
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Van-Be dan Su-Na akan bertolak ke negara K hari ini. Demi mengunjungi Jo-Na, karena Milna akan melakukan bedah operasi sesar pekan depan. Pasangan para sahabat ini berniat liburan sekaligus memberi support pada Milna.
Tibalah kini mereka berlima di bandara. Menunggu panggilan keberangkatan pesawat mereka yang sempat tertunda. Sebenarnya Arjuna berniat menyewa jet pribadi. Akan tetapi Susi melarang. Karena dia justru khawatir jika mereka terbang menggunakan pesawat kecil.
"Kak, kenapa Satria semakin hari semakin menggemaskan saja?" ucap Vanish penuh kekaguman. Ia belum puas menggosok hidungnya di pipi gembul bayi berusia sepuluh bulan itu.
"Tatata ... taa ...." Bayi itu mengoceh sambil memukuli wajah Vanish. Satria menyukai apa yang di lakukan aunty-nya itu. Hingga ia pun tertawa geli.
"Sebentar lagi juga kau akan memiliki seorang bayi yang lucu. Pada saat itu, Aunty pasti akan melupakanmu, Satria-ku," ucap Susi bermaksud menggoda Vanish.
" Oh no! Gak gitu dong Kak. Aunty tidak akan seperti itu sayang. Satria jangan dengarkan provokasi dari Mommy-mu ya," bisik Vanish ketelinga baby S, sambil terus menciumi pipinya. Baby S menggeliat kegelian di atas pangkuan Vanish. Susi pun ikut tergelak melihat melihat kelakuan Vanish yang begitu dekat dengan putranya.
"Sini Van, Satria sudah mulai tak bisa diam. Aku takut perutmu nanti ketendang kaki gempalnya." Susi mengambil alih Satria yang berada di atas pangkuan Vanish.
"Kalau anak NiNis nanti perempuan gimana Kak?" tanya Vanish ambigu.
"Apa kau berniat menjodohkan mereka? Seperti yang kebanyakan terjadi di dalam cerita novel, begitu?" sahut Susi dengan mencecar balik.
"Memangnya kenapa Kak. Aku ingin Satria menjadi anakku juga nanti," ucap Vanish setengah merengek. Ia tidak rela jika Satria diambil orang. Sepertinya ia benar-benar kepincut akan keimutan baby S.
"Aku tidak akan menjodohkan putra ku demi kepentingan kita. Biarkan mereka memilih pasangan hidupnya sendiri. Kita cukup memberi jalan agar mereka saling mengenal," jelas Susi dengan hati-hati. Ia tak ingin Vanish salah paham dan kecewa.
"Ehm, benar juga sih, Kak. Aku hanya sedikit tak rela jika Satria menjauh dariku nanti," kilah Vanish. Ia cukup keras juga dengan pendiriannya.
"Hei. Itu namanya terobsesi." Lalu keduanya tertawa, hingga baby S pun ikut tergelak.
Kemudian, Susi berdiri. Ia segera menghampiri Arjuna yang tengah memainkan tabletnya.
"Kita mau liburan Daddy. Kenapa masih asik saja kerja?" Sindir Susi menggunakan figur suara bayinya. Sontak Arjuna langsung menoleh, ia tersenyum lalu memasukkan tablet kedalam tas selempang nya.
"Halo anak tampan Daddy." Arjuna mengambil bayinya itu, mendekapnya ke depan dada macam kangguru menggendong anaknya.
"Mana gendongannya Satria. Biar aku saja yang membawanya," pinta Arjuna pada Susi. Tak lama kemudian istrinya itu memasangkan gendongan kangguru model kekinian. Satria memekik kegirangan. Bayi itu bahkan menggoyangkan tangan serta kaki mungilnya.
"Unch ... senengnya di gendong sama Daddy," goda Susi sambil memainkan jemari bayinya itu. Satria tertawa geli. Sepertinya bayi tampan nan lucu itu memang sangat senang.
__ADS_1
"Tentu saja senang. Di gendong sama Daddy yang tampan dan penyayang!" celetuk Arjuna dengan kepercayaan diri tingkat tingginya. Ia memainkan kedua tangan Satria sambil sesekali merentangkan serta mengayun kedua tangan bayi gembul nya itu.
"Uluuu ... dua jagoan tampan milik Mommy." Susi tersenyum pada keduanya. Satria yang bagaikan pinang di belah dua dengan Arjuna. Hanya beda versi saja. Wajar saja, jika Arjuna kerap menyombongkan dirinya.
"Maka, Mommy adalah wanita tercantik dan terhebat milik kita berdua. Iya kan Satria-ku sayang." Arjuna mengecup pucuk kepala baby S kemudian beralih mencium kening, pipi dan juga sekilas mencium bibir Susi.
Susi pun merangkul keduanya. Betapa ia terharu melihat seorang Arjuna mau menggendong putra mereka. Sungguh pria itu terlihat begitu menggemaskan baginya. Mungkin bisa di katakan jika Arjuna adalah Hot Daddy. Di usianya yang sudah menginjak usia kepala empat. Namun, tak ada kesan tua pada penampilan juga raut wajahnya.
"Bunda tidak sabar menantikan kelahiran mu, Nak." Vanish berbicara sendiri sambil mengelus perutnya yang terlihat semakin besar dan bulat itu. Karena memang usia kandungannya, hampir menginjak angka dua puluh empat minggu.
Sebuah tangan terulur dari arah belakang tubuh Vanish, dengan telapak hangatnya yang ikut mengelus perut buncit berlapis dress khusus wanita hamil. "Sabar ya bunda. Sebentar lagi keluarga kita juga akan semakin sempurna. Ayah akan menjadi sosok yang terbaik untuk kalian berdua." Better melabuhkan kecupan dalam di samping pelipis istrinya itu. Kemudian Vanish menoleh dengan senyum yang merekah sempurna.
