BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
AKAN SELALU MENEMANIMU


__ADS_3

Wahh.... benar-benar ajaib! Dalam hitungan detik kemarahan yang mulia Alvero langsung menghilang entah kemana karena kata-kata permaisuri Deanda. Yang Mulia benar-benar bisa berubah 180 derajat kalo berhadapan dengan permaisuri. Aku sungguh beruntung permaisuri seringkali membelaku, kalau tidak, aku pasti sudah babak belur dihajar oleh yang mulia Alvero.


Ernest berkata dalam hati sambil menggerakkan kepalanya ke samping dengan dahinya berkerut, mencoba berpikir keras, bagaimana Deanda yang selalu saja berhasil membuat mood Alvero berubah drastis. Entah berubah jelek karena sedang cemburu dengan laki-laki yang ada di sekitar Deanda, atau berubah baik karena keberadaan Deanda di dekatnya. Dan kata-kata Deanda selalu saja memiliki pengaruh begitu besar terhadap perubahan sikap, keputusan, maupun kondisi emosi Alvero.


"Ernest, sebaiknya kamu aturkan jalan agar aku bisa pergi ke kamar dengan segera. Di sini terlalu ramai orang." Alvero kembali memberikan perintah begitu merasakan kondisinya sudah pulih kembali seperti sedia kala.


Dan keberadaan banyak sosok wanita yang justru membuat kepalaku pusing. Apalagi jika nanti aku bertemu Desya. Hari ini sedetikpun aku tidak ingin melihat wajah itu.


Alvero melanjutkan perkataannya dalam hati sambil menggerakkan tubuhnya, menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi, bersiap untuk bangkit dari duduknya.


"Baik Yang Mulia. Akan segera saya aturkan." Ernest segera menjawab perintah Alvero sambil menyalakan earpiece di telinganya, memberi perintah kepada beberapa pengawal untuk segera menyusulnya sekarang agar saat Alvero berjalan ke kamarnya.


Dengan keberadaan para pengawal sebagai pagar betis di sekitarnya, membuat tubuh Alvero aman dari sentuhan tubuh para tamu yang mungkin tidak sengaja menyentuhnya, terutama para tamu undangan wanita.


Sejak awal, puluhan pengawal milik Alvero sengaja berjaga di dalam kapal pesiar dengan kondisi tersebar. Karena Alvero ingin menikmati pesta bersama Deanda seperti yang lainnya, dia sengaja memerintahkan kepada para pengawal agar tidak terlalu berkutat di sekitarnya. Namun, saat mereka dibutuhkan seperti saat ini, dengan sigap mereka akan segera bergerak.


"Apa Yang Mulia sudah merasa baik-baik saja? Sudah bisa berjalan sendiri?" Deanda yang masih dalam posisi duduk di samping Alvero bertanya sambil mengamati kulit Alvero yang memang sudah tidak menunjukkan lagi ruam-ruam berwarna merah di permukaan kulitnya.

__ADS_1


Baik nafas maupun wajah Alvero tampak terlihat sudah normal kembali. Bahkan untuk orang yang tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri saat serangan alergi menyerang Alvero, tidak akan percaya bahwa laki-laki tampan bertubuh atletis itu baru saja hampir tergeletak tidak berdaya di lantai geladak kapal beberapa waktu yang lalu. Terlihat begitu menderita dalam kondisi terlihat menyedihkan.


"Aku sudah sehat kembali sweety. Karena keberadaanmu di sampingku aku sudah pulih kembali. Jangan khawatir.... Tapi, aku tidak ingin mengikuti acara selanjutnya. Lebih baik aku beristirahat dan menenangkan diri di kamar." Alvero berkata sambil mengecup sekilas kening Deanda ynag masih duduk di sampingnya, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu, aku akan ikut bersamamu dan...." Deanda mengucapkan kata-katanya sambil bangkit dari duduknya.


"Eh, bukannya kamu ingin melihat pesta kembang api? Biar Abella menemanimu menikmati pesta kembang api. Ernest, panggilkan Abella untuk menemani permaisuri." Alvero langsung memotong perkataan Deanda yang langsung menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Pesta kembang api tidak harus hari ini dinikmati. Menjaga suamiku jauh lebih penting daripada melihat pesta kembang api." Deanda berkata sambil sedikit memajukan bibirnya dengan kedua matanya yang menyipit, membuatnya wajahnya terlihat manja, sehingga Alvero dengan cepat menggerakkan tangannya, mengacak lembut rambut di kepala Deanda.


