuna yang bernama Black.


Pria berwajah sangar itu telah menyudutkan kendaraan beroda empat tersebut hingga menabrak pohon besar. " Red bagaimana sasaran utama kita?" tanya Arjuna kepada red melalui earphone yang menempel di telinganya.


"Target berada jauh di depan kita Tuan. Akan tetapi bukan berarti kita tidak bisa mengejarnya. Di depan kita bisa mengambil jalan pintas dengan menerobos area hutan. Di bagian depan jalur hutan ternyata bisa dilalui oleh mobil karena letak dari tanaman pepohonan nya yang jarang." Arahkan kita melalui jalan itu Red!" titah Arjuna pada anak buahnya.


Red tersenyum puas dikarenakan strategi pertama yang telah berhasil dengan sukses. kini mobil Arjuna telah berada tepat di belakang mobil yang dikendarai oleh Max.


"Pepet terus Tuan. Kurang dari dua ratus meter lagi adalah area berpasir. Kita semakin dekat dengan area pantai!" terang Red kemudian.


Anggota yang lain semakin bersemangat memojokkan tim dari Max. Kini mobil curian Max tinggal delapan buah saja. Dengan masing-masing berisikan tiga sampai empat orang di dalamnya.


"Damn it! Sialan!" geram Max seraya mencengkeram kemudi mobilnya dengan kencang. Rahangnya mengeras hingga urat-urat halusnya tercetak di samping pelipis serta lehernya.


"Siapa mereka Ice? Darimana datangnya? Kenapa mereka mengacaukan pekerjaanku!" maki Max lewat alat komunikasi yang sama seperti Arjuna. Ia berteriak marah pada salah satu anak buahnya yang terkuat. Juga andalan bagi Max dalam hal informasi.


"Kami sungguh tidak tau Tuan. kedatangan mereka begitu tiba-tiba. Sepertinya mereka cukup lama memantau kegiatan kita!" jawab Ice dengan kegundahan yang sama.


" Dasar bodoh! Bagaimana Kau bisa tidak tahu jika ada yang mata-mata kita!" hardik Max dengan begitu kesal.


Kini mereka telah sampai di area pantai. Keadaan malam yang gelap mendadak terang benderang dengan sinar dan penerangan dari lampu-lampu sein kendaraan roda empat tersebut.


CKIITTT

__ADS_1


Belasan mobil-mobil mewah bertekhnologi canggih itu mengerem hampir bersamaan. Arjuna masih bertahan didalam begitu juga dengan Max. Mobil keduanya kini berhadapan, dalam keadaan mesin yang masih menyala.


"Huh, jadi dia pria sakit jiwa itu. Aku tidak akan merasa berdosa jika harus menghabisi penjahat keji sepertinya. Bagaimana menurutmu Bet?" tanya Arjuna pada anak buah teladan di sebelahnya.


Saat ini Better juga tengah mengamati musuhnya.Ia masih memikirkan, teknologi apa yang digunakan Max untuk mencuri mobil-mobil tersebut. Terlihat Max beserta anak buahnya keluar dari dalam mobil. Jumlah mereka sekitar 22 orang termasuk dengan Max. Begitulah menurut perhitungan yang dikalkulasi oleh better.


"Siapa mereka?" gumam Ice dengan dahi berlipat. Tatapan matanya mengarah ke depan memperhatikan konvoi dari Jeep Wrangler tersebut.


"Pastikan para pengganggu itu akan menjadi menu sarapan para hiu besok pagi."Max berkata pada Ice di sebelahnya seraya tersenyum miring, dengan aura bengis yang kentara.


" Kau lihat! Diikuti sebanyak itu dan kau tidak menyadarinya!" Max mencengkeram leher Ice dengan kencang. Membuat kedua tangan Ice menekan pergelangan Max. Kedua mata Ice sudah mendelik menahan sakit. Bahkan napasnya mulai tercekat.


"Tuan, anda bisa membunuh Ice!" tahan dari salah satu anak buah Max menyadarkannya.


"Dia memang sudah sepantasnya mati. Karena dirinya sudah tidak bisa lagi melindungi kumpulan kita!" geram Max dengan emosi tingkat tinggi.


Masing-masing dari kendaraan tersebut berisikan empat orang. Tinggal kalikan saja dengan jumlah Wrangler yang memenuhi pinggiran pantai tersebut. Pasukan Max benar-benar kalah jumlah. Belum lagi dengan senjata yang di pegang oleh pasukan Arjuna.


