Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Potong gaji...bikin keselek


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Van, bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Susi di suatu sore, keadaannya kini sudah lebih baik. Mereka tengah menikmati senja di atas balkon.


" Saat itu seseorang mengirim pesan pada ku, untuk menemuinya di depan minimarket. Saat itulah, pria keren tapi sombong itu mengatakan keadaan Kakak." jelas Vanish sambil sesekali menyeruput kopinya.


" Apa orang itu asisten Joy?" tebak Susi.


Vanish mengangguk, kemudian berkata lagi, " Saat itu aku langsung kembali dan mengepak baju ganti, lalu mengatakan bahwa aku di pindah ke basecamp lain untuk sementara. Sedangkan tentang Kakak, aku hanya menggeleng saja karena saat itu aku pun belum tau apa yang terjadi,"


"Lalu, sampai kapan aku di sini?" gumam Susi yang masih bisa di dengar oleh kawannya si gadis periang.


"Kita tunggu saja Kak, lagi pula kau masih butuh ketenangan," ucap Vanish menatap Susi dengan senyumnya.


"Makasih ya, sudah mau menemani ku," ucap Susi.


"Bagaimana lagi Kak, aku di ancam dan di bayar mahal," kelakar Vanish membuat Susi menarik telinganya.


"Kau ini! Merusak suasana saja!"


Mereka akhirnya tergelak bersama.


_____***____


"Kenapa aku harus tetap di sini, Tuan?" tanya Susi pada Arjuna.


"Karena, kau harus membalas semua kebaikanku," ucap Arjuna dingin.


"A-apa?"


"Maksud Tuan, semua pertolongan dari mu ini harus ku ganti begitu?" heran Susi, ia tak mengerti apa yang di inginkan oleh pria dewasa ini.


"Tentu saja, kau pikir mengendong mu dari base man hingga ke lantai ini tidak berat? Lalu, memanggil ahli psikologi terbaik untuk mengobati depresi mu tidak mahal? Apa kau tidak tau apa itu balas budi?" cecar Arjuna tetap dengan ekspresi datarnya.

__ADS_1


Matq Susi membola dengan mulut menganga.


(Orang ini, menuntut balas budi atas segala kebaikannya! Perhitungan sekali! Bagaimana caraku membayarnya? Oh tidak, apa dia ingin?)


"A-apa yang Tuan inginkan dari ku?" Susi bertanya, namun kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri seakan melindungi sesuatu di sana.


"Hempaskan pikiran kotormu itu!" hardik Arjuna menatap Susi remeh.


"Aku tidak tertarik dengan tubuhmu." Ia berdiri dari sofa ruang tamu, lalu mengarah ke jendela besar.


"Gunakan sisa kepintaran mu yang sedikit itu, bekerjalah sebagai sekretaris di kantor dan memasak lah untukku tiga kali sehari."Arjuna berbalik membuat Susi terkesiap, karena bias cahaya dari jendela membuat siluet yang membuat tubuh tinggi tegap itu begitu memukau.


(Kau ini, manusia atau dewa?)


Susi menggelengkan kepalanya cepat mengusir pikiran anehnya.


" Jadi kau tidak setuju?" tanya Arjuna, mengerutkan keningnya.


"Ah, tidak Tuan. Aku setuju, bila itu bisa membalas semua kebaikanmu. Akan aku lakukan, tapi?" ucap Susi terjeda sebuah keraguan dihatinya.


" Baik. Tuan, terima kasih!" Susi menundukkan kepalanya sedikit lalu mendongak, menatap punggung lebar itu yang berlalu melewatinya.


Arjuna sudah masuk ke dalam kamarnya, dan entah kapan akan keluar lagi. Ia menengok ketika asisten Joy memanggilnya.


"Nona, mulai saat ini kau sudah bisa mulai bekerja," ucap Joy dengan senyum menawannya.


"Ta-tapi aku belum mengerti tugas sekretaris seperti apa, lagi pula bukankah Tuan sudah...?" Susi bingung dengan mimik muka yang membuat Joy tertawa.


"Tugasmu kan ada dua," tukas Joy.


"Ah, i-iya...," Susi tersenyum kikuk setelah menyadari kebodohannya.


"Aku akan memasak, apa Pak Joy akan di sini untuk makan malam?" tanya nya.

__ADS_1


"Tentu saja, aku akan memantau mu sambil mengerjakan sisa tugasku," jelas Joy yang sudah menghadap pada tablet pintarnya.


Susi sudah membuka mulutnya hendak bertanya lagi, namun kata-kata Joy mematahkan niatnya.


"Tuan bisa makan apapun, masaklah apa saja."Joy bicara namun tetap fokus pada benda pipih yang pintar itu.


" Baiklah, em..., apa Anda ingin ku buatkan kopi?" tawar Susi membuat Joy mendongak dan tersenyum.


"Ku pikir, kau tidak akan menawarkannya," cebiknya, membuat Susi tak tahan untuk tidak tersenyum.


****


Susi menahan napasnya ketika melihat Arjuna menyuapkan makanan pertama kali ke mulutnya.


Ekspresi pria itu tidak bisa terbaca sama sekali.


"Bagaimana? Apa Tuan suka masakan saya?" akhirnya Susi bertanya juga karena ia sungguh penasaran.


"Hemm." Terus mengunyah dan mengunyah.


( Jawaban apa itu hemm? Aku memasak selama hampir dua jam hanya untuk mendengar deheman!)


Susi pun ikut meletakkan bokongnya pada kursi, lalu menyendok nasi banyak-banyak.


"Bagus, perbaiki gizi mu." Arjuna meneruskan makannya lagi.


(Apa?!)


"Tuan aku nambah ya, masakan Nona lezat sekali," ucap Joy meminta persetujuan namun tangannya sudah menyendok kan nasi dan lauk ke piringnya hingga penuh.


"Aku akan memotong gaji mu untuk biaya makan mu malam ini."


"UHUKK...!"

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2