# # # # # # # #


“Sudah malam, sebaiknya kamu cepat berganti pakaian dan istirahat untuk memulihkan kondisimu.” Deanda yang sudah berada di dalam kamar bersama Alvero berkata sambil mulai melepas jepit yang ada di rambutnya dan berjalan ke arah meja rias yang ada di kamar itu.


Kamar yang ditempati oleh Deanda dan Alvero sekarang ini merupakan salah satu dari 6 kamar paling mewah yang ada di lantai 15 kapal pesiar milik kerajaan. Alvero sengaja meminta kamar paling ujung, di bagian paling depan kapal karena Alvero tahu disana pemandangan dari jendela kamar akan terlihat paling bagus saat pagi besok. Dan Alvero ingin menunjukkan hal itu kepada Deanda.


“Aku mau mandi dahulu supaya segar, rasanya badanku lengket semua.” Alvero berkata sambil mulai melepaskan satu persatu kancing jasnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Alvero, Deanda langsung menghentikan kegiatannya dan berjalan ke arah Alvero.


“Sudah terlalu malam. Apa tidak lebih baik besok saja kamu membersihkan diri?” Pertanyaan Deanda sukses membuat Alvero membalikkan tubuhnya agar bisa menatap ke arah Deanda dan langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Deanda dengan cara mencondongkan tubuhnya sambil tersenyum dengan wajah menggoda.


“Kenapa? Takut aku jatuh sakit karena mandi di malam hari? Sehingga kamu tidak mendapatkan sesuatu dariku malam ini?” Alvero berkata sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Deanda yang mengerti betul apa yang dimaksudkan oleh Alvero, wajahnya langsung memerah dengan kedua mata ambernya terbeliak kaget karena tidak menyangka di saat seperti ini bahkan sempat-sempatnya Alvero memikirkan tentang hal seperti itu. Padahal tadi, karena begitu mengkhawatirkan kondisi Alvero, Deanda merasakan bagaimana jantungnya hampir meledak dengan kedua tangannya yang bergetar berusaha menenangkan Alvero, sedangkan dia sendiri butuh ditenangkan melihat kondisi Alvero saat terserang alergi.


Hah? Yang benar saja. Baru beberapa menit lalu kondisi yang mulia benar-benar mengkhawatirkan dan sekarang sudah berpikir untuk melakukan hal seperti itu seolah tenaganya sudah kembali seratus persen di tubuhnya.


Deanda berkata dalam hati disertai tarikan nafas cukup panjang dari hidung mancungnya. Perasaan heran sekaligus geli karena kata-kata Alvero membuat Deanda harus menahan senyum gelinya.


“Kalau kamu begitu mengkhawatirkan kondisiku… bagaimana kalau kamu ikut mandi bersamaku agar kamu bisa memeriksa dan mengamati setiap inchi dari bagian tubuhku. Kamu bisa memastikan apakah memang tubuhku dalam kondisi baik-baik saja dan siap untuk kegiatan kita malam ini atau tidak.” Kali ini kata-kata Alvero yang dikatakannya sambil menarik tangan Deanda dan meletakkan telapak tangan Deanda ke dadanya membuat wajah Deanda semakin memerah.


“Ti… tidak… kalau begitu… kamu bisa mandi sekarang, dan aku akan segera menyiapkan pakaianmu terlebih dahulu.” Dengan gerakan gesit Deanda langsung bergerak ke arah lemari dimana pakaian dalam koper yang mereka bawa tadi pagi langsung digantungkan rapi oleh para pelayan begitu mereka tiba di kapal itu tadi pagi.


Melihat Deanda berusaha menghindari pembicaraan ke arah kegiatan panas mereka di atas tempat tidur, Alvero langsung berjalan dengan langkah lebar ke arah Deanda dan begitu melewati Deanda, dengan cepat tangan Alvero meraih lengan Deanda, lalu memutar tubuh  Deanda agar melihat ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2