Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
My Queen.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


_______


Red membawa Arjuna, dengan lamborgini kuning yang penyok pada sisi kanan dan kiri itu. Menandakan, bumblebee itu baru saja melakukan pertarungan mencekam.


Sementara beberapa personil mengalami luka-luka, serta kendaraan yang mereka gunakan juga rusak parah.


Better dengan bumblebee lainnya, mengawal dari arah belakang, sedangkan Black dengan mobil jeep curian mengawal dari depan.


Walls, kenapa kau tidak turun?" Better menatap tajam pada pemuda di sebelahnya itu.


" Kalau aku ikut bertarung, lalu siapa yang menghalau para polisi tidak berguna itu," jawab Walls, dengan mencebikkan bibirnya ke arah Better.


"Ah, ya ... benar juga," Pria macho dengan rambut yang di kuncir itu pun akhirnya cuma bisa nyengir kaku.


" Kalau tidak bisa tertawa mending gak usah aja deh Paman. Daripada dipaksakan, malah jadi seram," ledek Walls disertai kekehannya.


Pletuk!


"Sshhh!" Pemuda itu meringis sambil mengusap belakang kepalanya.


"Jaga bicaramu!" ancam Better, seraya menyenderkan punggungnya. Merenggangkan sedikit otot kaki dan juga badannya.


"Kau yang harus jaga tanganmu, Paman. Agar tak seenaknya memukul!" pekik Walls geram sekali, kenapa semua mudah saja dan seenaknya memukul dirinya yang imut ini.


"Tanganku akan diam seiring mulutmu." sahut Better dengan mata yang terpejam.


๐˜ ๐˜ข ... ๐˜ ๐˜ข ... ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ.

__ADS_1


Walls hanya bisa menggerutu dalam hatinya, bibirnya terus saja berkomat-kamit tak jelas.


"Bos, tuan tidak akan lewat lobi depan. Kami akan menyembunyikan luka tuan dari Nona." ucap pengawal yang bernama Red, melalui alat komunikasi jarak jauh yang menempel di telinganya.


"Lewat ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ saja, aku telah menghubungi Joy. Agar memanggil Dokter." jelas Better yang masih terpejam.


" What! Abang terluka?" Sontak Walls langsung menoleh cepat ke arah Better.


"Paman! Katakan apa yang terjadi!" Walls berteriak pada Better sembari mengguncang bahu pria itu.


Seketika kedua mata Better langsung membuka lebar, lalu memberi tatapan super duper tajam ke arah Walls.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ.


๐˜•๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข!


Walls pun kembali pada posisinya, berencana melihat sendiri saja nanti.


Sesampainya di hotel, Arjuna mengendap-endap masul ke kamar sebelah, di kawal oleh Joy dan beberapa anak buah kiriman Erik.


Ia tak ingin wanitanya itu khawatir dengan keadaannya. Karena itu, lebih baik ia sembunyikan keadaannya saat ini.


๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฉ ... ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ... ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข.


Arjuna memejamkan matanya, membiarkan para tim medis membersihkan lukanya lebih dulu. Tangan kekarnya mencengkeram seprai yang membungkus kasur.


Mendesis pelan, ketika luka yang sedikit menganga itu di bersihkan.


"Kami akan mulai menjahit, saya harap anda bisa menahannya. Karena, anda sendiri yang menolak di beri obat bius." jelas Dokter pria itu padanya.

__ADS_1


"Lakukanlah!" titah Arjuna, yakin.


"Tunggu dulu! Bang, kenapa gak dibius lokal aja. Biar tidak terasa sakitnya?" heran Walls yang baru saja bergabung di dalam kamar itu.


Seketika Better menarik Walls ke pojokan, menjauh. Bocah ini tak tau apa-apa tapi rusuh sendiri.


"Sini kau, bocah!" Better terus menarik Walls.


"Jangan menarik kerah bajuku, Paman!" protes Walls, tapi sia-sia. Dirinya pasrah di seret asisten berkuncir itu.


"Kau menjatuhkan harga diriku saja!" geram Walls, sambil menepis tangan Better. Akan tetapi, tatapan tajam Better membuat nyalinya ciut.


"Dengar, kalau di bius nanti tangan abang mu akan mati rasa selama dua jam. Sementara, ikrar tinggal beberapa saat lagi," jelas Better yang mengunci pergerakan dan juga pandangan Walls.


" Jadi begitu, baiklah aku mengerti." Walls akhirnya mengangguk patuh.


๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข.


Joy, terkekeh pelan sekali. Melihat bagaimana interaksi antara Walls dan Better.


Sementara itu di kamar khusus untuk merias, terlihat Susi tengah berdiri. Menatap keluar jendela, sembari memegangi ponselnya. Sebelah tangannya melingkar di area perut.


๐˜ˆ๐˜ณ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ณ?


KLEKK!


Susi menoleh cepat, mendengar knop pintu yang di putar.


"My Queen ...,"

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2