Bahagia, tentu. Bahkan perasaannya saat ini tak mampu ia ibaratkan dengan apapun juga. Baginya, kisah hidupnya telah sempurna kini. Pastinya, setiap kejadian telah menorehkan pelajaran berharga yang semakin mendewasakan keduanya.
"Ninis mau di cium juga, kayak Kak Susi," pinta Vanish tanpa tedeng aling-aling. Justru, yang mana permintaannya tersebut telah mencetak rona merah di wajah Better.
๐๐ฉ ๐๐ฎ๐ฐ๐บ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ.
๐๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
๐๐ถ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ...
Mau tak mau Better menuruti juga keinginan Vanish. Meski ia sadar jika aksinya barusan di lihat oleh banyak orang. Tentu saja, mereka kan ada di ruang tunggu bandara saat ini. Apalagi tadi Vanish sempat membalas. Hingga kecupannya berubah menjadi ciuman hangat.
๐๐ถ๐ถ๐ฉ๐ฉ ...
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ข๐บ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ ๐ณ๐ช๐ฃ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ช.
Batin Better, seraya menyeka keringat di keningnya.
Arjuna terlihat mengangkat ponselnya dan mendekatkannya ke arah telinga. Tak lama kemudian ia menyerahkannya pada sang istri.
"Ah iya, baiklah. Semoga semua berjalan dengan baik. Kau yang semangat ya. Meskipun kami belum hadir di sana." Setelahnya, Susi pun memutuskan panggilan. Vanish dan Better segera mendekatinya.
"Kenapa Kak?"
"Milna sepertinya akan melahirkan lebih cepat dari perkiraan. Karena ia tau-tau merasakan kontraksi pagi tadi. Sekarang dirinya sudah berada di rumah sakit, bersama dengan Joy dan keluarganya.
__ADS_1
" Wah, kak Nana. Semoga ketiganya baik-baik saja," ucap Vanish penuh harap. Ia pun ikut tegang.
Beberapa saat kemudian, mereka masuk kedalam pesawat yang akan membawa mereka lepas landas. Mengunjungi sebuah negara dimana Joy dan Milna kini tengah menantikan kelahiran buah hati mereka.
________
Raut wajah Joy begitu tegang. Padahal, perawat hanya sedang memasang selang infus ke lengan Vanish.
Saturasi oksigen yang masih bagus, sehingga Vanish tidak membutuhkan bantuan dari selang oksigen.
"Seharusnya kau tidak memintaku semalam. Lihatlah. Kau sekarang jadi kesakitan begini," lirih Joy sambil menatap sendu pada Milna.
"Cara kita berhasil, Joy. Aku akan melahirkan anak-anak kita dengan cara normal. Aku rela merasakan sakit ini. Semua adalah proses, untukku menjadi seorang ibu." Milna masih bisa tersenyum di sela-sela sakitnya.
"Kalau kontraksinya datang lagi. Nyonya miring ke arah kiri ya," saran sang perawat tersebut. Ia hanya tersenyum samar. Mendengar percakapan keduanya.
"Sebentar lagi dokter datang. Saya tinggal dulu sebentar ya." Perawat itu pamit pada Milna dan juga Joy.
"Tapi, aku tidak tega melihatnya. Baru pembukaan empat saja sudah sampai seperti tadi. Kau bahkan hampir kehabisan tenaga," protes Joy. Tau begini, ia akan menolak godaan Milna semalam.
"Apa kau menyesal telah bercinta denganku semalam?" tanya Milna dengan wajah muram menahan kecewa.
" Bukan begitu. Aku hanya menyesal karena kau menjadi kesakitan setelahnya. Terus terang, aku sangat menikmatinya. Kau yang semakin agresif, membuatku begitu bergairah. Keadaanmu yang hamil besar, tidak mengurangi rasa dari sensasi bercinta kita. Aku menyukainya, sangat. Karenanya, aku tidak bisa menolak pesona mu. Maaf," lirih Joy di akhir kalimatnya.
"Kenapa minta maaf. Ini semua adalah bagian ku. Proses yang di alami oleh hampir seluruh wanita di dunia. Kau, cukup tetap berada di sisiku." Milna akhirnya tak tahan juga untuk meringis. Di barengi dengan kehadiran dokter dan juga para tim.
"Gelombang cintanya datang lagi ya. Kita cek pembukaan lagi ya. Juga sekalian USG empat dimensinya. Agar kita tau betul letak posisi dua bayi di dalam," ucap sang Dokter Obgyn wanita tersebut.
Dokter pun melakukan pemeriksaan menyeluruh. " Sudah naik ya pembukaannya jadi tujuh sekarang. Bagus kok, semoga cepat lahir ya."
"Tapi istri saya sangat kesakitan Dok. Apakah prosesnya tidak bisa di percepat?" tanya Joy yang sudah sangat khawatir.
"Pembukaannya sudah bagus. Jadi kami tidak akan memberi bantuan dengan induksi. Biarkan mereka muncul dengan cara yang alami. Anda tetap support istri anda. Kami akan terus memantau," ucap Dokter Obgyn tersebut, sambil mengarahkan alat transfunder ke atas perut Milna.
Tak lama kemudian.
"Akhh ... saya sudah tidak tahan Dok. Mau pup!"
__ADS_1
"Nyonya jangan mengejan dulu ya. Tunggu sebentar. Karena, posisi bayi berebut untuk keluar lebih dulu!"
Bersambung>>>