
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Engh!" pekik Milo.
"Mery sayang, kenapa kau menendang ku!" protes Milo sambil melindungi pusaka nya. Karena takut terkena tendangan nyasar dari kemarahan Mery yang membabi buta.
"Sayang, sayang, kepalamu!"
"Beraninya kau! Dimana Boy kekasihku!" teriak Merybelle sambil terus memukuli Milo dengan tangan langsingnya. Bahkan ia terlupa, bahwa kini dirinya masih polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di badan.
Alhasil.
GREP.
Raga telanjang Merybelle jatuh menimpa perut serta dada Milo yang bagaikan cetakan batako itu. Ia meronta sekuat tenaga karena dirinya sangatlah jijik. Baginya, setampan apapun Milo. Pria itu tetaplah seorang kacung atau pesuruh yang levelnya sungguh jauh di bawah dirinya.
"Kenapa kau marah? Bukankah kita saling menikmati semalam." ucap Milo tanpa tedeng aling-aling.
" Semua karena ulah bodohmu. Seharusnya aku bersenang-senang dengan Boy. Bukannya malah kau! Kacung sialan!" hardik Mery sangat marah. Ia meronta meskipun Milo memeluk tubuhnya erat.
" Siapa yang bilang bodoh! Apa pria ini yang kau maksud hah!" Milo dengan cepat membalik tubuh Mery. Hingga wanita sombong itu berada di bawah kuasanya lagi.
"Lepaskan aku brengseekk!" pekik Mery yang tak terima atas sikap dan perlakuan Milo padanya. Semua rencana yang di susunnya pupus sudah. Karena ia salah mencari partner dalam kejahatannya.
"Seenaknya kau meneriaki ku. Bagaimanapun, aku telah membuat mu menggeliat keenakan semalam!" sarkas Milo, tubuh kekarnya semakin menghimpit raga molek Mery yang tanpa busana. Hingga Milo kembali menelan ludahnya melihat betapa menggodanya setiap sudut bentuk tubuh Mery.
"Diam kau, dasar gila!"
"Sepertinya aku harus mengulangnya lagi agar kau ingat." Sebelum Mery menyetujuinya, Milo sudah kembali mengarahkan senjatanya yang telah tegak menantang ke gua pribadi milik Mery.
"Jangan macam-macam, akh!"
"Kau ...!" Mery membulatkan matanya ketika sarangnya kembali dihujam oleh senjata laras panjang milik Milo.
"Aku, tidak akan melepaskan mu! Lihat saja, aku akan menghabisi mu, emph!" Milo membungkam bibir Mery dengan ciumannya yang kasar dan penuh napsu.
Beberapa saat kemudian amukan Mery berubah menjadi sebuah desah dan racau penuh gelora. Keduanya kembali mengulang penyatuan panas mereka. Tanpa mereka sadari, ada akibat yang tengah menanti keduanya setelah ini.
_______
"Menjauhlah dariku!" Mery menghempas tangan Milo yang setia merangkul pinggangnya. Laki-laki muda ini begitu kuat. Tenaganya macam kuda, tak ada lelahnya sedikitpun.
__ADS_1
๐๐ช๐ข๐ญ!
๐๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ค๐ฐ๐ฑ๐ฐ๐ต ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ด๐ช ๐ฃ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ช ๐ฅ๐ฐ๐ฌ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช.
Mery segera membersihkan dirinya ke kamar mandi. Meskipun ia harus berjalan dengan terseok-seok. Karena pinggangnya yang linu serta selangkangannya yang terasa begitu kebas.
"Lihat saja pembalasanku nanti, kacung sialan! Ck, kenapa nasibku sungguh apes!" rutuk Mery yang menatap pantulan tubuhnya di cermin kamar mandi hotel tersebut. Seraya menutupi jejak gigitan Milo dengan Foundation dan powder.
"Ugh." Milo merenggangkan otot tubuhnya. Kemudian ia tersenyum puas mengingat kejadian semalam hingga siang tadi.
"Ahh, puas sekali aku ini. Meski aku tak tau akan seperti apa nasibku setelah ini. Huh!" Milo memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
"Aku masih hidup hingga saat ini, pasti ada apa-apanya. Bos pasti telah memiliki rencana yang besar setelah ini. Mati saja kau Milo! Bodohnya dirimu yang dengan mudahnya terpikat body gitar Spanyol senorita sombong itu." Milo mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia segera turun dari kasur. Membersihkan dirinya dengan cepat lalu segera mencari tiket pulang menggunakan pesawat.
"Ah, ditinggal Bos jadinya beli tiket menggunakan uang sendiri." Milo menggerutu ketika tau betapa mahalnya harga tiket pesawat dadakan.
_______
"๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ, Ninis disini!" Terlihat Vanish setengah berlari menghampiri suami gantengnya itu.
"Sayang," lirih Better yang kini telah meraup tubuh mungil itu ke dalam pelukannya dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu. Luar biasa sekali perjuanganku jauh darimu selama hampir lima hari." Better terus mengoceh dan mengadukan perasaannya. Seperti seorang anak kecil yang tengah bercerita dengan ibunya sendiri.
