
“Kalau begitu.... Aku akan menunggunya di kamar mandi. Tolong bawakan pakaianku ke kamar mandi ya. Kalau kamu berubah pikiran dan ingin mandi bersamaku.... Aku tunggu dengan senang hati…” Alvero berbisik pelan di telinga Deanda, tidak lupa memberikan sebuah kecupan ringan di telinga Deanda, sebelum akhirnya melepaskan lengan Deanda dan berjalan dengan langkah santai ke arah kamar mandi tanpa menunggu respon dan tanggapan dari Deanda atas permintaannya barusan.
Walaupun hanya sebuah kecupan ringan di telinga Deanda, namun kecupan dari Alvero itu cukup untuk membuat tubuh Deanda sedikit tersentak dan tubuhnya bergetar, dengan dadanya yang berdebar-debar karena tindakan Alvero. Entah sudah berapa kali, Alvero seringkali menggodanya dengan memberikan kecupan di telinga, kening, bibir, kepala, atau bagian tubuhnya yang lain, dan selalu memperlakukannya dengan lembut sekaligus mesra. Akan tetapi, sampai detik ini setiap Deanda mendapatkan hal seperti itu dari Alvero, dadanya masih saja berdebar-debar seperti baru pertama kalinya Alvero melakukan hal seperti itu padanya.
Di sisi lain, Deanda harus mengakui dia begitu menyukai tindakan mesra dan lembut Alvero kepadanya, membuatnya semakin lama bukannya bosan, tapi justru membuatnya semakin merindukan tindakan mesra, terpesona dan semakin mencintai laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. Dan yang pasti bukan sekedar suami di atas kertas seperti yang awalnya sudah mereka sepakati.
Mengingat tentang surat perjanjian yang sempat mereka tandatangani, tapi tidak ada satupun dari syarat Deanda yang pada akhirnya ditaati oleh Alvero dan dirinya sendiri, membuat Deanda menyungingkan senyum geli. Teringat bagaimana dengan naifnya saat itu Deanda berusaha memaksa Alvero menyetujui syarat-syarat darinya, sedangkan sekarang dia begitu menikmati dan tidak pernah sedikitpun menyatakan protes saat Alvero melanggar semua isi dari surat perjanjian itu, menunjukkan bahwa tanpa mereka berdua sepakati dan katakan secara lesan, saat ini mereka berdua sudah menganggap surat perjanjian itu tidak berlaku.
# # # # # # #
__ADS_1
Mata Alvero terlihat begitu serius menatap ke arah layar handphone di tangannya, ketika Deanda yang baru saja berganti pakaian tidur berjalan mendekat ke arahnya. Suara langkah kaki Deanda membuat Alvero mengalihkan pandangannya dari layar handphone ke arah Deanda yang langsung membuat Alvero menyungingkan sebuah senyum di bibirnya begitu sosok Deanda mendekat ke arahnya sambil merapikan pakaian tidurnya.
Walaupun Deanda tidak mengenakan pakaian tidur seksi. Bagi Alvero, saat ini Deanda terlihat begitu seksi dan menggoda. Karena baginya, walaupun tubuh istrinya tertutup rapat oleh pakaian tidurnya, Alvero bisa membayangkan dan tahu betul lekuk-lekuk tubuh istrinya yang indah di balik pakaian tidur itu lebih dari siapapun yang dikenal oleh Deanda, dari ujung rambut sampai kepala. Dan membayangkan itu sungguh membuat Alvero tanpa sadar menelan ludahnya.
Pakaian tidur yang dikenakan Deanda hari ini berupa night robe berbahan sedikit tebal karena udara dingin di atas kapal. Dan Alvero sendiri mengenakan pakaian tidur sejenis dengan Deanda, karena Alvero sendiri yang meminta agar para pelayan menyiapkan pakaian tidur jenis itu. Alvero sengaja meminta pakaian tidur jenis night robe untuk Deanda dan untuk dirinya sendiri, karena Alvero sudah seringkali berlibur menggunakan kapal pesiar kerajaan, sehingga dia hapal betul bagaimana suasana dingin di kapal pesiar saat malam tiba.
