
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Pakai kataku!" Joy kembali mengenakan jas nya kepada Milna, secara paksa. Karena keadaan gadis itu, sungguh menodai mata pria normal seperti Joy.
"Jangan di lepas, atau kau akan menerima akibatnya!" ancam Joy, seraya menatap tajam manik pekat Milna yang sendu. Ketika Joy hendak memundurkan dirinya, tangan Milna menahannya. Lalu menarik wajah Joy kedepan bibirnya.
Sesaat, mata Joy terbelalak seketika. Ketika bibir Milna menyesap bibirnya kuat. Bahkan tangan gadis itu menekan tengkuknya untuk memperdalam lumaatannya.
Di perlakukan seperti itu, membuat Joy yang selama ini menahan geloranya dari wanita malam, menjadi terpancing birahinya. Padahal sejak awal dia sudah berusaha mati-matian menahan hasratnya.
" Apa kau lakukan." Joy yang melepas paksa tautan bibir mereka bertanya dengan suara serak yang berat. Karena, dirinya telah merasa sesak di bawah sana.
"Hentikan rasa yang menyiksa ini Joy, ku mohon," rengek Milna. Lengannya masih setia mengalung di leher Joy. Bahkan, wajahnya hendak di majukan lagi, tapi Joy menahannya .
"Jangan paksa aku melakukan yang tidak akan kau terima jika sadar nanti. Kau tau 'kan jika aku sudah menahan diri selama di negara ini.
Jadi, jangan paksa magma yang aku tahan di dalam tubuhku memuntahkan lahar panasnya yang berujung membakar dirimu." Setelah mengatakannya. Joy menarik paksa dirinya dari Milna.
Pria itu mengusap kasar wajahnya, berusaha tetap berada dalam batas kesadarannya. Milna pun memundurkan dirinya, disisa kesadarannya ia menangis terisak. Joy, berusaha acuh. Menahan gelora itu tidak enak. Asal kau tau.
"Kita kerumah sakit? Ah tidak mungkin. Kita ke apartemen saja, nanti kau bisa merendam dirimu di air dingin sampai pengaruh obat itu hilang." Joy berkata tanpa sedikit pun menoleh ke arah Milna.
Melalui ekor matanya, ia tau jika gadis itu semakin tersiksa. Terlihat dari caranya yang tak mau diam ketika duduk. Bahkan kini, Milna mengusap dan meremas sendiri bagian sensitifnya.
"emmhh ...." racaunya, sembari mengusap dan meremas pahanya sendiri. Lalu ia kembali merengek dan berakhir dengan isak tangis.
"Panas ... panas ... hiks!" keluhnya. Kali ini Milna benar-benar melempar jas Joy kebelakang kursi. Tanpa sadar gadis itu melucuti pakaiannya sendiri.
"MiโMilna! Apa-apaan ini! Tutup tubuhmu!"
__ADS_1
"Kau 'kan tau, pria seperti apa aku ini!"
"Jangan mengujiku!" Joy terus berteriak sendirian, tubuhnya ikut memanas. Apalagi salah satu tangan Milna mengusap dada bidang berbalut kemeja tipis itu.
"Sial!!" Joy menghentikan mobilnya di tepi jalan yang agak sepi dari lalu-lalang. Dirinya tak mungkin melajukan kendaraan dalam keadaan godaan berat seperti ini, belum lagi kepalanya sudah semakin pusing. Pusing karena minuman, dan juga karena menahan ledakan hasrat.
"Apa yang harus aku lakukan!" Joy menekan kepalanya pada gagang kemudi. Ia bingung, bagaimanapun pria normal sepertinya tidak akan sanggup bila gadis telanjang di sebelahnya terus menerus membelai tubuhnya.
"Na, tolong hentikan ini ," lirih Joy memohon dengan suara parau di karenakan dirinya tengah menahan sesuatu.
"Aku tidak sanggup lagi, Joy. Bawa saja aku ke klab malam. Jika kau tidak mau ...," racau Milna, sambil sesekali memberi remasan pada bagian depan tubuhnya.
๐๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐จ๐ช๐ญ๐ข? ๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ฌ๐ญ๐ข๐ฃ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ. ๐๐ข๐จ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ถ๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐๐ญ๐ฆ๐น. ๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ.
Joy menggaruk kepalanya kasar, dirinya tak tau lagi harus bagaimana. Mendengar desah halus nan lembut dari bibir Milna. Gelora napsunya sudah naik ke ubun-ubun. Belum lagi, ketika Milna meraih tangannya.
