
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Cepatlah, katakan saja!" titah Arjuna membuat kedua bola mata Netta berputar malas.
"Pria sepertimu pasti tau internet 'kan? kenapa kau membuang waktumu dengan mendatangiku. Padahal, artikel di internet mengenai hal itu banyak sekali. Bahkan, jika kau ingin melihat secara langsung, Vidio nya pun ada," cecar Netta gemas, sekaligus kesal.
"Aku ingin bertanya langsung pada pakarnya, bukankah itu lebih baik?" tukas Arjuna ketus.
"Iya sih, memang. Hanya saja, tidak perlu menggunakan alasan urgent. Kau 'kan bisa menelpon ku, atau mengirim pertanyaan mu lewat chat," dalih Netta, meskipun Arjuna adalah suami dari pasiennya. Tetap saja, ada yang lebih prioritas lagi ketimbang meladeni sikap suami yang super duper bucin ini.
"Hei, kenapa kau sepertinya marah dan tidak suka akan kedatanganku di sini!" seru Arjuna, bermaksud protes. Pasalnya, Netta hanya mengkritiknya saja tanpa menjelaskan apapun perihal pertanyaannya.
"Tidak, bukan begitu, Ferguso ...! Eng, maksudku, Juna." Netta mencengkeram pulpen dalam genggamannya. Menahan geram pada pria di hadapannya.
"Lalu, apa masalahnya?" tanya Arjuna datar.
"Masalahnya, aku telah meninggalkan pasienku di meja operasi. Padahal, aku hampir saja mau menyayat kulit perutnya. Tapi kau datang dengan status ๐ช๐ง๐๐๐ฃ๐ฉ. Bagaimana aku tidak panik!" Akhirnya, Netta mengeluarkan juga rasa geram yang ia tahan sejak tadi.
"Kau telah ku pilih sebagai Dokter pribadi istriku. Aku membayarmu dengan harga yang tidak murah. Jadi, aku berhak memanggilmu kapanpun aku butuh." Arjuna berkata dengan datar, ia berdalih tanpa rasa bersalah sama sekali.
๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฏ๐ข๐ด๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ฐ๐ด-๐ฌ๐ฐ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ข๐ต๐ข๐ด๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฉ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ฅ๐ฆ ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ. ๐๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฌ ๐ฎ๐ฐ๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ.
Netta memijat pelipisnya, sampai kapanpun berdebat dengan Arjuna hanya akan membuang energi dan waktunya saja.
" Ya. Ya. Ya. Terserah kau saja, karena pasien selalu benar. Dokterlah yang salah." Netta akhirnya menyerah, percuma saja ia menjelaskan dari ujung barat hingga ke ujung timur kalau akhirnya. Kekuasaan lah yang menjadi pemenangnya.
"Sekarang, bisakah kau tidak membuang waktuku, dan segera menjawab pertanyaanku dengan cepat, tepat dan terpercaya?" cecar Arjuna. Sebenarnya ialah yang berhak kesal. Karena, Netta tidak langsung menjelaskan saja jawaban dari pertanyaannya. Wanita itu malah bicara berputar-putar seraya memprotes dirinya. Kalau bukan sahabat, sudah habis ia tarik lidah cerewetnya itu.
๐พNanya apa sih, Arjuna?๐คจ Dari tadi riweh amat si berdua-dua?๐ฅฑ
__ADS_1
"Pertanyaanmu itu, padahal bisa kau ajukan pada istrimu. Karena, semua wanita pasti tau jawabannya."
"Apa kau ingin membuatku terlihat bodoh di hadapan istriku?" tanya Arjuna dengan ekspresi datarnya.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฉ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ฐ๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐จ๐ฆ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฏ! ๐๐ข๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ, ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ซ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ฏ๐ข, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐ด.
Netta hanya bisa menggelang lemah, dan lemas sebenarnya. Menghadapi orang keras kepala macam sahabatnya ini memang menguras banyak energi.
"Cepatlah, atau ku hentikan investasi ku pada rumah sakit ini." Arjuna berkata dengan aura dingin, ia sudah mulai tak sabar dengan jawaban yang seolah di ulur oleh Netta.
