
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
******
Niatnya memperbaiki penampilan di dukung para wanita muda kawan sekamarnya. Mereka bersemangat dan antusias menemaninya belanja alat-alat make up sederhana.
"Kak, menggunakan krim ini harus rutin setiap hari ya. Ini yang siang dan ini malam."
"Ini juga ada masker wajah nya tinggal tempel aja, sepekan sekali cukup."
"Ini plester buat komedo nya, tinggal tempel tunggu 15 menit, cabut."
"Gimana?" jelas gadis sumatera utara itu mendetil.
Karena dari cerita Susi, ia tak pernah mengenal skin care pengobatan terhadap flek dan jerawat. Karena yang ia pakai sebelumnya hanya perawatan biasa.
Lebih banyak menggunakan bahan-bahan herbal, karena kulitnya sudah putih dan mulus sejak lahir.
"Iya, aku faham Ra," anggukannya kecil.
"Kalau Kakak mau facial di salon, sebulan sekali cukuplah itu,"
"Lagipula, skincare rekomendasi aku ini mantab kali hasilnya,"
"Nanti kau tengok lah," ucap Rapika meyakinkan dengan gaya tomboinya. Duduk dengan menaikkan sebelah lututnya.
"Ra, aku heran deh. Kamu tuh tomboi tapi tau banget pasal beginian?" tanya Susi sedikit heran.
Sedangkan Rapika tidak pernah dandan bila di luar pekerjaan.
"Tau lah Kak. Ini kan cuma perawatan wajah, kecuali kalau kau tanya pasal macam-macam jenis make up. Aku angkat kaki lah," jawab Rapika sambil tertawa.
"Tapi kamu kan bisa dandan, cantik lagi,"
"Aku aja jadi insinyur sama kamu," kata Susi.
"Insecure kali ah. Buat apa pulak?"
"Kami cuma menang muda usia saja, tapi," Rapika menjeda kalimatnya, ia bangkit berdiri kemudian menghampiri pembaringan Susi.
"Kalau di poles sedikit saja dengan barang branded, kau pasti bersinar Kak,"
"Karena aura mu ini, bukan kuli macam kami," ucap Rapika memuji.
"Kau ini Ra, paling bisa bikin orang melayang dengan kata-katamu itu," sahut Susi mendaratkan cubitan gemasnya pada hidung mancung Rapika.
"Ish kau ni Kak!"
"Aku kan sales-girl, kau lupa?"
Mereka berdua pun tertawa.
Mulai hari itu Susi merawat dirinya, mengatur pola makannya, merawat tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Toh, ia bekerja untuk diri sendiri bukan. Maka ia akan memanjakan dirinya setelah lelah bekerja. Membersihkan noda bintik-bintik hitam dan jerawat di wajah cantiknya itu.
"Hai anak baru!"
"Baru kerja beberapa bulan sudah kinclong aja."
"Dapet duit darimana?" cecar seorang wanita senior di kelompok sebelah.
"Saya rasa ini bukan urusan Anda,"
" Lagipula, Anda tidak lupa kan kalau saya bekerja di sini dapet gaji juga komisi,"
__ADS_1
"Permisi!" Susi pun berlalu meninggalkan wanita itu keki sendirian.
"Songong ya tuh anak," bisik wanita satunya lagi yang sejak tadi ikut memperhatikan.
"Sok kecakepan emang!"
"Mentang-mentang selamet gak jadi di tendang," gerutu nya kesal.
"Enak mah lu kerjain aja," bisik kawan wanita sirik itu.
"Liat aja entar!"
" Siska di lawan!" sinis nya, tersenyum miring.
******
Pesanan bulan ini membludak dari kelompok Susi. Tak salah menjadikannya leader dalam team. Caranya presentasi dan penyampaian sangat menarik.
Dengan pembawaannya yang cantik dan anggun, Susi berhasil mengembalikan kepercayaan Kepala Supervisor.
"Selamat atas prestasi kelompok mu bulan ini. Komisi untuk kalian akan cair pertengahan bulan depan. Ternyata, kepala cabang tak salah telah mempertahankan mu," puji Kepala pengawas dengan senyum penuh arti.
"Pertahankan!" katanya lagi sambil menepuk pelan bahu Susi.
Susi pun segera menyingkirkan, tangan pemimpinnya itu secara halus.
"Terima kasih, Pak Harpic. Atas kepercayaannya," ucap Susi sopan. Meski ia mulai risih dari cara memandang pria tua itu.
"Kau semakin kesini, semakin cantik." Mendekat perlahan maju.
"Em. Terima Kasih Pak. Bila tak ada yang di bicarakan lagi, saya pamit." Mundur alon-alon.
