
Untung saja ada selimut tebal itu, kalau tidak aku benar-benar akan menghajar Enzo kalau sampai karena mengenakan lingerie itu Deanda harus kedinginan sepajang malam ini. Hah!
Alvero berkata dalam hati sambil duduk di pinggiran tempat tidur, mengamati wajah cantik istrinya yang sudah terbaring di tempat tidur. Dari hembusan nafasnya yang masih belum teratur, Alvero tahu Deanda belum tertidur, hanya sekedar berbaring sambil memejamkan matanya, tapi malam ini Alvero ingin Deanda menenangkan pikirannya, tidak ingin mengganggu istirahat istrinya.
Sebelum memutuskan untuk ikut berbaring di samping Deanda, Alvero manarik nafas dalam-dalam. Begitu tubuh Alvero terbaring di sisi Deanda dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal itu, Deanda yang dalam posisi tidur terlentang sambil menutup kedua matanya, langsung menahan nafasnya.
"Kamu belum tidur? Apa suara musiknya mengganggumu? Biar aku menghubungi Enzo agar mematikan musiknya." Alvero yang sudah berbaring dengan posisi menghadap ke arah Deanda bertanya sambil menggerakkan tubuhnya sebentar, meraih handphone yang ada di atas nakas, berencana menghubungi Enzo karena Alvero tahu musik lembut yang sedang mengalun saat ini dikendalikan dari tempat lain.
"Tidak perlu... biarkan saja, suara musiknya cukup membuatku tenang, bisa meninabobokanku." Deanda menjawab pelan pertanyaan Alvero tanpa berniat memandang ke arah Alvero.
“Apa kamu mau minum sedikit wine untuk menghangatkan tubuhmu?” Mendengar penawaran Alvero, dengan cepat Deanda menggelengkan kepalanya karena dia tahu apa akibat buruk yang akan dia dapatkan jika berani meminum alkohol.
Deanda menolak penawaran Alvero tanpa berani membuka matanya. Deanda merasa begitu takut untuk membuka matanya, karena Deanda merasa ada yang salah sedang terjadi pada dirinya yang membuatnya merasa aneh. Ada sebuah dorongan yang begitu kuat dari dalam dirinya yang tiba-tiba saja mengharapkan kedekatan secara fisik dengan Alvero.
Setelah beberapa saat sejak membaringkan tubuhnya, Deanda merasakan dadanya semakin lama terasa berdegup semakin kencang, apalagi tadi dia sempat melihat sosok yang Alvero tadi saat keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian. Dan bukan hanya itu saja, perlahan tapi pasti Deanda merasakan tubuhnya sedikit gerah, padahal dia sedang mengenakan lingerie yang boleh dibilang adalah salah satu jenis pakain tidur seksi yang boleh dibilang seperti pakaian kurang bahan dengan bentuknya yang tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya, ditambah jenis kain yang digunakan hampir seluruhnya terlihat transparan.
Dan bukan hanya itu saja, Deanda sedikit melenguh begitu menyadari pikirannya yang tiba-tiba saja teringat dan terbayang-bayang tentang kegiatan panasnya bersama Alvero tadi pagi di rumah kayu. Dan bayangan-bayangan itu semakin lamab semakin jelas dan terasa begitu nyata, membuat tubuhnya terasa begitu tidak nyaman, seolah begitu menginginkan kembali sentuhan-sentuhan dari Alvero ke tubuhnya seperti yang sudah pernah dia rasakan, yang membuat hatinya melayang dan dipenuhi oleh rasa bahagia yang tidak bisa dia lukiskan dengan kata-kata.
Alvero yang baru saja keluar dari kamar mandi, belum terlalu terpengaruh oleh aroma pengharum ruangan hasil kerjha Enzo yang menyebar di daerah sekitar tempat tidur. Namun melihat bagaimana tidak tenangnya sikap Deanda yang terbaring di sampingnya, membuat Alvero mengernyitkan dahinya sambil memandangi istrinya.
"Apa kamu sakit? Apa kamu sedang tidak enak badan? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah?" Alvero bertanya sambil telapak tangan kirinya menyentuh kening Deanda, untuk memastikan bahwa tubuh Deanda tidak demam.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. hanya merasa sedikit gerah." dengan salah satu tangannya, Deanda memegang tangan Alvero, menjauhkannya dari keningnya, namun tidak melepaskannya, justru tangan Deanda menggenggam erat tangan Alvero seolah sedang mencari pengangan bagi dirinya yang merasa mulai linglung.
__ADS_1
Tangan Deanda yang lain tiba-tiba saja bergerak menarik selimut yang menutupi tubuhnya ke atas, lalu dengan gerakan cepat Deanda menaik turunkan selimut itu, berusaha mengipas tubuhnya yang tiba-tiba merasa sedikit gerah.