"Baiklah, akan ku jelaskan dengan detil agar kau tidak bertanya-tanya lagi." Kemudian, Netta mengirup napas dalam sebelum memulai penjelasannya.
"Oh iya, tadi kau bertanya apa? aku lupa?" tanya Netta, seraya mengernyitkan alisnya.
"Netta!" gertak Arjuna geram.
"Baiklah, kau ini tidak bisa di ajak bercanda sedikit." Netta menyudahi tawanya karena melihat mata Arjuna sudah berkilat tajam.
"Jun, dengarkan aku. Setiap wanita menginginkan proses melahirkan secara normal. Yaitu, dengan melahirkan bayinya dari dalam rahim melalui **** *************. Kalau kau bingung bagaimana bayi yang besar itu bisa keluar dari sana, aku juga akan menjelaskannya. Mulut rahim itu lentur dan bisa membesar sesuai dengan ukuran besar kepala bayi, begitu juga dengan lubang pada nonaโV, yang lentur dan fleksibel. Ia bisa membesar berkali-kali lipat sesuai dengan kebutuhannya. Aku tau, kau pasti masih bingung. Seperti milikmu, lubang tersebut juga bisa membesar dan mengecil seperti semula." Netta menjelaskan dengan rinci serta detil hingga Arjuna tidak memiliki kesempatan untuk menyelanya.
"Proses itu, pasti akan sangat membuatnya kesakitan. Mengeluarkan bayi sebesar itu dari dalam tubuhnya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya dia nanti. Kau, tau Netta, ketika pertama kali ku masuki saja dia menjerit serta mencengkeram lenganku dengan begitu kuat. Itu milikku, yang aku tidak mengerti besarnya normal atau tidak. Tapi yang ku tau, kepala nagaku tidaklah sebesar kepala bayi. Aku tidak bisa membayangkan, apa aku akan sanggup melihatnya tersiksa ketika mengeluarkan bayi kami." Arjuna bertutur dengan emosi yang turun naik, bahkan pria itu terlihat beberapa kali menghirup udara untuk mengurai ketegangannya.
๐๐ณ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐จ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ช๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ช, ๐ต๐ข๐ญ๐ช ๐ฑ๐ถ๐ด๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐บ๐ช! ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ฆ๐ง๐ช๐ฏ๐ช๐ด๐ช ๐ฃ๐ถ๐ค๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ๐ต. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข, ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ด๐ฆ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช.
Netta tersenyum simpul, melihat raut wajah Arjuna yang bingung dan kalut. Pasien pertama yang begitu membuatnya kagum hingga geleng-geleng kepala.
" Jun, kau tidak perlu khawatir. Proses seperti itu, pasti akan di alami oleh setiap wanita dan calon bakal ibu. Meskipun, mereka akan menanggung sakit yang melebihi kemampuan bertahan dari manusia. Karena, rasa sakit ketika melahirkan itu hingga 55 del. Sedangkan daya tahan tubuh manusia pada umumnya, hanya mampu menahan rasa sakit sebanyak 45 del," jelas Netta, yang tak melepas tatapannya dari Arjuna.
"Apa perumpamaan sakitnya, jelaskan padaku?" Arjuna kembali bertanya, karena ia belum puas dengan penjelasan dari dokter cantik itu.
__ADS_1
"55 del diumpamakan, sebagai rasa sakit ketika seluruh tulangmu di patahkan secara bersamaan." Netta berucap sembari mengusap tengkuknya. Ia yang sudah berkali-kali menyaksikan serta menangani pasien ketika melahirkan, sudah hafal betul bagaimana ekspresi serta tingkah laku para wanita itu ketika di serang rasa sakit yang sangat hebat.
"Semua akan terasa lebih ringan, dengan adanya dukungan dari sang suami. Cinta dari pasangan akan mengalirkan kekuatan, itu yang sering ku saksikan selama menangani para pasienku. Karena itu, sejak awal. Aku selalu menegaskan kepada para calon ayah, agar menyiapkan mental mereka untuk menemani sang calon ibu di kala melahirkan buah hati mereka nanti. Bila takut darah, maka belajarlah untuk membiasakan diri. Atau, jangan melihat prosesnya. Cukup pandangi saja wajah sang istri. Itu, yang selalu aku tekankan terhadap pasienku selama ini." Netta, kembali memberi penjelasan secara gamblang kepada Arjuna. Membuat pria itu, mengusap wajahnya lalu menghela napas panjang. Seakan ia baru saja mendengar kisah yang begitu menegangkan.
