
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Rich, aku tidak akan bangkrut kan. Jika hanya kehilangan puluhan milyar. Sahamnya ku sedang baik-baik saja, iya kan?" Seno meracau, di tengah efek minuman beralkohol itu.
Rich, terpaksa membelikan tuannya minuman. Karena ia tak tau lagi bagaimana menghadapi tuannya yang mengamuk tadi.
" Maaf, Tuan. Saya harus memberitahu anda sekarang juga. Bahwa, kecelakaan nona Jelita, mengungkap skandal yang dilakukannya terakhir kali. Entah siapa yang menyebar rekaman CCTV itu.
Prangg!
"Sudah mati pun, masih menyusahkan!" Seno melempar apa saja yang ada di hadapannya. Pria itu sudah di buat kalut seketika oleh mendiang istrinya.
"Seharusnya, aku yang menghancurkan hidupnya. Membuatnya mati perlahan-lahan dengan menjadi gelandangan." Oceh Seno, sambil kembali menenggak minuman itu langsung dari botolnya.
" Tapi, kau lihat Rich? Dia lebih dulu menghancurkan ku. Bahkan, sampai dirinya jadi abu pun masih terus menyusahkan ku." Seno memberi remasan keras pada kepalanya, dan juga terlihat beberapa kali membenturkannya pada meja kerja. Hingga pria itu terhuyung kebelakang, lalu jatuh duduk di sofa kerjanya.
Frustasi? Tentu saja?
Marah? Bukan lagi?
Tapi pada siapa harus ia limpahkan emosinya. Bahkan yang telah melakukan semua itu padanya kini sudah menjadi arang.
๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ ๐๐ณ๐ข๐ฅ๐ช๐ฑ๐ต๐ข ๐๐ฆ๐ด๐ช๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ช. ๐๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ด๐ฐ๐ต ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ ๐ฏ๐ฐ๐ฏ๐ข ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ต๐ข. ๐๐ข๐ต๐ถ ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฏ๐ข'๐ข๐ด ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐จ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐ด๐ข๐ณ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข.
Rich, ikut menenggak minuman dalam botol hingga tandas, sambil menatap nanar ke arah Seno. Bagaimanapun, ia cukup lama mendampingi bosnya itu.
Sebelum kembali pada Jelita, Seno adalah pekerja keras dan ambisius dalam mengejar sesuatu. Entah, bujuk rayu apa yang di lancarkan wanita salome itu. Hingga mampu merubah tabiat seorang Seno Pradipta.
_
_
_
Bruagh!
"Astaga, Tuan!" pekik Rich. Sambil kembali memapah Seno, yang sudah tak mampu berdiri di atas kedua kakinya. Hingga tubuh gagah itu tersungkur mencium keset bertuliskan ๐ธ๐ฆ๐ญ๐ค๐ฐ๐ฎ๐ฆ.
"Ck, mana orang di rumah ini? Kenapa lama sekali membuka pintu?" Rich berdecak kesal. Kepalanya juga pusing akibat menemani bosnya ini minum sampai mabuk.
Klek!
__ADS_1
"Kalian!" Easy memekik sambil menatap dengan tajam. Matanya menelisik, serta indera penciumannya membaui.
"Dia mabuk?" tanya wanita paruh baya itu, dengan mata melotot.
"Iya, Nyonya. Tuan, mengamuk tadi." Rich menjelaskan sembari melirik takut pada Easy.
"Dasar lemah!"
"Bawa dia kedalam, langsung ke kamarnya saja." Setelah memberi perintah, Easy kembali melangkah masuk kedalam rumah.
๐๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ.
Rich membawa raga Seno, ke atas kasurnya. Ketika ia hendak melangkah pamit, Easy memanggilnya.
"Ikut aku."
Dengan berat hati, Rich mengikuti langkah dari Easy. Seketika kakinya berhenti, ketika Easy membawanya masuk ke depan kamar tamu.
"Kenapa, Nyonya membawa saya kesini? Lagipula, lebih baik saya pulang saja," tolak Rich, hendak berbalik.
"Tunggu, ada yang ingin ku bicarakan. Tapi, sebaiknya kau istirahatlah dulu malam ini." Setengah memaksa, Easy menawarkan agar Rich menginap.
"Tidak perlu, Nyonya. Saya tidak biasa tidur di atas tempat tidur asing." Lagi, Rich berusaha menolak jebakan betmen dari Easy.