"Si–siapa mereka. Ke–kenapa macam berhadapan dengan pasukan khusus militer saja?" kaget Ice gemetar. Pasalnya, komplotan Max hanya menggunakan senjata api kaliber sedang a dan hanya Max yang memiliki jenis pistol revolver. Sementara di pihak Arjuna mereka bahkan menggunakan senjata militer.


Auto kena mental gak tuh?


Akan tetapi, Max menyembunyikan rasa takut dan kagumnya yang datang bersamaan. Belum lagi aura dari Arjuna dan juga Better yang belum melakukan apa-apa saja sudah mampu membuat orang gentar.


Max tetap memasang wajah biasa saja, meski di dalam harinya tersirat kekhawatiran akan kehabisan anak buah dan juga barang curian jika ia salah strategi.


"Siapa kalian! Mau apa menghadang urusanku!" seru Max, tak gentar. Bahkan ia menyeringai bak heyna. Kamusnya, pasanglah wajah garang dan sesadis-sadisnya demi menggertak musuhmu. Jatuhkan mentalnya terlebih dahulu, begitu pikir Max.


Sungguh yang ia lakukan hanya mendapat tatapan malas dan remeh dari Arjuna dan anak buahnya. Orang seperti Max sudah beberapa kali mereka hadapi sebelumnya. Bahkan Joy dan Milna saja mampu menghadapi komplotan yang di kirim oleh Max. Sedangkan keduanya tak memiliki persiapan maupun senjata.

__ADS_1


"Aku adalah malaikat maut yang dikirim oleh Tuhan untukmu. Mad Max!" seru Arjuna lantang. Membuat Max limbung seketika. Bukan kata-kata Arjuna yang membuatnya kaget, akan tetapi panggilan yang di gunakan oleh Mona dapat diketahui oleh musuhnya.


"Siapa kau sebenarnya sialan!" pekik Max tak sabar lagi. Pria di hadapannya ini, yang mana berpostur tinggi nan gagah dengan jubah berwarna serba hitam macam anggota the Matrix saja. Film favorit yang dulu Max suka sebelum ia menjadi segila sekarang.


"Aku hanya si pembalas dendam dari pria yang telah kau buat berada di ruang operasi saat ini! Bersiaplah! Nyawa harus di balas dengan Nyawa!" teriak Arjuna lantang dengan suar baritonnya.


"Jadi dia anak buahmu! Pria yang hampir saja membuat La Venda pergi dariku selamanya! Kalau begitu kau juga akan ku buat menyusulnya!" Max langsung menekan pelatuk setelah mengarahkan pistolnya ke depan Arjuna.


Spontan Arjuna mengeluarkan lempengan besi yang seketika berubah menjadi kipas dan mampu menangkis peluru yang ditembakkan oleh Max.


Pada saat itu juga kedua kubu bentrok seketika. Mengadu kekuatan masing-masing. Meskipun pasukan Arjuna yang mendominasi. Beberapa anak buah Max telah tumbang, sebagian bersembunyi di balik kendaraan mereka.


"Senjata macam apa itu? Apakah di anggota avenger?" gumam Ice takjub di balik body kendaraannya. Lesatan peluru menghujani samping tubuhnya, hingga menghujam diantara kakinya yang berdiri diatas pasir kering.


Swiingg!


Craashhh! Pasir-pasir kering itu berterbangan ketika lesatan peluru melewati samping tubuhnya.


"Keluar kau pria gila! Jangan bersembunyi bagaikan tikus comberan!" teriak Arjuna karena musuhnya berlindung di balik kendaraan mewah curiannya.


"Sialan, pria itu benar-benar hebat. Aku sudah kehabisan amunisi. Aku tidak bisa menyerah saat ini. Oh Shiit!" umpat Max, sambil berpikir bagaimana cara mengambil celah untuk menyerang di kala terpojokkan seperti ini. Sungguh memalukan jika dirinya kalah malam ini.


"Keluarlah! Maka aku akan menghabisi mu dengan sedikit rasa sakit!" teriak Arjuna lagi. Ia menampilkan senyum smirk-nya ketika melihat bayangan Max di atas pasir.


"Jangan bermimpi! Sebaiknya kaulah yang seharusnya mengucap kata-kata terakhir itu!" ucap Max dengan seringai tatkala senjatanya telah berada di belakang tengkuk Arjuna.


" I got you," bisiknya


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2