"Bagaimana dengan proses yang kedua, yang kau sebut pembedahan sesar? apakah itu, tidak akan sakit?" cecar Arjuna, dengan wajah antusias.
" Proses sebelum dan sesudah nya juga menyakitkan. Pasien akan di suruh berpuasa dulu selama delapan jam sebelum operasi, dan tidak boleh minum setelah sadar hingga efek bius benar-benar hilang. Prosesnya juga tidak mudah, karena ketika operasi caesar, akan ada 7 lapisan perut yang akan dibuka, seperti lapisan kulit, lapisan lemak, sarung otot dan seterusnya hingga rahim. Setelah bayi dikeluarkan, lapisan itu harus dijahit lagi satu per satu, sehingga jahitannya menjadi berlapis-lapis." Netta menjeda sebentar ucapannya, lalu ia menatap dengan lamat ekspresi pria di hadapannya ini.
"Kau tau, sang calon ibu yang terjaga akan menerima bius lokal, atau di sebut juga blok epidural/spinal. Proses tersebut berguna untuk membuat mati rasa pada bagian bawah tubuh yang akan dioperasi atau disayat. Operasi caesar sendiri tidak akan sakit karena ada pengaruh dari obat bius tadi. Akan tetapi biasanya pasien akan mengalami nyeri dan keram pasca pengaruh obat bius hilang. Kedua proses ini, memiliki resiko tinggi bagi keduanya. Perjuangan yang memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Komplikasi cukup besar juga mengintai pasca operasi, serta efek samping skala kecil dan besar dalam jangka pendek bahkan panjang," tutur Netta panjang kali lebar. Ia pun meneguk air mineral untuk membasahi kerongkongannya yang kering.
Arjuna mendengarkan penjelasan Netta dengan gamang serta ngeri. Terlihat dari ekspresi serta gestur tubuhnya yang beberapa kali menyeka keringatnya. Meskipun dari luar dirinya nampak tenang, akan tetapi raut wajah pria itu benar-benar tegang.
"Kenapa kedua proses itu, sama-sama mengerikan? lalu, proses mana yang akan ku pilih untuk istriku?" tanya Arjuna, dengan nada frustasi.
"Jun, proses kelahiran itu tidak bisa di pilih. Biarkan saja semuanya terjadi secara natural dan spontan. Kami, para tim medis yang berhak memberi diagnosis akan kelanjutan prosesnya nanti. Kau tenanglah, semua hal baik akan terjadi jika yang ada di dalam pikiran kita selalu hal yang positif. Nikmati saja proses ini dengan suka cita dan gembira. Pikirkan saja, bahwa kau akan segera bertemu dengan penerusmu, yakni buah cinta kalian berdua. Beri dukungan pada Susi agar dirinya tidak stress serta dapat menjalani masa kehamilan ini dengan bahagia." Netta kembali menegaskan pada sahabatnya itu.
๐๐ข๐ณ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ข๐ด๐ช๐ฆ๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฎ๐ถ, ๐๐ถ๐ฏ๐ข. ๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ณ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ช๐ญ. ๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ, ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช. ๐๐ฅ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฌ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ฏ๐ข? ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ต๐ถ.
Netta tersenyum simpul dengan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri.
"Net, apa kau baik-baik saja?" tanya Arjuna heran, dengan mengernyitkan kedua alisnya hingga saling bertaut.
"Aku lapar."
"Itu urusanmu, Net." Setelahnya, Arjuna pun bangkit dari kursi yang ia duduki lalu segera melangkah keluar dari ruangan itu.
"Dasar, sahabat gak ada akhlak!" Netta pun mencebik menyaksikan punggung tegap itu menghilang di balik pintu.
Bersambung>>>
__ADS_1