
Foto Alvero di potongan koran itu mengingatkan gadis gelandangan itu akan masa-masa indah dan bahagianya sebagai seorang putri saat dia masih tinggal dalam istana Gracetian.
Masa-masa dimana Alvero masih menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang kakak dengan cara memberikan perhatian berupa ucapan maupun kado di setiap ulang tahunnya atau hari-hari penting dalam hidupnya, seperti wisuda dan yang lain.
Meskipun tidak pernah ada kedekatan secara fisik, gadis itu tahu bahwa saat itu Alvero selalu memperlakukannya dengan baik seperti layaknya seorang kakak kepada adiknya.
"Hei! Kembalikan foto raja tampanku!" Gadis yang tadinya menemukan potongan kertas itu berkata sambil merebut potongan kertas itu dengan kasar sambil kakinya menendang kaki gadis yang menangis itu.
"Hei! Kenapa kamu menangis melihat foto raja Gracetian? Apa kamu adalah mantan kekasih raja muda itu?" Dengan seringai mengejek, gadis itu langsung mengolok-olok gadis yang menangis itu.
Kak Alvero... maafkan aku....
Desya, gadis yang ditendang tadi berkata dalam hati sambil menundukkan wajahnya tanpa memperdulikan ejekan sesama gelandangan di tempat itu.
"Jangan mimpi! Apa kalian tidak tahu betapa cantiknya permaisuri raja Gacetian itu? Mana mungkin raja setampan itu melirik wanita kumal sepertimu!"
"Benar, apalagi dari kabar yang beredar, permaisuri Gracetian sedang mengandung sekarang."
"Jangan terlalu tinggi kalau bermimpi!"
Berbagai ejekan semakin banyak terdengar, membuat dengan gerakan pelan Desya bergerak, menjauh dari kerumunan para gelandangan itu sambil menyeret tas kopernya, satu-satunya barang paling bagus yang masih dimilikinya saat ini.
__ADS_1
# # # # # # # #
"Adakah sesuatu yang lain yang mungkin ingin kamu makan hari ini?" Erich menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat Cleosa tersenyum sambil menyodorkan steak yang sudah dipesannya untuk Erich.
Begitu makan malam mereka selesai tanpa adanya banyak kata-kata yang diucapkan oleh Erich selama makan malam mereka berdua, Cleosa sengaja mengajak Erich untuk berjalan-jalan ke mall.
Selama mereka berjalan berdua dengan santai, Erich tampak menatap lurus ke depan sambil sesekali menoleh jika Cleosa memanggilnya, atau mengatakan sesuatu untuk meminta pendapatnya, diluar itu, Erich akan tetap berjalan dengan tatapan mata mengarah ke depan dengan sikap waspada, seperti seorang pengawal yang sedang bertugas.
Mereka berdua tetap berjalan beriringan dengan jarak cukup jauh, membuat orang yang melihat mereka berdua akan berpikir bahwa mereka adalah dua orang yang sedang bermusuhan, walaupun pada kenyataannya senyum Cleosa selalu terlihat saat berjalan di samping Erich.
"Eh, Erich, apa kamu tahu antrian panjang itu? Mereka menjual burger yang sungguh enak. Bolehkah aku mengantri di sana? Apa kamu juga mau burger itu?" Cleosa berkata sambil tangannya menunjuk ke arah kedai burger yang tampak ramai dan puluhan orang mengantri di sana.
"Untuk kamu saja." Erich berkata pelan, membuat Cleosa mengernyitkan dahinya, namun sebentar kemudian dia tersenyum.
Cleosa berkata dalam hati sambil menatap wajah Erich yang terlihat tanpa ekspresi.
"Ok, aku akan mengantri. Kamu tunggu sebentar ya." Begitu Erich mengangguk, Cleosa segera bergegas untuk mengantri, dengan mata Erich mengawasi Cleosa dalam diam.
Cleosa sudah hampir di posisi kedua sebelum orang di depannya memesan, ketika tampak seorang laki-laki dengan kekasihnya menyerobot posisi Cleosa, bahkan, laki-laki itu sedikit menabrak tubuh Cleosa sehingga terdorong ke samping dan hampir terjatuh.
Begitu tubuh Cleosa terdorong, dengan gerakan sigap, kedua tangan Erich langsung menahan tubuh Cleosa yang hampir terjatuh.
__ADS_1
"Tuan, antrilah dengan benar. Jangan bertindak memalukan di depan kekasih Anda, dan di depan kekasihku. Atau Anda ingin aku memanggil pihak keamanan sekarang?" Dengan tatapan mata tajam, Erich berkata sambil salah satu tangannya melingkar ke bahu Cleosa dan memeluknya dengan erat, menunjukkan bahwa Cleosa adalah kekasihnya, membuat Cleosa menatap wajah tampan Erich dan merasa tidak percaya bagaimana Erich bisa bersikap seprotektif itu padanya.
Sikap yang bagi Cleosa menunjukkan bahwa Erich begitu perduli dan ingin melindunginya. Juga tanpa ragu menyatakan kepada semua orang bahwa Cleosa adalah kekasihnya.
Laki-laki yang awalnya ingin menantang Erich itu langsung membatalkan niatnya begitu melihat tatapan mata Erich yang terlihat begitu mengintimidasi dan juga dari sosok Erich yang atletis, membuat nyali laki-laki itu cukup menciut.
Setelah laki-laki itu pergi, tangan Erich bergerak menggenggam tangan Cleosa dengan erat.
"Mulai sekarang, jika keluar, kamu harus membiarkanku menggenggam tanganmu. Agar kamu tidak terjatuh." Mendengar perkataan Erich, Cleosa hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Bukan aku yang tidak mau, tapi kamu yang tidak pernah menggenggam tanganku. Sebagai pria harusnya kamu berinisiatif lebih dahulu.
Cleosa berkata dalam hati dengan dada yang berdetak dengan kencang karena genggaman dari tangan Erich sungguh terasa hangat dan juga membuatnya seperti tersengat aliran listrik dari tangan yang terus menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Apa kamu mau menemaniku menonton? Aku membeli burger dan pop corn ini sebagai teman menonton." Setelah Cleosa mendapatkan burgernya dan mereka berjalan kembali, Cleosa langsung menyampaikan keinginannya untuk menonton
"Tidak." Erich menjawab singkat permintaan Cleosa, membuat Cleosa terdiam dan berusaha untuk tetap tersenyum mendengar jawaban dari Erich.
"Kalau begitu, adakah tempat yang ingin kamu kunjungi di mall ini?" Tanpa menjawab pertanyaan Cleosa, Erich yang masih menggenggam tangan Cleosa tanpa melepaskan sedetikpun sejak di kedai burger tadi, membawa Cleosa ke salah satu bagian dari mall yang menunjukkan jajaran toko dan butik pakaian mewah.
"Erich...." Mata Cleosa langsung membeliak dengan wajah begitu kaget, bahkan tanpa sadar membuatnya melepaskan burger dan pop corn yang sedang di pegangnya sehingga jatuh berantakan di lantai mall.
__ADS_1
"Aku mau mengajakmu kesini." Erich berkata pelan sambil menatap ke arah Cleosa yang masih berdiri dengan diam terpaku di depan salah satu butik dimana Erich ingin mengajaknya.
Bukan karena butik itu merupakan butik pakaian mewah yang membuat Cleosa diam mematung sampai kehabisan kata-kata. Tapi butik itu merupakan salah satu butik terbesar dan termewah di kota Tavisha yang khusus menyediakan gaun pengantin.