(Night robe merupakan sejenis baju tidur yang memiliki bentuk menyerupai kimono dan sama-sama dikenakan dengan cara diikat di bagian pinggang. Untuk seseorang yang mengiginkan tampilan lebih elegan dan anggun, pilihan baju tidur yang satu ini sangatlah sesuai digunakan untuk menamani waktu istirahat di malam hari. Sebagai pelengkap gaya pemnampilan wanita, umumnya night robe dapat dibuat dari bahan kain yang halus, lembut dan dingin di kulit seperti satin atau kain sutra. Untuk memberikan kesan lebih feminim jubah tidur ini biasanya juga disertai aksen-aksen khusus seperti bunga dan lainnya).
“Ada beberapa surel dari Erich yang harus aku periksa. Beberapa merupakan info tentang kondisi Kesehatan papa Vincent yang sudah semakin membaik.” Alvero berkata sambil menatap ke arah Deanda yang naik ke tempat tidur sambil membenarkan tali yang ada pada night robenya.
__ADS_1
“Tidak perlu diikat terlalu kencang kalau toh akhirnya akan aku buka juga ikatan itu. Dan mungkin...aku akan melemparkan night robe itu ke sembarang tempat nanti, agar tidak menghalangi mata dan tubuhku untuk memanjakan dan menikmati pemandangan indah... tubuh seksi istriku di balik night robe itu.” Mendengar godaan dari Alvero, bukannya menghentikan gerakannya mengikat tali pada night robenya, tapi tanpa sadar Deanda justru memperkencang ikatan tali itu, membuat Alvero langsung tertawa tergelak melihat reaksi reflek dari Deanda karena godaannya.
“Kemarilah….” Alvero meminta Deanda mendekat ke arahnya sambil menepuk-nepuk tempat tidur di sebelahnya, membuat Deanda yang wajahnya memerah dan dengan gerakan ragu mendekat ke arah Alvero dan ikut duduk tepat di tempat yang tadi ditepuk-tepuk oleh Alvero dan duduk dengan posisi duduk bersila.
“Aishhh…. Kamu menggemaskan sekali. Tindakanmu barusan seperti tindakan seorang gadis muda yang begitu ketakutan bertemu dengan seorang penjahat cabul.” Alvero berkata dengan nada suara gemas sekaligus menggoda, dengan tangannya mencubit pelan pipi Deanda dengan gemas.
“Apa ada yang penting lainnya dari surel Erich selain tentang papa Vincent?” Deanda langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan tentang surel dari Erich.
“Sebenarnya ada beberapa info lain namun belum lengkap. Tenang saja sweety, aku akan mengusahakan secepat mungkin info tentang keberadaan saksi yang menyatakan bahwa papa Alexis sudah melakukan pelecehan seksual terhadap Eliana. Info itu akan segera aku dapatkan. Bahkan Red dan uncle Marcello juga sedang ikut mencari info tentang keberadaan orang-orang itu. Di berkas milik perpustakaan istana dengan akses khusus raja disebutkan saat itu ada 4 orang pengawal, satu orang pelayan yang mengajukan diri sebagai saksi dan bersedia disumpah untuk memberikan pernyataan tentang kasus itu pelecehan itu.” Setelah menyelesaikan kata-katanya, Alvero mematikan layar handphonenya, lalu meletakkan handphonenya di atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja dijelaskan oleh Alvero, Deanda hanya terdiam sambil menahan nafasnya sejenak. Bagaimanapun mendengar tentang tuduhan pelecehan yang telah dilakukan oleh papanya membuat perasaan Deanda sedikit terganggu. Tapi satu hal, dia yakin papanya tidak bersalah dan Alvero sebagai suaminya sekaligus raja Gracetian, pasti akan membantunya untuk mengungkapkan kebenaran yang ada.
“Kenapa dengan wajahmu sweety? Jangan khawatir, semua akan segera terungkap. Aku akan berusaha keras membersihkan nama baik papa Alexis. Setelah pesta ulang tahun Enzo, kita akan segera berangkat ke kota Renhill, aku akan bertanya langsung masalah ini kepada papa Vincent sembari mencari keberadaan para saksi itu.” Begitu melihat wajah tegang Deanda dengan kening yang sedikit berkerut, Alvero segera menjanjikan untuk segera menyelesaikan masalah itu untuk menenangkan hati Deanda.