
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Jadi ya menginap di sini? Daripada hanya Joy yang menemanimu di sana. Mami takutnya dia khilaf," bisik Lovely di akhir kalimatnya. Joy yang sedang main game hanya melirik sekilas, lalu menggeleng. Melihat kelakuan sang mami yang sejak tadi terus mendoktrin Milna.
"Kau tidak perlu menjelek-jelekkan aku Mam. Dia sudah hafal seberapa jeleknya diriku," cebik Joy. Lama-lama gemas juga. Maminya sangat pro kepada calon menantunya itu. Membuat dirinya semakin merasa sebagai antagonisnya.
"Kau sudah cukup jelek memang! Karena itu Mami tidak perlu lagi menambah daftar kejelekanmu. Bisa-bisa kedua cucu ku nanti mencari ayah baru!" sarkas Lovely pada Joy. Semoga ini terakhir kalinya anak itu membuat dirinya malu dan menyesal bila telah melahirkannya.
Terlahir dari keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Entah kenapa Joy bisa memiliki kebiasaan yang membuatnya malu di depan keluarga besar. Karenanya, Love akan menunjuk kehadiran Milna pada seluruh keluarganya.
Setidaknya ada yang ia banggakan dari seorang Joy Kinder, putranya.
"Iya Kak. Jadi ya. Kan mau masak spaghetti bareng buat makan malam! Ya, ya, ya ... jadi ya," pinta Lia. Sambil memasang wajah imut dengan puppy eyes nya.
"Baiklah. Tapi Kakak pulang dulu ya mau ambil baju ganti," ucap Milna, yang kemudian di tanggapi dengan gelengan oleh Lovely.
"Tidak usah, kau pasti kelelahan jika harus bolak-balik. Beli lewat online saja." Kemudian Love mengeluarkan ponselnya untuk membuka aplikasi dan situs belanja online.
"Kita pilih yang pesanan express saja biar di antarnya sore," kata Lovely. Jemari lentiknya langsung berselancar di situs belanja online tersebut.
"Nih, salah satu butik yang bagus di sekitar sini. Ini ada kontaknya, biar Mami hubungi ya." Lovely begitu antusias, membuat Milna tak putus-putus mencetak senyum di wajahnya.
"Mam aku mau juga ya!" seru Lia. Matanya langsung berbinar melihat pajangan beberapa kaus wanita di media sosial pemilik butik.
Sorenya, datanglah apa sudah di pesan oleh mami Love. Sekitar setengah lusin dress, berikut ๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ธ๐ข๐ณ๐ฆ. Tak luput juga pesanan beberapa barang milik Lia. Bahkan ada satu dress yang kembar tiga.
Membuat Joy tersenyum senang menguar rasa bahagia di hatinya yang menghangat. Seakan tak sabar untuk segera menghalalkan hubungannya dengan Milna. Lalu memboyong wanita itu ke negara asal maminya.
"Kita pakai ini besok ya, pas jalan-jalan ke pantai!" seru Lovely. Sambil menenteng dress kembar dengan tiga warna berbeda tapi bermotif sama.
"Mami ingin ke pantai? Pantai mana?" tanya Milna. Rasa canggung itu perlahan hilang, karena sikap Lovely dan Lia yang sangat humble dan bersahabat.
"Terserah Joy, pokoknya pantai yang enak, gak banyak pengunjungnya. Sekitaran sini aja, gak perlu jauh-jauh," pinta Lovely.
__ADS_1
"Area pinggir kota ada Mam, tapi gersang," kata Milna. Senyum sejak tadi tak lepas. Ia tengah mengagumi pakaian yang baru saja di belikan untuknya.
"Benarkah?" ucap Lovely kecewa.
"Aku ajak ke dermaga saja bagaimana? Atau muara tempat nelayan mencari dan menjual hasil tangkapannya. Kita juga bisa berburu aneka kuliner hasil olahan laut. Menurutku lebih adventure dan asik," tawar Milna.
"Boleh banget!" pekik Lovely dan Lia berbarengan.
"Mam, apa nanti Milna tidak lelah. Lusa sudah fitting baju. Itu pertanda resepsi tinggal beberapa hari lagi. Milna juga sedang hamil muda apa kau lupa?" protes Joy. Berakibat mendapat kejudesan yang paripurna dari ketiga wanita beda generasi di hadapannya.
." Joy, asal kau tau. Wanita hamil juga butuh rekreasi agar tidak stress. Kau pikir dengan mengurung Milna di rumah itu lebih baik? Apa kau meragukan pengalaman dan pengetahuan Mami?" cecar Lovely dengan tatapan tajamnya ke arah Joy. Membuat pria itu tak dapat menyanggah lagi.
