Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Steak Rasa Bibir.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


🍁🍁🍁🍁🍁


"Aku mau makan steak," ucap Arjuna pada wanita di sampingnya. Meskipun sejak tadi, wajah yang di tekuk itu terus melihat keluar jendela mobil.


Melihat beberapa pengamen kecil yang kumal dan kusam ketika mobil mereka berhenti di lampu merah.


Anehnya, Susi selalu mengabaikan mereka yang bahkan dengan sengaja mengetuk kaca jendela mobil.Steak


"Hei, buka saja jendelanya dan berikan uang kecil agar mereka pergi!" titah Arjuna pada Susi. Akan tetapi, jangankan menjawab melirik pun tidak.


Sampai lampu berubah hijau dan mobil mereka kembali melaju lancar.


"Kau! Sedari tadi aku mengajakmu bicara." gemas Arjuna membekap tubuh Susi dari belakang.


"Kau tidak tau ya, kalau aku sedang malas bicara dengan mu!" ketus Susi dengan dada yang naik turun menahan kesal.


"Jadi, kau ini sedang merajuk rupanya ...," goda Arjuna membuat Susi mendengus dan meronta.


"Aku sudah tau siapa dalang yang membayar para preman itu," bisik Arjuna, membuat Susi menengok seketika.


Dikarenakan posisi bibir Arjuna masih di samping wajahnya, ketika Susi menengok dengan cepat maka ...


Kalian taulah apa yang terjadi 😚


Tabrakan benda kenyal kah torr?!πŸ€”πŸ˜±


Babang selalu modus.😏


"Ishh. Tangan mu ini ...," protes Arjuna yang tengah menahan serangan jari kepitingnya Susi.


"Makanya jangan nakal kenapa!" sebal Susi sepertinya sudah sampai ke ubun-ubun.


Sudah berapa kali pria ini berhasil mengambil keuntungan darinya.


"Kau mau tau tidak?" tanya Arjuna yang kini telah menegakkan tubuhnya kembali.

__ADS_1


"Katakan!" titah Susi bersidekap, dengan pandangan yang mencoba menekan pria di hadapannya.


"Aku akan mengatakannya setelah kau memasak steak untukku." Arjuna berkata sambil mengedipkan satu matanya.


(Hei! Sejak kapan dia menjadi genit begini?)


Akhirnya mereka berbelok ke swalayan, demi berburu bahan-bahan untuk membuat menu makan siang permintaan sang pria arogan. Yang mana menjadi keinginannya haruslah terpenuhi tanpa tolakan.


Sesampainya di rumah Arjuna segara merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sedangkan Susi, wanita itu segera ke dapur, mengenakan celemek dan mencepol rambutnya ke atas dengan asal.


Dia mulai mencuci daging dan bahan-bahan lainnya.


Arjuna menghampiri ke dapur, menyaksikan bagaimana Susi, si janda muda yang mampu mengubah pandangannya. Mengikis sedikit demi sedikit rasa trauma dalam dirinya, akan cinta dan sebuah komitmen.


Melihat bagaimana tubuh itu dengan lincah dan energik. Begitu nampak profesional bagai seorang chef sungguhan.


Susi yang nampak dari belakang begitu menggoda naluri lelakinya. Leher jenjang yang mulus serta gerakannya yang sebentar menunduk sebentar bertolak pinggang. Membuat dirinya tanpa sadar semakin maju mendekat.


GREP


"Akh!" Susi sedikit terperanjat, ketika dirinya merasakan ada sepasang tangan yang melingkar di pinggulnya.


" Aku ingin menemanimu memasak, ingin tau kenapa kau bisa membuat steak seenak itu." dalih Arjuna.


Bisa ae kau Bang!


Modus aja terus!


Ck! Sirik aja sih kalian!( Arjuna😏)


Susi selesai memanggang steak, kini ia mulai menatanya di hot plate.


"Menyingkir lah sedikit ini panas kau tau." cetus Susi yang merasa risih dan proses memasaknya jadi semakin ribet.


" Apa itu, yang berwarna coklat?" Arjuna menunjuk sebuah teflon di atas kompor.


"Ini kan sausnya ... nih, coba." Susi mengoleskan saus hangat itu ke hidung mancung Arjuna.

__ADS_1


" Hei. Kau!" pekik Arjuna, dia yang sebenarnya adalah pria resik yang tak suka kotor. Mendapatkan saus di hidungnya tentu dirinya takkan terima begitu saja.


Maka, Arjuna pun segera melakukan aksi pembalasan.


"Akh ..., wajah ku ...," Susi merengek ketika Arjuna juga mengoleskan saus pada wajahnya.


"Kau! Membuat skincare ku rusak ... rasakan ini!"


Yaah ... pada akhirnya terjadilah perang saus di siang hari.


Mereka berdua pun saling menertawakan.


" Bagaimana dengan steak nya?" Arjuna mengelap pipi dan hidungnya menggunakan tisue.


Dia pun melakukan hal yang sama pada wajah Susi.


" Untung saja aku membuat sausnya banyak." decak Susi.


Senyumnya terbit karena sikap Arjuna begitu manis.


"Tinggal saus yang di hidung mu," ucap Arjuna mendekatkan wajahnya.


"I-iya, kenapa?" Susi merasa gugup dan terancam.


"Aku akan membersihkannya ..."


"Kyaa ... emph!"


Terjadilah yang ada dalam niatan Arjuna si tukang modus.


Membersihkan saus membandel menggunakan bibir.


Gak jadi makan steak nih, Bang?"


Gak jadi tor, enakan ginian ....


πŸ™ƒπŸ™ƒ

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2