"Ah ya, baiklah. Silakan." titahnya dengan tak sekalipun melepas tatapannya dari Susi.
Mata elangnya menatap tajam, bagaikan melihat seekor kelinci lemah.
Di manapun itu, fans dan haters pasti ada bukan?
Susi tak memikirkan orang-orang yang membencinya, ia tak memaksa semua orang harus menyukainya.
Yang ia pikirkan saat ini, adalah bekerja sebaik-baiknya. Dan menciptakan prestasi sebanyak-banyaknya, agar Tuan Arjuna tidak menyesal telah memberi nya kesempatan ini.
****
"Basecamp 17 meningkat di bulan ini Tuan,"
"Pendapatan mereka naik signifikan,"
"Banyak klien dan customer yang memuji kinerjanya," jelas Asisten Joy Kinder.( Jangan di balik ya manggilnya🙃)
"Hemm...."
"Penampilannya juga sudah terdapat perubahan, Tuan,"
" Hemm...."
( Ini orang keselek apa sariwawan, dari tadi respon nya ngeselin.) batin Joy.
"Kau sudah bosan jadi asisten ku Joy?" Arjuna bicara tanpa menatap. Datar, aura dingin
"Ma-maksud Tuan?" Joy kaget, dengan wajah tiba-tiba memutih.
" Membicarakan atasanmu. Apa kau siap jadi pembersih toilet." Menatap Joy dengan tatapan tajam menghunus.
"Tidak Tuan!" Tanpa sadar berteriak, setelah sadar segera menyumpal mulutnya dengan kertas.
__ADS_1
"Apa lidah mu juga mau di potong!" Aura sadis dengan tatapan mata setajam elang mengancam kelinci kecil.
Ngiikkk...( bunyi nyali Joy)
Joy hanya menggelengkan kepala nya dengan cepat. Mulutnya rapat, nampak sekali aura bawahan yang tak berdaya.
"Apa itu kertas laporan keuangan?" Menatap kertas di mulut Joy.
Mata Joy mendelik ketika ia sadar apa yang sudah dilakukannya.
(Mati aku! Mamaaa....!)
"Kau memang pantas berkawan dengan kamper toilet." Arjuna membuang wajahnya menatap laptop kembali.
Joy melepeh kertas di mulutnya lalu merutuki nasibnya dalam hati, kenapa dirinya bisa seceroboh itu.
"Aku kaki tangan mu yang setia Tuan. Percayalah,"
"Aku tidak akan cocok berteman dengan Bi Sol dan Mi Pol," Mencoba merajuk meski kehadirannya tak terlihat.
(Tuan ku yang tampan dan baik hati. Jangan hukum Joy yang imut ini.)
"Kalau mau memuji, katakan saja." Arjuna masih menatap laptop. Namun, kata-kata nya tertuju pada pria tinggi dan tampan di sampingnya.
"Tuan, saya tau Anda pria yang baik. Mohon cabutlah hukuman untuk saya," ucap Joy menundukkan kepala.
(Diam jangan memikirkan apapun, tuan bisa membaca pikiranku)
Arjuna tersenyum tipis.
(Joy yang imut? Haaah..., kenapa ia harus bersama anak mami sepertinya. Menyusahkan.)
"Pantau dia terus. Jauhkan dari karyawan yang memiliki pikiran kotor," titah Arjuna tegas.
"Baik,Tuan." Menunduk dalam.
"Tidak perlu memujaku! Aku bukan Tuhan!" Memekik sambil melirik tajam lewat ekor mata.
"Siap, Tuan." Berdiri tegak macam anggota militer.
*****
"Terimakasih, semoga kalian tertarik dengan produk kami." Susi mengakhiri presentasinya. Menunduk kemudian tersenyum elegan.
Tepuk tangan dari klien menggema, kemudian mereka berjabat tangan.
"Kami sangat tertarik dengan produk perusahaan ARSA. Kami akan menghubungi kantormu, segera." Klien tersenyum puas, menjabat tangan erat.
" Terima kasih, Pak." Menyambut uluran tangan, Susi tersenyum sopan.
" Boleh minta nomer telepon Anda?" Berbisik, dengan memajukan tubuh.
Susi berusaha melepaskan jabatan tangan mereka.
"Silakan hubungi kantor kami, Pak." Menunduk lagi tanpa senyum kali ini.
"Ah, ya. Tentu."
"Terima kasih atas keprofesionalan Anda." Mundur cantik kemudian keluar dari resto tersebut.
Susi pun menyeret dua kawannya agar cepat keluar dari sana.
" Kakak keren!"
"Mantab kali!"
__ADS_1
Bersambung>>>>