Tindakan Deanda sukses membuat Alvero bisa melihat dengan jelas tubuh seksi Deanda yang hanya terbalut sebuah lingerie hitam dengan bahan yang begitu tipis dan menerawang, sehingga membuat dengan susah payah Alvero harus menelan ludahnya. Alvero sadar dia sudah pernah melihat tubuh polos Deanda bahkan tanpa sehelai benangpun, tapi baginya sosok cantik dan seksi istrinya walaupun tertutup rapat oleh kain tetap saja mampu membuat jiwa laki-lakinya memberontak meminta haknya.
Apalagi saat ini bukan pakaian tertutup yang dikenakan oleh Deanda, namun hanya sepotong lingerie yang dikenakan Deanda, yang boleh dibilang tidak bisa menutupi tubuh Deanda, justru memperlihatkan betapa menariknya pemilik tubuh itu dengan lekuk-lekuk sempurna yang membentuk di tubuhnya yang bentuknya terlihat jelas dibalik kain transparan itu.
"Sweety... jika kamu terus membiarkan tubuhmu kedinginan, besok kamu bisa terserang flu. Pakai selimutmu dengan baik." Alvero berkata sambil tangannya meraih selimut yang dipegang Deanda, berusaha menutupkannya ke tubuh Deanda, sedang tangannya yang lain, yang masih digenggam erat oleh Deanda, tetap dibiarkan oleh Alvero.
Alvero sengaja melakukan itu agar matanya tidak lagi melihat tubuh Deanda dengan lingerie yang sudah berhasil membuat bagian tubuhnya di bawah sana menegang meminta haknya untuk kembali merasakan surga dunia bersama pasangannya. Melihat Alvero menutupkan selimut ke tubuhnya kembali, Deanda memiringkan tubuhnya, meringkuk, menghadap ke arah tubuh Alvero yang langsung memeluknya sambil menepuk-nepuk lembut punggung Deanda, seolah sedang meninabobokan Deanda agar bisa segera tertidur.
Lantunan lembut suara Celine Dion yang menyanyikan bagian akhir dari lagunya yang berjudul "Be The Man" dan di sisi lain mendapatkan sentuhan dari Alvero di punggungnya, membuat kondisi Deanda bukannya membaik, justru dadanya seakan mau meledak karena keinginan dalam dirinya yang begitu besar untuk menyentuh dan mengelus tubuh Alvero.
Be the man that’s mine
Jadilah pria yang menjadi milikku
Katakan padaku kita akan selalu bersama
Make us stay in love this way forever
Buat kita tetap dalam cinta seperti ini selamanya
Be the heart I know will be
__ADS_1
Jadilah hati yang aku tahu akan menjadi
The one that beats for me
Yang mengalahkanku
Wherever you may be
Dimanapun kamu mungkin berada
Always be with me, be the man,
Selalulah bersamaku, jadilah pria itu
Alvero sendiri setelah beberapa menit berbaring di sisi Deanda mulai merasakan efek dari parfum ruangan yang membuatnya bisa merasakan tuntutan dari hasrat di dadanya untuk mendekatkan bibir dan tangannya ke arah tubuh Deanda untuk menjelajah di sana.
Ada yang tidak beres dengan tempat ini.
Alvero berkata dalam hati dan mencoba berpikir keras apa yang sudah terjadi. Beberapa saat Alvero sengaja menahan nafasnya, dan saat itu dia langsung tersadar dengan apa yang sedang terjadi.
Sial! Enzo! Apa yang sudah kamu lakukan dengan pengharum ruangan di kamar ini!
Alvero meraih handphonenya dengan cepat, berniat untuk memaki Enzo, namun sebuah sentuhan dari tangan Deanda yang tiba-tiba saja dia rasakan sedang mengelus-elus lembut dadanya bagian atas, yang posisinya dekat dengan lehernya, membuat Alvero tersentak kaget dan tanpa sadar melepaskan handphone di tangannya.
__ADS_1
"My Al.... I love you..." Deanda berkata pelan sambil tangannya bergerak mengelus dada bidang Alvero yang mengenakan kemeja lengan pendek dengan dua kancing teratasnya yang sengaja tidak dikancingkan oleh Alvero agar dia merasa nyaman walaupun tidur mengenakan kemeja resmi.
Dan yang membuat Alvero semakin tersentak kaget, ketika melihat bagaimana tiba-tiba saja Deanda membuka selimut yang menutupi tubuhnya dengan tangannya yang lain, sehingga tubuh Deanda dengan lingerie yang dikenakannya terpampang jelas di depan Alvero, sedang tangan Deanda yang masih mengelus dada Alvero tiba-tiba bergerak... pelan namun pasti, berusaha untuk membuka kancing ketiga dari kemeja yang dikenakan oleh Alvero.