
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Haish, kita harus kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyup seperti ini," decak Susi, karena tergoda oleh air laut yang lama tak dirasakannya. Ia jadi lupa daratan, dan lupa kalau tak bawa pakaian ganti.
"Kau tunggulah, di mobil." Arjuna menutupi tubuh basah istrinya itu dengan jaket yang ia temukan di kursi belakang mobil.
Blues tipis Susi yang basah membuat bentuk tubuhnya tercetak jelas.Setelah membuka pintu belakang mobil, dan mendudukkan Susi di sana, Arjuna pun segera berlalu tanpa berkata apa-apa lagi.
"Memangnya, kau mau kemana, Ar?" Susi menahan lengan Arjuna dengan kedua tangannya.
"Tunggu saja di sini oke!" Arjuna melepaskan pegangan Susi dengan lembut disertai senyum yang menenangkan.
"Tapiโ"
"Sebentar saja."
Cup!
Arjuna melabuhkan sekejap kecupannya di bibir yang dingin dan sedikit gemetar itu, setelahnya ia pun berlalu dengan langkah yang cepat.
๐๐ฆ๐ช, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ?
Susi terlihat memeluk raganya yang sedikit menggigil. Senja semakin turun ke ufuk barat, cahayanya seakan menyentuh permukaan air. Membiaskan warna jingga serta kuning keemasan.
๐๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ด๐ถ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ต๐ฏ๐บ๐ข ...!
๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ, ๐๐ณ. ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข, ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฅ๐ช๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช ...๐ฅ๐ช๐ฉ๐ข๐ณ๐จ๐ข๐ช ... ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ถ, ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข.
"๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ...!"
"Kenapa bengong?" Arjuna merengkuh bahu Susi. Membuat wanita itu terperanjat dan lantas menoleh seketika.
"Arjuna," lirihnya, lalu menabrakkan dirinya pada dada bidang itu. Mendekap erat raga yang terbungkus pakaian basah dan dingin.
"Hei, kenapa? Aku tidak terlalu lama, kan? Apa kau takut?" cecar Arjuna sembari mengelus punggung yang tiba-tiba bergetar itu.
"Aku, merindukanmu." Susi mendongak menatap wajah tampan yang tengah menunduk dengan raut bingung.
"Aku hanya pergi beberapa menit. Kau sudah merindukanku? Apa itu artinya, bahwa kau ... sudah cinta mati denganku?" goda Arjuna, menanggapi pernyataan sang istri barusan.
"Sangat, aku sangat mencintaimu. Sepertinya, aku tidak akan sanggup tanpa dirimu, Ar. Lain kali, ajak aku, dan jangan tinggalkan aku sendirian seperti tadi," protes Susi, dengan buliran bening yang tanpa sadar telah mengalir di pipinya.
"Hei, hei ... baiklah, aku minta maaf." Arjuna mengulurkan jemarinya pada wajah sendu istrinya, lalu menyeka cairan bening itu dengan ibu jarinya.
"Aku, hanya mencarikanmu ini." Arjuna mengangkat paper bag di tangannya.
"Apa ini?" tanya Susi, setelah ia menyusut ingusnya.
"Baju ganti, untuk kita berdua." Arjuna tersenyum, seraya merapikan rambut basah Susi yang bercampur dengan pasir.
Kini, cahaya semakin redup, sebentar lagi pasti akan berganti dengan temaram. Arjuna susah sering melihat sunset di pantai ini, karenanya ia mengajak sang istri ketempat ini.
__ADS_1
"Ini?" Susi mendongak setelah melihat isi di dalam paper bag.
"Darimana kau mendapatkannya, Ar?" herannya, karena ia tidak melihat ada penjual pakaian di sekitar pantai.
"Itu keahlian ku, kau tidak perlu tau." Arjuna mencubit gemas pipi Susi. Baginya, sang istri bila sedang kepo itu, wajahnya sungguh imut dan menggemaskan.
Matanya yang besar, serta alis yang berkerut. Sungguh pemandangan yang menyenangkan untuk terus dipandangi.
"Bibirmu sudah bergetar, ayo ganti pakaianmu." Pria rupawan itu dengan postur yang tinggi dan tegap, menarik tangan sang istri, menuntunnya ke arah yang berlawanan.
"Kemana?"
" Ikut saja!" Susi pun pasrah, lalu mengikuti langkah pria yang telah menjadi suaminya itu. Menjauh dari pantai yang indah dengan pasir putihnya yang lembut menyentuh jemari kakimu.
_
_
_
Kini, pasangan itu sudah tiba di apartemen yang terletak di tengah kota T di negara K. Dimana Arjuna menempati salah satu apartemen milik sahabatnya, ketika kuliah di negara ini dulu.
Mereka sampai tidak terlalu malam, karena jarak kota dengan pantai tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar dua sampai tiga jam perjalanan santai.
"Ar,"
"Hem."
"Ia sudah menghubungiku, bahwa dirinya sangatlah sibuk di kantornya. Bahkan, ia memintaku sesekali untuk membantunya." Arjuna menjelaskan sembari melangkah menuju ๐ฌ๐ช๐ต๐ค๐ฉ๐ฆ๐ฏ mereka.