"Aman, Nyonya. Saya lebih kuat dari tuan Seno, soal minum." Rich, berusaha bersikap biasa. Padahal ia tengah mati-matian menahan merinding di sekujur tubuhnya.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ด ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช.
Rich menatap sinis bekas sentuhan tangan dari Easy.
"Aku hanya berusaha baik pada bawahan putraku. Jadi, jangan berpikir macam-macam!" ketus, Easy. Setelahnya ia membuang muka dan berlalu dari hadapan asisten berwajah Asia itu.
๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐ด๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ฐ๐ฏ๐จ, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ฃ๐ถ๐ฌ ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ถ.
Easy yang hendak menaiki tangga menoleh sebentar kearah kamar sang putra.
๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฃ๐ถ๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ช ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ด๐ช ๐ช๐ฃ๐ญ๐ช๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ช๐ฏ๐ข?
________
"Sungguh beruntung, kita menarik saham lebih awal." Arjuna menarik sudut bibirnya keatas. Pria berwajah kebarat-baratan itu, menautkan kedua jarinya di bawah dagu.
__ADS_1
"Benar, Tuan. Ternyata, perusahaan Pradipta hancur karena sebuah skandal." Joy menanggapi pernyataan bosnya itu dengan senyum sinis.
"Lalu, bagaimana dengan rencana eksekusi perusahaan Bai Goon? Tuan?" tanya Better, memang mereka tengah rapat tertutup bertiga. Sebenarnya berempat, hanya saja satu anggota lagi duduk agak berjauhan dari mereka.
๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ? ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฐ๐ด๐ข๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ฅ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ฐ๐ง๐ข ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ญ. ๐๐ฉ, ๐บ๐ข! ๐๐ป๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฐ๐ฑ๐ช ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ-๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฆ ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ.
Susi pun melangkah dengan anggun kearah tiga pria menawan itu. Akan tetapi, senyum manisnya hanya tertuju pada pria yang telah menjadi suaminya sekarang. Sementara, dua pria lainnya hanya bisa menelan ludah.
Bagaimana tidak, ๐ญ๐ฐ๐ฐ๐ฌ Susi benar-benar ๐ง๐ญ๐ข๐ธ๐ญ๐ฆ๐ด dan ๐จ๐ญ๐ฐ๐ธ๐ช๐ฏ๐จ. Membuat semua mata tertuju padanya.
"Aku ke pantry sebentar, membuat kan kopi untuk kalian," pamit Susi pada semuanya, terutama pada pria gagah yang terus menerus memandangnya.
"Sebentar saja, hanya membuat minuman." Susi mengelus lembut bahu Arjuna. Karena kini ia berada di samping CEO ARSA tersebut.
"Baiklah, hanya ke pantry tidak ke kantin atau kemanapun." Arjuna berpesan, sembari mengelus tangan Susi yang ada di punggungnya.
Glek.
๐๐ฐ๐ฌ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ต๐ข๐ถ? ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ช ๐ค๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ, ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ณ-๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ.
"Baiklah, aku janji ... tidak akan membuatmu khawatir." Susi pun tersenyum manis, yang kemudian dibalas hal serupa oleh Arjuna.
Joy dan Better memalingkan wajahnya melihat adegan di hadapannya. Kemesraan yang membuat mereka serasa bagaikan pajangan di toko, terletak di depan tapi tak dianggap.
"Kalian, mau ku buatkan kopi juga?" tanya Susi yang membuat kelagapan keduanya.
"AโItu, mau. Iya mau," jawab Better kikuk. Entah kenapa dirinya menjadi semakin grogi. Apalagi ketika bosnya itu memasang wajah seperti singa yang hendak mengaum.
"Kau, Joy?" tanya Susi beralih pada pria maskulin, yang melirik takut-takut padanya.
"Jika tidak merepotkan, boleh saja." Joy menjawab pertanyaan Susi tanpa menoleh. Justru ia malah melirik kearah Arjuna, yang mana pria itu tengah memasang wajah besinya.
๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช, ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ. ๐๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข.( ๐๐ฐ๐บ)
๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ข๐ธ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ฑ๐ช. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ฆ๐จ๐ข๐ฏ๐จ?( ๐๐ฆ๐ต๐ต๐ฆ๐ณ)
๐๐ฅ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ข๐ต๐ถ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข?( ๐๐ถ๐ด๐ช)
๐พItu duo asisten sakti mandraguna kenapa ya gais?๐คฃ
See u next chap๐
__ADS_1
Bersambung>>>