"Ninis juga. Sangat merindukan ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ. Rindu di peluk saat tidur, makan bareng saat sarapan. Jadi, Emak deh yang jadi sasaran buat gantiin peran kamu." Vanish pun tak kalah untuk bercerita juga panjang lebar. Better menggendong istrinya itu di depan. Lalu membawanya duduk ke atas meja makan.
"Ish, kata emak gak boleh duduk di atas meja."
"Emang kenapa?"
"Nanti banyak hutang! Juga pantatnya bisulan!" Setelah mengatakannya Vanish terkekeh sendiri.
"Kamu tuh ya, selalu ada aja banyolannya. Ini yang membuat mu berbeda dengan wanita di luar sana. Membuatku selalu merindukan senyum dan tawa renyahmu ini." Better menyentuh ujung hidung mancung Vanish dengan ujung jari telunjuknya. Kemudian ia mengelus pipi dan rahang istrinya yang semakin bulat itu dengan ibu jarinya.
"Aku mencintaimu ๐๐ฐ๐บ, lebih dari apapun di dunia ini. Tak ada wanita manapun yang mampu menggantikan tempatmu di hatiku. Mau dia dari masa lalu ataupun masa depan.
"Terima kasih ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ. Atas keseluruhan cinta yang di berikan untuk Ninis," ucap Vanish seraya mengalungkan lengannya di leher suaminya. Ia mengambil inisiatif dengan memajukan wajahnya. Better tak tinggal diam, pria tampan itu menyambut niat baik sang istri dengan lebih dulu menyambar bibir merah muda Vanish.
__ADS_1
Mereka pun melepas kerinduan dengan berciuman mesra. Sebelum Better bertindak lebih jauh, Vanish mendorong pelan dada suaminya itu. Hingga mau tak mau ciuman panas mereka pun terlepas.
"Emh, ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ. Ada yang mau Ninis sampaikan sebenernya," ucap Vanish dengan senyum penuh binar kebahagiaan.
"Hemm ." Better menyahut pendek dengan seulas senyum di wajahnya. Matanya tak lepas menatap wajah cantik natural istri mungilnya itu.
"Kemarin malam, Ninis sama emak ada periksa ke dokter kandungan," jelas Ninis sambil memandangi raut wajah suaminya itu.
"Ke dokter kandungan?" Better mengerutkan keningnya.
Vanish pun memasukkan sebelah tangan ke kantung celana kodoknya. Ia mengeluarkan sesuatu. Tapi belum sempat di serahkan ke Better, ponsel suaminya itu sudah lebih dulu berdering dengan kencang.
"Maaf sayang." Better mengkode dengan tangannya agar Vanish menunda laporannya sesaat lagi. Karena kali ini ia mendapat panggilan penting dari Arjuna.
"Halo tuan ...."
...."
"Baiklah. Saya akan segera melakukan pertemuan dengan dewan direksi malam ini juga."
"Sayang, aku janji akan segera kembali. Aku masih ingin mendengar ceritamu. Ini menyangkut ...,"
"Selesaikanlah. Ninis tidak akan kemana-mana. Kita berdua masih punya banyak waktu," ucap Vanish dengan segala pengertiannya. Ia mengangguk sebagai ijin untuk Better.
"Aku tidak akan lama ๐๐ฐ๐บ."
๐๐๐!
Better melabuhkan kecupan singkat di kening istrinya. Tapi Vanish menahan tangannya, lalu ia berjinjit kemudian memberi ciuman hangatnya pada Better. Meskipun sekilas, itu sudah lebih dari cukup bahkan mampu menghadirkan kepak dari ribuan sayap kupu-kupu di hatinya.
_______
"Kau keterlaluan Boy! Kenapa kau mengirim vidio itu kepada papi!" Merybelle meremas batang pohon seraya memantau pergerakan dari incarannya itu. Ia baru saja sampai dengan pesawat bisnis. Akan tetapi sang papi sudah menghubunginya lewat telepon seluler ketika ia berada dalam taksi. Jadilah ia menyuruh orang untuk mencari tau alamat Better, CEO dari perusahaan ChoCho Inc.
"Kau telah membuatku kehilangan semuanya. Papi telah membuang ku. Bahkan, mengeluarkanku dari perusahaan. Aku akan membuatmu mendapatkan hal yang setimpal dengan penderitaan ku." Merybelle terus bergumam dengan senyum sinis yang terukir di wajahnya.
Better telah berlalu dari apartemen dengan mobil Ferrari biru metalik miliknya. Di seberang, Mery menatap bangunan itu dengan penuh dendam. Matanya nyalang kelantai atas, dimana kediaman Better bersama dengan istri tercintanya.
"Seandainya kau mau menerima ku secara baik-baik. Maka aku tidak akan menggunakan cara curang seperti itu. Ternyata kau benar-benar semakin hebat Boy. Kau dapat mengendus rencana yang telah ku susun dengan apik." Mery bergumam pelan, sambil sesekali memukul pelan pada batang pohon tempatnya bersembunyi.
Bersambung>>>>
__ADS_1