Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Senja Yang Hangat Dan Basah.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Sementara itu, di sebuah negara dengan ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ข๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ-๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. Sepasang pengantin yang masih bisa di sebut baru ini, tengah menikmati makan siang mereka di pinggir pantai.


Menikmati musim panas terakhir, karena di negara sejuta danau ini akan segera memasuki musim gugur.


"Sayang, apa masih makanan yang ingin kau pesan?" tanya Arjuna pada wanita cantik di hadapannya. Dimana rambut pendeknya melambai tertiup angin lembut siang itu.


"Aku mau pesan donat ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ yang terkenal itu, untuk cemilan di rumah nanti," jawab Susi dengan senyumnya yang selalu dapat melelehkan hati pria tampan di hadapannya ini.


"Sayang, ini bukan waktunya," jelas Arjuna lembut dengan senyum hangatnya.


"Jadi, kapan aku bisa menikmati makanan yang mirip dengan donat itu?" tanya Susi dengan sedikit kekecewaan, yang tercetak jelas pada raut wajahnya.


"๐˜”๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ hanya dapat di nikmati, pada saat waktu sarapan pagi," jelas Arjuna perlahan pada istrinya itu. Karena tadi Susi sempat searching di internet mengenai makanan khas negara ini.


"Benarkah?" tanya nya tak puas, seraya membuka ponselnya. Lalu berselancarlah di dunia maya.


** Breakfastย bagel biasanya mempunyai tekstur lebih lembut, dan lebihย manis. Serta disediakan dalam beraneka rasa buah-buahan seperti, ceri, stroberi, keju, bluberi, kayuย manis, kismis, dan coklat chip. **


"Belilah sebanyak yang kau mau besok pagi, sayang," ucap Arjuna lagi, menghibur Susi yang sedikit kecewa.


"Haih, jadi begitu?" desahnya lesu.


"Kupikir, bisa untuk cemilan nanti malam nonton drakor," keluhnya, dengan mimik kecewa yang menggemaskan.


"Memang begitu aturannya." Arjuna menarik hidung mancung itu gemas. Membuat Susi mencebik seraya menepis jemari besar Arjuna.


"Suamimu ini kurang romantis apa? Masih saja kau menonton drama seperti itu," decak Arjuna sebal.


"Hiihh, bukan masalah itu. Aku suka ceritanya, lagipula yang ku tonton juga bukan drama percintaan remaja, tapi rumah tangga. Bagaimana mereka akhirnya bahagia setelah di tempa berbagai terpaan badai kehidupan," jelas Susi.


"Di dunia nyata pun, hal itu akan terjadi dan pasti terjadi. Apa saat ini, kau masih kurang bahagia?" tanya Arjuna langsung ke inti masalahnya.


"Tentu saja aku, bahagia. Hanya saja aku ... ." Susi tidak meneruskan ucapannya, karena Arjuna tiba-tiba bangun dan sudah berada di belakang tubuhnya.


"Lepaskan beban mu, aku mengajakmu kesini bukan hanya berfokus pada pengobatan mu saja. Akan tetapi, agar kau refresh sehingga dapat melihat sisi lain dari kebahagiaan," bisik Arjuna lembut, di samping telinga Susi.

__ADS_1


Pria berahang tegas, dengan sedikit bulu halus yang membingkai nya. Berdiri dibelakang Susi dengan sedikit membungkukkan badannya. Seraya melingkarkan lengannya, untuk merengkuh raga di hadapannya.


"Aku hanya ingin kau sehat dan baik-baik saja, tidak berharap lebih dari itu. Jadi, janganlah membebani dirimu, dan terlalu keras padanya," bisik nya lagi sembari mengecup dalam pada bahu itu.


๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข? ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Susi menoleh dan menemukan senyum hangat itu tertuju hanya padanya.


Cup!


Arjuna mendaratkan sebuah kecupan di pipi yang bersemu merah muda itu.


"Jangan terlalu keras pada dirimu, tidak perlu menargetkan sesuatu. Jalani saja, bersamamu selamanya sudah lebih dari cukup untukku. Ada atau tidaknya malaikat kecil itu nanti, kita harus tetap bahagia dengan saling memiliki satu sama lain," Arjuna dan Susi saling pandang dengan tatapan yang dalam, hingga seulas senyum tercipta dari keduanya.


"Baiklah," sahut Susi dengan semakin mengeratkan pegangannya pada rangkulan Arjuna.


Mereka berdua, akhirnya mengabiskan sisa hari itu di pinggir pantai. Bermain pasir yang menenggelamkan hampir seluruh jari kaki mereka.


Berkejaran dengan ombak, berjalan santai di pinggir pantai sembari bergandengan tangan.


Sederhana, tapi ternyata mampu membuat sepasang hati ini damai dan bahagia. Sesekali melempar senyum dan tawa satu sama lain.


"Kau yakin? Ini susah sore," ucap Arjuna lembut, memperingati Susi. Ia tak langsung melarang, karena Arjuna yang sekarang telah mengikis sedikit demi sedikit sifat kerasnya.


