Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Suami Bucin Akut. ( Diskusi, proses melahirkan )


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Cepatlah, katakan saja!" titah Arjuna membuat kedua bola mata Netta berputar malas.


"Pria sepertimu pasti tau internet 'kan? kenapa kau membuang waktumu dengan mendatangiku. Padahal, artikel di internet mengenai hal itu banyak sekali. Bahkan, jika kau ingin melihat secara langsung, Vidio nya pun ada," cecar Netta gemas, sekaligus kesal.


"Aku ingin bertanya langsung pada pakarnya, bukankah itu lebih baik?" tukas Arjuna ketus.


"Iya sih, memang. Hanya saja, tidak perlu menggunakan alasan urgent. Kau 'kan bisa menelpon ku, atau mengirim pertanyaan mu lewat chat," dalih Netta, meskipun Arjuna adalah suami dari pasiennya. Tetap saja, ada yang lebih prioritas lagi ketimbang meladeni sikap suami yang super duper bucin ini.


"Hei, kenapa kau sepertinya marah dan tidak suka akan kedatanganku di sini!" seru Arjuna, bermaksud protes. Pasalnya, Netta hanya mengkritiknya saja tanpa menjelaskan apapun perihal pertanyaannya.


"Tidak, bukan begitu, Ferguso ...! Eng, maksudku, Juna." Netta mencengkeram pulpen dalam genggamannya. Menahan geram pada pria di hadapannya.


"Lalu, apa masalahnya?" tanya Arjuna datar.


"Masalahnya, aku telah meninggalkan pasienku di meja operasi. Padahal, aku hampir saja mau menyayat kulit perutnya. Tapi kau datang dengan status ๐™ช๐™ง๐™œ๐™š๐™ฃ๐™ฉ. Bagaimana aku tidak panik!" Akhirnya, Netta mengeluarkan juga rasa geram yang ia tahan sejak tadi.


"Kau telah ku pilih sebagai Dokter pribadi istriku. Aku membayarmu dengan harga yang tidak murah. Jadi, aku berhak memanggilmu kapanpun aku butuh." Arjuna berkata dengan datar, ia berdalih tanpa rasa bersalah sama sekali.


๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ด-๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ. ๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ.


Netta memijat pelipisnya, sampai kapanpun berdebat dengan Arjuna hanya akan membuang energi dan waktunya saja.


" Ya. Ya. Ya. Terserah kau saja, karena pasien selalu benar. Dokterlah yang salah." Netta akhirnya menyerah, percuma saja ia menjelaskan dari ujung barat hingga ke ujung timur kalau akhirnya. Kekuasaan lah yang menjadi pemenangnya.


"Sekarang, bisakah kau tidak membuang waktuku, dan segera menjawab pertanyaanku dengan cepat, tepat dan terpercaya?" cecar Arjuna. Sebenarnya ialah yang berhak kesal. Karena, Netta tidak langsung menjelaskan saja jawaban dari pertanyaannya. Wanita itu malah bicara berputar-putar seraya memprotes dirinya. Kalau bukan sahabat, sudah habis ia tarik lidah cerewetnya itu.


๐ŸพNanya apa sih, Arjuna?๐Ÿคจ Dari tadi riweh amat si berdua-dua?๐Ÿฅฑ

__ADS_1


"Pertanyaanmu itu, padahal bisa kau ajukan pada istrimu. Karena, semua wanita pasti tau jawabannya."


"Apa kau ingin membuatku terlihat bodoh di hadapan istriku?" tanya Arjuna dengan ekspresi datarnya.


๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ! ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด.


Netta hanya bisa menggelang lemah, dan lemas sebenarnya. Menghadapi orang keras kepala macam sahabatnya ini memang menguras banyak energi.


"Cepatlah, atau ku hentikan investasi ku pada rumah sakit ini." Arjuna berkata dengan aura dingin, ia sudah mulai tak sabar dengan jawaban yang seolah di ulur oleh Netta.


"Baiklah, akan ku jelaskan dengan detil agar kau tidak bertanya-tanya lagi." Kemudian, Netta mengirup napas dalam sebelum memulai penjelasannya.


"Oh iya, tadi kau bertanya apa? aku lupa?" tanya Netta, seraya mengernyitkan alisnya.


"Netta!" gertak Arjuna geram.


"Baiklah, kau ini tidak bisa di ajak bercanda sedikit." Netta menyudahi tawanya karena melihat mata Arjuna sudah berkilat tajam.


"Jun, dengarkan aku. Setiap wanita menginginkan proses melahirkan secara normal. Yaitu, dengan melahirkan bayinya dari dalam rahim melalui **** *************. Kalau kau bingung bagaimana bayi yang besar itu bisa keluar dari sana, aku juga akan menjelaskannya. Mulut rahim itu lentur dan bisa membesar sesuai dengan ukuran besar kepala bayi, begitu juga dengan lubang pada nonaโ€“V, yang lentur dan fleksibel. Ia bisa membesar berkali-kali lipat sesuai dengan kebutuhannya. Aku tau, kau pasti masih bingung. Seperti milikmu, lubang tersebut juga bisa membesar dan mengecil seperti semula." Netta menjelaskan dengan rinci serta detil hingga Arjuna tidak memiliki kesempatan untuk menyelanya.


"Proses itu, pasti akan sangat membuatnya kesakitan. Mengeluarkan bayi sebesar itu dari dalam tubuhnya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya dia nanti. Kau, tau Netta, ketika pertama kali ku masuki saja dia menjerit serta mencengkeram lenganku dengan begitu kuat. Itu milikku, yang aku tidak mengerti besarnya normal atau tidak. Tapi yang ku tau, kepala nagaku tidaklah sebesar kepala bayi. Aku tidak bisa membayangkan, apa aku akan sanggup melihatnya tersiksa ketika mengeluarkan bayi kami." Arjuna bertutur dengan emosi yang turun naik, bahkan pria itu terlihat beberapa kali menghirup udara untuk mengurai ketegangannya.