๐๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ฆ๐ต๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข! ๐๐ด๐ด๐ฉ๐ฉ ... ๐๐ฉ๐ช๐ต๐ต!
"Kau yang telah memaksaku. Aku tak bisa membiarkan laki-laki lain yang menyentuhmu." Joy berucap lirih, sembari menekan jarinya semakin dalam. Mengobrak-abrik gua perawan yang belum pernah terjamah apapun.
"Mmhhh ...!" Milna melenguh dan mengerang, ketika tubuhnya mendapat tekanan dan sapuan dari Joy. Raganya yang telah polos memudahkan Joy untuk melahap apa saja yang nampak di depan matanya.
Joy, yang juga sudah terbius hawa napsu campur mabuk. Kini, benar-benar sudah tak tahan lagi. Ia tak kuasa lagi menahan gelora untuk terus mendekam di dalam tubuhnya.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ ๐จ๐ข๐บ๐ข ๐ต๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ฐ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ถ๐ด ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ช๐ณ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข ๐ฑ๐ข๐ด. ๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ญ๐ฆ๐น ๐ด๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ!.
Joy terus bergumam dalam hati, sambil melahap bagian depan raga Milna. Di bawah sana, ternyata ia juga masih berkeliaran di dalam area hutan rimba.
Menikmati apa yang ia rasakan pada sensasi dalam tubuhnya.
__ADS_1
Joy, merendahkan kursi hingga posisi Milna kini rebahan. Kemudian bibirnya menyusuri wajah natural itu, turun dan semakin turun hingga kini tepat berada di atas pusar yang terdapat piercing itu.
Melihat betapa cantik dan indahnya, perut ramping dengan perhiasan di bawah pusar. Napas Joy seketika memburu ia memajukan wajahnya untuk menciumi bagian itu.
Milna terus menggeliat nikmat. Desah seksi dan merdunya bersahut-sahutan dengan napasnya. Apalagi Ketika Joy, menurunkan wajahnya. Bahkan pria itu sudah berlutut di depan kedua kakinya.
Melihat penampakan indah di hadapannya, Joy ragu. Sampai kapan dirinya sanggup bertahan, sementara adik kecilnya sudah mengamuk di balik celananya.
"Aahh ...!" Milna mendesaah kencang, tatkala lidah Joy telah masuk dan bermain-main di sana. Joy menyesapnya, menikmati dengan berbagai cara. Pria ini sungguh expert, ahli membuat wanita menggelinjang akibat ulahnya.
Joy kembali naik ke atas menyesap bibir Milna, sementara tangannya masih sibuk bermain didalam hutan. Hingga akhirnya sebuah lenguhan panjang keluar, pertanda bahwa dirinya berhasil mencapai sesuatu.
Milna yang baru pertama kali merasakan pelepasan. Merasakan nikmatnya sensasi rasa yang sampai ke puncak ubun-ubunnya.
Joy berusaha sekuat tenaga sekali lagi ia memandangi bagian sensitif Milna yang indah dan menggoda. Kini dirinya lah yang tersiksa, dan ternyata Milna yang masih dalam pengaruh obat itu, kembali menarik tubuh Joy.
" Joy ...," lirih Milna, satu kata yang kembali menghipnotis Joy. Hingga pria itu, menurunkan celananya. Kemudian, memposisikan adik kecil didepan gua perawan. Ia menghujam nya pelan. Menekan kepala sang adik agar masuk sepenuhnya.
"Akhh!" Milna menjerit. Ketika sesuatu yang tumpul dan besar, berusaha merobek intinya. Bercak darah perawan mengotori sofa di mobil.
Milna yang tengah merasakan perih hanya bisa menangis. Seketika jerit tangis itu perlahan berubah menjadi desah manja. Ketika, adik kecilnya Joy memompa tubuh bagian bawahnya.
Keduanya lupa sudah, apa yang mereka lakukan saat ini akan mereka sesali kemudian. Terutama Milna, karena sorot matanya tak dapat berbohong. Ada pancaran mendamba di sana.
Joy mempercepat laju pinggulnya, hingga kepalanya mendongak keatas disertai geraman. Tatkala, adik kecilnya meledakkan laharnya yang sudah terpendam begitu lama. Sampai sofa pada kursi mobil itu, telah bercampur dua cairan yang menjadi saksi bisu atas penyatuan tanpa cinta dan pemberkatan ini.-
Milna dan Joy meluruhkan raga lemas mereka. Joy mengambil jasnya di kursi belakang. Lalu, ia menutupi tubuh Milna yang kini tertidur pulas.
"Apa kau akan membunuhku besok?"
__ADS_1
Bersambung>>>