Terutama terhadap sang istri. Perihal nasihat Psikiater tempo hari. Bahwa dirinya harus lebih dulu menumbuhkan kebahagiaan pada diri Susi, setelah itu kepercayaan diri. Barulah, secara perlahan pengobatan bisa berefek positif terhadap alat reproduksinya.


Ya, Arjuna juga membawa Susi untuk menyembuhkan traumatik pasca kegugurannya. Memastikan bahwa mentalnya juga siap, bukan hanya tubuhnya.


Wanita yang pernah kehilangan dengan cara yang tragis, serta penyiksaan yang bukan hanya mendera pada pisiknya saja.


Susi harus memulai semuanya dari awal, agar bayang-bayang trauma dan ketakutan pada masa lalu itu hilang tanpa bekas.


Arjuna, tidak ingin bila nanti Susi sembuh dan bisa hamil lagi, lalu ia rela melakukannya karena terpaksa demi dirinya.


Tidak, Arjuna tidak ingin seperti itu. Ia bukanlah pria yang egois. Ia ingin semua berjalan senatural mungkin, tanpa paksaan.


Ia ingin, jika suatu saat sang istri dapat hamil nanti. Ia akan menjalaninya dengan senang dan tanpa beban.

__ADS_1


"Ar!" Susi menepuk pelan bahu kekar itu. Membuat sang empunya sedikit terperanjat. Ternyata, Arjuna sempat melamun tadi.


"Kalau kau tidak mengizinkan, ya tak apa. Jangan terlalu memikirkan permintaanku yang aneh ini," ucap Susi, yang tau bahwa Arjuna tidak bisa menolak apapun keinginannya.


Entah kenapa, pria itu begitu lembut pengertian dan memanjakannya. Sangat bertolak belakang dengan Arjuna yang dulu di kenalnya.


Sejak tiba di negara ini beberapa hari yang lalu, sikap Arjuna langsung berubah. Apalagi ketika ia telah menghabiskan waktu dengan ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ข๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ serta Dokter ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜จ๐˜บ๐˜ฏ yang menanganinya.


"Lain kali saja, kurasa kita lebih baik pulang," ajak Susi yang kemudian menarik tangan suaminya itu.


"Kita berenang sekarang." Arjuna menarik lengan Susi, mendekati air laut dengan ombak yang berkejaran di atasnya.


"Aakh!" Susi memekik girang, sambil melengos. Menampik cipratan air yang di siram ke wajahnya. Mereka semakin ke tengah, kini air sudah sampai di atas dengkul keduanya.


"Rasakan ini!" Susi membalas aksi Arjuna, mencipratkan air asin itu dengan kedua tangannya. Tawanya renyah, tak mau kalah dengan debutan ombak yang memecah senja.


"Hei, bajuku basah semua!" protes Arjuna.


"Ya, kan mau berenang! Sekalian aja! Akkh!" Susi memekik ketika lengan kekar Arjuna melingkar di pinggangnya. Setelah itu, ia merasakan dirinya melayang serta berputar di udara untuk sesaat.


Tawa renyah dari keduanya kembali menguar. Susi merentangkan tangannya, ketika Arjuna kembali mengangkat tubuhnya dan berputar di udara. Hingga mereka berdua akhirnya jatuh kedalam air.


"Jangan ke tengah, sayang. Di sini saja." Arjuna menarik lengan Susi. Ketika istrinya itu berenang semakin ke tengah laut.


"Ah, ya. Aku terbawa suasana. Ternyata kita sudah cukup jauh dari pantai," ucap Susi, seketika menoleh ke sekeliling mereka. Dimana saat ini, raga mereka mengapung di atas air asin dengan ombak kecil yang sesekali menampar punggung keduanya.


"Sayang, teruslah tersenyum seperti ini." Arjuna menarik tubuh Susi semakin mendekat padanya. Hingga jarak tak lagi menjadi sekat untuk keduanya.


"Tentu, tak ada alasan bagiku untuk tidak bahagia. Berada di sisimu, tak ada lagi alasan untuk terluka dan kecewa. Semua sakit dan lukaku, telah mengering tanpa bekas. Kau adalah alasanku, hingga aku menjadi diriku yang sekarang ini." Susi menangkup wajah rupawan di hadapannya, sesekali mengelus rahang berbulu halus itu dengan ibu jarinya.


Kedua mata mereka saling menatap dalam, menembus iris pekat masing-masing. Hingga, kehangatan itu perlahan mendorong mereka untuk saling mengecup dan menyesap.


"Ehm." Susi melepaskan tautan mereka perlahan, lalu tersenyum kecil. Membuat Arjuna mengerutkan dahinya.


"Asin," jelas Susi, yang kemudian terkekeh geli.


"Kau ini!" Arjuna kembali menarik tengkuk istrinya, lalu membenamkan kembali bibirnya pada bibir seksi milik Susi.

__ADS_1


Hingga senja menyentuh permukaan air, pasangan yang asik memadu kasih itu belum juga melepaskan tautan mereka yang semakin memanas.


Bersambung>>>>


__ADS_2