๐˜—๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ช! ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Netta tersenyum simpul, melihat raut wajah Arjuna yang bingung dan kalut. Pasien pertama yang begitu membuatnya kagum hingga geleng-geleng kepala.


" Jun, kau tidak perlu khawatir. Proses seperti itu, pasti akan di alami oleh setiap wanita dan calon bakal ibu. Meskipun, mereka akan menanggung sakit yang melebihi kemampuan bertahan dari manusia. Karena, rasa sakit ketika melahirkan itu hingga 55 del. Sedangkan daya tahan tubuh manusia pada umumnya, hanya mampu menahan rasa sakit sebanyak 45 del," jelas Netta, yang tak melepas tatapannya dari Arjuna.


"Apa perumpamaan sakitnya, jelaskan padaku?" Arjuna kembali bertanya, karena ia belum puas dengan penjelasan dari dokter cantik itu.

__ADS_1


"55 del diumpamakan, sebagai rasa sakit ketika seluruh tulangmu di patahkan secara bersamaan." Netta berucap sembari mengusap tengkuknya. Ia yang sudah berkali-kali menyaksikan serta menangani pasien ketika melahirkan, sudah hafal betul bagaimana ekspresi serta tingkah laku para wanita itu ketika di serang rasa sakit yang sangat hebat.


"Semua akan terasa lebih ringan, dengan adanya dukungan dari sang suami. Cinta dari pasangan akan mengalirkan kekuatan, itu yang sering ku saksikan selama menangani para pasienku. Karena itu, sejak awal. Aku selalu menegaskan kepada para calon ayah, agar menyiapkan mental mereka untuk menemani sang calon ibu di kala melahirkan buah hati mereka nanti. Bila takut darah, maka belajarlah untuk membiasakan diri. Atau, jangan melihat prosesnya. Cukup pandangi saja wajah sang istri. Itu, yang selalu aku tekankan terhadap pasienku selama ini." Netta, kembali memberi penjelasan secara gamblang kepada Arjuna. Membuat pria itu, mengusap wajahnya lalu menghela napas panjang. Seakan ia baru saja mendengar kisah yang begitu menegangkan.


"Bagaimana dengan proses yang kedua, yang kau sebut pembedahan sesar? apakah itu, tidak akan sakit?" cecar Arjuna, dengan wajah antusias.


" Proses sebelum dan sesudah nya juga menyakitkan. Pasien akan di suruh berpuasa dulu selama delapan jam sebelum operasi, dan tidak boleh minum setelah sadar hingga efek bius benar-benar hilang. Prosesnya juga tidak mudah, karena ketika operasi caesar, akan ada 7 lapisan perut yang akan dibuka, seperti lapisan kulit, lapisan lemak, sarung otot dan seterusnya hingga rahim. Setelah bayi dikeluarkan, lapisan itu harus dijahit lagi satu per satu, sehingga jahitannya menjadi berlapis-lapis." Netta menjeda sebentar ucapannya, lalu ia menatap dengan lamat ekspresi pria di hadapannya ini.


"Kau tau, sang calon ibu yang terjaga akan menerima bius lokal, atau di sebut juga blok epidural/spinal. Proses tersebut berguna untuk membuat mati rasa pada bagian bawah tubuh yang akan dioperasi atau disayat. Operasi caesar sendiri tidak akan sakit karena ada pengaruh dari obat bius tadi. Akan tetapi biasanya pasien akan mengalami nyeri dan keram pasca pengaruh obat bius hilang. Kedua proses ini, memiliki resiko tinggi bagi keduanya. Perjuangan yang memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Komplikasi cukup besar juga mengintai pasca operasi, serta efek samping skala kecil dan besar dalam jangka pendek bahkan panjang," tutur Netta panjang kali lebar. Ia pun meneguk air mineral untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


Arjuna mendengarkan penjelasan Netta dengan gamang serta ngeri. Terlihat dari ekspresi serta gestur tubuhnya yang beberapa kali menyeka keringatnya. Meskipun dari luar dirinya nampak tenang, akan tetapi raut wajah pria itu benar-benar tegang.


"Kenapa kedua proses itu, sama-sama mengerikan? lalu, proses mana yang akan ku pilih untuk istriku?" tanya Arjuna, dengan nada frustasi.


"Jun, proses kelahiran itu tidak bisa di pilih. Biarkan saja semuanya terjadi secara natural dan spontan. Kami, para tim medis yang berhak memberi diagnosis akan kelanjutan prosesnya nanti. Kau tenanglah, semua hal baik akan terjadi jika yang ada di dalam pikiran kita selalu hal yang positif. Nikmati saja proses ini dengan suka cita dan gembira. Pikirkan saja, bahwa kau akan segera bertemu dengan penerusmu, yakni buah cinta kalian berdua. Beri dukungan pada Susi agar dirinya tidak stress serta dapat menjalani masa kehamilan ini dengan bahagia." Netta kembali menegaskan pada sahabatnya itu.


๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜‘๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ญ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ.


Netta tersenyum simpul dengan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri.


"Net, apa kau baik-baik saja?" tanya Arjuna heran, dengan mengernyitkan kedua alisnya hingga saling bertaut.


"Aku lapar."


"Itu urusanmu, Net." Setelahnya, Arjuna pun bangkit dari kursi yang ia duduki lalu segera melangkah keluar dari ruangan itu.


"Dasar, sahabat gak ada akhlak!" Netta pun mencebik menyaksikan punggung tegap itu menghilang di balik pintu.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2