
π₯π₯π₯π₯π₯π₯
...Masih part uwwu nya Arjuna dan Susi ya gais....
...Jangan bosen ya ..π€...
...Selamat membaca ......
ππππ
Apa kau sedang mengujiku." ucap Arjuna dengan penekanan.
Mau tak mau Susi pun menuruti apa perintah Arjuna.
"Maju lagi, mana bisa berbisik sejauh ini." geram Arjuna pada Susi. Karena wanita ini hanya bergeser dua jengkal.
Susi dengan menahan malu dan rasa lain yang bergejolak di dadanya. Terpaksa merangsek maju sedikit lagi.
(Oh ... Dadaku ...)
"Apa perlu aku mencabut selang infus ini?" ancam Arjuna.
Gemas sekali melihat Susi macam remaja baru gede begini.
"Iya ... ini aku sudah dekat. Katakan apa janjiku dulu, karena aku lupa," ucap Susi menjauhkan wajahnya, karena dia tak mau Arjuna melihat wajahnya yang seperti tomat matang di pohon.
"Jangan pernah, sekalipun menangis lagi di hadapanku atau di belakangku ...,"
"Kau harus bahagia dan tertawa bila bersamaku ...," ucap Arjuna lirih, bibirnya berbicara begitu dekat dengan telinganya.
Embusan hangat dari napas Arjuna, membuat hatinya bedesir. Karena kini posisinya yang condong atau sedikit maju. Bibir Arjuna menempel di telinga Susi, lalu pria itu mengecupnya lembut.
Membuat sang empunya kaget.
"Ar!"
__ADS_1
"Selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan!" decak Susi, kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Kau itu harus peka sama orang yang lagi sakit. Masa aku harus bilang, kalau aku hanya butuh pelukan serta ciuman dari mu." Arjuna memalingkan wajahnya, demi menyembunyikan rona yang menyeruak dengan tak tau malunya.
"Ar, wa-wajahmu kenapa merah sekali?" tanya Susi kaget, sampai dia tanpa sadar telah menangkup wajah itu dengan kedua tangannya.
"Ini pasti tanda bahaya, aku benar-benar akan memanggil Dok- ,"
CUP!
Bibir sensual Arjuna mendarat dengan mulus ke bibir Susi. Kecupan ringan itu sukses menghentikan rencana Susi.
"Sekali lagi bilang panggil Dokter, aku benaran akan mencabut selang di tanganku ini." ancam Arjuna kesal.
"Kau aneh Ar."
"Kau telah membuatku khawatir, tapi kau melarang ku untuk menangis!" ucap Susi kesal.
"Aku ini cuma terluka sedikit, tidak perlu ada yang kau khawatirkan." ucap Arjuna datar.
"Lalu, apa mau mu?" Susi memindai wajah yang semakin hari semakin tampan menurutnya.
"Aku tidak pernah mengulang keinginanku," Arjuna kembali membuang wajahnya kesamping.
"Baiklah. Anggap saja ... ini sebagai ucapan terimakasih dan ungkapan perasaanku padamu." Susi menghela nafas, membuang rasa malu yang mengerubunginya.
"Terimakasih, karena sudah berkorban untukku ...." Susi menatap mata itu lekat, begitu pun sebaliknya.
Susi perlahan mengikis jarak diantara mereka, kedua tangannya berada di pipi Arjuna.
Susi semakin mendekatkan wajahnya, memiringkan nya sedikit. Hingga, hidung mancung mereka tidak perlu saling beradu.
CUP ...
Bibir Susi menyentuh bibir Arjuna lembut, mengecupnya sebentar lalu memberi sesapan perlahan.
__ADS_1
Arjuna memejamkan matanya menikmati pagutan lembut yang membawanya melayang ke langit level sepuluh.
Ingin sekali Arjuna merangkul tubuh Susi, tapi apalah daya, kedua tangannya tidak bisa digerakkan dengan bebas.
Jadi, dia membiarkan Susi menguasai dirinya.
Arjuna tidak pernah merasakan ini sebelumnya, gerakan bibir dan lidahnya sangat luar biasa. Membuat sesuatu terbangun dan bergerak-gerak hendak keluar dari sarangnya.
πππ
"Pak Joy, mereka masih belum mau bicara." lapor salah satu anak buah Joy yang bertugas mengurus penyerang bertopeng itu.
Yang ternyata, mereka adalah preman yang akan melakukan apa saja asalkan di bayar.
"Kali ini ... mereka pasti akan bicara."
"Buka celananya?" titah Joy pada anak buahnya.
Kemudian, Joy mengeluarkan ulat bulu dari sebuah toples.
Ulat yang di ketahui bisa membuat tubuhmu sangat gatal hingga kulitmu kemerahan. Bila sampai bulu-bulu mereka menempel di kulitmu.
ππππ
"Kenapa Mami begitu nekat!" Seno menggebrak meja di ruang tamu. Hingga kaca pelapis meja tersebut retak.
"Urusan Daia saja belum selesai, tapi Mami malah membuat ulah tanpa persetujuan dariku!" Seno menggeram, kedua tangannya meremas rambut frustasi.
"Mami sangat kesal dan benci wanita itu!"
"Siapa sangka kalau kejadiannya malah seperti ini." Easy, menjatuhkan tubuh nya dengan kasar di sofa.
"Bukan hanya Mami yang akan mendapat masalah besar, tapi juga aku dan perusahaan." Seno pun menyambar kunci mobilnya.
"Kau mau kemana? jangan tinggalkan Mami sendirian!" pekik Easy yang melihat anaknya telah melajukan kendaraan roda empatnya.
__ADS_1
Bersambung>>>