"Ar, biar aku saja." Susi hendak mengambil alih bungkusan makanan yang hendak di tata ke dalam pinggan oleh Arjuna.
"Biar, kau istirahatlah. Sepertinya masih mengantuk," sanggah Arjuna, menepis pelan tangan Susi yang hendak merampas pekerjaannya.
"Tidak, aku sudah tidur tadi. Lagipula, ini kan tugasku, sebagai istrimu. Sebaiknya, kau saja yang duduk santai di sana." Tunjuk Susi pada sofa di ruang tamu mereka.
Karena apartemen ini tidak begitu luas, sehingga letak ruang tamu akan terlihat dari dapur, lagipula memang tidak ada sekat di antara kedua ruangan tersebut. Hanya, di batasi oleh meja panjang yang bisa di gunakan untuk makan.
"Justru itu, biarkan aku yang melayani sang ratu, ๐ฎ๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ." Arjuna tersenyum, lalu mendekati wajah itu dan ...
"Fiuuhhh!" Ia meniup nya, karena gemas melihat sang istri yang membulatkan mata serta bibirnya.
Hingga kedua mata itu mengerjap lucu, dengan bulunya yang lentik serta bergerak naik turun.
"Istirahatlah, biar aku saja yang menyiapkan makan malam untuk kita. Hanya tinggal memanaskan saja di microwave, aku pasti bisa melakukannya," titahnya lagi, masih tetap memandangi wajah cantik di hadapannya.
"Kalau begitu, aku mau di sini saja melihatmu," dalih Susi, seraya menyilang kan kedua tangan didepan dadanya.
"๐๐ด ๐ถ ๐ธ๐ช๐ด๐ฉ, ๐ฎ๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ." Arjuna pun, menarik pinggang ramping istrinya itu.
"Gyaa ...!" pekik Susi, ketika ia merasa tubuhnya terangkat. Di karenakan Arjuna hendak mendudukkannya di atas meja.
__ADS_1
"๐๐ถ๐ด๐ต ๐ธ๐ข๐ช๐ต ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐ญ๐ฐ๐ฐ๐ฌ!" pesan Arjuna yang seketika diangguki dengan senyum oleh Susi.
๐๐บ ๐๐ช๐ฏ๐จ, ๐ถ'๐ณ ๐ด๐ฐ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ง๐ฆ๐ค๐ต ๐ฎ๐ข๐ฏ.
Susi terus memasang senyum manisnya, sembari melihat setiap pergerakan Arjuna. Pria itu pun sesekali meliriknya, dan melempar kerlingan mata padanya. Membuat Susi terkekeh geli di buatnya.
"Berapa menit, sayang?" tanya Arjuna ketika ia sudah memasukkan makanan itu ke dalam microwave.
"Tiga menit, sayang," jawab Susi, dengan senyum, serta sedikit memiringkan kepalanya. Membuat dirinya semakin terlihat imut. Belum lagi dengan gayanya yang tengah mengayunkan kakinya.
"Sembari menunggu, ada baiknya beri aku sedikit semangat." Arjuna kini telah berada di hadapan Susi, diantara kedua kakinya.
"Katanya itu hal mudah, cuma sekedar menghangatkan saja. Kenapa harus di beri semangat?" tanya Susi dengan senyum meledeknya. Namun, kedua tangannya sudah menangkup di pipi Arjuna.
"Haih, jangan pelit begitu. Berilah sedikit ciuman manis mu," pinta Arjuna lebih kepada merengek sepertinya.
"Sedikit ya, baiklah."
Cup!
Susi pun menempelkan bibirnya sebentar, membuat Arjuna mengerucutkan bibirnya kesal.
"Apa itu, tidak ada rasanya," sebalnya. Hendak memajukan wajahnya, tapi Susi menahannya dengan jadi telunjuk.
" Tadi, bilangnya, apa? Sedikit kan?" ledek Susi, senang sekali ia menggoda suaminya itu. Melihat Arjuna yang menahan gemas, membuat hatinya senang.
"Maksudku sebentar, bukan sedikit macam itu," protes Arjuna, seraya menggelitik pinggang Susi.
"Akh, iya ... baiklah!" pekik Susi lagi. Dirinya memang tidak tahan geli, sehingga Arjuna tau kelemahannya kini.
"Kalau begitu, lakukan lagi!" Arjuna memasang wajahnya dengan tatapan penuh arti. Membuat Susi seketika grogi, padahal bukan pertama kali.
Cup.
Susi menempelkan bibirnya, memberi sesapan lembut. Hingga tangan Arjuna menekan tengkuknya, demi memperdalam ciuman mereka. Hingga decapan pun terdengar nyaring dari permainan bibir keduanya.
๐พHaish, demen banget pacalan di dapur dah??
Tring!!
"Ar, makanannya!"
"Kenapa cepat sekali, menganggu saja." Arjuna menggerutu pelan, sembari mengeluarkan makanan tersebut. Kemudian ia akan menatanya di atas piring.
"Ar, kita bisa melanjutkannya setelah makan," ucap Susi dengan senyum manisnya.
"Ah, baiklah. Kalau begitu aku harus makan cepat!"
"Tapi, turunkan aku dulu, Ar!" teriak Susi pada suaminya, karena Arjuna meninggalkannya di dapur.
Bersambung>>>
__ADS_1