"Baiklah, Mam." Pasrah Joy. Ia melihat Milna tersenyum samar karena sang Mami berada di pihaknya.
๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข? ๐๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข, ๐ซ๐ถ๐ด๐ต๐ณ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฏ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ. Batin Joy, seraya bernapas lega. Menurutnya tak akan ada pertikaian antara menantu dan mertua. Karena sang mami seperti sudah bucin duluan dengan calon menantunya. Apalagi adik perempuannya, yang sedari tadi seakan tak bisa jauh dari Milna.
Bagaimana jika mereka tau keahlian Milna ya? Bahwa wanita itu pernah melubangi kepala seseorang dengan peluru, bahwa dia juga pernah menghabisi beberapa nyawa dengan sekali tebasan dari ๐ ๐๐ฉ๐๐ฃ๐. Bahkan, sudah beberapa orang mengalami cacat karena serangan tangan kosong. Pikirnya.
Ketika Joy tengah berbahagia dan sedikit tenang. Karena Milna telah menerimanya juga rela jika di boyong ke negara asalnya. Berbanding terbalik dengan yang tengah di rasakan Better. Pria berambut gondrong dan ikal itu, terlihat kalut dan khawatir.
Pasalnya, meski sudah tidak mengeluarkan darah. Vanish sering kali mengalami keram pada perutnya. Bahkan, ketika keram itu datang duduk pun Vanish tidak akan bisa. Suami mana yang kuat melihat wajah istrinya yang meringis hampir disepanjang waktu.
"Moy. Hari ini apa kau bisa aku tinggal ke kantor?" tanya Better seraya menyisir rambut Vanish yang masih sedikit lembab.
"He'em. Ninis baik-baik aja kok. Sugan kerja aja ya. Terus cepet-cepet buka lowongan buat gantiin aku," jelasnya seraya memandangi wajah tampan suaminya. Baginya setiap hari ketampanan Better naik satu tingkat. Apalagi ketika raut wajahnya sedang serius menyisir rambut panjangnya seperti ini.
" Aku gak perlu asisten, sekretaris saja sudah cukup," ucap Better.
"Kenapa?" Vanish mendongak, ujung kepalanya bertumpu pada dada bidang Better.
Cup!
Ciuman singkat mendarat di kening, ujung hidung dan juga bibir Vanish.
__ADS_1
"Karena dirimu tak tergantikan," jawab Better. Sehingga mencipta senyum lebar di wajah istri cantiknya itu.
Vanish berbalik kemudian menghambur kedalam pelukan suaminya. Menghirup dalam aroma tubuh Better sebelum pria itu berangkat kerja dan meninggalkannya di apartemen sendirian.
"Pergilah, Ninis baik-baik aja," ucap Vanish dengan senyum manisnya. Dimana senyum itu justru membuat Better semakin berat untuk meninggalkannya.
Cup!
"Kau ini, menyuruhku pergi tapi memasang senyum semanis ini," ucap Better setelah dirinya melepas lumataannya dari bibir mungil di hadapannya ini.
"Kan emang harus begitu, istri itu harus mengiringi kepergian suaminya dengan senyum, biar makin semangat kerjanya," jelas Vanish yang kemudian di tanggapi dengan kekehan kecil dari Better.
Istrinya ini selalu saja memiliki jawaban dari setiap argumennya.
"Tidak apa nih, di tinggal sendirian. Ya ampun aku malah gak tenang gini. Seandainya gak ada meeting penting dengan perusahaan POKKA, aku akan menemanimu, sayang." Better masih setia merangkul Vanish yang berada dalam dekapannya.
" Gapapa, Sugan sayang ...."
"Kerja sana nyari duit yang banyak ya buat dede bayi. Kan kita mau baby moon," ucap Vanish, dengan sinar mata yang berbinar.
" Baiklah, aku pergi sayang. Per-satu jam sekali aku akan menghubungimu," ujar Better, kemudian melabuhkan kecupan singkatnya di kening Vanish.
๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐จ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ณ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฐ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ฌ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ช๐ธ๐ข ๐ฌ๐ถ. ๐๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช. Batin Better, menguntai doa nan tulus dari hatinya. Ia berusaha abai akan perasaan tak enak yang sejak tadi menghantuinya.
________
"Baik-baik di dalam perut mimi ya. Jangan nakal, karena bibu sedang tidak ada di rumah. Sehat-sehat di sini, mimi ingin melihat wajahmu yang pasti sangat imut dan lucu. Ah ... mimi jadi kangen sama baby S." Gumam Vanish seorang diri sembari menyiapkan makan siangnya yang baru saja di antar oleh layanan go*food.
Tiba-tiba ia merasakan ada cairan hangat yang merembes diantara kedua kakinya.
"Astaga! Tidak!"
Bersambung>>>
__ADS_1